St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.
St. Basil Cathedral pada siang dan malam hari.

Moskow begitu suram pada akhir musim dingin. Salju yang tidak cair sempurna masih ada di rerumputan, sungai dan pohon. Saya tiba di Moskow pada pertengahan April. Langit kelabu, jalanan kotor oleh salju bercampur tanah. Kesan “pasca” negara adidaya masih jelas terlihat dari gedung–gedung tinggi dan bentuk bangunan mereka yang berseni serta berwarna–warni.

Beruntung saya tinggal di hotel yang tak jauh dari pusat kota. Hanya 20-25 menit jalan kaki menuju Lapangan Merah (Red Square) dan Kremlin. Gerimis turun saat saya dan teman–teman berencana keliling kota dengan jalan kaki. Namun tidak ada yang urung untuk tetap menelusuri budaya Rusia. Kami berangkat tepat setelah makan siang!

Alexander Park
Alexander Park

Jalan–jalan kami diawali dengan mengunjungi Katedral Christ the Saviour yang merupakan gereja ortodoks tertinggi di dunia. Gereja ini dibangun pada tahun 1883 dan diruntuhkan semasa perang. Alih–alih dibangun kembali, pemerintah malah membangun kolam renang air panas untuk umum di atas tanah reruntuhannya dan menuai protes dari banyak pihak. Akhirnya pada bulan Agustus 2000, gereja ini dibangun kembali dengan mengulang tiap detil desain, lukisan, ukiran maupun pahatan mimbar. Di dalam, mural serta kubah sungguh indah, sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotret.

Lapangan Merah hanya terletak 10 menit dari situ. Tapi, terlebih dahulu kami masuk ke dalam Kremlin. Kremlin berada di tengah antara Sungai Moskva (selatan), Katedral St. Basil dan Lapangan Merah (timur), Alexander Park (barat). Kremlin terdiri dari lima istana, empat katedral, dinding dan menara Kremlin. Empat katedral kecil di dalam Kremlin berbeda “aliran” karena Tsarina terdahulu ingin meraih sebanyak mungkin simpati rakyat dengan membangun gereja–gereja yang berbeda untuk mereka. Saat ini Kremlin masih digunakan sebagai kediaman resmi presiden Rusia.

Lapangan Merah (Red Square)
Lapangan Merah (Red Square)

Hal lucu yang kami temui di salah satu katedral di dalam Kremlin itu adalah bagaimana asal pelukis memengaruhi warna pada setiap lukisan yang ada. Pelukis gereja asal Rusia selalu melukis karakter/tokoh orang/ malaikat dengan warna kulit putih. Sementara pemugaran dan perbaikan gereja dilakukan oleh pelukis asal Itali yang menggunakan warna gelap untuk kulit (coklat tua). Sehingga ada bagian – bagian tertentu dimana manusia dan malaikat digambarkan dengan warna kulit putih dan ada yang berkulit hitam padahal mural itu menggambarkan satu rangkaian cerita.

The Kremlin
The Kremlin

Dari tepi Kremlin pemandangan kota Moskow sangat indah. Wisata gereja kami pun sungguh berkesan. Kami berjalan ke gerbang luar menuju taman kota yang membentang sepanjang sisi depan Kremlin ke arah lapangan merah. Dekat gerbang luar kami mendapati bangunan terpisah yang dijaga ketat. Ternyata bangunan tersebut adalah apartemen Lenin. Di situlah dia menghabiskan masa–masa terakhir hidupnya dengan membawa seluruh keluarga besarnya menetap di sana.

Lapangan Merah dikelilingi bangunan–bangunan tua yang indah, termasuk gereja St. Basil yang merupakan ikon terkenal kota Moskow. Saya sengaja memotret St. Basil saat siang dan malam hari karena menurut kabar, bangunan tersebut memiliki karisma mistis yang berbeda saat terang dan gelap. Di bagian luar lapangan merah banyak kaki lima menjajakan tanda mata dan pin-pin kuno jaman perang.

Satu hal yang sangat disayangkan dari Lapangan Merah adalah bangunan panjang di sisi kiri yang dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan dengan lampu terang-benderang yang mengingatkan saya akan istana di Disneyland.

Tidak sulit menemukan restauran atau kafe enak di Moskow. Resto fusion Asia pun banyak. Hanya saja harganya memang mirip dengan standar Eropa. Siap–siap tutup mata saat bayar. Ada satu restoran Ukraina yang letaknya dekat Kremlin. Dengan suasana hangat khas petani, resto ini sangat nyaman dengan pilihan makan beragam seperti lidah sapi rebus, vodka cabai (chilli vodka) serta roti dadar dengan salmon mentah dan keju.

Pusat kota Moskow menyenangkan bagi saya. Ada kesan klasik dan modern jadi satu. Lapangan merah dan Taman Alexander selalu “hidup” siang dan malam menjadi tempat nongkrong berbagai usia. Satu lagi hal menarik dari Moskow adalah Moskow Metpo (dibaca: Metro) atau kereta bawah tanah. Keretanya mungkin sama saja dengan kereta bawah tanah negara lain, tapi stasiun bawah tanahnya mengesankan. Selalu ada desain berbeda yang ditemui di tiap stasiun, entah mural atau mozaik yang menceritakan perang, atau patung-patung serta pedang–pedang tembaga sepanjang lorong stasiun. Lebih mirip basement istana atau bunker perang daripada stasiun kereta.

Moskow mempunyai pasar tradisional yang terkenal, Izmailovo. Letaknya agak jauh dari pusat kota namun barang–barang yang dijual jauh lebih murah. Selain tanda mata umum seperti kaus, matryoshka, magnet atau gantungan kunci, Izmailovo menjual barang–barang bekas menarik dengan berbagai harga mulai dari kamera analog, lukisan tua dan pin kuno.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013