Pantai Maya di Pulau Phi Phi

Pada akhir Maret 2010, saya dan teman-teman berlibur ke Phuket, Thailand, untuk pertama kalinya. Saya berangkat dari Singapura sendirian pada pagi hari, sedang teman-teman dari Jakarta akan berangkat sore harinya.

Setibanya di Phuket International Airport, sempat bingung bagaimana cara ke Patong, tempat penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Karena sendiri, agak mahal rasanya kalau menyewa taksi sekitar 550 Baht. Transportasi umum yang paling murah adalah Airport Bus, yang berangkat setiap satu jam dari bandara menuju Phuket Town dengan tarif 70 Baht. Dari sana tersedia banyak angkutan kota menuju daerah-daerah Phuket yang lain, termasuk Patong (sekitar 10 menit dari Phuket Town).

Setelah melihat keadaan bisnya yang tidak terlalu bagus dan tanpa pendingin udara. Ini sangat berbeda dari gambar-gambar Airport Bus di artikel yang saya lihat di internet. Apa mungkin kebetulan saja bis yang kurang bagus yang sedang “ngetem“, ya? Saya kemudian kembali ke balai kedatangan untuk mencari alternatif transportasi yang lain. Akhirnya saya putuskan naik minivan, yang meskipun tidak semurah bis, tetapi sangat nyaman dan tidak terlalu mahal. Seperti angkutan ‘travel’ Jakarta-Bandung, minivan ini diisi oleh 10 penumpang dengan harga tiket yang berbeda-beda tergantung tujuannya: Phuket Town 100 Baht, Patong 150 Baht, Kata/Karon 180 Baht. Kendaraan mulai berjalan jika kursi sudah terisi penuh. Tapi tenang saja, tak akan menunggu lama, banyak turis yang juga berangkat menuju Patong.

Pulau James Bond

Minivan berhenti di tengah perjalanan, sebuah agen wisata yang bekerja sama dengan sang supir kemudian menyapa dan mempromosikan paket-paket tur mereka. Setiap orang dilayani oleh satu agen yang menanyakan tempat penginapan yang telah mereka pesan dan tempat-tempat wisata yang ingin kami tuju. Waktu itu saya cukup tertarik dengan paket mereka karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah daripada booking online di situs-situs web agen wisata. Saya memutuskan menolak karena memang harus berdiskusi dulu dengan teman-teman saya yang belum datang. Kami berencana untuk ikut tur sehari ke Phang Nga Bay (Pulau James Bond) dan sehari ke Pulau Phi Phi (Pulau Leonardo DiCaprio).

Sesampainya di Patong Voyage Place Hotel, saya langsung ditawari paket tur dari kenalan dekat pemilik penginapan, yang ternyata lebih murah lagi dari tarif agen wisata tadi. Dengan alasan yang sama saya menolak paket tur Pulau Phi Phi dan Phang Nga Bay. Tapi saya akhirnya mengambil paket tur Elephant Trekking 2 jam di Amazing Bukit Safari (ABS) dengan harga 800 Baht, untuk mengisi waktu sembari menunggu kedatangan teman-teman.

Para tamu duduk di dipan yang telah disiapkan di atas gajah, lengkap dengan tali pengamannya, lalu berjalan masuk ke dalam hutan bersama pawangnya. Walaupun berukuran sangat besar, gajah mampu menjaga keseimbangannya dengan baik. Si pawang memandu gajah melewati jalanan curam dan sempit, lumayan bikin jantung deg-degan! Di tengah jalan si pawang bahkan menawarkan saya untuk duduk di leher gajah, tanpa tali pengaman, tentu saja saya mau! Oh ya, sebelum mulai trekking, pihak ABS menanyakan apakah saya mau foto di atas gajah dengan tambahan biaya. Saya jawab tidak mau. Eh, di dalam hutan si pawang berinisiatif sendiri, meminta kamera saya untuk mengambil gambar saya di atas gajah, dan berpesan jangan memberi tahu pihak ABS. Tentunya setelah trekking selesai saya memberikan sedikit tip.

Balik ke Patong, saya berjalan kaki ke Pantai Patong sambil mengamati harga paket tur di agen-agen sepanjang jalan ke sana. Bayangkan, saya menemukan harga yang lebih murah lagi dari yang ditawarkan oleh kenalan pemilik penginapan! Intinya sih menawar gila-gilaan, biasanya kalau memesan buat banyak orang sekaligus dan kita adalah turis dari Asia Tenggara, bisa dapat lebih murah. Akhirnya saya dapat harga yang paling murah untuk paket tur Phang Nga Bay dan Pulau Phi Phi masing-masing sekitar 800 Baht. Saya jadi menyesal, merasa Elephant Trekking tadi adalah overpriced!

