Artikel-artikel dari kategori Catatan Perjalanan (halaman ke-2 dari 10)

Menapaki Sejarah di Hoi An

hoian_bangunantua

Ketika membaca tentang Hoi An di salah satu novel, saya jadi penasaran dan merencanakan perjalanan ke sana. Kota yang diakui UNESCO sebagai salah satu khazanah warisan dunia ini terletak di provinsi Quang Nam di bagian sentral Vietnam. Kota kecil berpenduduk 120.000 jiwa.

Walaupun menjadi kota turis, akses ke kota ini sangat bergantung dengan keberadaan kota Da Nang, sekitar 30 km di utara. Kota Da Nang memiliki satu-satunya bandara dan stasiun kereta api yang paling dekat.

Setelah riset sana-sini, akhirnya saya memutuskan naik kereta api ke Da Nang setelah perjalanan dari Hue, kota historis lain di utara kota itu. Dari Da Nang, berlanjut dengan taksi yang sudah saya pesan dari hotel di Hoi An, seharga 100.000 rupiah. Ada alternatif lebih murah yaitu dengan bis, yang hanya sekitar 8.000 rupiah untuk bis umum atau 40.000 rupiah untuk bis turis.

Sepanjang perjalanan singkat dari Da Nang ke Hoi An, saya melihat sebuah perkembangan pesisir yang pesat. Pemerintah tampaknya ingin menjadikan pesisir antara kedua kota ini sebagai pusat wisata pantai atau bahari. Beberapa hotel lokal dan internasional pun sedang dibangun. Jalanan cukup besar dan sepi.

hoian_museum

Hoi An memiliki slogan “The Ancient Town“, atau kota tua. Benar saja, pusat kotanya masih didominasi bangunan tua dan jalan-jalan sederhana yang tak beraspal. Jangan bayangkan kota tua yang bernafas Eropa, Hoi An justru sangat bernafas Vietnam tradisional. Ia dinobatkan sebagai kota tua otentik Asia yang masih terawat. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

hoian_pedagang01

hoian_pedagang02

Namun, jangan khawatir. Bagi anda pecinta sejarah, pasti suka dengan keadaan Hoi An sekarang. Memang, untuk setiap “perangkap turis”, atau “tourist trap“, selalu ada bagian-bagian yang berkembang sesuai keinginan pasar. Beruntung, pemerintah dan penobatan UNESCO tampaknya sedikit membantu merawat kota tua pada kondisi nostalgisnya.

Menjelajah kota ini lebih baik dengan jalan kaki. Selain kecil, kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya membuat kita tak ingin cepat-cepat melalui setiap detil. Rasanya seperti mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17.

Dapat saya bayangkan dulu di jalan-jalan mungil ini ada pedagang keramik, pedagang gerobak yang menjajakan rempah-rempah, kuli pelabuhan, penjaja makanan atau majikan yang memarahi anak buahnya. Saat ini wajahnya sudah berubah, pedagang cinderamata mendominasi, menjajakan baju dan memorabilia Vietnam untuk berbagai usia, lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer sampai miniatur beragam kapal antik. Ruas jalan mungil memastikan mobil tidak bisa melaluinya dan saya pikir ini bagus. Tentu saja, penjaja makanan tetap ada, baik itu yang di rumah makan maupun gerobak, menjual mi Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran. Siap-siaplah untuk dipanggil masuk oleh pelayan restoran.

hoian_malam

Malam hari tak kalah dengan siang hari, justru lebih menarik. Lampu-lampu kecil dan lampion-lampion menghiasi seluruh penjuru Old Town, geliat pedagang dan penjaja makanan pun seolah tiada henti. Alunan tembang instrumental mengumandang dari pengeras-pengeras suara yang dipasang di bangunan-bangunan kota. Udaranya cukup sejuk.

Hoi An dipenuhi turis, jadi mungkin bagi mereka yang mencari ketenangan, di sini bukan tempatnya. Namun, bagi mereka yang senang dengan fotografi, sejarah dan melihat Vietnam dari sisi berbeda, Old Town di Hanoi cukup layak dikunjungi. Fotografi arsitektur menjadi tema utama. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah rumah toko (shophouse) kuno ala peranakan dan fotolah suasana jalan. Hati-hati dengan rendahnya langit-langit! Setelah itu, coba ke tepi sungai, atau bahkan naik perahu kecil untuk memotret pedagang buah di pinggiran.

hoian_sumbangan

Jalan-jalan ke Hoi An tergolong murah. Hotel yang cukup besar dan bersih hanya bertarif sekitar USD20 (Rp200.000) per malam, bisa diisi dua orang. Tentu, hotelnya bukan gedung yang besar, tapi hanya sebuah rumah toko. Berkeliling tak perlu kendaraan bermotor, kecuali anda ingin ekskursi lebih luas ke pantai di sekitarnya. Cukup jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD0.50 atau Rp5.000 per hari). Sewa sepeda motor, jika perlu, bertarif sekitar USD5 (Rp50.000) per hari.

Khusus di Old Town, yang menyerupai sebuah museum hidup, belilah tiket terusan tiga hari untuk masuk ke beberapa tempat atau properti yang diseleksi khusus karena signifikansi sejarahnya, antara lain rumah-rumah tua milik pedagang lama yang sekarang disewakan pemiliknya sebagai museum, jembatan dengan arsitektur Jepang, gedung pertemuan dan lain sebagainya. Tampak dari fasad arsitektur, kota ini sepertinya menjadi ruang lebur antara beberapa budaya, antara lain Vietnam, China, Jepang dan India.

Puas menikmati kota tua, hari lain kita bisa mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi dulunya pusat peribadatan raja-raja Cham, tidak besar tetapi memiliki sejarah penting, karena merupakan peninggalan masyarakat Cham yang konon berasal dari Kalimantan. Mereka berbahasa Malayo-Polynesia, yang artinya mirip dengan bahasa Melayu, Indonesia dan Tagalog. Sayang, beberapa candi dibom dalam Perang Vietnam.


24 Jam di Guayaquil, Ekuador

Kebanyakan turis berkunjung ke Ekuador untuk melihat ibukota Quito serta Kepulauan Galapagos yang melegenda karena menjadi inspirasi Charles Darwin dalam mencetuskan teori evolusi. Menurut saya, Guayaquil haruslah juga menjadi salah satu destinasi utama bagi para turis yang mengunjungi Ekuador meskipun hanya sehari saja. Dalam perjalanan saya ke Peru baru-baru ini, saya dan teman saya sempat melihat-lihat Guayaquil selama 24 jam sebelum kami kembali dari Peru ke tempat kami tinggal di Pantai Timur Amerika Serikat. Kami terpesona pada cantiknya Guayaquil!

Kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduknya di Ekuador ini sebenarnya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Guayaquil adalah kota metropolitan dengan pelabuhan yang ramai dan aktifitas perdagangan dan jasa yang menggeliat sepanjang siang dan malam. Dalam sejarah negeri-negeri Amerika Latin, Guayaquil terkenal karena menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822, yang mempertemukan dua tokoh besar pro-kemerdekaan Amerika Latin, yakni Jose de San Martin dan Simon Bolivar. Kini, bagi kebanyakan turis, ibukota finansial Ekuador ini berperan sebagai tempat persinggahan bagi turis asing yang hendak berkunjung ke Galapagos. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk tiba di Galapagos dari Bandara Jose Joaquin de Almedo di Guayaquil.

Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000
Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000

Begitu kami tiba di Guayaquil, kami terkesan pada megahnya bandara. Rasanya tidak jauh beda dengan Terminal 3 Bandara Changi di Singapura. Di antara terminal kedatangan dengan foyer tempat penumpang bisa dijemput ada kolam ikan koi yang dikelilingi tanaman-tanaman tropis. Sambil menunggu datangnya shuttle bus dari hotel, saya memutuskan memberi makan ikan-ikan koi yang berseliweran. Pengunjung bandara bisa dengan mudah membeli makanan ikan koi dari vending machine di sebelah kolam. Saya pun memasukkan koin 25 sen/satu quarter berlambang bald eagle Amerika Serikat ke dalam vending machine karena mata uang yang berlaku di Ekuador adalah dolar AS.

Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil
Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil

Dari hotel, kami dijemput oleh ayah teman dekat saya ketika S1 yang kebetulan berasal dari Guayaquil dan kini kembali tinggal di kota kelahirannya setelah lama merantau di New York dan Puerto Rico. Tío Leo langsung mengajak kami bersepeda santai di kawasan cagar alam Pulau Santay. Sebuah jembatan pedestrian dengan panjang sekitar 1 km menghubungkan Guayaquil dengan Santay yang dipisahkan oleh sungai Guayas. Dari jembatan ini kami menikmati pemandangan metropolis Guayaquil yang penuh pencakar langit. Namun, hiruk pikuk kota besar terasa langsung hilang sebegitu sepeda kami memasuki wilayah cagar alam. Dari raised platform tempat kami bersepeda, kami bisa dengan mudah melihat burung-burung berseliweran di antara berbagai jenis bakau dan tanaman tropis lainnya. Pantas saja Tío Leo sering bersepeda ke Santay untuk menghilangkan penat.

Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil
Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil

Sambil bersepeda ke kampung nelayan di Santay untuk makan siang dan melihat penangkaran buaya, Tío Leo banyak bercerita tentang optimismenya akan masa depan Ekuador. Ia adalah pendukung berat Presiden Rafael Correa yang saat ini tengah menjabat. Menurutnya, Presiden Correa memberikan angin perubahan dan rasa percaya diri sebagaimana Presiden Obama, Modi, dan Jokowi membawa negara masing-masing ke era baru yang terlihat lebih menjanjikan. Kata Tío Leo, Presiden Correa yang ekonom dan lulusan Amerika Serikat tetapi berasal dari keluarga kelas pekerja Guayaquil ini berani mengajukan tuntutan penghapusan utang rezim lama ke pengadilan internasional dan berhasil mengurangi secara drastis jumlah utang Ekuador, selain juga berhasil mengurangi angka kemiskinan dan memberikan akses yang luas ke pendidikan dan layanan kesehatan bagi rakyat Ekuador. Bahkan, wajah cagar alam Santay yang tampak rindang dan desa nelayan Santay yang bersih dengan fasilitas memadai tidak lepas dari peran sang presiden. Cagar alam tersebut baru saja diresmikan Correa pertengahan tahun 2014 lalu.

Sekembalinya kami dari Santay, kami langsung naik Metroquil, sistem bus rapid transit Quayaquil yang tidak jauh beda dengan TransJakarta busway di ibukota, menuju ke bulevar Malecon 2000. Dengan panjang sekitar 2,5 km, boardwalk lebar di samping sungai Guayas ini adalah tempat rekreasi utama warga Quayaquil dan sekitarnya. Beruntung kami ada di sana pada Sabtu sore, karena ada dua konser musik gratis di atas boardwalk menghibur jalan-jalan sore kami menyusuri Malecon 2000. Di sisi kiri kami berjajar gedung-gedung tua bernuansa art deco dan moorish yang terawat dengan baik sedangkan angin sepoi-sepot berhembus dari sungai di sisi sebelah kanan. Sisi selatan Malecon 2000 tempat kami memulai jalan-jalan sore didominasi tempat perbelanjaan bawah tanah serta bermacam-macam pujasera yang menawarkan makanan khas Ekuador maupun makanan cepat saji internasional. Di sepanjang boardwalk berjajar patung-patung tokoh historis asal Guayaquil, termasuk monumen yang memperingati berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822. Di sana sini terdapat area rekreasi dan olahraga yang bisa dinikmati secara gratis oleh penduduk Guayaqil. Mendekati akhir boardwalk di bagian utara, kami mendapati beberapa museum, pusat kebudayaan, serta bioskop IMAX. Tak jauh dari pusat kebudayaan tersebut ada taman kota rindang dengan kolam air mancur tua yang amat cantik. Kalau tidak ingat bahwa ada banyak tempat menarik lain yang harus dikunjungi, rasanya saya ingin menghabiskan sore membaca buku di tempat yang sedemikian teduh. Ah, andai saja kota saya Jakarta punya banyak taman kota indah seperti ini.

Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822
Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822

Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador
Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador

Dari ujung utara Malecon 2000, Tío Leo mengajak kami naik ke puncak bukit atau cerro Santa Ana. Di bukit inilah, yang sering juga disebut Las Penas, pemukiman pertama di Guayaquil berdiri. Karena itulah, di puncak bukit terdapat reruntuhan benteng lengkap dengan meriam-meriamnya. Di bagian paling atas bukit ada kapel kecil dan mercusuar yang hingga kini masih berfungsi. Untuk sampai ke puncak bukit, kami perlu mendaki ratusan anak tangga yang dikelilingi rumah-rumah kuno beraneka warna yang kebanyakan kini telah beralih fungsi menjadi restoran, galeri, dan toko suvenir. Arsitektur Hispaniknya mengingatkan saya pada rumah-rumah kuno di kawasan kota tua Intramuros di Manila. Dari bawah bukit, cerro Santa Ana terlihat seperti favela di Rio de Janeiro dan Gamcheon art village di Busan yang dicat warna-warni, sedangkan dari puncak mercusuar, kami menikmati pemandangan kota Guayaquil diiringi temaram matahari yang mulai tenggelam. Rumah-rumah aneka warna di punggung bukit berkilau terang terkena sinar mentari sore. Indah sekali. Kata Tío Leo, satu dekade lalu Las Penas/Cerro Santa Ana adalah daerah kumuh. Pemerintah Guayaquil bersama dengan warga lokal lantas merevitalisasi kawasan kuno ini. Hasilnya jelas tidak mengecewakan. Kalau waktu Anda di Guayaquil terbatas, daerah ini layak menjadi persinggahan utama.

Suasana senja di atas puncak Cerros Santa Ana; gambar diambil dari puncak mercusuar

Kami lantas berjalan kaki menuju Katedral Metropolitan Guayaquil yang dibangun dengan gaya neo-Gothik. Di depan Katedral ini terdapat sebuah plaza dan taman dengan nama Parque Seminario, tetapi lebih banyak dikenal dengan sebutan Parque de las Iguanas. Disebut begitu karena memang taman ini dihuni banyak sekali iguana. Kami menemukan iguana bergelantungan di pohon, tidur-tiduran di pinggir kolam ikan dan berkeliaran di sekitar pagar. Meskipun malam sudah tiba, taman ini terang oleh lampu-lampu besar. Di tengah taman berdiri patung perunggu Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan negeri-negeri Amerika latin yang namanya kini diabadikan juga sebagai nama negara Bolivia. Di sekeliling patung terdapat banyak tempat duduk yang ramai oleh keluarga dan pasangan. Beberapa dari mereka mencoba memberi makan dan bermain dengan para iguana yang memang sudah menjadikan taman ini habitatnya. Berlama-lama guna bercengkerama dengan iguana-iguana jinak di taman ini boleh-boleh saja, asal jangan kaget kalau tiba-tiba ada “bom” kotoran iguana atau burung yang jatuh ke badan Anda dari pepohonan tempat para hewan bermukim.

Malam sudah penuh menyelimuti Guayaquil ketika kami memutuskan menyudahi jalan-jalan kami. Tío Leo lantas membawa kami ke restoran khas Ekuador tak jauh dari Parque de las Iguanas. Karena Guayaquil terletak dekat laut, pilihan saya jatuh pada “chupe de corvine y camarones” yakni sup ikan dan udang khas Guayaquil yang bertaburan irisan bawang dan kentang. Hmm, segar dan yummy! Apalagi bila ditambah dengan sedikit aji atau saus sambal. Tentu kami tak lupa mengudap penganan nasional Guayaquil yaitu pisang goreng. Sambil makan, Tío Leo bercerita banyak tentang dinamika perubahan yang tengah terjadi di Ekuador, di mana beberapa tahun terakhir di bawah Presiden Correa korupsi mulai berkurang dan birokrasi menjadi lebih efisien. Memang Ekuador masih harus banyak belajar memperbaiki kekurangan di sana-sini, tapi perubahan itu sudah bisa dilihat. Misalnya saja, dulu Guayaquil adalah kota yang terkenal dengan tingkat kriminalitas tinggi. Banyak sekali terjadi perampokan dan pembunuhan yang menjadikan penumpang dan terkadang juga supir taksi sebagai korban. Kini semua taksi yang beroperasi di Guayaquil dilengkapi dengan tombol darurat di sebelah tempat duduk penumpang. Begitu ada kemungkinan kejadian mengkhawatirkan di dalam ataupun di luar taksi, sang penumpang dapat menekan tombol tersebut dan mobil polisi terdekat akan segera tiba. Setelah sistem tersebut mulai diimplementasikan, angka kriminalitas Guayaquil mulai menurun.

