Seperti yang telah kita ketahui, demam Korea saat ini sedang melanda Indonesia. Dimulai sejak beberapa tahun yang lalu dimana drama-drama Korea seperti Winter Sonata dan Fullhouse menjadi tayangan favorit pemirsa Indonesia, lalu disusul dengan begitu populernya boyband dan girlband asal negeri ginseng tersebut di tengah kalangan pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Pada akhirnya, “invasi” Korea ini pun menyebar ke sektor-sektor lain, seperti fashion dan bahkan consumer goods.

Saya pun termasuk korban Hallyu atau Korean Wave—sebuah istilah untuk menyebut tersebarnya budaya Korea ini di seluruh penjuru dunia. Dimulai sejak masa kuliah di mana saat itu boyband Super Junior, sebuah boyband beranggotakan 13 personil dengan ketampanan khas Asia, sedang sangat terkenal dengan single “Sorry Sorry” yang memiliki lagu dan dance yang unik. Atas pengaruh seorang teman, akhirnya saya pun jatuh hati kepada boyband yang satu ini hingga akhirnya kecintaan saya ini mengantarkan saya terbang untuk pertamakalinya ke negeri tetangga, Singapura. Lho, memang apa hubungannya? Ya, saya sengaja bela-belain pergi ke negeri Merlion itu untuk menonton konser Super Junior yang bertajuk “Super Show 3”.

Panggung di Singapore Indoor Stadium

Konser tersebut berlangsung di Singapore Indoor Stadium (SIS), sebuah venue di daerah Kallang di sisi Timur Singapura yang memang sering digunakan sebagai tempat konser artis-artis kelas dunia seperti Coldplay, Muse, hingga Justin Bieber. Untuk mencapai SIS, dapat menggunakan MRT jalur warna kuning yang akan melalui stasiun Stadium. Kalau diukur dari Orchard Road, kira-kira hanya memakan waktu 20 menit untuk sampai di sana. Kemudian, kita hanya perlu berjalan beberapa puluh meter untuk mencapai bangunan SIS yang megah itu.

Waktu itu, konser dijadwalkan mulai pada pulul 16.00 dan ketika saya tiba di sana sekitar pukul 14.00, sudah tampak antrian mengular para “ELF”—sebutan fans Super Junior—yang memiliki tiket standing. Tiket saya sendiri adalah tiket seating dengan nomor seat yang sudah ditentukan sehingga saya tidak perlu mengantri lagi. Namun keuntungan pemegang tiket standing, posisi mereka akan lebih dekat ke panggung daripada mereka yang duduk di kursi. Harga kedua jenis tiket tersebut pun sama.

Saya dan teman-teman saya (kami semua total berlima), mendapatkan posisi kursi tepat di tribun tengah. Panggung konser Super Junior ini bisa dibilang cukup extravagant di mana mereka menggunakan konsep “dekat dengan penonton” sehingga hampir setengah area konser habis untuk tata panggung saja. Selain dua panggung utama, mereka juga menggunakan panggung runway yang disusun sedemkian rupa sehingga dapat melewati para penonton di hampir seluruh penjuru area. Oleh karena itu, stadion yang sanggup menampung hingga 8,000 penonton itu kali ini hanya digunakan untuk kapasitas 5,000 orang. Karena itulah, meski di depan tribun kami ada kursi-kursi VVIP yang memisahkan tempat kami dari panggung utama, kalau dihitung-hitung, jarak dengan panggung utama juga akhirnya tidak sampai 10 meter.

Karena selama konser dilarang untuk mengambil gambar, para penonton dapat menitipkan kamera di loker-loker yang disediakan di SIS dengan membayar sebesar S$1. Kenyataannya sih banyak juga yang bisa memotret dengan leluasa, termasuk saya. Hanya saja, para petugas keamanan memang lebih ketat mengawasi area berdiri. Mereka berhak meminta penonton keluar dari area panggung jika mereka ketahuan mengambil gambar. Mungkin karena area berdiri sangat dekat dengan panggung sehingga dikhawatirkan flash dari kamera akan mengganggu pertunjukan.

Secara keseluruhan, menonton konser di Singapore Indoor Stadium merupakan pengalaman yang sangat memuaskan. Sound system-nya sempurna, sungguh tidak tampak adanya kecacatan di masalah suara selama konser. Jelas dan memuaskan. Lighting effect-nya juga sangat keren dengan menggunakan efek-efek cahaya sorot warna-warni sepanjang pertunjukan berlangsung. Dan karena kita sedang membicarakan Singapore yang terkenal sebagai negeri yang teratur, tentu saja para penonton di sini pun sangat tertib dari sejak mengantri di luar hingga konser berakhir dengan sukses. Dua jempol untuk tempat konser yang satu ini.

Namun, satu peringatan untuk para penonton konser di SIS yang menggunakan MRT sebagai sarana transportasi: jika Anda tidak memiliki EZ Link Card, lebih baik Anda membeli tiket pulang sejak sebelum menonton konser karena jika Anda membelinya saat pulang, akan ada ratusan orang mengantri tiket di mesin penjual otomatis yang jumlahnya terbatas itu.

  • Disunting oleh SA 09/04/2012