Cradle Mountain

Tasmania adalah negara bagian terkecil dan paling selatan posisinya di Australia. Kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya pernah mendengar namanya, tapi tak pernah berkunjung ke sana. Selama beberapa dekade, ia pun hanya dianggap sebagai halaman belakang oleh orang Australia sendiri, dan dari sejarahnya yang cukup kelam—sebagai tempat pembuangan narapidana dari Inggris—tak banyak yang ingin berkunjung ke sana.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Tasmania, secara pelan tapi pasti, beranjak menjadi destinasi yang semakin terkenal. Jika Islandia menjadi terkenal karena lanskap yang menyerupai planet lain karena aktivitas volkaniknya—dramatis, dari tandus sampai hijau, lapang sampai bergerigi nan memuncak—maka Tasmania adalah kebalikannya, ia adalah tanah yang bersahabat seperti surga, tapi juga memberi kejutan di setiap sisinya.

Ketika kami mulai membuka dan mengikuti akun Instagram @tasmania, dari situlah hati kami jatuh cinta. Kesan pertama kami adalah Tasmania mirip sekali dengan Selandia Baru, dengan gunung menjulang, perjalanan darat, rumput meluas, udara bersih. Tasmania seperti sahabat lama yang hangat, merangkul dan mengundang. Sangat bersahaja. “Hey, kamu. Apa kabar? Bagaimana jalan-jalanmu di tempat lain yang indah itu? Mampirlah, nikmati pekaranganku yang sudah kurapikan dengan bunga, dengan lautan rumput melebar yang sangat hijau, berlatar belakang gunung yang menyingkap dirinya pelan-pelan. Lihatlah wombat, wallaby dan kangguru berlarian menemanimu. Besok hari jika sempat, kita akan melihat pantai dekat rumahku dengan bebatuan yang berapi-api. Nikmatilah, dengan secangkir kopi atau teh manis.”

Ronny Creek, Cradle Mountain

Tasmania memang penuh warna, hangat, bersahabat dan ramah. Seperti surga.

Semua ada di sebuah pulau yang bisa dijangkau relatif mudah dan cepat, serta belum ramai pengunjung. Ia juga menjadi destinasi yang sangat ramah keluarga.

Di sini, semua ada, untuk semua.

Berjalan di hutan hujan subtropis

Mari mulai dari kehidupan kota. Hobart dan Launceston, dua kota terbesar di pulau ini, menjadi nadi utama kehidupan kota. Museum nan berkelas (tanpa antrian gila-gilaan seperti di London atau Paris), pengalaman kuliner yang menyenangkan (tanpa antrian panjang seperti di Eropa atau di Jepang), jalan kaki yang menyenangkan, rileks dan tidak padat. Penuh kejutan kecil di sana-sini. Pemilik warung makan yang ramah. Atau, cobalah Richmond, 30 menit dari Hobart, di mana impian masa kecil tinggal di kota menawan menjadi nyata, hampir seperti kota di sebuah film Walt Disney.

Launceston, kota lembah Tamar Valley yang sendu di pagi hari

Senang dengan alam? Beranjaklah sedikit saja ke luar kota, maka cuplikan menarik dari Tasmania sebagai pulau yang dekat dengan alam akan menampakkan diri. Mount Wellington, sebuah gunung berketinggian 1.200m di atas permukaan laut yang bisa diakses 30 menit dari kota Hobart. Tamar Valley dan Narantwapu National Park, hanya sekitar 1 jam dari Launceston. Beranjaklah beratus-ratus kilometer ke Cradle Mountain, untuk melihat gunung dan danau Dove Lake yang terindah di Tasmania, bagian dari Lake St. Clair National Park yang dicintai para trekker.

Senang dengan pantai? Ketika musim panas, beralihlah ke Bruny Island atau Freycinet National Park untuk bermain di pantai putih berlatar belakang pegunungan menawan serta air biru toska.

Senang dengan hewan? Hampir di setiap taman nasional selalu ada kesempatan untuk melihat hewan asli Australia seperti wallaby, wombat dan yang paling terkenal… Tasmanian devil

Wallaby di depan kabin penginapan kami di Cradle Mountain

Berkelana dengan anak-anak? Kondisi alam yang beragam dan tidak terlalu ekstrem (misal, gunung tinggi atau berapi, atau cuaca ekstrem) membuat Tasmania menjadi pilihan yang tepat buat anak kecil! Musim panasnya tidak terlalu panas, musim dinginnya juga masih boleh tahan. Banyaknya lahan untuk berlari-lari dan kans bertemu hewan liar yang ramah juga menjadi daya tarik buat si kecil.

Yang membuat Tasmania menarik buat kami adalah keseimbangan yang hakiki:

  • Ukuran pulau yang “pas”: Ukurannya yang cukup pas untuk dijelajah dengan mobil. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung, maksimal 4 jam, dan bisa dipecah menjadi 2-2 atau 1-1-2 jam untuk istirahat atau berhenti bermalam. Ukuran pulau yang pas juga membuat penyusunan rencana perjalanan (itinerary) menjadi lebih mudah, dan hampir semua yang kami inginkan dapat dicapai dalam dua minggu. Kalau pun kami merasa kurang, itu hanya karena Tasmania terlalu indah dan kami ingin lebih berlama-lama!
  • Kombinasi kota besar dan alam yang seimbang: Alam yang terpencil (remoteness) dapat dicapai hanya 1-2 jam dari kota besar. Jika butuh apa-apa atau terjadi keadaan darurat, bisa dengan mudah kembali ke kota besar.
  • Variasi alam yang seimbang: Kecuali gurun (yang tentu bisa diakses di benua Australia yang utama), semua ada di sini, mulai dari gunung (Cradle Mountain, Hartz Mountain, Ben Lomond) sampai pantai (Bay of Fires, Bruny Island, Freycinet National Park, dan hampir seluruh sisi timur pulau), ada. Pulau-pulau kecil juga ada di sekitarnya, seperti Maria Island dan Flinders Island, atau daratan luas di tengah dengan berbagai kota kecil.
  • Bersahaja, tapi tetap memukau: Tasmania memang tidak sedramatis Selandia Baru atau Islandia, tetapi ia tetap punya ketertarikan tersendiri, dan menarik untuk pengelana ekstrem seperti pendaki gunung, sampai wisatawan keluarga yang ingin menikmati pemandangan dengan aman dan nyaman.
  • Harga masih relatif terjangkau: Pada saat tulisan ini dibuat, Tasmania masih mengarah menjadi bintang pariwisata dunia, seperti apa yang pernah terjadi pada Islandia beberapa tahun lalu. Harga-harga masih relatif terjangkau, seperti sewa mobil seharga $10-20 AUD per hari. Jika memasak sendiri, biaya-biaya pun akan dapat ditekan. Biaya hidup di kota-kota di sini pun juga lebih murah dibanding biaya hidup di kota-kota Australia lain seperti Sydney atau Melbourne, dan opsi menginap juga hadir di kota-kota menawan seperti Richmond dan Deloraine.
  • Ramah jetlagTerutama bagi yang berasal dari Indonesia atau Asia secara umum, perbedaan waktu tidak terlalu menonjol seperti jika kita ke Islandia (7-8 jam ke belakang), atau Selandia Baru (5-6 jam ke depan). Tasmania masih berbeda 3 jam dengan Waktu Indonesia Barat, atau dari kami di Singapura, hanya 2 jam. Efek jetlag tidak terlalu terasa, terutama buat anak kami.

Untuk perjalanan kali ini, kami cukup konservatif dalam membuat rencananya. Awalnya, memang, kami menganut sistem “kebut dua minggu”, di mana setiap satu atau dua hari, kami berhenti dan menginap di suatu tempat, dirancang sedemikian rupa hingga ia benar-benar mengelilingi pulau secara bundar. 

Ronny Creek, Cradle Mountain
Ross, Tasmania: Salah satu dari sekian banyak kota kecil pemberhentian kami

Rencana perjalanan awal kami:

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Stanley, sebuah kota kecil di pesesir utara Tasmania juga, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Strahan, kota kecil dengan latar hutan hujan, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Lake St. Clair, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke New Norfolk, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Hobart, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Port Arthur, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Orford, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Swansea/Coles Bay, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke St. Helens, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam.
  • Pulang.

Tapi setelah dipikir-pikir, rencana di atas memakan waktu 16 hari, terlalu lama untuk jadwal kami. Selain itu, sepertinya sedikit ngoyo, ya? Hidup di jalan terus dan tidak ada waktu bongkar kemas dan menikmati suasana.

Akhirnya, setelah dipilih-pilih, kami membuat rencana baru yang lebih realistis, dengan harapan suatu saat akan kembali lagi ke Tasmania (amin!):

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 3 malam. Mengorbankan Stanley.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 2 malam. Mengorbankan Strahan.
  • Lanjut ke Coles Bay, menginap 2 malam. Mengorbankan Bay of Fires/St. Helens.
  • Lanjut ke Hobart via Port Arthur, menginap 4 malam. Mengorbankan Lake St. Clair, New Norfolk.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam. Di perjalanan mampir ke Richmond, Ross dan Deloraine.
  • Hari terakhir, pulang.
Masak sendiri di hotel/kabin self-catering

Total perjalanan darat adalah 13 hari, dengan perjalanan udara 2 hari.