Setelah puas mengobrol, Tío Leo mengantar kami kembali ke tempat kami menginap yang terletak tak jauh di bandara dan berseberangan dengan mal terbesar di Guayaquil, Mall de Sol. Waktu istirahat telah tiba setelah seharian menjelajahi Guayaquil. Kami pun harus terbang kembali ke New York keesokan harinya. Sebelum tidur saya mengirimkan pesan WhatsApp ke Melina, teman kuliah S1 saya yang merupakan putri Tío Leo dan kini bermukim di Puerto Rico setelah sebelumnya sempat tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya: “Guayaquil is a great city; I wish Jakarta had something like Malecon 2000 and its beautiful gardens.” Tak berapa lama Melina menjawab: “Jakarta has so much potential and sooo much it can showcase; it just needs the government to see how important it is to invest on it.” Benar, true that, Melina!


Dari Tele, Memandang Toba

Semburat fajar di Danau Toba
Semburat fajar di Danau Toba

Berawal dari kesuntukan sehabis berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, teman saya Rakhmat Alfian mengusulkan ide luar biasa: melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan. Dibisikkan dari kelas-kelas, akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

Tomok
Tomok

Toba, dari Tele
Toba, dari Tele

***

Saya beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Di atas feri, angin danau berembus sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang, terpampang perbukitan hijau yang mengelilingi danau Toba. Di lain sisi tampak rumah-rumah bolon—rumah adat Samosir—dan nyiur-nyiur dan kapal-kapal yang tengah bersandar—semua panorama yang disaput awan tipis. Indah sekali. Semakin indah karena kami juga ditemani seniman cilik yang mendendangkan lagunya.

Perjalanan tak lama karena segera saja kami sampai di Tomok. Tomok adalah tempat singgah pertama dan utama feri-feri yang menuju Samosir. Di Tomok, suasana riuh oleh para penjual yang menggelar lapak dan para pembeli yang berdesak-desakan mencari makanan, barang kerajinan, dan tetek bengek lain yang khas Toba-Samosir. Tomok sejatinya pasar akbar di tepi danau.

Cukup lama kami berbelanja di Tomok hingga datanglah kawan-kawan kami yang membawa mobil. Sebelum bertolak dari Tomok, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar yang wingit dan mengambil banyak sekali foto. Foto-foto, buat kami, merupakan tautan yang menghubungkan kita dengan generasi mendatang: semacam sistem pengendalian intern supaya di masa depan anak-cucu kita masih bisa melihat apa yang seharusnya (masih) ada di masa mereka.

Segera mencebur
Segera mencebur

Siang cukup terik dan kami berada dalam perjalanan menuju Tuktuk, desa penginapan populer para turis. Populer karena di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus yang menawarkan pemandangan langsung danau Toba dari tepian.

Lantaran perut mulai keroncongan, kami memutuskan mencari rumah makan. Bukan sembarang rumah makan, melainkan rumah makan yang khusus menghidangkan makanan halal. Memang agak sukar menemukan penjual makanan halal di pulau yang juga merupakan kabupaten ini. Harus benar-benar selektif dan mensyaratkan penjual tak menawarkan sama sekali makanan non-halal di buku menunya.

Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah pertigaan dengan gapura besar bermotif ukiran Batak Toba. Di sana terdapat padang rumput hijau yang luas nian. Naluri narsistik kami segera terbit. Jadilah padang rumput itu menjadi tempat mejeng yang hiruk piruk di siang bolong. Momen-momen nan bersejarah itu lekas dipotret oleh Muhammad Reza Budiman.

***

Sesampainya di Tuktuk, berkat diplomasi Yobin, kami mendapat penginapan murah yang cukup nyaman dan—yang paling penting—memungkinkan kami untuk menikmati danau Toba teramat dekat. Tanpa banyak cakap, saya dan beberapa teman segera berganti pakaian dan mencebur ke danau.

Brrr. Segarnya air danau menguliti rasa capai setelah semalaman lebih berkendara. Betah rasanya berlama-lama berendam di danau Toba. Selain jernih, air tak berombak dan tak berasa asin sehingga seolah seperti berenang di kolam renang raksasa.

Sehabis berenang, tidur menjadi langkah selanjutnya buat merontokkan penat. Dalam urusan renang—dan tampaknya semua cabang olahraga lain—jangan pernah sekalipun melawan Muhammad Taufik Taqdir, yang biasa dipanggil Opik. Ketika semua puas berenang—yang tadinya capai menjadi segar lalu capai kembali—Opik masih asyik berakrobat di danau. Angin mulai berembus kencang dan hujan jatuh rintik-rintik tanda akan datang badai, tapi si Opik masih saja berenang.

Bangun dari tidur, ternyata beberapa teman telah pulang mendahului kami. Idah Rosida, Retisa Heryati Siwi, dan Agmalun Hasugian mesti kembali ke Medan dan tak mungkin menginap lantaran suatu agenda. Jadilah Anggina Rizki Harahap dan Izzah Annisa saja kaum perempuan yang tersisa bersama kami.

Usai sembahyang Isya, kami menuju tempat makan yang unik karena pemiliknya penyuka reptil. Sembari menyantap hidangan, kami dan reptil saling memandang tentang siapa dari kami yang harus memperkenalkan diri duluan.

Sekembalinya ke penginapan, ternyata acara tak lantas selesai (“Malam Minggu pulak!” kata anak Medan). Acara selanjutnya, bakar-bakaran ikan! Tentu bukan membakar ikan belaka yang jadi pokok acara. Bakar-bakaran jadi asyik dan semarak sebab ditingkahi dengan obrolan tak berkesudahan yang dilengkapi dengan olok-olok menyenangkan. Judulnya bakar-bakaran ikan, tapi isinya rupa-rupa upaya buat memunculkan keakraban dan mempererat persahabatan.

***

Keesokan paginya kami bersiap meninggalkan penginapan dan, tentu saja, Tuktuk. Tujuan kami selanjutnya adalah Tele, puncak tertinggi di Samosir. Di Tele terdapat menara pandang yang konon mampu menyajikan lanskap danau Toba secara lengkap dan utuh.

Melewati persawahan, pohon-pohon, bukit-bukit, para bule yang bersepeda, dan kuburan-kuburan Batak yang dibangun teramat megah, pulau Samosir tak kalah dengan pulau Bali—paling tidak menurut saya. Keduanya dipersamakan oleh kebudayaan dan religi yang kuat, namun sayang diperbedakan oleh dukungan finansial yang ibarat bumi dengan langit.

Penginapan bergaya rumah Bolon
Penginapan bergaya rumah Bolon

Patung-patung di makam Raja Sidabutar
Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

Di Tele, ketika teman-teman lain seperti Syaeful Amri, Alfauzi Saiful Anwar, Adib Fathoni, dan Septano Guna Aji berfoto-foto mesra, saya merasa bahwa saya pasti, harus, dan akan mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi suatu hari nanti, dengan perasaan yang tak kalah mesra dibanding foto-foto mereka semua.


Menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Resorts World Sentosa, Singapura

Semalam saya berkesempatan menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Universal Studios, Singapura. Apa yang terjadi kemarin setelah matahari terbenam? “Demoncracy” merajalela, mengambil-alih Universal Studios dipimpin oleh Minister of Evil.

Empat scare zones dan empat haunted houses yang diset sukses membuat kami merinding disko semalaman.

Jack's Nightmare Circus
Jack’s Nightmare Circus.

Jack's 3-Dementia
Jack’s 3-Dementia.

