Mengintip Korea Utara

Pada suatu Sabtu di musim gugur, saya bangun dini hari dan bersiap-siap untuk mengejar tur ke perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Tempat itu biasa disebut Demilitarized Zone (DMZ). Ada tiga gerbang masuk menuju DMZ di Korea Selatan: Yanggu (bagian Timur), Cheorwon (bagian Tengah) dan Paju (bagian Barat). Yang paling populer adalah Paju karena terletak paling dekat dengan ibukota negara Seoul, dan bisa ditempuh sekitar satu-dua jam dari Seoul.

Pos Penjaga di Sisi Hangang
Pos penjaga di sisi Hangang

Di sepanjang perjalanan bus dari Seoul, kami menyusuri sisi Hangang (baca: Han-gang, Sungai Han) yang ditutupi dengan kawat pembatas listrik. Beberapa tentara Korea Selatan tampak berjaga di pos di setiap kilometernya, mengawasi Hangang dari penyelundup. Di seberang sungai itu adalah pegunungan daerah Korea Utara, dan di sebelah kanan kami adalah persawahan dan pegunungan Korea Selatan. Perbandingan kedua pegunungan sangat berkebalikan. Pegunungan Korea Selatan tampak hijau dan dipenuhi tumbuhan, sedangkan pegunungan Korea Utara tampak merah dan gundul. Kata pemandu tur kami, Korea Utara membakar dan menggunduli pegunungan di perbatasan mereka untuk memudahkan mereka mengawasi siapa saja yang kabur dan masuk.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Suatu Hari Ketika Kami (Tidak Jadi) Berangkat ke Karimunjawa

Homestay
Homestay di Pantai Kartini

Tampaknya Tuhan memang sudah menakdirkan kami untuk bertemu dengan Mas Rohim waktu itu, hanya sekian menit sebelum kapal merapat. Sepersekian detik sebelum kami masuk ke dalam kamar hotel untuk mengambil tas dan berangkat ke dermaga.

Pagi itu pantai Kartini mendung. Di halaman depan homestay Kota Baru yang bernuansa Bali itu Mas Rohim menyapa saya dan istri.

“Dari Surabaya?” tebaknya, mengundang kami berbincang sebentar.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Upacara Penurunan Bendera Perbatasan Wagah

Penjaga perbatasan India-Pakistan menyeringai.
Penjaga perbatasan India-Pakistan menyeringai.

“Pakistan zindabad… Jai Hind… Pakistan zindabad… Jai Hind… Pakistan zindabad… Jai Hind…”

Seruan bermakna “Long live (jaya) Pakistan/India” yang bertalu-talu dan menggema itulah yang terdengar dari kejauhan. Dengan menumpangi motor bebek yang dikendarai Amjad, karyawan penginapan Regale Internet Inn tempat saya bermalam di Lahore, di sela-sela hari liburnya kami menuju ke desa Wagah, desa di perbatasan Pakistan–India. Dibutuhkan kurang lebih 30 menit melintasi jalan yang lenggang untuk menyaksikan upacara penurunan bendera sekaligus menandakan penutupan perbatasan. Upacara penurunan bendera dilakukan setiap sore sekitar pukul 17.00 atau lebih awal selama musim dingin, sebelum matahari terbenam.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

New York dan Sejuta Mimpi

Times Square
Times Square

Oh, marble-spired Manhattan, I look into your thousand eyes at dusk,

And your thousand eyes look back at me, kindled with lights over the harbor.
You hold the sky set like blue wings on your mountain peaks of splendor,

And you will hold the sky until the world ends and the dream is gone, Oh Manhattan.

(Edwin Curran)

New York. Kata orang, kota ini hutan beton menantang batas langit. Kata orang, penduduknya sibuk mengurus urusan duniawi sampai hampir tak punya waktu luang dan bercermin. Kata orang, kota ini soal menikmati hidup semaksimal mungkin. Kata orang lagi, kota ini soal kerasnya kehidupan di Bronx…

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Suatu Sore di Pantai Dreamland

Pantai Dreamland

Kami memacu motor ke bagian selatan Pulau Dewata. Setelah kompleks Garuda Wisnu Kencana terlewati, kami tiba di gerbang Pecatu Indah Resort. Inilah pintu masuk ke Pantai Dreamland, pantai yang semakin populer sejak grup band Michael Learns to Rock menjadikannya sebagai tempat syuting video klip lagu “Someday”, terletak di dalam kompleks resor milik Tommy Soeharto ini.

Untuk menikmati hamparan pasir putih Dreamland, setiap pengunjung dikenai biaya Rp 10.000/orang. Tidak ada pos penjualan karcis, hanya satpam berseragam yang memungut lembaran sepuluh ribu yang keluar dari kantong pengunjung.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Berlin, Sebuah Dialog dengan Dua Masa

Berlin Hauptbahnhof

Hari masih pagi ketika saya menjejakkan kaki di Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin, ibukota Jerman. Bayangan saya pada stasiun kereta api tua berarsitektur Baroque atau Roman sirna, karena stasiun ini berstruktur modern dengan kaca dan besi berpadu jadi satu, mempersilakan sinar matahari masuk dengan bebasnya sehingga tidak diperlukan banyak penerangan. Tetap cantik.

