Dove Lake Circuit

Satu hal yang saya paling khawatirkan ketika berangkat adalah apakah saya bisa menyetir sepanjang ribuan kilometer, berhari-hari, di tanah asing dengan aturan yang berbeda?

Apakah kemudian anak saya yang masih berusia tiga tahun bisa bertahan di kursinya selama minimal satu jam saja, jika harus berhenti-henti?

Domba-domba yang jumlahnya lebih banyak dari manusia. 10 domba : 1 manusia?

Ternyata, kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan. Menyetir di Tasmania terhitung mudah karena jalan relatif sepi, aturan jelas, supir-supir yang lain lebih sabar, serta pemandangan yang menyejukkan mata. Mustahil untuk mengantuk dalam perjalanan ini karena setiap berbelok, ada saja pemandangan yang indah. Tapi, anda tetap harus hati-hati dan patuh pada batas kecepatan atau rekomendasi kecepatan. Anda bisa menyetir di sini dengan SIM A Indonesia, dilengkapi terjemahan resmi (tidak mesti dari polisi atau kedutaan, cukup dari penerjemah bersumpah).

Tips: Untuk menerjemahkan SIM, kami menggunakan jasa Worldnet Translation di Jakarta Timur. Worldnet Translation adalah salah satu penerjemah bersumpah resmi kedutaan besar Australia di Jakarta.

Anak kami juga ternyata tidak segelisah itu. Paling-paling hanya meminta cemilan, atau minta diputarkan lagu anak-anak. Alhasil, playlist yang kami susun dengan lagu-lagu kesukaan saya dan istri pun hanya diputar sesekali. Tak apa, yang penting anak bahagia! 

Hari ke-1: 2 Agustus 2018

Hari di mana kami terbang ke Devonport, sebuah kota pelabuhan di utara Tasmania, melalui Melbourne. 

Sekitar dua minggu sebelumnya, kami sudah mulai berkemas. Bukan apa, karena ini perjalanan nan panjang, kami berusaha untuk memasukkan semua kebutuhan secara berkala, sehingga tidak ada yang lupa. Hasilnya, kami membawa dua koper kecil dan satu koper medium—suatu keniscayaan karena blog ini judulnya “ransel kecil”—tapi apa daya, kami perlu membawa jaket musim dingin yang besar ukurannya, serta sepatu boots. Kami memutuskan membawa dua pasang sepatu, satu pasang boots dan sepasang lain sepatu kasual, karena tidak semua destinasi memiliki salju atau perlu trekking. Saya juga harus menyetir, rasanya pakai boots berlama-lama menyetir akan melelahkan.

Kabin kami di Devonport, dan mobil sewaan, sebuah Mitsubishi ASX.

Satu hal yang paling kami sesalkan adalah ternyata kami membawa baju terlalu banyak, karena ada beberapa hari di mana kami bisa mencuci dan mengeringkan baju. 

Area bermain anak di penginapan

Oh ya, tak lupa, satu yang penting adalah kami membawa penanak nasi mungil dan alat makan. Tidak lupa pula outlet enam colokan dengan converter Australia. Jangan sampai nanti berebut tempat listrik!

Untuk keperluan di mobil, kami bekali diri dengan banyak cemilan, air mineral (baik untuk minum atau keperluan lain, misal isi radiator), surat izin mengemudi Indonesia lengkap dengan terjemahan, serta SIM internasional untuk backup, ponsel dengan Google Maps yang selalu terisi baterai. Tips: untuk memasang ponsel di dasbor mobil, kami sarankan gunakan pelekat magnet yang dipasang di lidah air conditioning dibanding pelekat di kaca, karena lebih stabil. Kami menggunakan merek Scosche MagicMount. Harganya juga jauh lebih murah dari phone holder lain.

Selain itu, untuk menghindari menggunakan sistem audio mobil, kami juga membawa bluetooth speaker sendiri. Benar-benar berusaha mandiri tidak tergantung peralatan di tempat.

Untuk urusan navigasi, kami serahkan sepenuhnya pada Google Maps, dan ternyata cukup efektif.

Hari pertama kami gunakan untuk check-in ke penginapan pertama kami, sebuah kabin sederhana di Discovery Parks Devonport. Setelahnya, kami belanja kebutuhan dasar seperti yang sudah diulas di artikel sebelumnya.