Acara dimulai dengan Jack’s Nightmare Circus, tentu saja bintang dari pertunjukannya adalah Jack si badut jahat. Sirkus ini menampilkan banyak performers yang ternyata didatangkan dari luar Singapura, tapi, ya, ujung-ujungnya dibunuhin semua sama si Jack (oops, spoiler?).

Selesai sirkus, kami beranjak menelusuri scare zones dan haunted houses.

Haunted houses yang disiapkan ada empat buah, Jack’s 3-Dementia yang keren banget memakai efek 3D untuk menipu color coordination dan depth of field kita. Jing’s Revenge yang berlatar di sebuah sekolah dan sukses membuat orang-orang terbirit-birit karena hantu klasik sekolahnya sangat mengagetkan. Mati Camp yang sangat bising, tempat Minister of Evil mendidik tentara-tentaranya dengan cara yang sangat kejam. Haunted house terakhir adalah Laboratory of Alien Breeding, ini personally bikin saya sangat merinding karena ada banyak humanoid reptil dengan sisik yang banyak pula.

The Lab
The Lab.

The Scary Tales
The Scary Tales.

Di antara empat haunted houses ini terdapat empat scare zone. Bedanya dengan haunted house, scare zone ini tempatnya terbuka. Di siang hari dia seperti setup horor biasa di Universal Studios, tapi di malam hari jadi ada “penunggunya”.

Masing-masing scare zone mengusung tema berbeda, mulai dari kota New York yang disatroni setan (Demoncracy), zombie koboi dan Indian (Canyon of The Cursed), gang yang isinya hantu semasa kecil (Bogeyman) sampai ke zona favorit saya: The Scary Tales. The Scary Tales ini sendiri merupakan zona di mana para putri yang berasal dari dongeng-dongeng berubah menjadi versi horornya. Di sini saya berkesempatan melihat Rapunzel “botak tapi gondrong” dan Red Riding Hood yang bawa kapak berdarah ke mana-mana. Benar-benar kebalikan dari dongeng-dongeng yang biasa saya dengar.

Demoncracy
Demoncracy.

Akhir kata, beberapa jam yang saya habiskan di sana sangat menakutkan namun menghibur. Terima kasih Resorts World Sentosa atas undangannya, besok-besok lagi, ya!


Terpana Pesona Air Terjun Dua Warna

Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.
Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.

Pelesir itu, buat Agmalun Hasugian, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Pelesir-pelesir yang bikin suntuk semacam itu, menurut Agmal, justru digemari masyarakat urban dewasa ini. Berkaraoke, belanja di mal, menonton film di bioskop, atau menyantap makanan di restoran-restoran mahal menjadi budaya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tak terkecuali Medan, yang bagi Agmal adalah hiburan-hiburan kelas rendah yang konsumtif.

Maka, ketika pada suatu siang sehabis sembahyang Jumat Agmal mengajak teman-temannya, termasuk saya, untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dia maksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: air terjun dua warna.

***

Pos penjaga hutan (ranger).
Pos penjaga hutan (ranger).

Air terjun dua warna dapat ditempuh dengan menyewa angkutan kota (angkot) yang jamak ditemui di Medan. Kota Medan, saya rasa, memiliki sistem perangkotan (maafkan kalau afiksasi saya terdengar janggal di telinga) yang baik. Angkot ditempeli nomor yang menunjukkan trayeknya. Jika anda hendak ke Merdeka Walk, misalnya, anda mesti naik angkot bernomor 103—dan sampailah anda di sana.

Jangan kaget ketika sopir menyetir ugal-ugalan. Sopir angkot di Medan memang merasa punya sembilan nyawa. Melesat di lajur kanan, sang sopir bisa saja tiba-tiba banting setir ke kiri ketika melihat calon penumpang melambaikan tangan atau tatkala seseorang bilang, “Minggir, Bang.” Pegangan pun harus kuat karena si sopir bisa mengerem dan mengegas angkot secara mendadak. Walaupun begitu, keselamatan penumpang agaknya masih menjadi perhatian. Saat menaikkan penumpang, angkot belum akan jalan kalau penumpang tersebut belum duduk nyaman di jok yang tersedia.

Di atas Sutra.
Di atas Sutra.

Bersama angkot Medan sewaan, kami menuju objek wisata air terjun dua warna yang terletak di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Perjalanan ditempuh selama lebih-kurang dua jam, melalui Jalan Jamin Ginting yang panjangnya bukan main: terentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Deli Serdang.

Menuju air terjun dua warna, kami mesti melewati kawasan Perkemahan Pramuka Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. Bumi perkemahan yang pada 1972 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah berjalan kaki selama beberapa menit, sampailah kami di pos penjaga hutan (ranger) yang bakal memandu kami.

Kenapa mesti dipandu? Soalnya, buat mencapai air terjun kami mesti menerobos lebatnya pepohonan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang termasuk dalam wilayah lereng Gunung Sibayak (2.212 m), salah satu gunung berapi aktif (stratovolcano) di Sumatera Utara. Tanpa pemandu, perjalanan akan menemui banyak masalah. Hutan yang lebat sangat mudah membuat orang tersesat. Kendati telah ada jalan setapak, hanya penjaga hutanlah yang mengerti jalan setapak mana yang mengarah ke tujuan. Ngarai-ngarai yang curam juga mesti diwaspadai karena kerap dijumpai di rute yang dilalui.
Beserta rombongan lain dan seorang pemandu yang merokok terus sepanjang waktu, kami berjalan kaki menikmati rimbunnya hutan dan segarnya napas alam. Sehabis dua jam berjalan—melewati jalanan berlumpur, mendaki batu-batu besar seukuran kerbau, menyeberang kali—dan diselingi mengaso berkali-kali, sampailah kami di lokasi.

Seperti namanya, terdapat dua macam air terjun yang mengadang kami. Air terjun pertama setinggi sekira 50 meter dan mengalirkan air berwarna hijau/biru. Sementara air terjun yang lain setinggi kira-kira 20 meter dan mengucurkan air jernih layaknya air terjun pada umumnya. Keduanya membentuk telaga yang berwarna hijau/biru dan putih keabu-abuan di mana pengunjung dapat berenang di sana. Telaga berwarna hijau/biru bersuhu sangat dingin, sedangkan telaga berwarna putih keabu-abuan bersuhu hangat.

Konon, sejauh ini belum diketahui siapa yang kali pertama menemukan air terjun itu. Informasi singkat menjelaskan bahwa seseorang bernama Imanuel Sinuraya-lah yang pada 2004 mengetahui keberadaan air terjun ini secara tak sengaja. Di samping itu, belum ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan penyebab perbedaan warna dan suhu air terjun itu. Keterbatasan informasi dan belum adanya fasilitas yang memadai membuat keberadaan air terjun dua warna menerbitkan rasa penasaran banyak orang, terutama mereka yang berjiwa petualang.

Ketika sampai di sana, sudah banyak pengunjung yang mandi, berenang, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Sebagian lain menikmati seduhan mi instan yang dijual pedagang dadakan yang mangkal di lokasi tersebut. Tak sedikit pula yang mengisi botol-botol minum mereka dengan air yang mengucur dari titik-titik mata air di dinding lembah.

***

Puas mandi dan berenang, bersama rombongan dan pemandu kami meninggalkan air terjun dua warna. Menempuh rute dan waktu yang sama saat keberangkatan, sampailah kami di pos penjaga hutan kembali. Capai, penat, dan berkeringat tentu, tapi kami sangat menikmati pelesir ini.

Berjingkat di batu-batu.
Berjingkat di batu-batu.

Kami pulang ke tempat tinggal kami di Padang Bulan, Medan, dengan menaiki Sutra. Sutra adalah angkutan antarkota/kabupaten berwujud bus tanggung yang, antara lain, menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kota Medan. Sutra sejatinya cuma merek usaha angkutan. Ada juga merek lain seperti Borneo, Dairi, Sinabung, dan seterusnya, yang sesungguhnya wujudnya, ya, itu-itu juga.

Menaiki Sutra ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Sebab, tidak seperti angkutan lain, oleh kernet kami tidak dipersilakan masuk, tapi disuruh memanjat ke atap. Lho? Ya, di atap bus kami menikmati perjalanan pulang yang sungguh mengasyikkan.