Pantai Patong sangat ramai, sepanjang pesisir pantai penuh dengan kursi dan payung besar. Terdapat palang “Tsunami Hazard Zone” di beberapa tempat, setelah tsunami melanda sebagian besar daerah Patong di tahun 2004 lalu. Walaupun begitu, makin banyak turis yang mengunjungi tempat ini dan air lautnya cukup bersih. Sebenarnya ada daerah pantai lain di Phuket yang lebih sepi dan menyenangkan, yaitu pantai Kata dan pantai Karon. Namun penginapan di sana dikuasai oleh resor-resor mahal, sehingga kebanyakan turis dengan bujet kecil tidak memilih daerah ini.

Malamnya setelah rombongan teman saya tiba, kami berenam berjalan mencari makan di Jungceylon Shopping Mall. Kebetulan waktunya tepat untuk melihat Water Fountain Show, semacam pertunjukan air mancur yang bergerak naik turun mengikuti iringan musik, yang dimainkan setiap hari pukul tujuh dan sembilan malam. Setelah itu kami menelusuri Bangla Road, jalanan yang penuh dengan bar dan diskotik (Patong memang terkenal dengan kehidupan malamnya). Kalau malam, jalanan ini ditutup untuk kendaraan, jadi khusus untuk pejalan kaki saja.

Bangla Road di Patong

Esok paginya kami dijemput agen wisata untuk melakukan perjalanan sehari ke Phang Nga Bay. Lokasi ini terkenal karena keindahan tebing terjal dan batuan karas di perairan, terutama satu batuan kecil dan menjulang ke atas yang muncul di film James Bond: The Man with the Golden Gun. Tapi sebelum ke sana, agenda tur kami yang pertama adalah kayaking atau canoeing. Satu kano diisi oleh dua orang dan satu pengayuh. kami diantar melewati gua-gua dan tebing curam yang warnanya sangat indah. Perairannya sendiri sangat dangkal jadi kami tidak perlu menggunakan baju pelampung.

Canoeing

Setelah itu kami berangkat ke Pulau James Bond. Pemandu tur berulang kali mengingatkan untuk tidak berbelanja di sana dan sebaiknya menggunakan waktu 30 menit untuk melihat-lihat dan berfoto di sekitar pulau. Tidak berbelanja sih bukan masalah bagi saya, lagipula di sana barang-barangnya lebih mahal dari Patong, tapi batasan 30 menit keliling pulau kurang menyenangkan. Ada paket tur lain yang lebih privat, tidak menggunakan long tail boat bersama 20-30 orang lainnya, melainkan speed boat kecil. Bagaikan raja, tapi Anda harus membayar lebih mahal! Dari sana, kami berlanjut ke Fisherman Village, perkampungan muslim yang berada di atas air, dan makan siang di sana. Setelah itu kembali ke daratan, dan dibawa ke Sleeping Buddha Cave Temple, atau disebut juga Monkey Cave karena terdapat banyak monyet di sekitar temple, sebelum diantar pulang kembali ke hotel.

Fisherman Village

Malamnya saya dan teman-teman berpisah, sebagian mau belanja oleh-oleh, sebagian lagi termasuk saya mau menonton Simon Cabaret. Pertunjukan ini berlangsung setiap malam pukul 7.30 dan 9.30 malam, dengan pilihan kursi biasa (regular) di bagian atas dan VIP bagian bawah dekat panggung. Kami membeli tiket regular seat untuk jam 9.30 malam, sekitar 430 Baht per orang, setelah menawar di tiga agen wisata. Pertunjukan tarian dan nyanyian selama 1,5 jam ini dimainkan oleh “ladyboys“, yang dari jauh kelihatan cantik dan seksi tapi dari dekat lumayan menyeramkan! Setelah selesai manggung, mereka berbaris di halaman parkir melambai-lambaikan tangan ke arah tamu. kami dengan semangat minta foto bareng, ternyata sekali jepretnya bertarif 50 Baht dan mereka menghitung berapa kali kami menjepret kameranya. Benar-benar perhitungan! Pertunjukannya sendiri cukup menarik dan menggelikan, dengan dekorasi dan kostum yang sangat meriah sekaligus berlebihan. Mereka membawakan beragam lagu dan tarian, dari yang jadul sampai yang agak baru seperti “Nobody“-nya Wonder Girls, dari yang lokal sampai yang mancanegara, dari yang gerakannya cantik gemulai sampai yang lucu maskulin seperti “I Will Survive“.