Beruntung, hampir semua yang kami butuhkan ada di Woolworth’s terdekat. Sisa hari kami gunakan hanya untuk beristirahat dan masak makan malam karena besok kami akan berangkat ke Cradle Mountain. Cuaca cerah, namun suhu cukup dingin di kisaran 5-10 derajat Celcius.

Hari ke-2: 3 Agustus 2018

Sambil menunggu waktu checkout, Janis kami ajak bermain di playground di penginapan. Kebetulan penginapan ini menghadap ke laut, jadi kami sempatkan juga untuk melihat sedikit ke pesisir, mengintip kapal yang sedang berada di tengah Selat Bass, selat yang memisahkan Tasmania dan benua Australia yang utama.

Di Tasmania, dan Australia secara umum, banyak sekali penginapan bertema kabin atau chalet yang ada dapur dan beberapa kamar (termasuk bunk bed). Biasanya, penginapan seperti ini disebut self-contained atau self-catering accommodation. Ini bukti bahwa Australia adalah tujuan wisata yang ramah keluarga dan mengapresiasi kebebasan.

Perjalanan menuju Cradle Mountain dilalui dalam waktu lebih kurang 1,5 jam. Hanya berbekal panduan Google Maps, kami pun mulai menyetir. Tidak lebih dari 15 menit, kami sudah berada di pedesaan. Pemandangannya indah sekali. Di kejauhan, tampak pegunungan. Di kanan kiri, tampak lapangan hijau dipenuhi jerami, domba, kuda dan sapi. Jalan berliku nan halus. Rumah-rumah penduduk yang tersebar. Ini sih, seperti di Switzerland, ya! Rasanya ingin berlarian di lapangan hijau sambil bernyanyi The Sound of Music!

Decak kagum kami tak berhenti, sampai terkadang ingin tiba-tiba berhenti mendadak untuk mengambil foto. Tapi kami harus jalan terus sebelum makan siang!

Lanskap berubah sekitar 30 menit menuju lokasi. Jalan lebih berliku, melalui tebing yang tinggi. Ketika keluar dari tebing-tebing ini, kami masuk ke lanskap lain pula: hijau mulai berkurang, lebih “tandus” tapi banyak tanaman perdu, pohon-pohon yang bentuknya semakin berbeda. Kita sudah sampai di dataran tinggi midlands, dengan iklim yang lebih kering dan elevasi yang lebih tinggi, didominasi grasslands dan tanaman perdu. Hal ini jugalah yang membuat Tasmania unik, karena kondisi seperti ini tidak ditemukan di pulau lain di Australia. Kondisi ekologi Tasmania yang terisolir membuat kondisi flora dan faunanya tumbuh unik.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil melihat tanda-tanda di pinggir jalan yang mengatakan jalanan ini akan sangat licin jika ada salju dan kemungkinan ditutup. Syukurlah, pada saat itu, tidak ada salju, tapi memang jalanan agak basah. Saran kami, selalu pantau kondisi jalan.

Tidak banyak kendaraan yang melintas, tapi begitu masuk ke penginapan kami, ternyata banyak yang menginap. 

Kabin kami di Cradle Mountain
Dapur di kabin yang cantik dan lengkap

Kami menginap di sebuah kabin unik yang berarsitektur minimalis. Sangat berbeda dengan penginapan kami di Devonport yang sangat basicThis one is our favourite yet! Ada dua kamar yang lumayan besar ukurannya (dan bukan bunk bed), ruang keluarga yang proper, serta kamar mandi dengan bathtub dan ukuran yang luas. Belum lagi dapur yang—walaupun masih menyatu dengan ruang makan—cukup besar dan nyaman, dengan amenities lengkap.

Kabin di sini semuanya independen, dalam arti tidak dalam satu bangunan. Untuk mencapai masing-masing kabin kita perlu menyetir, karena jaraknya jauh. Di setiap kabin ada area untuk parkir mobil. Jadi, memang idealnya menyewa mobil. Berjalan kaki bisa saja, asal tahan dingin.

Tentu saja, karena sudah lewat makan siang, kami putuskan untuk mengakhiri hari di penginapan. Sorenya kami mampir ke lounge di dekat resepsionis sambil menikmati cokelat panas di depan perapian. Hm, nyaman! A real cabin in the wood experience (bukan film horor itu, ya!).

Bersantai di lounge hotel dekat perapian

Istri pun masak untuk makan siang dan malam berupa pasta spaghetti bolognaise dan cream soup ayam. Sedap!

