Andong & pintu biru

Pada pertengahan tahun 2010, tepatnya bulan Mei, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Solo dan Yogyakarta. Tidak ada rencana atau tujuan khusus ketika saya merencanakan liburan di kota tua ini, hanya ada perasaan ingin bertualang yang begitu besar, melepaskan diri dari hiruk pikuk kota Jakarta, kota kelahiran dan tempat tinggal saya yang keadaannya semakin memprihatinkan dari hari ke hari. Salah satu tujuan yang ingin dicapai ketika merencanakan jalan-jalan ke Solo dan Yogyakarta, adalah untuk menggambar sebanyak mungkin di kota-kota tersebut.

Terminal 3 Soekarno-Hatta

Ketika berkunjung ke sebuah tempat yang jauh, selalu ada hasrat untuk mengabadikan momen dan fenomena yang kita lihat. Ada keinginan untuk suatu saat nanti menatap kembali satu demi satu gambar yang mengingatkan kita akan tempat indah yang pernah kita kunjungi. Selain menggunakan kamera, ada cara lain yang mungkin sudah lama ditinggalkan, yaitu dengan membuat sketsa tempat-tempat yang berkesan di hati kita.

Menggambar ataupun membuat sketsa perjalanan mungkin bukan sebuah ide yang populer lagi, terutama pada jaman di mana teknologi terkadang sudah melampaui imajinasi manusia yang terliar sekalipun. Namun buat saya, selalu ada sebuah perasaan bahagia ketika saya menggoreskan pensil atau pena di atas sehelai kertas putih. Ada sensasi yang tak terkatakan ketika garis-garis yang saya buat membentuk sesuatu yang menyerupai pemandangan cantik yang saya lihat di depan mata. Ketika gambar tersebut sudah hampir selesai, untuk kemudian saya warnai pada kesempatan berikutnya, saya akan menikmati setiap warna yang saya tumpahkan ke dalam kertas. Alangkah ajaibnya ketika saya merasakan bahwa gambar tersebut nampak seperti nyata. Tempat yang dahulu pernah dikunjungi, tempat yang begitu indah, kini hadir kembali dalam bentuk yang sama sekali berbeda, namun tidak kalah cantiknya.

Benteng Kesunanan Surakarta

Pintu biru Daleman, Kasunanan Solo

Ketika kita memindahkan suasana ataupun obyek ke sebuah kertas, besar kemungkinan bahwa kita akan menghadirkan sebuah karya yang lebih indah dari bentuk aslinya. Hal ini tidak semata-mata dikarenakan oleh kecenderungan pelukis untuk melebihkan nilai estetis dari obyek yang ia gambar, namun memang sudah menjadi salah satu karakter khas lukisan untuk tampil lebih menarik dan indah dibanding obyek aslinya. Jika kita menyetujui teori tersebut, maka hampir semua obyek-obyek yang kita lihat selama kita melakukan perjalanan akan terlihat lebih menarik dalam versi sketsa atau lukisan.

Tentunya, untuk mencapai kondisi di mana kita bisa menghadirkan sebuah lukisan yang indah, kita membutuhkan waktu untuk berlatih. Namun hal tersebut bukan alasan untuk menunda kita melakukan aktivitas sketsa dalam perjalanan. Justru untuk meraih kemampuan yang kita inginkan, kita bisa berlatih sebanyak mungkin. Setiap goresan yang kita buat adalah berharga, setiap usaha yang kita lakukan pasti bermanfaat untuk melatih kemampuan gambar kita, dan tidak ada kata terlambat untuk memulai menggambar, kapan saja dan di mana saja. Obyek-obyek yang tersebar pada saat kita melakukan perjalanan merupakan sesuatu yang mungkin tidak akan kita temui lagi pada waktu dekat, dan dengan demikian menjadi sangat berharga untuk kita abadikan dalam suatu bentuk karya seni.

Bangsal Siti Hinggil Keraton Yogyakarta

Sebuah karya yang bisa dikatakan ‘indah’ pun, merupakan bagian dari sebuah kondisi yang sangat subyektif dan tergantung kepada selera orang yang menilai. Sketsa yang tampak sangat sederhana bisa terlihat lebih indah dibanding sketsa yang tampilannya rumit dan detail, demikian juga sebaliknya.

Salah satu pemberi insipirasi saya untuk melakukan kegiatan melukis kota dan suasana adalah sebuah situs internet beralamat www.urbansketchers.com. Dalam situs tersebut, para anggota menyumbangkan gambar atau lukisan yang mereka buat ketika mereka mengunjungi sebuah tempat. Tidak harus tempat atau obyek yang jauh, bisa juga sebuah obyek yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hasil karya para anggota yang bisa kita lihat di situs tersebut mencerminkan betapa luas dan kaya ciri khas serta potensi tiap individu. Dari sketsa dengan garis-garis sederhana sampai lukisan dengan teknik mewarnai yang mendekati aslinya, semua ada tergambar di sana.

Di situs tersebut tidak terlihat ketakutan berlebihan akan garis distorsi ataupun proporsi yang tidak sesuai. Usaha untuk menampilkan garis yang tidak distorsi beserta dengan proporsi yang sesuai tentu ada. Namun hal tersebut bukan fokus utama yang ada dalam pikiran para pelukis ketika mereka menggambar. Terkadang ketakutan kita akan kesalahan, justru merupakan rintangan utama kita dalam menghasilkan sebuah karya. Pelukis di komunitas Urban Sketchers berusaha untuk tetap mengapresiasi setiap karya, sambil terus menghasilkan karya-karya lain yang diharapkan akan lebih baik dari karya sebelumnya.

