Mengunjungi Stockholm dan Swedia sudah menjadi impian saya sejak dulu. Keinginan itu berawal dari beberapa hal naif, yakni kesukaan saya pada IKEA (walau pada akhirnya tidak mengunjungi toko IKEA di Stockholm), lalu keinginan melihat salju (walau pada akhirnya saya salah musim, dan salju belum turun). Alasan yang lebih serius barangkali adalah citra Swedia di mata saya sebagai negara yang aman, damai, maju dan jarang penduduknya: saya berfantasi tentang tempat yang sangat elok dan tenteram, jauh dari hiruk-pikuk Indonesia yang sangat padat penduduknya.

Tak ada alasan yang cukup serius apalagi intelektual. Barangkali.

Saya datang di Stockholm akhir bulan Oktober, di mana suhu sudah mulai menyejuk, tetapi belum bersalju. Langit tidak sebiru musim panas, tetapi masih menyenangkan untuk jalan kaki di luar. Kenapa saya di sini? Jalan-jalan saja. Sebenarnya, tujuan saya adalah untuk menelusuri 50% jalur kereta api di Swedia, yang berujung di Norwegia. Jadi, Stockholm praktis hanya tempat singgah untuk memulainya.

Stockholm yang saya kenal pertama kali itu dua derajat Celcius. Saya turun dari bis di Cityterminalen, setelah hampir 12 jam di dalam bis dari Copenhagen, Denmark, melewati gelap dan dinginnya malam menelusuri semenanjung Swedia. Dalam kelamnya malam, saya menyadari bahwa sebagian besar jalan tol di sana tidak diterangi lampu. Sayup-sayup ketika tertidur saya mendengar supir bis mengumumkan tempat-tempat persinggahan seperti Helsingborg, Jönköping (dibaca “yonkyoping”), Linköping, Norrköping…

Karena sampai di Cityterminalen pukul 6 pagi, kebanyakan toko di sana masih belum buka, kecuali Pressbyrån, sebuah toko serba ada. Tak lama kemudian ada warung kopi yang buka. Saya sempatkan sarapan di situ.

Selanjutnya, saya harus mencari hostel di bilangan Söder Mälarstrand, lokasinya cukup sentral. Söder Mälarstrand adalah jalan di pesisir sebuah distrik yang menghadap langsung ke air, dengan pemandangan distrik Norrmalm, pusat kota Stockholm dan Gamla Stan, kota tua Stockholm yang banyak dikunjungi turis.

Secara geografis, Stockholm sangat menarik. Distrik-distriknya dibatasi oleh garis batas nyata: air. Kota ini adalah kota kepulauan dengan beratus-ratus jembatan dan sistem bawah tanah. Jika musim dingin dan bersalju, maka “sungai-sungai” di sekitar kota akan membeku, putih, seolah menghilangkan batas nyata itu tadi.

Ternyata dari Cityterminalen, saya hanya harus menempuh beberapa stasiun tunnelbana, atau jaringan rel ringan/kereta bawah tanah. Tarifnya terhitung mahal, sekitar 40 krona Swedia, kira-kira Rp53.000. Dari stasiun Mariatorget, saya berjalan kaki ke arah utara berpandukan sebuah peta. Dengan bantuan bertanya pada seorang penduduk, akhirnya saya menemukan hostel saya: Rygerfjord Hotel & Hostel, sebuah hostel yang unik karena tidak menghuni sebuah gedung, tetapi kapal uap tua yang sudah disandarkan. Harganya waktu itu 250 krona (sekitar Rp350.000) setiap malam untuk kelas asrama berisikan 8 orang. Saya suka tempat ini, walau pun bergoyang-goyang ketika malam. Internetnya cepat, suasananya nyaman dan sarapan gratisnya sangat lezat!

Dari awal saya pelajari, Stockholm adalah kota yang penuh dengan museum. Jika Anda suka ke museum seperti saya, maka kota ini seperti surga. Kabarnya ada lebih kurang 100 museum tersebar di seluruh kota. Saya memutuskan membeli Stockholm Card seharga 395 krona (sekitar Rp500.000) yang membebaskan saya membeli tiket masuk museum dan menaiki tunnelbana tanpa batas selama kurun waktu 24 jam dari tanggal diaktifkan. Kartu ini dapat dibeli di beberapa stasiun tunnelbana. Anda bisa juga membeli masa aktif lebih dari 24 jam dengan harga yang berbeda. Menurut saya, cara ini lebih efektif dan murah daripada harus membeli tiket museum dan tunnelbana satu per satu.

Ada beberapa museum yang bisa dikunjungi di pusat kota Stockholm tanpa harus jauh-jauh berkeliling:

Kapal Vasa Hasil Evakuasi
Kapal Vasa hasil evakuasi.

