Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh
Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh

Setelah sepuluh tahun menunggu dan menabung, akhirnya kami sekeluarga (saya, Lintang dan anak kami, Janis, yang berusia 11 bulan) bisa berangkat ke Australia, untuk menemui keluarga angkat saya yang berada di sana. Keluarga angkat saya ini tinggal di Newcastle, tetapi kami memutuskan untuk bertemu di Melbourne, karena saya bisa sambil bekerja (cuti saya habis) dan ada cabang kantor di sana, lalu kami juga ingin sekali ke Melbourne, yang katanya kota paling nyaman ditinggali sedunia.

Kami pergi dengan Singapore Airlines, setelah menimbang-nimbang antara itu dan Garuda Indonesia. Memang, Garuda Indonesia punya penerbangan langsung enam jam dan 30 menit, tetapi kami merasa lebih mantap dengan Singapore Airlines, dengan pesawat yang lebih bagus—menurut saya—Boeing 777-300ER dan pelayanan yang lebih atentif, dengan reputasi penanganan anak bayi yang lebih mantap. Benar saja, kami diperhatikan lebih baik karena membawa balita. Bassinet (tempat tidur bayi) dan makanan bayi pun dapat dipesan di situs webnya dengan mudah. Asuransi perjalanan juga disandingkan jadi satu dengan harga tiket, dengan harga terjangkau dan mencakup semua penumpang. Kebetulan, kami suka pakai AIG, dan kebetulan pula, Singapore Airlines juga menggunakan AIG. Memang jodoh.

Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam
Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam

Tak masalah juga bagi kami untuk transit dulu di Singapura, karena bandaranya sangat nyaman dan saya berkesempatan nostalgia karena sempat tinggal di sini tahun lalu. Lagipula, bisa bertemu dengan teman lama selama empat jam transit itu.

Bertemu teman kami di Singapura
Bertemu teman kami di Singapura

Perjalanan dimulai jam 10:00 pagi, walau penerbangan baru lepas landas pada pukul 14:00 siang. Ini untuk menghindari kemacetan yang tak terduga dari Pondokgede ke bandara. Sampai di bandara pukul 11:00 lebih sedikit, check-in dan langsung masuk ke ruang tunggu. Lebih enak menunggu di dalam daripada melihat kesemrawutan bandara Soekarno-Hatta di luar, apalagi kami membawa bayi.

Kami agak khawatir Janistra akan rewel selama di perjalanan. Tapi ternyata tidak terlalu. Kami sudah siapkan makanan dalam tempat kecil untuknya kalau-kalau dia lapar selama di bandara, dan untungnya, Janis juga mau makan makanan yang kami beli atau yang diberi di pesawat.

Benar saja, pengalaman terbang jauh pertama kali dengan bayi bersama Singapore Airlines sangat mengesankan. Hampir setiap pramugara dan pramugari menanyakan nama anak kami, dan selanjutnya memanggilnya dengan nama. Mereka juga langsung menawarkan untuk memasang bassinet sesaat setelah tanda mengenakan sabuk pengaman dipadamkan.

Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne
Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne

Transit di Singapura selama empat jam, kami sempatkan untuk keluar imigrasi dan bertemu teman kami di sana, Bady. Sengaja kami rencanakan transit yang agak lama agar Janistra bisa istirahat, bermain dan bersih-bersih badan. Kami juga bisa makan malam yang lebih enak. Tempat langganan saya di Changi adalah pujasera di Terminal 3, tapi kami kemudian pindah ke Heavenly Wang di area kedatangan Terminal 3 area keberangkatan.

Asyik berbicara dengan teman kami, tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan kami harus masuk ke area keberangkatan dan imigrasi untuk melanjutkan penerbangan ke Melbourne pada pukul 9 malam.

(Tulisan ini akan berlanjut di bagian berikutnya!)