Oh ya, kami baru tahu, dari pengalaman ini, kalau di dunia ini ternyata ada yang namanya bed warmer alias alat elektronik pemanas tempat tidur yang biasanya ditempatkan di bawah kasur. Fungsinya tentunya untuk menghangatkan tempat tidur/kasur, sehingga bisa tidur lebih nyaman. Suhu pada saat itu lebih dingin dari biasanya, terlebih hujan, dan mencapai 3-5 derajat Celcius. Pemanas yang ada di kamar utama, ruang keluarga dan kamar kedua juga kurang pengaruh. Brrr! Beruntung ada pemanas tempat tidur.

Hari ke-3 & ke-4: 4 & 5 Agustus 2018

Pagi hari tiba, kami bergegas sarapan di kabin, lalu segera menyalakan mobil dan menuju Cradle Mountain Visitor Centre. Pusat pengunjung ini—untungnya—terletak tidak jauh dari pintu masuk utama penginapan. Tapi tetap harus menyetir ke sana. Cukup lima menit sampai.

Air danau Dove Lake yang sungguh jernih (tapi dingin)
 Boatshed di Dove Lake

Agenda hari ini adalah mencapai Dove Lake, situs utama dari Cradle Mountain yang bisa dinikmati hampir semua kalangan. Untuk mencapainya, ada dua opsi. Yang pertama, menyetir sendiri sejauh 7km, tapi melalui jalan berliku dan seringkali harus bergantian karena tidak semua dua jalur; atau yang kedua—opsi yang kami pilih—naik bis shuttle dari Visitor Centre.

Tips: jangan lupa untuk membeli Park Pass atau tiket masuk taman nasional di Tasmania sebelum naik bis. Jenis-jenis Park Pass ini ada yang khusus Cradle Mountain saja, atau yang termasuk taman nasional lain di Tasmania. Selain itu, ada yang berlaku terbatas, 8-minggu atau tiket tahunan. 

Kami memilih opsi tiket 8-minggu yang termasuk unlimited entry ke semua taman di Australia untuk 8 orang dan satu kendaraan, seharga A$60 (Rp700.000). Tampak mahal, tapi kalau beli satuan akan jauh lebih mahal karena kami berencana mengunjungi taman-taman lainnya (sekitar A$16.50 per orang dewasa x 2, dan anak-anak usia 5-7 tahun A$8.25, anak-anak di bawah 5 tahun gratis).

Menikmati hal-hal kecil seperti menemukan sungai kecil di bawah jembatan

Bis shuttle ini berangkat dari Visitor Centre setiap 20 menit, dengan jadwal pertama pukul 09:30 pagi dan jadwal terakhir pulang dari Dove Lake pukul 16:00 petang. Ia berhenti di beberapa tempat. Tujuan akhirnya adalah Dove Lake. Tiketnya gratis jika sudah membeli Park Pass, tapi harus diminta setiap hari dan berlaku 1×24 jam. Jadi misalnya besoknya ingin kembali ke Dove Lake, maka harus menukar dengan tiket bis yang baru keesokan harinya jika sudah lebih dari 1×24 jam.

Dove Lake Circuit dengan Glacier Rock (di latar belakang, batu besar)

Perjalanan ke Dove Lake memang benar berliku, tetapi menelusuri hutan hujan subtropis. Jika kita kuat, bisa berjalan ke Dove Lake sejauh 10km, atau misalnya tertinggal bis terakhir, maka terpaksa naik mobil orang lain (hitchhiking) atau jalan kaki 10km lagi ke Ranger Station (satu perhentian setelah Visitor Centre).

Sesampainya di Dove Lake, kita disambut pemandangan danau dengan latar belakang Cradle Mountain yang diliputi kabut. Jangan lupa untuk mengisi walker book, buku tamu yang akan merekam siapa saja yang melakukan trekking di sekitarnya. 

Ada banyak sekali jalur trekking, mulai dari yang sangat mudah sampai yang menantang. Ada pilihan very short walk sampai long walk dan naik ke puncak Marion’s Lookout, misalnya. Semua terpampang nyata dan jelas di walker centre, di mana ada jalur dan perhentian yang direkomendasikan, waktu yang diperlukan dan jarak yang ditempuh. Begitu pula dengan baju, alat dan perbekalan yang direkomendasikan. Yang paling populer adalah Dove Lake Circuit, jalur sejauh 6km berkeliling Dove Lake yang bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Jangan lupa untuk memeriksa waktu agar tidak tertinggal bis terakhir ke Visitor Centre, ya.

