Menikmati Gurun Nevada

Setelah tertidur kurang lebih lima belas menit, saya terbangun mendengar suara telepon teman saya, JB, berdering. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi saat itu, dan kami berada di sebuah hotel di Las Vegas.

“Ada apa?” tanya saya pada JB.

Dengan nada suara mengantuk, JB menjelaskan bahwa teman satu grup kami, Anthony, tidak dapat menemukan jalan pulang menuju hotel. Ketika kami semua terlalu lelah untuk melanjutkan berpesta, Anthony memutuskan untuk tetap tinggal. Tampaknya setelah berpesta Anthony terlalu mabuk sehingga ia tidak dapat menemukan hotel yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari klub yang terakhir kami singgahi.

Didera perasaan cemas, saya dan JB memutuskan untuk mencari Anthony saat itu juga. Namun JB mempersilahkan saya untuk tetap tidur, karena menurutnya saya nampak sangat lelah. Saya menyerah dan melanjutkan tidur saya yang jauh dari lelap, karena kepala masih berputar dan musik dari diskotik sebelumnya masih terngiang di telinga. Ketika JB keluar kamar untuk mencari Anthony, terbayang di kepala saya kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi. Bagaimana jika Anthony tidak bisa ditemukan? Apa yang akan terjadi pada kami semua? Dan sebenarnya, bagaimana saya bisa sampai di tempat ini? Di tengah gurun pasir Nevada? Ah, mungkin saya berlebihan.

Pada awalnya, Vegas tidak pernah menjadi tujuan wisata impian saya. Jadi, ketika para sahabat mengundang untuk menghabiskan liburan musim semi di kota wisata tersebut, awalnya saya tidak tertarik. Namun saya sadar, menemukan teman baru di negara di mana⎯pada saat itu⎯saya baru menghabiskan kurang lebih satu setengah bulan bukanlah hal yang mudah. Dalam pikiran saya, siapa tahu perjalanan ini akan menjadi sebuah pengikat bersama mereka. Demikian, saya menyatakan persetujuan saya untuk pergi. Langkah yang saya ambil tidak salah. Tidak hanya menemukan sebuah grup road trip, saya mengalami petualangan yang sungguh baru dan belum pernah ada dalam pengalaman perjalanan saya sebelumnya.

Melintasi Gurun Nevada

Kami berenam meninggalkan San Francisco, California pada hari Kamis, 24 Maret, pukul delapan pagi. Perjalanan akan membutuhkan waktu kurang lebih sembilan jam untuk sampai ke negara bagian Nevada. Sepanjang perjalanan itu, tidak hanya saya menjelajahi lansekap Amerika dalam alam pikiran, namun saya juga berusaha untuk mempelajari budaya negara ini yang tetap terasa baru.

Kurang lebih dua setengah bulan berselang sejak saya tinggal di benua Amerika, kurang lebih tepat dua bulan saya menjalin pertemanan dengan kawan-kawan baru. Hampir semua sahabat baru saya adalah warga negara Amerika, dengan latar belakang kultur beragam. Bukan karena saya tidak mau berteman dengan anak-anak Indonesia, namun hingga saat ini saya memang belum sempat bertemu dengan satu-pun anak Indonesia di kampus saya maupun di kota ini, kecuali beberapa yang memang dikenalkan sedari saya di Jakarta. Adanya kesempatan untuk menjalin pertemanan dengan warga negara asing juga menunda niat saya untuk mencari tahu komunitas Indonesia di San Francisco. Jadi, setidaknya untuk saat ini, saya berusaha untuk mengembangkan pengalaman dan jaringan perkawanan dengan bergaul bersama anak-anak dari negeri⎯yang menurut saya⎯asing ini.

Kembali ke perjalanan. Saya merasa seperti terlempar ke dalam sebuah film yang menampilkan adegan road trip di dalamnya. Kami menyetel musik keras-keras, bermain pistol mainan yang memuntahkan bola-bola ping-pong warna-warni, mengagumi deretan bukit-bukit indah sepanjang jalan, sambil menikmati sedikit soda yang dicampur dengan alkohol, yang menghangatkan tubuh kami dan menuai senyum konyol yang selalu muncul di wajah.

Jalan Bebas Hambatan ke Las Vegas

Hamparan padang rumput luas yang membentang di negara bagian Nevada memang memukau. Terlebih lagi karena kami semua menuju Las Vegas, sebuah kota di mana harapan untuk bersenang-senang membumbung tinggi dalam angan. Maka ketika lansekap mulai berubah perlahan, perbukitan yang coklat berubah menjadi biru, dan lampu-lampu mulai berkilau menyapa kami di kejauhan, kami tahu bahwa sebentar lagi petualangan kami akan dimulai. Asyik!

Kira-kira pada pukul tujuh malam, kami tiba di tujuan. Penginapan kami adalah sebuah hotel bernama Circus Circus yang terletak di jalan utama Las Vegas, The Strip. Pemandangan pertama yang saya jumpai ketika masuk hotel adalah kasino beserta ratusan mesin berjejer yang menawarkan keuntungan sekejap. Kami melewati mesin-mesin tersebut dengan tatapan takjub. Berapa banyak wisatawan yang menuai untung? Berapa banyak dari mereka yang merugi besar? Berapa tinggi harapan yang digantung, dan berapa yang kembali dengan memuaskan? Namun pada saat itu, kami hanya ingin berberes dan untuk kemudian secepatnya keluar hotel dan bermain.