Vasamuseet: Tema utamanya adalah konservasi kapal Vasa, sebuah kapal medieval dari kayu yang tenggelam di perairan kota pada abad ke-16. Kapal ini awalnya dibuat berdasarkan mandat dari Raja Swedia saat itu, Gustavus Adolphus, untuk menegaskan kekuatan maritim kerajaan Swedia kepada negara-negara Laut Baltik (Jerman, Denmark, Norwegia). Ketika itu Swedia sedang berperang dengan Polandia, dan tidak ingin kalah pamor dengan Denmark yang mendominasi perairan. Sayang, karena kesalahan teknis, kapal ini tenggelam bahkan sebelum unjuk gigi kepada dunia luar. Museum ini memiliki kapal asli hasil evakuasi berukuran sebenarnya, di mana di sekelilingnya kita bisa mempelajari benda-benda yang sempat dibawa, tengkorak-tengkorak dan rekonstruksi wajah para awak kapal, analisa cat dan dekorasi visual kapal (sampai analisa semiotikanya!), selain dokumentasi proses evakuasi itu sendiri. Menyenangkan! Menyegarkan!

Rekonstruksi Wajah Awak Kapal Vasa
Rekonstruksi wajah awak kapal Vasa.

Analisa Warna dan Bubuk Warna Kapal Vasa
Analisa warna kapal Vasa. Warna yang ada sudah pudar.

Korban Kapal Vasa
Tengkorak hasil evakuasi korban.

Moderna Museet: Jika Anda penggemar pop art dan seni kontemporer, maka koleksi di museum ini dijamin membuat Anda bahagia. Ada koleksi Andy Warhol di dalamnya, termasuk film-filmnya dari tahun 1960. Beberapa karya Picasso, Salvador Dali dan Rauschenberg juga bagian dari pameran permanennya.

Nationalmuseet: Museum kecil yang cukup tua, tetapi tetap layak dikunjungi. Isinya adalah karya-karya seni seperti Rembrandt dan Renoir, atau beberapa seniman Swedia seperti Carl Larsson dan Ernst Josephson.

Nobelmuseet: Alfred Bernhard Nobel adalah ilmuwan kebangsaan Swedia, beliau mendedikasikan kekayaan warisan dari bisnis dinamitnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, seperti banyak dari kita tahu. Nah, museum ini mendokumentasikan sejarah, konsep dan penerima Hadiah Nobel secara lengkap. Gedungnya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung beberapa eksibisi dan ruang untuk pameran sementara.

Naturhistoriska Riskmuseet: Namanya gampang diterjemahkan: Museum Sejarah Alam (Natural History Museum). Anak-anak akan suka museum ini karena mereka bisa belajar tentang dinosaurus, fitur geografis seperti samudera, hutan, ekosistem, habitat dan flora-fauna yang menghuni bumi kita. Di sini juga terdapat Cosmonova, teater IMAX yang menyajikan film-film bertema alam dan sejarahnya seperti dinosaurus dan antartika.

Globe Arena SkyView: Mungkin ini bukan museum, tetapi karena saya tertarik dengan iming-iming bisa melihat kota Stockholm dari ketinggian 130m, dan karena Stockholm Card menggratiskan biaya masuk, saya akhirnya mengunjungi bangunan yang berbentuk kubah ini. Di sini, kita bisa menaiki sebuah “bola” atau “kapsul” yang akan naik ke puncak kubah, tidak melalui sumbu tengah tetapi justru dari bagian luarnya. Romantis!

Nordiskamuseet: Museum yang temanya sejarah kebudayaan Swedia ini sangat, sangat menarik. Tidak lupa juga, tempatnya sangat besar dan masih bergaya abad pertengahan dengan langit-langit yang tinggi dan lantai ubin. Di sini, kita akan diberikan perangkat audio tour untuk menemani kunjungan. Anda dapat mempelajari kehidupan masyarakat Swedia mulai dari zaman prasejarah sampai zaman modern dilihat dari berbagai manifestasi kebudayaannya seperti busana, tempat tinggal, perabot, tekstil dan karya intelektual lainnya. Disajikan juga beberapa diorama berskala 1:1 tentang suasana ramah-tamah ketika jamuan musim panas, tata cara makan sampai suasana kamar beberapa tokoh penting. Tidak lupa juga mereka mendedikasikan satu ruang untuk suku asli Skandinavia, yakni Saami.

Skansen: Ini adalah museum terbuka, layaknya Taman Mini Indonesia Indah. Di sini, pengunjung dapat mempelajari tentang kehidupan rakyat Swedia dalam sebuah perkampungan buatan. Anak-anak juga akan menyukai kebun binatang yang ada di dalamnya.

Kaki terasa hampir mau putus ketika hari sudah hampir berakhir karena terlalu banyak berjalan kaki. Apa daya, saya berusaha memaksimalkan Stockholm Card saya, daripada harus ikut tur yang belum tentu saya suka. Ketika Anda lelah, jangan lupa untuk berkunjung ke salah satu kafe yang biasanya menempel di museum, dengan seleksi makanan gourmet yang menggugah selera, walau tidak selalu murah. Ingin makanan murah? Jalan saja sebentar ke tempat umum dan biasanya Anda akan menemukan gerai kebab yang seporsinya hanya sekitar 40 – 70 krona Swedia (Rp50.000 – Rp80.000). Oh ya, harga makanan memang relatif mahal di sini dibandingkan negara Eropa lain.

Sepertinya masih ada 94 museum lagi yang belum saya kunjungi. Mungkin lain kali!

  • Disunting oleh ARW 6/6/2011