Sesaat setelah menunaikan ibadah sholat subuh, saya melawan dinginnya kota Banjarmasin dengan sepeda motor untuk menjemput teman saya yang bernama Nurul menuju warung soto banjar Bang Amat, dimana perahu sewaan kami atau yang biasa disebut orang Banjar “kelotok” menunggu. Sesampainya di warung soto banjar Bang Amat, teman kami satu lagi bernama Micah telah menunggu bersama kelotok yang sudah kami pesan sehari sebelumnya seharga Rp200.000. Kelotok yang dapat menampung hingga sepuluh orang tersebut memang terlalu besar untuk kami bertiga, namun tidak ada pilihan lain karena kami tidak mempunyai rombongan sebesar itu. Jadilah kami bertiga naik ke kelotok tersebut dan siap melihat keunikan pasar terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung
Pasar terapung.

Pasar terapung Lok Baintan adalah pasar terapung yang direkomendasikan Nurul sebagai orang Banjar asli karena pasar terapung ini berbeda dengan pasar terapung Kuin yang berada di aliran sungai Barito. Pasar terapung Lok Baintan berada di aliran Sungai Martapura dan kata Nurul, pasar terapung ini lebih sepi dan lebih tradisional karena sebagian besar wisatawan berkunjung ke pasar terapung Kuin yang telah terkenal.

Pasar Terapung
Pasar terapung dari sisi lain.

Perjalanan dimulai dari warung soto banjar Bang Amat menuju ke pasar terapung Lok Baintan yang memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan kami berkejaran dengan terbitnya sang fajar yang menembus kabut pagi di Sungai Martapura. Kami dapat menikmati pemandangan aktifitas pagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai serta bersamaan dengan para penjual pasar terapung yang muncul dari berbagai anak sungai menuju arah yang sama dengan kami.

Kami datang lebih awal sehingga lokasi pasar terapung masih terbilang sepi. Tidak lama kemudian kami dapat melihat para pedagang dan pembeli berdatangan satu persatu dari balik kabut pagi yang masih menemani. Transaksi jual beli di pasar terapung ini sebagian besar dilakukan oleh para perempuan, mulai dari seorang ibu yang mendayung kelotok bersama anaknya yang berusia sekitar lima tahun hingga ibu-ibu lanjut usia yang sekedar ingin bercengkerama dengan teman sebaya mereka.

Bercengkerama di atas Kelotok Bercengkerama di atas Kelotok.

Bahan makanan yang dijual di pasar ini tidak selalu sama setiap harinya karena para penjual di sini langsung menjual sayuran, buah-buahan, serta bahan makanan lainnya langsung dari kebun mereka masing-masing. Saat kami berkunjung ke pasar terapung ini ternyata sedang musim pisang dan jeruk, sehingga begitu banyak pedagang yang menjajakan buah-buahan tersebut. Selain sayuran dan buah-buahan terdapat pula kue basah khas banjar yang sangat cocok untuk dimakan di pagi hari. Pembayaran di pasar ini sebagian masih melakukan transaksi berupa barter dan sebagian lagi menggunakan uang.

Hanya sekitar satu sampai dua jam para penjual dan pembeli melakukan transaksi jual beli di pasar terapung ini. Setelah membeli beberapa kue basah serta sekantong jeruk kami pun pulang bersamaan dengan para pedagang dan penjual yang satu persatu meninggalkan lokasi pasar terapung Lok Baintan tersebut. Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan untuk mampir ke jembatan gantung Lok Baintan yang bertempat tidak jauh dari pasar terapung Lok Baintan.

Jembatan Gantung Lok Baintan Jembatan Gantung Lok Baintan.

Jembatan gantung Lok Baintan memang tidak terlalu modern dan megah namun kesederhanaan inilah yang membuat saya tertarik untuk melihatnya lebih dekat. Ketika pagi hari seperti saat kami datang, dari atas jembatan ini kami dapat melihat lalu-lalang para pelajar menyebrangi sungai menuju sekolah serta para pekerja yang melewati jembatan yang apabila dilewati sepeda motor akan bergoyang. Suasana sederhana seperti inilah yang jarang saya temukan di kota besar seperti Jakarta.

Soto Banjar
Soto Banjar.

Akhirnya kami sampai kembali ke warung soto banjar Bang Amat yang juga merupakan akhir dari perjalanan kami. Sepertinya sangat tepat waktu saat kami tiba di warung soto ini, saat itu pula waktu sarapan pagi. Kami segera memesan soto banjar yang mempunyai kuah bening dengan irisan telur bebek dan suwiran daging ayam. Makan soto banjar dengan pemandangan lalu lalang kelotok sungai Martapura serta pikiran yang merangkum seluruh perjalanan membuat pagi itu begitu sempurna.

  • Disunting oleh SA 20/02/2012