Meniti tali melewati ngarai.
Meniti tali melewati ngarai.

Sembari berpegangan pada pegangan besi di atap bus, embusan angin menerpa muka kami. Pohon-pohon di tepi jalan melambaikan daun mereka melihat kami melintas. Para ‘penunggang atap bus’ lain yang berpapasan dengan kami menyapa kami dengan teriakan mereka. Sesekali sopir melajukan bus dengan kencang, dan itu memacu adrenalin kami.

Wisata alam sampai kapan pun menawarkan pesona yang nilainya tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Yang memesona bukan semata destinasinya, melainkan bagaimana kita mencapai destinasi itu. Lebih daripada apa pun adalah kesadaran kita untuk terus menjaga hutan, pohon-pohon, batu-batu, tanah berlumpur, ngarai, lembah, mata air, telaga, dan air terjun agar semuanya itu bisa dinikmati pula oleh generasi sesudah kita.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

Dari Bawah Laut Hingga Atas Bukit Pulau Kanawa

Bar saat senja
Bar saat senja

Perahu saya berlabuh setelah perjalanan dua hari satu malam mengelilingi Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, di sebuah pulau kecil yang sudah disulap menjadi resort sederhana dengan pemandangan yang luar biasa bernama Pulau Kanawa. Menginjakkan kaki di Pulau Kanawa sekitar jam dua siang, tubuh terasa tidak sabar untuk segera melihat apa yang tersembunyi di perairan sekitar pulau ini.

Bawah laut Pulau Kanawa begitu memanjakan mata saya. Kegiatan snorkeling saya mulai dari dermaga yang berada di utara pulau lalu berlanjut menuju ke arah barat. Berbagai koral dan ikan yang beraneka warna menemani sepanjang kepakan kaki di permukaan laut. Petualangan bawah laut ini berawal dari sambutan rombongan ikan menuju laut lepas, ikan nemo yang malu-malu bersembunyi dibalik koral, dan berakhir dengan bertemunya saya dengan penyu yang berenang santai, tenang, dan bebas. Hingga tak terasa saya sudah berenang cukup jauh hingga ke bagian barat pulau ini.

Pesisir pantai Pulau Kanawa
Pesisir pantai Pulau Kanawa

Restoran outdoor
Restoran outdoor

Setelah lelah snorkeling dan badan yang kering dengan sendirinya, saya menghabiskan sore dengan membaca buku di hammock yang berada di samping dermaga. Di pantai sebelah utara pulau ini dengan mudahnya terlihat bayi ikan hiu yang berenang di pinggir pantai menemani pengunjung yang menghabiskan waktu tidur sore di pantai yang sepi ditemani angin semilir yang menjemput tenggelamnya matahari.

Malam hari dihabiskan dengan makan malam di restoran yang ada di pulau dengan tiga bagian restoran yaitu dalam ruangan, luar ruangan yang ditemui dengan pohon rindang berbalut lampu temaram, dan bar kecil di luar ruangan dengan musik mengalun. Pilihan menu terdiri dari berbagai pasta yang memang bukan makanan lokal namun apa boleh buat hanya ini satu-satunya tempat bersantap di pulau kecil ini. Listrik pulau ini padam pada pukul 11 malam, setelah makan malam saya berjalan santai menuju pantai hanya untuk merebahkan badan ke pasir dan mata saya tak berhenti menatap gugusan bintang terbaik yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Dermaga
Dermaga

Fasilitas Bale'
Fasilitas Bale’

Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit

Waktu menunjukkan jam empat pagi, saya terbangun dan pergi ke arah selatan pulau untuk melihat matahari terbit dari puncak bukit. Dengan penerangan senter, saya mendaki bukit yang cukup dengan waktu lima belas menit untuk mencapai ke puncak. Setelah sampai puncak, lambat laun sang surya menampakkan dirinya menerangi seluruh kecantikan pulau ini. Pemandangan dari atas bukit ke arah pantai dan laut dapat terlihat gradasi putih pantai dengan biru laut yang begitu menawan.

Sayang sekali saya hanya menghabiskan satu malam di Pulau Kanawa yang indah ini. Setelah sarapan pagi kapal menuju Labuan Bajo telah berlabuh dan siap mengantarkan saya serta pengunjung lain pulang. Satu malam di Pulau Kanawa seperti mimpi bagi saya, keindahan dari atas bukit hingga bawah laut tidak tercela.


“Live on Board” di Komodo

Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca
Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca

Tujuan perjalanan saya ke Komodo sangat jelas. Live on board (tinggal di kapal) selama lima hari dan menyelam 15 kali. Perjalanan kali ini telah direncanakan dengan matang oleh saya dan delapan orang teman sejak bulan November 2013. Kami sengaja memilih akhir Maret sampai awal April 2014 sebagai agenda perjalanan kami mengingat curah hujan rendah di daerah Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Awalnya saya berpikir di akhir Maret, Komodo akan bersemi hijau dan saya tidak mungkin bertemu dengan savana cokelat indah khas Komodo yang terkenal. Ternyata salah. Komodo di bulan Maret justru menghadirkan gabungan antara savana dan “musim semi” yang baru mulai.

Trekking di Pulau Rinca
Trekking di Pulau Rinca

Saya dan teman–teman terbang paling pagi dari Denpasar ke Labuan Bajo. Sampai di sana kami disambut udara panas dan matahari terik khas timur Indonesia . Setelah makan siang, kami bertemu dengan tur operator kami, CnD, sebelum akhirnya bertolak ke kapal KM. Embun Laut menggunakan kapal kecil.

Menikmati Pantai Mawan
Menikmati Pantai Mawan

Mengejar matahari terbenam
Mengejar matahari terbenam

Pemilik KM. Embun Laut sekaligus instruktur selam CnD bernama Condo Subagio atau Pak Condo. Kapal tiga level ini dulunya kapal kargo yang kemudian “disulap” oleh Pak Condo menjadi kapal wisata. Terdiri dari lima kamar tamu, dua kamar mandi, Embun Laut mampu mengakomodasi hingga 10 orang tamu. Meskipun lebih populer sebagai tur menyelam, CnD juga menyediakan jasa bagi mereka yang tidak melakukan penyelaman.

Komodo terdiri dari 17 pulau besar dan kecil. Pulau besarnya hanya Pulau Rinca dan Komodo. Di dua pulau inilah habitat utama Komodo. Kami menyempatkan berkunjung ke kantor Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca dan melakukan trekking, melihat pemandangan Gili Lawa Laut dari atas. Ditemani dua jagawana (forest ranger), trekking siang kami menyenangkan dan informatif. Cerita seputar Komodo si kadal besar begitu menarik. Misalnya, Komodo berenang untuk menyeberang dari pulau satu ke lainnya. Mereka menutup lubang hidung dengan lidah mereka yang panjang bercabang sembari berenang.

Penyelaman kami di Komodo berjalan lancar. Kami puas melihat biota laut luar biasa seperti manta ray, ikan napoleon, black tip dan white tip shark, serta beragam karang (coral reef) yang kaya. Kami menyelam ke satu goa kecil dimana konon ikan–ikan berenang terbalik di dalamnya. Tidak hanya di atas permukaan laut, di bawah lautpun Komodo benar-benar indah.

Matahari terbenam
Matahari terbenam

Berkunjung ke Komodo belum lengkap tanpa berjemur di pantai dengan pasir kemerahan. Kami dibawa ke Pantai Mawan dan menikmati pantai itu untuk kami sendiri. Mewah. Sehari sebelum kembali ke Labuan Bajo, kami trekking ke pulau tak berpenghuni demi mengejar matahari terbenam. Langit bersih Komodo memang benar – benar juara! Pagi hari biasanya langit kemerahan ungu, siang hingga sore biru cerah, malam hari penuh puluhan rasi bintang. Liburan kami di Komodo sukses membuat kami semua tidak ingin pulang. Saya sendiri ingin kembali lagi ke Komodo suatu hari nanti. Semoga.

  • Disunting oleh SA 16/06/2014

Memburu Salju Musim Gugur (Bagian 1)

Toko peta tua di Gamla Stan
Toko peta tua di Gamla Stan.