Dengan begini, kami bisa bongkar kemas dan istirahat di setiap tempat minimal selama 2 malam (kecuali Devonport yang hanya singgah). Devonport adalah persinggahan logistik, di mana kami akan membekali diri di awal dan berkemas final dan istirahat di akhir. Devonport juga dipilih sebagai pintu masuk karena tiket terusan dari Melbourne ke sana lebih murah daripada ke kota-kota lain, dan posisinya paling dekat dengan Cradle Mountain, perhentian pertama kami.

Setelah rencana perjalanan difinalisasi, kami menentukan beberapa hal penting lain seperti:

  • Sewa mobil: Kami memutuskan menggunakan Europcar karena mereka paling transparan ketika proses pemesanan. Kalau cari harga yang lebih murah, mungkin bisa coba Budget. Ada beberapa opsi lain yang lebih murah seperti Apex Rental tetapi ia tidak ada di Devonport, tempat kami mendarat. Pastikan anda memilih opsi ekstra yang diperlukan seperti child seatroad side assistance (jika tidak mahir mengganti ban dan lain sebagainya), serta yang paling penting asuransi yang meliputi kecelakaan. Jangan lupa aktifkan asuransi snow cover jika akan pergi ke daerah bersalju.
  • Menyusun menu makanan: Ini akan menentukan anggaran dan kenyamanan. Untuk kami, kami memutuskan untuk masak sendiri ketika pagi dan malam, dan opsi makan di luar ketika siang, atau ketika sedang bepergian dari satu kota ke kota lain. Tips: kami beli penanak nasi mungil yang bisa menyediakan nasi cukup untuk dua dewasa dan satu anak. Langkah selanjutnya setelah memutuskan masak adalah menyusun menu. Menu ini kami variasikan, tapi secara kasar, beginilah kira-kira menu kami bergantian:
    • Pasta bolognaise dengan daging cincang (atau minimal bumbunya saja)
    • Kari ala Jepang dan nasi putih, dengan sayur wortel, brokoli dan kentang (jika ada)
    • Ayam/daging/tuna tumis teriyaki/saus tiram dengan sayur wortel dan brokoli dan nasi putih
    • Tom yam dengan sayuran seadanya plus ayam atau protein lain
    • Sosis domba digoreng saja (sosis di Australia jauh lebih enak dan alami), biasanya untuk sarapan
    • Sandwich isi salmon asap, alpukat potong atau dihancurkan, keju lembaran dan telur mata sapi, biasanya untuk sarapan
    • Telur mata sapi dan nasi untuk sarapan
  • Menyusun daftar belanja: Ini benar-benar kami anggap serius karena ada beberapa hari seperti di Cradle Mountain di mana kami akan benar-benar jauh dari supermarket, atau pun kalau ada, antara lebih mahal harganya atau kami memang malas keluar karena dingin! Berikut daftar belanja yang kami punya secara kasar:
    • Bahan masak dasar seperti beras, daging, ayam, ikan, sayur seperti wortel dan brokoli, pasta, tomat, telur, minyak zaitun dan lainnya
    • Bumbu masak dasar seperti bawang-bawang dan beragam saus
    • Makanan siap makan yang bisa dijadikan makanan utama juga seperti roti tawar dan selai-selai
    • Kudapan, seperti keripik, cokelat, wafer dan lain sebagainya, berguna untuk di jalan misalnya ketika mendaki gunung
    • Minuman, seperti susu, jus, dan air mineral (penting!)
    • Perawatan tubuh seperti sabun, sampo jika diperlukan
    • Peralatan kebersihan, seperti kantung sampah, ini sangat penting ketika sampah banyak tetapi penginapan hanya menyediakan tempat sampah kecil
  • Pesan penginapan: Kami ingin berusaha untuk menggunakan jenis penginapan yang bervariasi, mulai dari hotel, rumah, apartemen, sampai kabin. Syukurlah, kami bisa mencoba semuanya dalam perjalanan ini. Fokus kami ketika di gunung adalah kenyamanan dan keamanan, oleh karenanya pengeluaran akomodasi di gunung paling mahal, di sebuah hotel yang menurut kami sungguh baik dan nyaman. Di kota, kami fokus pada rumah atau apartemen. Di pantai, kami menyewa kabin.
  • Pesan tiket pesawat: Kami memesan tiket pesawat Emirates dari Singapura ke Melbourne (7,5 jam), lalu QantasLink untuk terusan dari Melbourne ke Devonport (50 menit). Pengalaman kedua kami naik pesawat double-decker A380, dan pengalaman pertama kami semua naik De Havilland Dash-8! 
  • Visa Australia: Kebetulan kami sudah punya visa Australia 3 tahun multiple entry, jadi untuk kali ini, urusan visa menjadi mudah.
Hasil hiking 1,5km dengan anak, pemandangan indah di Wineglass Bay

Proses perencanaan berlangsung kurang lebih 2-3 minggu sebelum berangkat, tapi kami puas. Untuk cerita masing-masing hari di perjalanan Tasmania kali ini, ikuti artikel berikutnya, ya!