Richmond, kota antik nan cantik yang kami temukan secara tidak sengaja. Berawal dari ketibaan kami di Hobart, ibukota negara bagian Tasmania, Australia, pada pagi menjelang siang di penghujung musim dingin. Untuk mengikuti tur kota sudah terlambat, dan pada musim dingin, tur ini tidak beroperasi setiap hari. Berbekal informasi dari petugas hotel untuk acara perjalanan yang ramah terhadap anak-anak, kami memutuskan naik taksi untuk mengunjungi Richmond, sekitar 30 menit berkendara ke arah timur Hobart. Setelah melewati beberapa perkebunan anggur, akhirnya kota Richmond terlihat di depan mata.

Jembatan Richmond
Jembatan Richmond

Sesampainya di Richmond, kami serasa melakukan napak tilas ke zaman saat Australia masih menjadi tempat pengasingan para narapidana dari Inggris. Tidak mengherankan, karena Richmond dibangun oleh para narapidana tersebut pada abad ke-19 yang ditandai dengan jembatan batu yang bertuliskan tahun 1823. Diperlukan dua tahun untuk membangun jembatan tersebut yang ternyata merupakan jembatan tertua di Australia sekaligus merupakan ikon dari kota Richmond.

Di jembatan inilah taksi kami berhenti, memberikan kesempatan kepada kami menyusuri kota mungil ini. Setelah mendapatkan nomor ponsel supir taksi dan berjanji untuk bertemu kembali di sebuah lokasi penjemputan, taksi tersebut melesat meninggalkan kami. Tidak jauh dari jembatan tersebut, terdapat St. Luke’s Anglican Church yang merupakan gereja Katolik yang dibangun pada tahun 1836. Kebetulan hari itu tidak ada kebaktian, sehingga kami berkesempatan menjelajah setiap sudut dari gereja mungil yang dibangun dengan tangan manusia tersebut.

Gereja St. Luke's
Gereja St. Luke's

Puas berfoto-foto, perjalanan kami lanjutkan ke taman yang terletak di seberang jembatan. Hari yang sangat indah! Matahari bersinar cerah mengusir dingin ditemani bunga-bunga yang mulai bermekaran dengan udara yang sangat segar. Beberapa anak dengan ceria mengejar bebek-bebek yang banyak berkeliaran di sekitar.

Tanpa terasa, hari sudah beranjak siang. Mata dan pikiran puas menikmati pemandangan, giliran perut yang harus dipuaskan. Kami menyusuri sepanjang jalan utama di Richmond, mayoritas rumah tua di sini difungsikan sebagai kafe, restoran, galeri maupun toko antik. Pilihan akhirnya kami jatuhkan pada salah satu restoran yang menyajikan masakan buatan rumah. Untuk yang membawa anak, tidak perlu khawatir karena rata-rata restoran di sini ramah anak-anak dan menyediakan menu khusus anak-anak. Ternyata, pilihan kami tidak keliru. Setelah menikmati makanan di sana yang nikmat dengan pelayanan yang ramah, saya melihat ternyata restoran tersebut juga merangkap rumah tinggal dari pemiliknya. Mulailah timbul rasa penasaran, seperti apa bagian interior dari rumah abad ke-19 tersebut? Apalagi, sebelumnya, kami hanya bisa melihat lihat bentuk luar rumah di sana tanpa bisa masuk. Ide paling cemerlang adalah memohon izin ke kamar mandi yang letaknya pasti di belakang. Saya mulai menjelajah rumah tersebut dari ruang keluarga, kamar tidur yang ternyata pintunya dibiarkan terbuka, dapur, sampai taman kecil di belakang rumah yang ternyata semuanya ditata dengan sangat indah dan di luar ekspektasi saya. Tidak menyangka, dimulai dengan makan siang, saya berkesempatan melihat lihat interior rumah abad ke-19, sekali mendayung dua pulau terlampaui!

Hari harus kami akhiri pada sore hari. Taksi kami panggil untuk menjemput karena keesokan paginya petualangan dilanjutkan ke Pulau Bruny…

  • Disunting oleh SA 06/03/2012