Beberapa perjalanan udara, darat dan air membawa saya ke kota keberangkatan: Stockholm, Swedia, kota berpenduduk 1,2 juta jiwa. Musim gugur berarti kunjungan turis mengalami penurunan, sebelum melonjak lagi pada musim dingin yang sudah di pelupuk mata. Bis yang membawa saya dari Kopenhagen, Denmark itu berhenti di Cityterminalen pada waktu subuh. Hari sangat gelap, suhu dan angin menusuk dan menembus kulit. Hitungan suhu pun masih dianggap relatif “hangat” dengan kisaran 0-10°C, tetapi tentu ini sama sekali tidak hangat buat saya dan mereka yang berasal dari negara tropis.

Saya lihat dompet. Beruntung, saya sempat menukarkan sisa krona Denmark ke krona Swedia. Setelah mampir ke Pressbyrån, sebuah toko kecil serba ada, sarapan roti isi dan segelas susu hangat melegakan tubuh yang kelaparan ini. Jadwal selanjutnya, mencari hostel di bilangan Södermälarstrand, daerah yang cukup sentral di kota Stockholm. Perjalanan dengan kereta bawah tanah untuk satu zona mencabai 40 krona Swedia atau sekitar Rp52.000,-. Tarif ini relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara maju lain seperti Jerman atau Amerika Serikat. Apalagi setelah menyadari ternyata jarak yang ditempuh cukup dekat, hanya sekitar tiga stasiun. Beberapa pertanyaan dan salah jalan berikutnya, sampailah saya di hostel yang dibangun dari kapal bermesin uap yang sudah dinon-aktifkan, tetapi masih mengapung di dermaga.

Sejauh mata memandang dari dalam “dek” hostel, saya melihat lanskap kota di seberang teluk Riddarfjärden: Stadshuset, dewan kota dengan menara bermahkotakan simbol negara, The Three Crowns. Central Station mendampingi di sebelah timurnya, dengan latar distrik Norrmalm, pusat kota modern Stockholm saat ini. Setelah itu, pandangan dengan mudahnya beralih ke bangunan- bangunan tua di Gamla Stan, atau secara harfiah berarti “kota tua”.

Sudut jalan Gamla Stan yang romantis
Sudut jalan Gamla Stan yang romantis.

Jika biasanya kota-kota di dunia hanya memiliki marka “semu” yang memisahkan daerah- daerahnya, maka Stockholm memiliki marka yang nyata: air. Kota ini terdiri dari sekian pulau yang dihubungkan oleh jembatan. Gamla Stan terletak di jantungnya, di sebuah pulau kecil yang menjadi cikal bakal kota Stockholm lebih 700 tahun yang lalu. Tak ubahnya seperti Kota Tua di Jakarta, Gamla Stan memiliki banyak sekali struktur bangunan yang masih mempertahankan keasliannya sejak zaman pertengahan. Tataletak jalan-jalannya pun masih menyerupai zaman itu, organik, seperti labirin dan sempit. Tak semua jalan itu bisa dilalui kendaraan bermotor, selain karena daerah konservasi, kebanyakan juga terlalu sempit untuk dilalui. Adalah mudah untuk tersasar di Gamla Stan, namun mudah juga untuk menikmatinya. Beberapa jalan utama padat sekali turis, tapi banyak jalan-jalan “tikus” yang membawa kita ke sisi “halaman belakang”. Beberapa ruas jalan memang memiliki kesan sebagai “tourist trap”, sisi lebih menarik justru jika kita berjalan menyusuri bagian- bagian yang lebih tersembunyi. Tiba-tiba, akan ada toko buku kecil yang menjual buku-buku fiksi berbahasa Swedia maupun Inggris. Di sisi lain, ada toko yang menjual peta dan gambar kuno. Jika jeli, akan ada restoran yang terletak cukup tersembunyi yang menawarkan pengalaman kuliner lebih autentik dan tenang karena jauh dari hiruk-pikuk para turis. Jika Anda ingin mencoba köttbullar, sajian gilingan daging (bakso) ala Swedia yang dilengkapi dengan kacang polong dan kentang tumbuk, coba sambangi salah satu tempat makan di sini, walau mungkin bukan dalam harga yang terbaik.

Gamla Stan
Gamla Stan.

Stockholm menobatkan dirinya sebagai ibukota budaya dari Skandinavia, sebuah wilayah yang mencakup Denmark, Norwegia dan Swedia. Banyak hal membuktikan vonis ini. Stockholm memiliki lebih dari 100 museum, tersebar di berbagai penjuru kota. Rasanya tak salah jika dikatakan penduduk Stockholm punya obsesi terhadap museum, karena hampir setiap topik atau tema dijadikan museum! Di Stadmuseum contohnya, ada pameran temporer mengenai apa isi dapur penghuni kota Stockholm, sampai studi material yang digunakan dalam interior dapur. Berbagai topik menarik disajikan di masing-masing institusinya: maritim, seni abad pertengahan dan kontemporer, musik, militer, sejarah, nautika, anak-anak, biologi, alam, Nobel sampai museum terbuka (bayangkan Taman Mini Indonesia Indah).

Pulau Djurgården, salah satu tujuan utama di Stockholm, merupakan pintu dari Kongligen nationalstadsparken, atau Royal National City Park di mana terdapat sekitar 20 museum. Saya sempatkan menikmati beberapa museum di pulau ini, terutama Vasamuseet, sebuah museum yang menunjukkan betapa dekat masyarakat Swedia dengan kultur maritim. Tema utama museum ini adalah sebuah kapal perang dari zaman pertengahan yang dievakuasi dari perairan kota. Raja Swedia pada saat itu, Gustavus Adolphus (1594–1632), pernah memerintahkan anak buahnya untuk membuat beberapa kapal perang besar yang bertujuan menegaskan eksistensi kekuatan kerajaan Swedia di negara-negara Laut Baltik. Ketika itu, Swedia sedang gencar-gencarnya berperang dengan Polandia, dan merasa cemas dengan perkembangan Perang Tiga-Puluh Tahun di Jerman. Selain itu, Swedia juga merasa was-was dengan musuh bebuyutannya, Denmark, yang dikhawatirkan akan mendominasi lalu lintas di daerah Baltik. Salah satu kapal utama, dan yang paling kuat direncanakan dinamakan Vasa, akan memimpin empat kapal lain. Kapal Vasa adalah kapal paling besar, namun pada hari perdana berlayar, 10 Agustus 1628, kapal ini tenggelam prematur tak jauh dari pulau Djurgården setelah memulai pelayaran dari tempat pembuatannya di Skeppsgarden, dekat Gamla Stan. Dugaannya, kapal ini tenggelam karena konstruksi tubuh kapal yang kurang baik, serta beban yang tidak mencukupi. Kapal menjadi tidak stabil dan terpaan angin mengakhiri riwayatnya. Sedihnya, sebagian besar personilnya juga terpaksa mengakhiri hidupnya.

Vasa Museum
Vasa Museum, tempat melihat kapal-kapal Viking tua.

Dua jam di museum ini membuat saya mengapresiasi bagaimana masyarakat Swedia menghargai sejarahnya, dan yang lebih penting lagi, memonumenkan kesalahan manusianya. Siapakah dari kita yang mau memuseumkan kesalahan untuk belajar dari kesalahan itu?

Walaupun belum puas berkeliling Stockholm, perjalanan harus saya lanjutkan dengan agenda utama: petualangan kereta api memburu salju musim gugur. Menumpang kereta malam, saya berangkat ke Östersund, sebuah kota di negeri Jamtland, sekitar tujuh jam perjalanan ke arah barat laut Stockholm.

  • Artikel ini pernah dimuat di Yahoo! Indonesia Travel tahun 2011, tetapi karena sudah tidak bisa ditemukan lagi, maka saya tulis ulang di sini. Semoga berkenan!

Pemakaman Unik di Trunyan

Deretan ancak saji
Deretan ancak saji.

Pada jalan-jalan edisi Pulau Bali ini, kami mengunjungi satu desa yang memiliki tradisi pemakaman yang tidak biasa. Lokasi desa ini terletak di Pinggir Danau Batur, Kintamani, Bali.