Keesokan harinya kami tur ke Pulau Phi Phi, dengan bawaan agak banyak karena seharian akan berenang. Sebelumnya, perjalanan minivan dari Patong ke pelabuhan Chalong Bay, tempat kapal feri yang sudah menunggu, melewati Phuket Town yang jalanan dan bangunannya bernuansa tua dan antik, seperti daerah Braga di Bandung. Agenda pertama tur adalah snorkeling di Pulau Khai Nok. Kapal berhenti di tengah laut dan penumpang dibawa satu-persatu menggunakan long tail boat ke pulau itu, karena kapal tidak bisa berlabuh kesana. Di pulau itu kita bisa menemukan banyak ikan di pinggiran pantai tanpa perlu bergerak jauh ke tengah laut. Kembali ke kapal, penumpang mulai menyantap makan siang yang sudah disiapkan sembari bergerak menuju Pulai Phi Phi.

Walaupun bisa ditempuh dari Phuket, Pulau Phi Phi sebenarnya masuk ke dalam provinsi Krabi, terletak antara Phuket dan Krabi, namun lebih dekat sedikit ke arah Krabi. Phi Phi terdiri dari dua pulau yakni Phi Phi Don yang berpenghuni, dan Phi Phi Lay yang lebih kecil dan tidak berpenghuni, tempat pengambilan gambar film “The Beach“. Kapal pun berhenti di tengah laut menghadap ke pantai Maya, pantai terindah di Phi Phi Lay, yang dikelilingi oleh tebing-tebing. Penumpang dihadapkan dengan pilihan antara naik long tail boat menuju pantai, atau snorkeling di sekitar kapal (karena ikan dan karang adanya di tengah laut), dan tidak bisa memilih keduanya. Rombongan saya dan teman-teman pun terpisah, sebagian yang tidak ingin berenang bergerak menuju pantai Maya untuk foto dan ngécéng (siapa tahu ketemu pria tampan ala Leonardo DiCaprio!), sedangkan saya dengan seorang teman lainnya memutuskan untuk berenang di tengah laut. Surga dunia!

Selama perjalanan dari Phi Phi Lay menuju Phi Phi Don, kapal sempat melaju pelan saat melewati gua Viking, gua di pinggir laut tempat tumbuhnya sarang burung walet. Kenapa dinamakan demikian, karena di dinding gua terdapat banyak lukisan kapal laut yang mengingatkan kita pada kapal Viking. Sayang sekali kami hanya bisa memandang dari jauh, tidak bisa masuk ke dalamnya. Agenda terakhir adalah berjalan-jalan sebentar di Phi Phi Don. Karena seharian capek berenang, saya kalap membeli banyak makanan ringan seperti crepes dan manisan jagung di sana. Pulaunya sendiri mengingatkan saya pada Gili Trawangan.

Tidak mau berpisah begitu cepat dengan lautan dan deretan pulau indah ini, di jalan pulang saya dan seorang teman duduk dan menikmati pemandangan di atas dek kapal bersama turis-turis asing. Biasanya yang duduk di atas dek kapal terbuka cuma turis asing yang mau sekalian berjemur di bawah sinar matahari, sedangkan turis lokal dan Asia yang takut kulitnya hitam lebih memilih duduk di bagian bawah.

Malamnya liburan kami di Phuket ditutup dengan berkeliling daerah Patong mencoba makanan seafood khas Thailand. Pada dini hari keesokan harinya kami berangkat dari hotel ke bandara dengan menggunakan minivan yang juga dipesan dari agen wisata. Tarifnya buat satu orang 150 Baht, tapi kalau sudah pesan terlebih dahulu buat banyak orang sekaligus (bulk) bisa ditawar jadi 100 Baht per orang. Bagian perjalanan ini yang paling berkesan buat saya pribadi tentunya Pulau Phi Phi. Saya ingin sekali kembali ke sana, mungkin lain kali lewat Krabi atau sekalian menginap di Phi Phi Don.

  • Foto-foto oleh Neni Adiningsih.

Disunting oleh SA 06/06/2010 & ARW 07/06/2010