hoian_bangunantua

Ketika membaca tentang Hoi An di salah satu novel, saya jadi penasaran dan merencanakan perjalanan ke sana. Kota yang diakui UNESCO sebagai salah satu khazanah warisan dunia ini terletak di provinsi Quang Nam di bagian sentral Vietnam. Kota kecil berpenduduk 120.000 jiwa.

Walaupun menjadi kota turis, akses ke kota ini sangat bergantung dengan keberadaan kota Da Nang, sekitar 30 km di utara. Kota Da Nang memiliki satu-satunya bandara dan stasiun kereta api yang paling dekat.

Setelah riset sana-sini, akhirnya saya memutuskan naik kereta api ke Da Nang setelah perjalanan dari Hue, kota historis lain di utara kota itu. Dari Da Nang, berlanjut dengan taksi yang sudah saya pesan dari hotel di Hoi An, seharga 100.000 rupiah. Ada alternatif lebih murah yaitu dengan bis, yang hanya sekitar 8.000 rupiah untuk bis umum atau 40.000 rupiah untuk bis turis.

Sepanjang perjalanan singkat dari Da Nang ke Hoi An, saya melihat sebuah perkembangan pesisir yang pesat. Pemerintah tampaknya ingin menjadikan pesisir antara kedua kota ini sebagai pusat wisata pantai atau bahari. Beberapa hotel lokal dan internasional pun sedang dibangun. Jalanan cukup besar dan sepi.

hoian_museum

Hoi An memiliki slogan “The Ancient Town“, atau kota tua. Benar saja, pusat kotanya masih didominasi bangunan tua dan jalan-jalan sederhana yang tak beraspal. Jangan bayangkan kota tua yang bernafas Eropa, Hoi An justru sangat bernafas Vietnam tradisional. Ia dinobatkan sebagai kota tua otentik Asia yang masih terawat. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

hoian_pedagang01

hoian_pedagang02

Namun, jangan khawatir. Bagi anda pecinta sejarah, pasti suka dengan keadaan Hoi An sekarang. Memang, untuk setiap “perangkap turis”, atau “tourist trap“, selalu ada bagian-bagian yang berkembang sesuai keinginan pasar. Beruntung, pemerintah dan penobatan UNESCO tampaknya sedikit membantu merawat kota tua pada kondisi nostalgisnya.

Menjelajah kota ini lebih baik dengan jalan kaki. Selain kecil, kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya membuat kita tak ingin cepat-cepat melalui setiap detil. Rasanya seperti mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17.

Dapat saya bayangkan dulu di jalan-jalan mungil ini ada pedagang keramik, pedagang gerobak yang menjajakan rempah-rempah, kuli pelabuhan, penjaja makanan atau majikan yang memarahi anak buahnya. Saat ini wajahnya sudah berubah, pedagang cinderamata mendominasi, menjajakan baju dan memorabilia Vietnam untuk berbagai usia, lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer sampai miniatur beragam kapal antik. Ruas jalan mungil memastikan mobil tidak bisa melaluinya dan saya pikir ini bagus. Tentu saja, penjaja makanan tetap ada, baik itu yang di rumah makan maupun gerobak, menjual mi Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran. Siap-siaplah untuk dipanggil masuk oleh pelayan restoran.

hoian_malam

Malam hari tak kalah dengan siang hari, justru lebih menarik. Lampu-lampu kecil dan lampion-lampion menghiasi seluruh penjuru Old Town, geliat pedagang dan penjaja makanan pun seolah tiada henti. Alunan tembang instrumental mengumandang dari pengeras-pengeras suara yang dipasang di bangunan-bangunan kota. Udaranya cukup sejuk.

Hoi An dipenuhi turis, jadi mungkin bagi mereka yang mencari ketenangan, di sini bukan tempatnya. Namun, bagi mereka yang senang dengan fotografi, sejarah dan melihat Vietnam dari sisi berbeda, Old Town di Hanoi cukup layak dikunjungi. Fotografi arsitektur menjadi tema utama. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah rumah toko (shophouse) kuno ala peranakan dan fotolah suasana jalan. Hati-hati dengan rendahnya langit-langit! Setelah itu, coba ke tepi sungai, atau bahkan naik perahu kecil untuk memotret pedagang buah di pinggiran.

hoian_sumbangan

Jalan-jalan ke Hoi An tergolong murah. Hotel yang cukup besar dan bersih hanya bertarif sekitar USD20 (Rp200.000) per malam, bisa diisi dua orang. Tentu, hotelnya bukan gedung yang besar, tapi hanya sebuah rumah toko. Berkeliling tak perlu kendaraan bermotor, kecuali anda ingin ekskursi lebih luas ke pantai di sekitarnya. Cukup jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD0.50 atau Rp5.000 per hari). Sewa sepeda motor, jika perlu, bertarif sekitar USD5 (Rp50.000) per hari.

Khusus di Old Town, yang menyerupai sebuah museum hidup, belilah tiket terusan tiga hari untuk masuk ke beberapa tempat atau properti yang diseleksi khusus karena signifikansi sejarahnya, antara lain rumah-rumah tua milik pedagang lama yang sekarang disewakan pemiliknya sebagai museum, jembatan dengan arsitektur Jepang, gedung pertemuan dan lain sebagainya. Tampak dari fasad arsitektur, kota ini sepertinya menjadi ruang lebur antara beberapa budaya, antara lain Vietnam, China, Jepang dan India.

Puas menikmati kota tua, hari lain kita bisa mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi dulunya pusat peribadatan raja-raja Cham, tidak besar tetapi memiliki sejarah penting, karena merupakan peninggalan masyarakat Cham yang konon berasal dari Kalimantan. Mereka berbahasa Malayo-Polynesia, yang artinya mirip dengan bahasa Melayu, Indonesia dan Tagalog. Sayang, beberapa candi dibom dalam Perang Vietnam.