Fjord Norwegia

Menjelajahi Norwegia bak menjelajahi karya seni yang tiada akhir. Bentangan geografi yang penuh ketiba-tibaan, ragam fitur dan warna alam membuat siapa saja ingin mencoba mengabadikan setiap detik dalam bingkai perangkat kamera dan pikiran. Tetap saja, itu tak bisa maksimal. Bagai putri yang “jual mahal”, keelokan geografi Norwegia ini seolah tak sudi dibawa pulang dan hanya dinikmati dalam sekali pandang, khususnya bagi para pendatang jauh seperti saya.

Sebut saja saya baru datang dari pekarangan Santa Klaus di utara Swedia. Kereta api yang membawa saya melaju memasuki perbatasan Swedia-Norwegia melalui Riksgransen, menebas salju-salju sampai berterbangan diiringi kilau sinar matahari yang menguning, memberi aksen pada komposisi lukisan yang penuh dengan keseragaman warna biru dan putih. Sebuah danau yang mulai membeku di ujung cakrawala mengantarkan saya ke negeri sejuta fjord. Lanskap yang tadinya datar, tiba-tiba menjadi kasar. Tetapi, tak kenal maka tak sayang. Ternyata setiap kecantikan ada intriknya. Fitur geografis Norwegia sangat dinamis. Satu per satu suguhan itu terungkap: tebing-tebing curam bertabur salju, lembah dengan hulu sungai yang berkelok, tak lama kemudian bentang air menyambut. Inilah fjord yang terkenal itu. Perkenalan saya dengan fjord terjadi di atas kereta api yang melaju menuju sebuah kota kecil di utara Norwegia, Narvik.


Stasiun kereta api di Narvik

Bahkan dalam musim gugur, salju sudah menyelimuti kota kecil Narvik. Turun dari kereta api, perjalanan saya lanjutkan menuju bandara Harstad/Narvik, untuk penerbangan Widerøe menuju Bodø, sebuah kota kecil lain di tengah Norwegia, yang ditempuh dalam waktu 45 menit dengan sebuah Bombardier Dash 8 Q400 NextGen. Sepanjang perjalanan dengan bis selama 60 menit itu, saya hanya bisa terbengong-bengong melihat betapa cantiknya lanskap Norwegia! Udaranya begitu bersih, minim polusi, sinar matahari petang mendukung suasana. Kendaraan yang melaju kencang mengantarkan saya kepada satu adegan ke adegan lain dalam dokumenter hidup. Keluar dari kota utama Narvik, saya dibawa menuju sebuah jembatan yang menghubungkan satu “tebing” ke “tebing” lainnya. Jendela bis dibasahi oleh air hujan yang turun rintik-rintik. Lanskap berubah menjadi daratan putih berkontur yang memiliki kabut, lalu disinari matahari yang menembus memainkan irama. Seketika, jalan berkelok dan naik-turun, membawa bis ke tepi air di mana sebuah darmaga kecil berada. Dataran-dataran tinggi tertutup salju menjadi latarnya.


Pesawat ke Bodø

Sepanjang perjalanan pesawat, saya dapat melihat kontur pesisir Norwegia yang tajam, seolah terbang di atas pegunungan Himalaya. Namun, ujung-ujung pegunungan itu terkadang tak bisa saya lihat jelas karena tertutup kabut, misalnya.
Pesawat mendarat di kegelapan petang. Ya, petang, karena musim gugur berarti periode sinar matahari mulai berkurang dan gelap datang lebih cepat, walau jam di tangan masih menunjukkan pukul empat sore.

Bodø, sebuah kota perhentian saya selanjutnya. Kota ini terletak hanya berpuluh kilometer dari Lingkar Arktik, lingkar yang membatasi antara daerah Arktik dan subtropis. Yang lebih penting lagi bagi saya, Bodø merupakan stasiun kereta api terakhir dan paling utara dari jaringan transportasi rel di Norwegia. Dari sini, saya akan menelusuri The Nordland Railway menuju Trondheim. Perjalanan melalui berbagai kota kecil di utara Norwegia, sesekali menyapa pesisir dengan pandangan langsung menuju air dan fjord di ujung cakrawala. Kabut yang menyeringai melengkapi kesan magis. Sesekali, kereta akan naik ke pegunungan dan lanskap tertutup salju tebal. Butiran-butiran salju yang turun pun menemani teh hangat yang saya minum di gerbong makan. Rileks. Hari sudah larut ketika saya sampai 10 jam kemudian di Trondheim, kota pendidikan dan teknologi di Norwegia. Dibandingkan dua kota sebelumnya, kota ini sangat besar dan modern.


Stasiun kereta api Bodø

Setelah menginap satu malam, saya melanjutkan perjalanan tanpa kereta api. Kali ini saya akan menikmati tujuh jam dengan bis ditambah feri di sela-sela perjalanan. Bis Nor-Way Busekspressen bertolak tepat pada pukul 9 pagi. Menurut rencana perjalanan, bis ini akan melewati jalan antarkota yang saya dengar berliku-liku itu. Bis akan berhenti di beberapa kota. Perjalanan pun dimulai dengan jalan tol yang mulus dan sepi.

