Awal tahun lalu, saya dan suami berkesempatan untuk berbulan madu ke Pulau Seribu Masjid—tetangga Pulau Seribu Pura yang tersohor itu. Ya, akhirnya saya berhasil menjejakan kaki di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, setelah sekian lama saya menuliskan pulau ini di “bucket list” yang saya miliki.

Selama ini saya mengenal Lombok karena dua hal. Pertama, sebagai penggemar kuliner, siapa yang tidak pernah mendengar nama masakan khas Lombok, ayam taliwang, yang pedas namun sangat lezat itu, dilengkapi plecing kangkung yang segar? Dua masakan tersebut adalah menu khas Lombok yang sudah terkenal di seluruh Indonesia.

Panorama Pantai Kuta, Lombok
Panorama Pantai Kuta, Lombok.

Panorama Pantai Kuta, Lombok
Sudut lain panorama Pantai Kuta, Lombok.

Hal kedua yang membuat saya mengenal Lombok ini adalah Gili Trawangan, sebuah “gili” (pulau kecil) di sebelah Barat Laut Pulau Lombok yang memiliki pantai yang super cantik dengan pasir nan halus dan warna air hijau kebiruan. Sebenarnya ada gili-gili lain yang tak kalah cantiknya tersebar di sekitar Pulau Lombok, namun Gili Trawangan adalah salah satu yang terbesar dan juga memiliki fasilitas paling lengkap.

Namun, bukan hanya kuliner khas Lombok dan Gili Trawangan yang meninggalkan memori menyenangkan selama saya berbulan madu di sana. Ada tempat lain, suatu tempat yang bisa dikatakan harta karun tersembunyi Pulau Lombok. Namanya adalah Pantai Kuta. Ya, Kuta di Pulau Lombok.

Pantai Kuta ini terletak di Desa Kuta yang lokasinya tak jauh dari Lombok International Airport, bandara baru yang terletak di wilayah Praya, menggantikan bandara yang sebelumnya berlokasi di Mataram. Pantai ini kira-kira hanya 20-30 menit menggunakan taksi dari bandara Praya yang bersih dan bernuansa modern itu.

Untuk akomodasi, cukup banyak fasilitas penginapan yang terdapat di sekitar Pantai Kuta ini. Dari cottage-cottage sederhana hingga hotel bintang lima, silahkan dipilih yang sesuai anggaran.

Berbeda dengan Kuta di Bali yang sangat padat dan komersial, Pantai Kuta yang satu ini bagaikan putri cantik yang amat pemalu. Meski memiliki pemandangan yang sangat indah—bisa dikatakan lebih cantik dari kembarannya di pulau sebelah—pantai ini terhitung amat sepi. Ketika saya dan suami berkunjung ke sana, hanya ada dua pengunjung lain ditambah beberapa penjual pernak-pernik khas Lombok yang hilir mudik menawarkan kaos atau songket Sasak.

Detil pasir Pantai Kuta, Lombok
Detil pasir Pantai Kuta, Lombok, seperti merica.

Warna air di Pantai Kuta mungkin tidak hijau kebiruan seperti di Kepulauan Gili. Namun, pantai ini memiliki pasir khas berwarna putih kecoklatan yang bulat-bulat seukuran biji merica. Agak geli-geli saat menginjaknya dengan kaki telanjang. Ombaknya pun bergulung-gulung relatif tenang. Namun saya rasa, keunggulan utama Pantai Kuta yang membuatnya luar biasa, boleh jadi adalah lanskapnya yang dikelilingi oleh karang-karang dan bukit-bukit hijau. Dari sudut tertentu, pantai ini seakan-akan terperangkap oleh bukit-bukit tersebut yang membuatnya tampak seperti danau. Sungguh indah.

Bayangkan, alangkah menyenangkannya menghabiskan waktu sambil tidur-tiduran santai membaca novel lalu sesekali bermain air di pantai yang berpemandangan indah namun nyaris tak berpenghuni. Benar-benar seperti pantai milik pribadi!