Artikel

Menu

Catatan Perjalanan

Pelajaran Berharga dari Deles Indah, Klaten

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Hari itu, tepatnya hari Rabu. Bersama dengan sang saudara yang lahir mendahului saya, kami pergi dari rumah tanpa ada tujuan yang pasti. Tampaknya kebiasaan ini memang ada di dalam jiwa kami masing-masing. Kami suka pergi untuk mencari tempat dan hal-hal baru yang belum pernah kami datangi dan kami nikmati. Perjalanan kami hari ini pun akhirnya sampai di tempat yang tidak kami duga sejak berangkat tadi.

Rencana awal kami, hari ini hendak pergi ke suatu kota yang sudah amat terkenal dengan Jalan Malioboro. Alih-alih, perjalanan secara spontan berganti dengan jalan menantang menuju daerah wisata Deles Indah, sebuah lokasi wisata yang bagi kami berdua memiliki kadar ekstremitas tersendiri, karena letaknya cukup tinggi di atas permukaan laut. Namun, untuk kali ini rasa penasaran menambah jiwa keberanian kami untuk menuju lokasi. Tanpa ada rasa rendah diri kami pun mengarahkan sepeda motor kami ke arah kanan di pertigaan sebelum pabrik gula Gondang Winangoen di Klaten. Kondisi jalan di sini memang sedikit mengerikan. Lubang jalan yang lebarnya selebar kubangan kerbau pun selalu siap menghadang di jalan depan. Truk-truk pasir dengan muatan penuh siap menghalangi jalan kami dengan tumpahan pasirnya. Sempitnya jalanan pun harus kami bagi dengan pengendara-pengendara di sekitar kami. Keletihan, kesemutan, dan panasnya mesin bercampur menjadi satu pada saat itu. Namun, kami pantang istirahat sebelum sampai di tujuan akhir. Rasa penasaran menambah keinginan kami untuk segera sampai ke tujuan akhir. Setelah berjalan sekitar satu setengah jam dengan menghindari lubang-lubang jalan, kami pun sampai di tempat pembayaran tiket masuk.

Sungguh perjalanan yang sangat memuaskan. Ternyata dengan segala ketakutan kami untuk menghadapi sesuatu yang belum pernah kita coba mendapatkan hasil yang luar biasa. Walau, kami sedikit kecewa, karena tidak ada informasi mengenai tujuan selanjutnya setelah sampai di sini.

Papan nama Taman Nasional Gunung Merapi.
Papan nama Taman Nasional Gunung Merapi.

Akhirnya, kami memutuskan untuk turun lagi. Kami berdua ingin merasakan sensasi pemandangan yang luar biasa lebih dari ini. ini bermula ketika saya berpikir, dari tadi motor kami berpapasan dengan truk pasir bermuatan penuh. Lalu saya berpikir lagi, di mana tempat truk-truk itu tadi mendapatkan pasir sebanyak itu? Tujuan kami selanjutnya pun adalah mencari lokasi tempat di mana truk-truk besar tadi mendapatkan bebannya. Tak tahu arah sudah pasti, kami kemudian bertanya kepada warga sekitar tentang di mana truk-truk tadi mendapatkan pasir muatannya. Dengan ramah warga yang kami tanyai menjawab dengan baik. Kami pun segera meluncur ke sana sesuai petunjuk warga. Sudah seperti yang saya duga, jalan menuju lokasi ternyata lebih terjal dan curam dari yang tadi. Dengan permukaan jalan penuh batu dan kerikil membuat sepeda motor kami bekerja lebih keras. Mustahil untuk memutuskan untuk kembali setelah sekian jauh. Setelah berhasil menghadapi ujian jalan tadi, kami pun berhenti pada suatu titik di mana tempat itu menjadi tempat yang paling indah untuk mengambil foto.

Truk penambang pasir.
Truk penambang pasir.

Sebuah pelajaran saya dapatkan kali ini, betapa kerasnya pekerjaan orang-orang yang saya temui di tempat ini. Mereka bekerja bertaruh nyawa demi kehidupan keluarga. Mengangkat batu dan menaikkan pasir ke atas bak truk menjadi pekerjaan sehari-hari. Lelah atau sakit pun tak pernah mereka rasakan. Hal itu membuat segala keluhan kami selama di perjalanan tak mungkin saya ulangi lagi. Kami terdiam sesaat melihat semua keadaan ini. Dalam diamnya kami, kata pertama yang terucap pada saat itu adalah, “Ayo ndang muleh mas”. Ayo, segera pulang.

Nenek penjual durian di jalan pulang.
Nenek penjual durian di jalan pulang.

Dalam perjalanan pulang, banyak sekali pedagang durian. Kami yang hendak pulang, tidak sah rasanya bila tidak membawa satu dari dagangan ini. Setelah melewati beberapa pedagang di pinggir jalan akhirnya kamipun berhenti di sebuah lapak kecil dengan nenek tua yang duduk di antara puluhan buah dagangannya. Kakak saya langsung bertanya kepada sang nenek mengenai berapa harga buah tersebut. Apa yang saya duga ternyata benar, harganya sedikit lebih murah bila dibandingkan dengan harga durian di kota dengan kualitas yang sama. Kami pun mendapatkan tiga buah durian dengan harga Rp50.000.

Pesan dari perjalanan ini, berwisatalah atau bepergianlah tanpa ada tujuan yang jelas dan matang. Karena dengan itu, anda akan menemukan banyak pelajaran berharga yang tak mungkin bisa dibeli dengan uang. Salam!

Indrastomo Indrastomo adalah seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di sebuah universitas negeri di Indonesia.

MEDIA SOSIAL

LANGGANAN