Urban Sketchers tidak memiliki sebuah peraturan khusus dalam menggambar, namun mereka memiliki satu prinsip dasar: kita menggambar apa yang kita lihat. Kejujuran ketika menggambar sebuah obyek adalah sesuatu yang sangat dihargai, dan dipegang teguh oleh para pelukis kota tersebut. Para pelukis akan menggambar di lokasi, dan mereka menggambar sesuai dengan apa yang mereka lihat, tanpa mengurangi ataupun menambahkan obyek apapun. Hal ini akan menghadirkan sebuah karya seni yang jujur terhadap realita, dan pada akhirnya menambah nilai dari karya itu sendiri. Prinsip inilah yang terus saya pegang ketika saya menggambar obyek ataupun suasana yang bisa saya temukan dalam perjalanan.

Demikian, berbekal semangat untuk menghasilkan karya-karya, dengan dua buah buku sketsa Moleskine yang berbeda (satu diperuntukkan khusus cat air, dan satu lagi diperuntukkan sketsa pensil dan pena), saya menyelusuri kota Solo dan Yogyakarta, mencari sudut-sudut menarik dan kejadian-kejadian unik yang tak akan saya temukan di tempat lain.

Hari pertama, tiba di bandara Adisutjipto Yogyakarta pukul 17.00 WIB. Karena matahari sudah hampir terbenam, saya tidak melakukan aktivitas sketsa outdoor pada hari itu. Satu hal yang sering terlewat dalam perhatian ketika kita merencanakan perjalanan yang melibatkan aktivitas sketsa, adalah bahwa ada hal-hal khusus yang harus diperhatikan, salah satunya perencanaan kegiatan. Misalnya, aktivitas sketsa outdoor akan jauh lebih baik dan nyaman dilakukan pada waktu pagi, siang, atau sore. Ketika gelap, akan sangat sulit atau bahkan tak mungkin kita menghasilkan sketsa atau lukisan yang sesuai dengan yang diinginkan. Sederhana, namun sering terlupa. Untuk itu ada baiknya mendatangi tempat-tempat yang ingin digambar pada saat pagi, siang, atau sore hari. Malam hari bisa dipakai untuk beristirahat atau melakukan kegiatan lain.

Karena sudah gelap, maka hari pertama saya mampir sebentar di Yogyakarta. Pada malam harinya kami (saya berdua dengan saudara yang menjemput saya di bandara Adisutjipto) menuju Solo untuk menginap di Hotel Lor In. Keesokan paginya, saya memulai perjalanan sketsa pertama di Kraton Kasunanan Surakarta. Keraton Surakarta merupakan salah satu keraton yang paling indah yang pernah saya datangi, dengan sisa-sisa kemegahan masa lalu yang masih tampak. Benteng keraton yang mengelilingi kawasan abdi dalem, kerbau bule yang dinamai Kyai Slamet, sampai pohon besar yang menyerupai gapura di pintu masuk keraton, seperti menyimpan misteri tersendiri.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, karena media sketsa bisa menghadirkan sebuah karya yang lebih indah dari aslinya, maka setiap obyek menarik yang saya temukan dalam perjalanan menjadi sangat menggoda untuk digambar. Bahkan obyek-obyek wisata yang terdengar umum serta ‘standar’ seperti Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Yogyakarta, sampai Candi Prambanan, akan menjadi sangat menarik untuk dilukis.

Relief singa di Candi Prambanan

Pada hari ketiga dan keempat, saya berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. Sketsa dan lukisan yang saya buat di kedua tempat ini merupakan karya yang paling memuaskan untuk saya. Bukan tentang bagus tidaknya karya tersebut, melainkan lebih ke perasaan saya ketika melukis obyek-obyek tersebut. Saya sangat mencintai keraton dan candi yang tersebar di Indonesia, khususnya di Jawa. Merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya berhasil menuangkan imaji keraton dan candi yang begitu indah ke dalam lembaran kertas.

Hari kelima, yang merupakan hari terakhir, saya habiskan sepenuhnya di Hotel Lor In, Solo. Kebetulan Hotel Lor In adalah business hotel yang memiliki konsep desain interior menyerupai boutique hotel, dan dengan demikian banyak sekali sudut-sudut yang bisa dieksplorasi dan dipindahkan dalam bentuk gambar.

Sekitar pukul 15.00 WIB di hari kelima, dengan mobil kami meninggalkan hotel untuk meluncur ke bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Beberapa jam lagi pesawat kami akan lepas landas menuju Jakarta. Ada perasaan sedih ketika saya melihat pohon-pohon, pegunungan, dan sawah yang kami lewati. Perasaan yang mengatakan bahwa dalam waktu yang cukup lama, saya tidak bisa lagi menatap salah satu candi Jawa terindah, dan memindahkan relief-relief kuno tersebut ke atas kertas. Saya mungkin harus menunggu entah berapa lama lagi untuk menemukan dan mengeksplorasi langgam-langgam arsitektur tak terduga yang baru tersadari ketika saya menggambar arsitektur kolonial di Malioboro kemarin sore. Saya juga tidak tahu kapan lagi saya bisa menelusuri benteng Keraton Kasunanan, sambil selalu berdecak kagum sekaligus sedih pada kemegahan dan kekuasaan yang kini telah berlalu.

Salah satu transisi menuju halaman Keraton Yogyakarta

Namun saya tahu, sampai waktu yang akan tiba nanti, sampai saya kembali untuk menggambar mereka kembali, saya sudah berhasil menyimpan kenangan indah di dalam dua buku sketsa yang saya bawa. Oleh-oleh yang paling berharga yang bisa saya lihat dan nikmati ketika tiba-tiba saya rindu akan tanah Jawa.

  • Disunting oleh ARW & SA 23/07/10