Jika ingin pengalaman trekking yang lebih menantang, maka cobalah Overland Track, yang bisa ditempuh dalam waktu enam malam, sejauh 65km, bermula dari Ronny Creek (satu perhentian sebelum Dove Lake) sampai Lake St. Clair. Kabar baiknya, kita bisa melalui berbagai macam lanskap yang indah dan khas Tasmania, jika kita bisa melakukannya. Kabar buruk atau realitanya, dibutuhkan persiapan dan latihan mental serta fisik yang matang untuk melaksanakannya. Ketika musim panas, akan semakin ramai yang melakukannya, tapi untuk mencegah overcrowding, diperlukan pemesanan jauh-jauh hari. Tidak bisa sembarang melaksanakan begitu saja. Minimum tiga orang dalam satu rombongan. Ada titik-titik pemberhentian dengan lokasi perkemahan dan fasilitas umum seperti toilet dan tempat masak komunal.

Karena kami membawa Janis, kami hanya melakukan trekking sederhana 2km di sekitar Dove Lake, sambil menikmati pemandangan di Boat Shed dan Glacier Rock (yang kebetulan tutup karena akan dibangun sebuah platform yang aman). Sudah cukup buat kami dan anak kami, yang cenderung lebih senang berhenti dan melihat air mengalir atau bertanya soal tanaman ini dan itu. 

Awas! Ada beruang ganas!

Tips: Tidak semua jalan bebatuan di Dove Lake ramah stroller, jadi lebih baik tidak membawanya. Jika ingin membawa stroller, silakan mencoba Enchanted Walk (diulas kemudian). 

Hati-hati ketika hujan, gunakan sepatu yang bisa digunakan untuk permukaan licin. Kami menggunakan winter boots. Jangan menggunakan sepatu hak tinggi.

Jika anda ingin membawa stroller atau dengan orang tua yang tidak bisa berjalan jauh, bisa mencoba Enchanted Walk, sebuah rute jalan kaki sederhana sejauh 1km yang melingkar (looping) dan dilengkapi dengan laluan terbuat dari kayu, pengaman berupa kawat agar tidak licin, serta beberapa bagian yang memiliki pegangan. Anda dapat menikmati suasana hutan hujan subtropis melewati sungai kecil di tengahnya. 

Enchanted Walk yang memesona

Kalau masih kurang puas, di sekitarnya ada banyak rute berjalan yang sederhana tapi juga menarik, seperti The Waterfalls Walk, King Billy Track, Speeler Track dan Dove Canyon Track. Tidak perlu sampai ke Dove Lake, anda sudah bisa menikmati keindahan alam. Jika ingin yang lebih panjang, cobalah Pencil Pine Track di samping Enchanted Walk.

Lapar? Maka kafe terdekat ada di sebuah hotel bernama Cradle Mountain Lodge di samping Enchanted Walk, kopi dan makanannya lumayan enak. Harga di kisaran A$20 untuk makanan utama (mahal tapi porsinya besar, bisa dibagi) dan A$5-6 untuk kopi atau cokelat hangat. Kafe selanjutnya yang kami rekomendasikan ada di Visitor Centre, dengan kisaran harga sama. Di sini juga anda bisa membeli suvenir dan mengisi bensin.

Tips: Mengisi bensin di Australia sangat mudah, walau tidak ada yang akan membantu anda mengisi mobil anda. Biasanya, anda mengisi dulu (cukup pilih bensin yang diinginkan—biasanya unleaded—tekan pengisinya dan tunggu sampai penuh (ketika penuh, pegangannya akan terlepas sendiri atau memaksa anda berhenti). Setelah itu, datang ke kaunter dan informasikan nomor pompanya. Anda bisa membayar pakai kartu kredit atau tunai.

Hari kami akhiri setelah makan siang, lalu bersantai sejenak di lounge hotel sampai petang, sambil meminjam DVD. Oh ya, di sini tidak ada sinyal ponsel maupun wifi, jadi hiburannya hanya DVD dan TV kabel.

Anehnya, kami merasa lebih bahagia tanpa internet, walau sesekali ingin update Instagram juga. Hihihi.