Saya sempat termenung sebentar di peron, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Barangkali mereka akan bertemu dengan keluarganya di kota lain. Ada anak kecil yang berlarian, lalu kembali ke orang tuanya, menunggu kereta ke ujung Berlin. Apapun tujuan mereka, peron kereta ini menjadi persinggahan.

Wilayah Berlin sangat masif ukurannya. Sebagai perbandingan, daerah khusus ibukota Jakarta bahkan hanya 80% dari total luas wilayah Berlin. Untungnya, kota ini dihubungkan oleh sistem transportasi massal yang memadai, terutama sistem rel dan bis.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Mengubek-ubek Museum di Stockholm

Kapal Vasa Hasil Evakuasi
Kapal Vasa hasil evakuasi.

Mengunjungi Stockholm dan Swedia sudah menjadi impian saya sejak dulu. Keinginan itu berawal dari beberapa hal naif, yakni kesukaan saya pada IKEA (walau pada akhirnya tidak mengunjungi toko IKEA di Stockholm), lalu keinginan melihat salju (walau pada akhirnya saya salah musim, dan salju belum turun). Alasan yang lebih serius barangkali adalah citra Swedia di mata saya sebagai negara yang aman, damai, maju dan jarang penduduknya: saya berfantasi tentang tempat yang sangat elok dan tenteram, jauh dari hiruk-pikuk Indonesia yang sangat padat penduduknya.

Tak ada alasan yang cukup serius apalagi intelektual. Barangkali.

Saya datang di Stockholm akhir bulan Oktober, di mana suhu sudah mulai menyejuk, tetapi belum bersalju. Langit tidak sebiru musim panas, tetapi masih menyenangkan untuk jalan kaki di luar. Kenapa saya di sini? Jalan-jalan saja. Sebenarnya, tujuan saya adalah untuk menelusuri 50% jalur kereta api di Swedia, yang berujung di Norwegia. Jadi, Stockholm praktis hanya tempat singgah untuk memulainya.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Memupuk Persahabatan di Las Vegas

Menikmati Gurun Nevada

Setelah tertidur kurang lebih lima belas menit, saya terbangun mendengar suara telepon teman saya, JB, berdering. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi saat itu, dan kami berada di sebuah hotel di Las Vegas.

“Ada apa?” tanya saya pada JB.

Dengan nada suara mengantuk, JB menjelaskan bahwa teman satu grup kami, Anthony, tidak dapat menemukan jalan pulang menuju hotel. Ketika kami semua terlalu lelah untuk melanjutkan berpesta, Anthony memutuskan untuk tetap tinggal. Tampaknya setelah berpesta Anthony terlalu mabuk sehingga ia tidak dapat menemukan hotel yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari klub yang terakhir kami singgahi.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Tersesat dalam Ruang dan Waktu di Phnom Penh

Kendaraan Umum di Phnom Penh

Gersang.

Kata itulah yang pertama keluar dari pikiran saya ketika sang kapten berkata bahwa dalam beberapa menit kita akan mendarat di bandar udara internasional. Ya, pemandangan hanya menyuguhkan hamparan coklat dengan sedikit sentuhan hijau di beberapa titik yang terlihat dari dalam pesawat. Apakah ini karena musim panas yang sedang menghampiri? Saya diperingatkan bahwa cuaca akan sangat panas saat ini.

Perjalanan kali ini membawa saya ke Phnom Penh, Kamboja, kota yang akan saya kunjungi selain Siem Reap. Selain terkenal dengan candi-candi indah luar biasa yang tersebar di seluruh penjuru negeri, Kamboja juga terkenal dengan masa lalunya yang kelam. Phnom Penh memiliki beberapa bukti sejarahnya.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Menjadi Orang Danau di Kashmir

Perahu di Dal Lake, Kashmir

Saat saya terbangun pada pagi pertama saya di Dal Lake yang terletak di negara bagian Kashmir, saya merasa seperti berada di rumah di Jakarta. Saya mendengar suara adzan subuh bersahut-sahutan di danau. Bedanya, danau tersebut baru sepi kembali setelah pukul enam pagi. Seiring matahari menampakkan diri, kecantikan gunung Himalaya yang berpucuk salju pun mulai terlihat.

Di antara kami berempat, saya mungkin yang paling tidak banyak tidur selama tinggal di Dal Lake, danau kedua terbesar di Srinagar, ibukota musim panas untuk negara bagian India paling utara, Kashmir. Walaupun suhu di luar sangat dingin untuk saya yang biasa hidup di negara tropis, saya selalu bangun paling pagi dan tidur paling malam. Saya sangat menikmati duduk di teras depan, menonton langit berubah warna dan warga danau yang lalu lalang dengan perahu tradisional mereka, shikara.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan