Pandangan saya berkeliling. Di depan saya adalah samudera pasir yang seperti hamparan gurun tak bertepi. Bisikan pasirnya sampai di telinga seolah mengucapkan salam. Di sisi kanan, pelangi menyapa seakan mengucapkan selamat datang. Saya berdiri mematung, memandang puncak Bromo yang terus mengepulkan asap tebal berwarna kelabu.

Hardtop tidak boleh mendekat sampai ke kaki gunung, karena terdapat pancang-pancang besi yang membatasi kendaraan. Untuk naik, kita bisa berjalan kaki atau naik kuda. Ongkos naik kuda sendiri sangat variatif. Ada yang menawarkan Rp50.000, ada yang Rp70.000, bahkan ada yang menawarkan ongkos Rp100.000. Namun, bila ingin lebih dalam menikmati sensasinya, berjalan kaki menjadi pilihan yang tepat. Sambil berjalan, resapi pemandangan yang indah dengan latar belakan gunung Semeru yang selalu mengeluarkan asap raksasa secara berkala. Telusuri tiap jengkalnya!

Patahan kawah Gunung Bromo. Patahan kawah Gunung Bromo.

Udara dingin memaksa saya melilitkan syal di leher, menarik rapat-rapat kancing jaket dan sarung tangan. Mengenakan pakaian tebal, saya, dan beberapa kawan menuju kawah Bromo. Memang Gunung yang terletak 2.392 meter di atas permukaan laut ini terkenal memiliki hawa yang sangat dingin mencapai 10 sampai 0 derajat celcius.

Sinar matahari yang terik. Sinar matahari yang terik.

Awalnya saya begitu bersemangat lantaran kontur yang dilalui landai. Tapi setelah berapa lama, rasanya kaki semakin berat diajak melangkah. Medan berundak-undak naik turun, ditambah dengan sinar matahari yang terik menerpa kulit dan tiupan angin yang membuat pasir berterbangan.

Medan berundak-undak naik turun.Medan berundak-undak naik turun.

Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.Melepas lelah, sebelum menaiki anak tangga.

Hal yang paling mengganggu saat berjalan menuju kawah Gunung Bromo adalah debu. Debunya sangat banyak dari bekas pengunjung lain yang berjalan, bekas kuda, atau debu yang terkena angin. Jadi, jangan lupa menggunakan kacamata dan penutup hidung agar debu tak mengganggu Anda. Kita juga harus hati-hati dengan kotoran kuda yang banyak berserakan di jalan, jangan sampai terinjak. Beberapa kali saya berhenti sekadar istirahat mengatur napas, hingga akhirnya sampailah di dasar ujung tangga menuju kawah Gunung Bromo. Di titik ini adalah tempat melepas lelah kita terakhir, sebelum menaiki ratusan anak tangga untuk sampai bisa dibibir kawah. Saya menyempatkan membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh.

Konon katanya jumlah tangga di tempat ini berubah–ubah jika dihitung. Tapi sebaiknya, nikmati saja perjalanan pendakian ini daripada menghitung dan mengkalkulasikan jumlah anak tangga. Dengan degup jantung yang agak kencang dan langkah berat satu demi satu anak tangga berhasil dilalui. Ada yang memberi strategi untuk setengah berlari karena akan lebih cepat dan tidak terasa tekanan di tulang lutut. Ini berhasil, buktinya rekan saya sudah sampai ke puncak, sementara saya masih tertinggal di belakang dengan napas tersengal-sengal. Perjalanan menuju Puncak Bromo, memang bukanlah perjalanan yang mudah. Apalagi anak tangga dipenuhi debu pasir yang cukup licin, membuat pengunjung harus ekstra hati-hati. 

Pemandangan dari atas kawah. Pemandangan dari atas kawah.

Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Tapi seakan tak kenal lelah, kaki saya terus melangkah. Mendebarkan sekaligus memesona. Sensasi itulah yang terasa saat saya harus menaiki ratusan anak tangga ini. Perjuangan tidak berhenti, saya harus meniti jalan sempit yang berbatasan dengan kawah. Sungguh memacu adrenalin. Pengunjung berjejal di bibir kawah, tanpa ada pengaman. Ini yang membuat kawan saya lainnya tepar menyerah pada kondisi.

Hingga akhirnya, rasa pegal kedua kaki tertebus dengan pemandangan begitu indah dan spektakuler dari Puncak Bromo. Trekking yang melelahkan seolah terbayar lunas, letih pun sirna seketika. Saya berhasil menaklukan Puncak Bromo, objek yang telah mendunia dan popularitasnya di Jawa Timur menduduki peringkat pertama. Sesampainya di Puncak Bromo, saya dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap dari dekat. Pasca erupsi, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Pelangi menyapa.Pelangi menyapa.

Selain mengamati kawah Bromo, saya juga menyaksikan keindahan Gunung Batok yang persis berada di sebelah Gunung Bromo. Jika melayangkan pandangan kebawah, kita juga bisa menyaksikan pengunungan di sekitar yang memagari lautan pasir yang menghijau dan terdapat sebuah pura di tengahnya. Pura Poten. Sebuah pura milik masyarakat Suku Tengger yang terletak di tengah lautan pasir gunung Bromo. Sangat indah. Benar-benar pemandangan luar biasa, sulit buat kamera untuk menceritakannya selain dengan sepasang mata. Di atas ini, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Ilahi.

Tunggu apa lagi? Siap bertualang dan pacu adrenalin anda!

  • Disunting oleh SA 20/02/2012