Tidak seperti perjalanan bis lainnya, sulit sekali untuk tidur dalam perjalanan kali ini. Bukan karena jalannya yang berliku dan naik-turun, tetapi karena sejauh mata memandang, tak ada yang membosankan. Selalu ada kejutan. Rumputnya begitu hijau, konturnya dinamis, terkadang melewati daerah bebas salju, namun sesekali kita dapat menemukan corak-corak putih yang berserakan menutupi tanah dan pohon. Cuaca hari itu sangat cerah, sinar matahari bebas bersinar, membuat perjalanan semakin menyenangkan dan nostalgis.

Dua kali bis berhenti di dermaga untuk masuk ke dalam feri yang akan menyeberangi fjord. Karena kontur Norwegia yang ekstrim, tidak seluruhnya dapat dilalui oleh jalan tol, sehingga perlu dibangun alternatif seperti penyeberangan feri atau terowongan. Setiap penyeberangan feri ini rata-rata memakan waktu 15 – 30 menit.


Menyeberang dengan feri

Di manakah bis ini akan mengakhiri perjalanannya? Alesund, sebuah kota pesisir yang cukup terkenal bagi nakhoda kapal di Norwegia atau penggemar Hurtigruten, kapal pesiar yang menyisir negara ini dari Bergen di selatan sampai Kirkenes di utara dekat dengan perbatasan Norwegia-Rusia. Faktanya, saya akan melanjutkan perjalanan dengan Hurtigruten dari Alesund menuju Bergen; perjalanan yang mungkin hanya sepersepuluh dari keseluruhan rute Hurtigruten.


Alesund

Puas melintasi fjord dan dataran tinggi Norwegia yang menakjubkan, bis yang saya tumpangi sampai di Skansegata, sebuah terminal bis kecil dekat dermaga. Saya harus menunggu tujuh jam lagi di kota ini. Karena hujan rintik-rintik dan sudah gelap, saya putuskan untuk menunggu di dekat dermaga, di sebuah diner atau tempat makan. Saya gunakan waktu ini untuk beristirahat dan mencoba membuka internet.

Jika membayangkan kapal pesiar Hurtigruten, jangan membayangkan kapal yang sangat besar dan ada kasino serta kolam renang di dalamnya. Hurtigruten cenderung sederhana, nostalgis, namun tetap elegan. Armada-armadanya masih banyak yang tua, namun dipoles agar layak dan nyaman ditumpangi. Pilihan kabinnya beragam, dari yang kabin kecil tanpa jendela sampai suite yang lengkap dengan tempat tidur ukuran ratu dan pandangan terbaik. Saya menumpangi M/S Lofoten, kapal kecil cantik yang berusia 36 tahun, dari Alesund ke Bergen. Sayang, sepanjang perjalanan cuaca cukup buruk sehingga tak banyak pemandangan yang berarti, hanya kabut kelam dan goyangan ombak yang keras. Perjalanan di atas kapal ini mengingatkan saya pada film independen Norwegia, Storm in My Heart karya Pål Jackman, yang mengisahkan obsesi dan mimpi seorang lelaki berusia lanjut untuk berlayar ke utara Norwegia demi menemui wanita idaman yang dulu mengkhianatinya. Laut Norwegia yang cukup keras membuat lamunan saya terhentak. Sesekali saya keluar ke dek kapal untuk menikmati suasana kabut dan sesekali melihat mercusuar di kejauhan.


Navigasi Hurtigruten

Kapal merapat di Bergen, kota hujan, ketika waktu sudah petang. Dari kejauhan, tampak susunan rumah dan gedung yang dibangun di atas tebing dan perbukitan. Sebuah pulau mungil di hadapan menjadi penyambut kami. “Peradaban!”, teriak hati saya. Sayang, cuaca masih juga buruk. Hujan rintik menyambut kami ketika turun di Bergenhavn, pelabuhan kota. Sekumpulan turis dari Australia, Jerman dan Inggris tampak sumringah dan bahagia setelah berhasil menyelesaikan perjalanan pulang-pergi Bergen – Kirkenes. Luar biasa, menurut saya, bagi siapa saja yang bisa melakukan perjalanan dua minggu itu. Tentunya, perjalanan ini bukan untuk mereka yang gampang mabuk laut dan tidak tahan dingin. Dalam periode tertentu, kita bisa berkesempatan melihat aurora borealis atau The Northern Lights, atau yang tak kalah menarik, The Midnight Sun atau sinar matahari sepanjang malam, pada musim dingin. Armada-armada Hurtigruten juga menyediakan ekskursi ke Kepulauan Svalbard dan Greenland, dengan harga yang setimpal tentunya.

Perjalanan merentas negeri dongeng harus saya akhiri di Bergen. Berikutnya, saya akan mencoba jalur kereta api Bergen ke Oslo. Tapi itu lain cerita!