Berangkat dari hotel jam 10.00 pagi, tujuan kami adalah dermaga perahu Danau Batur. Perahu motor memang transportasi yang digunakan untuk mencapai Trunyan. Ketika kami tiba di dermaga segera berdatangan para pemilik perahu motor yang menawarkan jasa penyeberangan menuju desa.

“Ayo pak nyebrang, mumpung masih siang. Mayatnya juga masih baru ini. Baru dua minggu-an,” ujar salah satu pemilik perahu motor.

Istri saya yang sebelumnya tidak tahu mengenai pemakaman Desa Trunyan kaget dan sedikit takut. Dia bingung kenapa bapak ini menyebut kata mayat. Memang, perjalanan ini saya buat sebagai kejutan untuk istri. Harga paket yang ditawarkan menuju desa Trunyan adalah Rp600.000.

Saya sempat bertanya, “Kok, mahal banget pak harga paketnya?”

“Memang segitu harganya kecuali buat rombongan jadi Rp350.000 per pasangan,” jawab bapak pemilik perahu motor.

Pemandangan dari perahu motor

Pemandangan dari perahu motor
Pemandangan dari perahu motor.

Masih kaget dengan harga tersebut, saya dan istri memutuskan menunggu sebentar mungkin saja ada rombongan jadi kami bisa bergabung dengan rombongan tersebut. Menunggu sekitar 20 menit sambil mata awas melihat ke parkiran berharap ada rombongan datang tapi tetap nihil. Saya mendatangi lagi bapak itu untuk tawar-menawar akhirnya kami sepakat berangkat dengan harga Rp500.000. Saya dan istri berpikir, toh, sudah sampai di sini, agak sayang juga jika kami batal menyebrangi desa Trunyan. Setelah menyelesaikan pembayaran kami diberikan jaket pelampung. Nah, di sinilah muncul lika-liku seru perjalanan. Tiba-tiba muncul dua pasangan lagi yang akan bergabung dengan perahu kami. Kami coba mendatangi bapak tersebut untuk bertanya kalau yang berangkat rombongan berarti kami hanya perlu membayar Rp350.000, tetapi dia bersikeras dengan memberikan penjelasan yang tidak masuk di akal dan berkilah. Sebagai pejalan, memang harus berhadapan dengan hal-hal seperti ini. Tetapi, kami memilih melanjutkan perjalanan.

Tengkorak dan sesajen
Tengkorak dan sesajen.

Mayat di dalam anyaman
Mayat di dalam anyaman.

Perjalanan menyeberang danau disambut dengan dingin angin Gunung Batur. Istri saya musti merapatkan jaketnya karena dinginnya suhu pegunungan. Danau Batur sendiri berwarna coklat agak kehijauan dimana cukup banyak ditemui eceng gondok di perairan danau tersebut. Setelah berlayar 20 menit akhirnya kami merapat ke jeti kayu, dibantu dua orang penjaga pemakaman desa Trunyan. Ada kejadian unik di gerbang pemakaman desa Trunyan, kami diminta untuk membayar retribusi sebesar Rp20.000. Saya menolak membayar biaya ini karena sebelumnya kami dijanjikan tidak perlu membayar apapun lagi setelah membayar biaya boat di dermaga. Dengan sedikit berdebat kedua bapak tersebut akhirnya setuju kalau kami tidak perlu membayar apapun lagi.

Sisa-sisa tulang manusia berserakan (bersama sampah!)
Sisa-sisa tulang manusia berserakan (bersama sampah!).

Tengkorak-tengkorak dijejer rapi
Tengkorak-tengkorak dijejer rapi.

Tibalah kami di gerbang pemakaman Desa Trunyan, suasana mulai terasa agak mistis di mana aroma dupa yang dibakar di depan gerbang sudah menyebar di hidung. Setelah menapaki undakan tangga kami dapat melihat di sebelah kanan kami ada pohon besar. Pohon tersebut mungkin sudah berusia ratusan tahun dan pohon itulah lambang desa ini. “Tarumenyan” adalah nama pohon besar ini. “Taru” berarti pohon dan “menyan” berarti wangi jadi tarumenyan berarti pohon yang wangi. Pohon inilah yang dipercaya menyerap bau dari mayat-mayat yang dimakamkan. Di bawah pohon tersebut dijejerkan tengkorak-tengkorak manusia.

Tengkorak–tengkorak ini adalah mantan penduduk desa yang sudah meninggal dan dimakamkan di sini. Di sebelah kiri undakan tangga dapat dilihat jejeran anyaman bambu yang di dalamnya terdapat mayat-mayat dengan berbagai kondisi bergantung dari lama kematian mayat-mayat tersebut. Waktu kami datang, kami melihat mayat yang masih baru di mana pada mayat tersebut masih terdapat kulit kepala sedangkan di sebelahnya ada mayat lain yang sudah jadi tengkorak. Di dalam anyaman bambu itu mayat-mayat juga dibekali makanan dan minuman kesukaannya ketika hidup di dunia. Anyaman-anyaman bambu inilah makam bagi mayat-mayat di Desa Trunyan. Mayat-mayat tersebut tidak dikuburkan atau di-“aben” tetapi hanya diletakkan begitu saja didalam anyaman bambu. Hal yang menakjubkan memang tidak ada bau sama sekali di pemakaman ini.

Pengunjung dapat bebas berfoto di lokasi ini tetapi tetap perhatikan langkah kaki kita karena mungkin saja kita menginjak potongan tulang manusia, seperti yang dialami Pak Made, pemandu kami di desa Trunyan. Waktu itu kami meminta Pak Made untuk memotret kami berdua dengan latar belakang pohon Trunyan. Anehnya, Pak Made ini tidak mau mundur dari tempat berpijaknya untuk mengambil sudut gambar yang lebih bagus. Heran mengapa Pak Made tidak mau mundur untuk mendapat sudut yang lebih baik saya mendatangi Pak Made untuk mengarahkan ternyata di belakangnya terdapat banyak tumpukan tulang belulang yang mungkin terinjak jika dia lebih mundur lagi.

Setelah melihat-lihat beberapa saat dan mendengar prosesi pemakaman jenazah di Desa Trunyan kami diberitahu bahwa hanya penduduk yang meninggal dengan wajar dan telah dewasa atau anak kecil yang gigi susunya telah tanggal saja yang dimakamkan di sini, atau dikenal dengan nama “Sema Wayah” oleh penduduk sekitar. Sedangkan bayi yang meninggal akan dikuburkan di “Sema Muda”, untuk penduduk desa yang meninggal secara tidak wajar kecelakaan ataupun dibunuh akan dimakamkan di “Sema Bantas”. Ketiga pemakaman tersebut lokasinya berbeda-beda sebagaimana sudah diatur oleh aturan adat di Desa Trunyan. Prosesinya mayat akan dibawa dari desa dengan menggunakan boat dan diikuti keluarga dengan boat yang berbeda. Berbaliklah kami dari Sema Wayah menuju dermaga keberangkatan kami tadi sambil berpikir bahwa Indonesia ini memang unik.

  • Disunting oleh SA 23/04/2014
  • Tips: Jika ingin mengunjungi desa Trunyan, jadikan perjalanannya satu paket dengan Kintamani dan Danau Batur.

Sepenggal Kisah Fotografer dari Siem Reap

Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.
Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.

Pilihanlah mempertemukan saya dengan seorang Kimleng Sang, dan oleh karenanya saya sama sekali tidak merasa menyesal.

Selesai menjelajah India, saya selalu terpikir untuk menjelajahi Kamboja, tepatnya untuk melihat Angkor Wat yang sangat tersohor itu, walau agak ragu. Jujur saja, sejak awal saya memang tidak terlalu menyukai kuil Buddha yang menurut saya terlalu biasa bila dibandingkan dengan kuil Hindu. Namun demikian, ingatan mengenai film Tomb Rider memang sudah terpatri sedemikian rupa, sehingga cukup untuk menggeret langkah saya untuk terbang ke sana.

