Times Square
Times Square

Oh, marble-spired Manhattan, I look into your thousand eyes at dusk,

And your thousand eyes look back at me, kindled with lights over the harbor.
You hold the sky set like blue wings on your mountain peaks of splendor,

And you will hold the sky until the world ends and the dream is gone, Oh Manhattan.

(Edwin Curran)

New York. Kata orang, kota ini hutan beton menantang batas langit. Kata orang, penduduknya sibuk mengurus urusan duniawi sampai hampir tak punya waktu luang dan bercermin. Kata orang, kota ini soal menikmati hidup semaksimal mungkin. Kata orang lagi, kota ini soal kerasnya kehidupan di Bronx…

Banyak sekali imaji yang diproyeksikan kota berpenduduk 8 juta orang di pesisir timur Amerika Serikat ini. Tak ubahnya seperti kiblat peradaban modern, imaji tentang New York disebarkan melalui media populer: film, televisi, panggung dan buku. Dalam setahun, mungkin ada satu film yang kita tonton berlatar kehidupan di New York.

Realitanya, New York adalah kota yang tak jauh beda dari kota metropolitan lain di dunia, sebutlah seperti Jakarta atau Bangkok. Sibuk. Pekerja, wisatawan, dan banyak orang lainnya berbondong-bondong ke pusat kota setiap hari dan kembali lagi ke daerah sekitarnya, mungkin dari dan ke negara bagian berbeda.

Manhattan
Hutan beton Manhattan

Sebagai individu yang sekarang menghabiskan sebagian besar waktu di Jakarta, saya menemukan banyak hal yang mirip antara Jakarta dan New York. Tentu, dengan nafas dan aturan yang berbeda. Keduanya sama-sama memiliki denyut yang cepat. Keduanya sama-sama padat. Keduanya sama-sama merupakan lahan rebutan pendatang.

Satu hal yang membedakan Jakarta dan New York adalah kualitas hidup. Dengan keadaan yang sama, hidup serba cepat, populasi padat dan tingkat stres yang tinggi; penduduk Jakarta tidak ditopang oleh sarana publik yang seefisien New York. New York memiliki jaringan transportasi umum yang cukup menjangkau banyak daerahnya, dengan ekspektasi layanan yang jauh lebih baik. Tidak seperti kota besar lain di Amerika Serikat seperti Los Angeles misalnya, kultur transportasi di New York adalah kultur transit, bukan kultur kendaraan roda empat atau dua.

New York memiliki ruang publik yang membuat lanskap kota menjadi wadah kegiatan massa yang meleburkan ranah-ranah privat. Di sini, ranah-ranah privat “dipaksa” untuk menghormati ranah-ranah publik. Pada akhirnya yang diuntungkan adalah publik.

Ketika saya merasa nyaman untuk berada di luar ruangan, ketika itulah saya merasa kota itu baik buat saya. Seolah seluruh penjuru kota adalah tempat tinggal yang terbuka untuk saya melakukan berbagai aktivitas.

Central Park
Central Park

Central Park, contohnya, adalah contoh nyata ruang publik yang seperti ini. Dengan luas sekitar 341 ha, atau sekitar 60 blok x 8 blok, sekitar 80% dari taman ini adalah ruang terbuka hijau, sisanya bangunan/area terbangun kecil rendah seperti toilet, restoran dan arena skating. Siapa saja bebas menggunakan taman ini untuk duduk, tidur, bersepeda, lari, bersepatu roda, makan siang dan berjemur di dalam area yang tidak dipagari.

Kehidupan di New York sama kerasnya dengan di Jakarta, dan kota-kota metropolitan lain di dunia. Di sini, beragam kalangan dari berbagai latar belakang berbaur. Menurut sensus pemerintah tahun 2006, sekitar 37% penduduk New York adalah pendatang atau keturunannya. Semua berusaha bertahan hidup.

Jangan bayangkan penduduk New York hanya kaum kulit putih mapan yang menjalani hidup mewah dan bebas seperti dalam Sex and the City. Itu hanya potret fiktif dari imajinasi pembuatnya. Kalaupun ada, jumlahnya sedikit sekali.

Gedung Empire State
Gedung Empire State

Jelas sekali mengapa New York menjadi pilihan hijrah bagi banyak orang, baik dari dalam maupun luar Amerika Serikat. Di sini segala jenis mimpi diperbolehkan. Asal usaha yang dilakukan sepadan, maka kesempatan apapun bisa kita raih.

Kota ini siap menampung inspirasi penduduknya tanpa lelah. Kota yang tak pernah tidur. Kota duniawi!