Kami bersiap di kamar hotel, menghangatkan diri dengan beberapa teguk minuman sebelum meluncur ke lobi dan akhirnya keluar hotel. Petualangan kami di malam pertama-pun dimulai. Ketika cahaya matahari meredup dan diganti oleh gemerlap bangunan yang berkilau oleh lampu-lampu warna-warni, Vegas nampak seperti perbatasan antara mimpi dan kenyataan. Tidak pernah saya sangka bahwa bangunan yang biasanya saya lihat di layar kaca, nampak jauh lebih besar dan megah. Saya yang selama ini memandang rendah Vegas sebagai tempat yang bodoh, palsu, cetek, dan tidak layak kunjung, mendadak terkesima dan merasa takjub atas kemegahan dan gemerlap kota yang memang sungguh menyilaukan ini. Setelah bertemu dengan beberapa teman yang berangkat terlebih dahulu dari San Francisco, kami akhirnya mulai menelusuri beberapa bar, hotel, dan diskotik yang terlihat menggoda. Dimulai dari Wynn, Caesar’s Palace, sampai ke The Cosmopolitan. Semuanya terletak di satu kawasan The Strip.

Tak dipungkiri, pengaruh alkohol memang begitu mempengaruhi grup kami. Malam itu memang malam pertama, tetapi kami semua hampir tak bisa mengingat detail demi detail yang terjadi. Semua terbayang samar dalam ingatan. Kami hanya ingat akan beberapa hal konyol yang terjadi di perjalanan menuju klub, di mana musik yang diputar dari diskotik terdengar keluar, di mana mesin-mesin kasino nampak menyala liar, dan tawa seperti tak kunjung usai. Kami berkenalan dengan beberapa teman baru malam itu, berbagi ceria dalam waktu singkat, dan berdansa di tengah musik yang menjerit hingga pagi tiba. Namun tidak lama setelahnya, ketika sudah sampai di hotel, saya merasa khawatir akan keberadaan Anthony yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya.

Kira-kira pukul setengah tujuh pagi, saya mendengar pintu kamar hotel terbuka. JB datang dengan membawa Anthony yang terlihat sangat lelah dan hampir tak sadar. Ternyata Anthony tersesat jauh, dan ditemukan JB kira-kira satu kilometer dari hotel di pinggir jalan, hampir tertidur. Melihat Anthony datang dengan keadaan utuh, saya merasa lega dan melanjutkan tidur yang tertunda hingga pukul satu siang.

Langit Las Vegas

Siang terasa seperti malam di dalam kamar. Setiap hotel dipersenjatai dengan tirai anti cahaya matahari yang sungguh ampuh mengimitasi suasana malam hari. Tampaknya semua pengunjung Las Vegas tidak rela tidur pagi mereka diganggu oleh sang surya. Demikian hari kedua kami lanjutkan dengan mengisi ulang tubuh dengan energi, minum air putih yang banyak dan makan apapun yang terlihat pantas. Kemudian ketika matahari terbenam, kami melanjutkan berpesta kembali di beberapa tempat yang berbeda. Begitu pula dengan pagi setelahnya dan malam berikutnya.

Kami tidak sempat menyaksikan berbagai macam pertunjukan menarik yang tersaji, dan saya sendiri cukup menyayangkan hal tersebut. Nampaknya kami terlalu bernafsu untuk menghabiskan akhir minggu dengan berpesta sebanyak mungkin. Hari terakhir di Vegas diakhiri dengan berbagai hal konyol yang bahkan saya sendiri tak percaya bahwa itu bisa terjadi. Hanya, biarkan hal tersebut kami simpan sendiri, sebagai satu-satunya cinderamata yang bisa kami kenang kembali ketika kami sampai di realita.

Hari itu hari Minggu pagi, ketika kami semua berangkat meninggalkan Vegas dan berpulang ke San Francisco. Ketika duduk di mobil dan bersiap melaju, saya menyempatkan diri memperhatikan wajah dan ekspresi kawan-kawan. Ada yang masih terkantuk-kantuk, ada yang tak kuasa menahan senyum karena mengingat kejadian-kejadian konyol hari-hari sebelumnya, ada yang selalu menggumam dan meracau karena masih dipengaruhi alkohol yang tertenggak semalam. Saya menghitung teman-teman di dalam mobil. Enam orang termasuk saya, lengkap sudah, tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang tersesat di luar.

Bersama Sahabat Baru di Dunia Baru

Yang terjadi di Vegas biarkan tetap di sana. Dan biarkan teman-teman ini menjadi sahabat baru saya. Seperti teman saya Cory berkata, “cerita perjalanan ini akan menjadi harta karun yang bisa kita buka dan nikmati kapan saja.”

  • Disunting oleh SA 02/05/2011