Perkenalan saya dengan Kim diawali dengan rangkaian pencarian akan seorang pemandu tur di Siem Reap. Bagi saya ini penting, karena saya memang berkelana seorang diri. Beberapa nama telah saya kantongi dan setelah membaca serta menelusuri lebih lanjut, saya memutuskan untuk menghubungi Kim melalui email. Gayung bersambut, Kim bersedia untuk memandu saya selama dua hari untuk melihat seluruh kompleks Angkor dan mengabadikannya dengan kamera.

Kimleng berpose di salah satu kuil.
Kimleng berpose di salah satu kuil.

Angkor Wat.
Angkor Wat.

Angkor Wat dan danau kecil di depannya.
Angkor Wat dan danau kecil di depannya.

Hari itu pun tiba. Kim dengan sabar telah menunggu saya di lobi hotel sejak pukul delapan pagi sesuai dengan rencana sebelumnya. Tuk-tuk miliknya tampak bersih beralas selembar kain putih pada joknya. Saya pun duduk dengan nyamannya. Caranya mengendarai pun amat hati-hati sambil tidak lupa berhenti untuk menunjukkan tempat-tempat yang layak untuk difoto.

Kim bukan hanya supir tuk-tuk, namun juga fotografer. Nikon D5000-nya setia berada dalam gendongan bahu kanannya sambil menemani saya menyusuri keseluruhan kompleks Angkor Wat. Dengan sabar ia akan membantu memperbaiki kualitas foto saya dengan mengganti pengaturan kamera Nikon D1700 yang saya bawa. Di beberapa tempat yang memerlukan lensa wide angle dan saya tidak memilikinya, ia akan meminjamkannya dengan senang hati. Saya yang penasaran akan isi tas ranselnya, semakin kaget sewaktu mengetahui ia membawa beberapa lensa, pembersih lensa, tripod dan bahkan perlengkapan untuk melindungi kamera bila hujan. “Supaya Madam bisa motret dengan nyaman”, ujarnya perlahan. Tak lama ia pun menawarkan handuk dan air mineral dingin. Usut demi usut rupanya Kim memiliki semacam kotak pendingin kecil di dalam tuk-tuknya.

Kim sangat mengenal seluk-beluk daerah Angkor Wat dan tepatnya mengetahui tempat-tempat terbaik untuk fotografi. Hal terakhir ini yang membedakannya dengan pemandu lain, apalagi bagi saya yang memang sengaja datang untuk memotret (dan dipotret sebagai bonusnya). Kompleks Angkor yang sangat ramai itu hampir tidak pernah terekam dalam hasil bidikan saya. Kim tahu kapan persisnya kami harus berada agar terhindar dari kerumunan. Bayangkan, dalam keramaian di kuil Bayon pun, kami mengetahui jalan setapak yang memisahkan kami dari pengunjung lain. Kim pula yang dapat membuat saya menempuh jalan berlumpur, memanjat reruntuhan, melompat sana-sini untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Semut-semut manis yang menggerogoti kaki kami tidak digubrisnya. Saya tidak hanya memerlukan jasanya untuk menjelaskan sejarah bangunan yang kami kunjungi, namun juga ‘mata’ fotografer yang dimilikinya. Kami dapat berlama-lama memotret reruntuhan kuil yang berlumut, karena kami terbuai akan kekontrasan warnanya. Sebagai gantinya, tidak jarang Nikon milik saya berpindah ke tangannya, agar saya dapat diabadikan dengan leluasa. Kim amat hobi memotret orang, dan untungnya saya hobi berpose, jadilah kami pasangan sepadan.

Sambil menyerumput kopi saat makan siang, Kim pun menuturkan kisah hidupnya hingga menjadi seperti sekarang. Kimleng Sang dilahirkan 35 tahun lalu di sebuah desa kecil di provinsi Takeo, dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam. Latar belakangnya yang hanya pendidikan setingkat SD, membuatnya menjadi buruh kasar untuk membantu ekonomi keluarganya yang memang pas-pasan. Takdirlah yang membawanya untuk menjadi petugas keamanan di Phnom Penh sambil menyempatkan untuk belajar bahasa Inggris. Akhirnya ia memutuskan untuk mengadu nasib di Siem Reap tahun 2000 dan membeli tuk-tuk dengan seluruh uang tabungannya. Semakin lama bahasa Inggris Kim pun terasah dengan banyaknya turis asing yang memakai jasanya. Kemampuan fotografinya baru tergali beberapa tahun terakhir, saat ia memiliki beberapa klien yang memang seorang fotografer. Seorang fotografer bernama David Bibbing dari Kanada mengajarinya cara memotret. Penyuntingan foto juga dipelajarinya, hingga kini ia masih sering berkonsultasi bila memiliki kesulitan saat menyunting fotonya. David pula yang memberinya kenang-kenangan berupa sebuah kamera D-SLR.

Berawal dari itu semua, kini Kim menabung untuk membeli kamera Nikon yang lebih canggih. Dengan memungut biaya jasa US$40 untuk sehari penuh tur di Angkor Wat dan US$50 untuk Banteay-Srei, hal ini tentu saja tidak sukar baginya. Jasa Kim ini memang sedikit mahal dari jasa tuk-tuk yang rutin ditawarkan oleh hotel yang saya tempati. Untuk tur Angkor sekitar US$15 dan ekstra biaya untuk pemandu US$22, jadi total yang mereka biasa tawarkan US$37. Namun dengan selisih US$3 saja, saya telah mendapatkan supir tuk-tuk, pemandu dan fotografer pribadi. It’s more than just good deal to me!

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Perjuangan Kim berbuah manis. Kini namanya sudah cukup terkenal di berbagai forum dan banyak fotografer asing yang mengenalnya. Tidak jarang pula pelancong yang sengaja memakai jasanya agar dapat dipotret dengan leluasa. Bagaikan membawa seorang fotografer pribadi ke dalam kompleks Angkor. Kim dapat mengumpulkan foto-foto hasil bidikannya dalam USB flashdisk agar dapat langsung diterima oleh kliennya setelah selesai tur. Dalam sebulan Kim dapat memperoleh klien 7-10 orang. Oleh karenanya, jauh-jauh hari biasanya para klien telah mengontaknya.

Hasil jepretan Kimleng untuk saya.
Hasil jepretan Kimleng untuk saya.

Foto-foto hasil bidikan Kim sendiri tersimpan dengan rapi dalam situs pribadinya. Berbagai ulasan mengenainya dapat ditemukan di situs semacam Trip Advisor. Sebagian besar memuji sikapnya yang sopan, ramah, dan selalu bersedia membantu dalam hal apapun. Saya selalu ingat akan satu ulasan yang menyebutkan saat seorang turis bermaksud memotret Angkor di kala matahari terbit. Tanpa sengaja, filter lensanya terjatuh ke dalam pinggir danau saat ia bermaksud mengabadikan refleksi Angkor dalam air. Turis ini pun merasa bahwa filter ini tidak akan ditemukan dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Yang membuatnya kaget adalah saat Kim menemuinya kembali saat membawa filter tersebut di siang hari. Rupanya Kim kembali mendatangi danau yang sama untuk mencari filter tersebut. Ia beralasan bahwa bila ia mencarinya saat terjatuh tadi, gerakan tubuhnya di dalam air akan mengganggu riakan serta menimbulkan distorsi. Hal ini tentu saja akan mengganggu para fotografer yang memang saat itu sedang duduk-duduk untuk mengabadikan refleksi Angkor dalam air sambil menunggu matahari terbit.

Dua hari bersama Kim membuat perjalanan saya sangat berkesan. Dari Kim pula saya mengetahui bahwa tuk-tuk dalam bahasa Khmer sebenarnya disebut remork motor, namun para turis lebih suka menyebutnya tuk-tuk. Saya selalu mengingatnya setiap kali saya melihat hasil-hasil bidikan saya selama di Angkor. Saya tidak hanya menemukan seorang supir tuk-tuk yang ramah, namun juga seorang fotografer yang handal dan teman perjalanan dengan pribadi yang menyenangkan. Ya, sebuah pilihan lah yang membawa saya ke Siem Reap dan mengenal seorang Kimleng Sang, bukan Angelina Jolie.

  • Disunting oleh LEN 17/12/2013

Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya

© 2017 Ransel Kecil