Suatu pagi di bulan Juli. Pak Adi tampak gagah dengan pakaian melautnya; kaos lengan panjang berkerah, celana training, dan sepatu boot. Beliau berjalan menyusuri jalan setapak menuju dermaga nelayan tradisional Teluk Karang. Saya dan Fajar mengekor di belakang karena pagi itu kami akan ikut melaut, menemani Pak Adi menjaring lobster.

Pak Adi adalah salah satu dari sekian banyak nelayan pemburu udang raksasa di Teluk Karang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Di usia paruh bayanya beliau masih kuat melaut setiap pagi demi beberapa kilogram lobster. Biasanya Pak Adi ke dermaga mengendarai motor Jupiter MX kesayangannya. Namun karena hari ini kami ikut, beliau rela berjalan kaki.

“Perahu yang agak besar itu punya Lung Madi,” ujar Pak Adi ketika kami tiba di dermaga. Lung, bagi masyarakat Melayu Singkawang, merupakan panggilan terhadap orang yang dihormati. “Perahu saya yang itu.”

Perahu bermotor tempel Pak Adi panjangnya hanya sekitar tiga meter dan berwarna hijau pupus. Bagian haluannya dilukis membentuk kepala ikan hiu, dengan mata dan gigi yang sama tajamnya. Mesin tempelnya, tentu saja, berada di buritan.

“Airnya kita pompa dulu, baru kemudian kita melaut.” Pak Adi mengeluarkan sebuah pompa air paralon dari buritan. Sementara beliau memompa, saya dan Fajar membantu menimba air dengan botol bekas oli mesin. Sebentar kemudian air yang menggenangi dek sudah kering. Tambatan sudah dilepas dan kami siap untuk melaut.

Kami bertiga mendorong perahu kecil itu ke laut, lalu melompat ke atasnya. Setelah agak jauh dari dermaga barulah mesin dinyalakan dan perahu meluncur santai di laut yang tenang. Pemandangan pagi itu sungguh mengagumkan. Matahari baru saja muncul dari cakrawala, menyinari deretan batu granit raksasa yang memagari pesisir Teluk Karang dengan semburat jingga.

“Itu namanya Batu Peringgi,” kata Pak Adi sambil menunjuk sebuah batu besar seperti labu. Di dekat batu peringgi beberapa orang bercaping tampak sibuk melakukan sesuatu. “Mereka sedang mencari udang kecil,” jelas Pak Adi tanpa diminta.

Perahu terus meluncur. Batu Burung sudah terlewati dan sebentar lagi kami akan memapas Pulau Simping, pulau terkecil di dunia yang telah diakui PBB. Pulau Simping berada dalam kawasan Sinka Island Park yang dikelola oleh pihak swasta. Kawasan wisata ini komplit; ada pantai, kolam renang, taman Rindu Alam di puncak Gunung Kote, dan kebun binatang Sinka Zoo.

Di sebelah daratan, lereng Gunung Lapis tampak masih diselimuti kabut tipis sehingga obyek wisata Rindu Alam seolah-olah berada di atas awan.

Namun ada sesuatu yang aneh. Sampai saat itu saya belum melihat satu pun instrumen penangkap lobster. Penasaran, saya bertanya pada Pak Adi. Beliau lalu menjawab, “Cara menangkap lobster berbeda dengan menangkap ikan. Lobster ditangkap pakai labuh, jaring. Labuh ditaruh di laut, dibiarkan di sana, waktu melaut pagi-pagi begini labuh diangkat. Nanti lobsternya terperangkap di sana.”

Saya dan Fajar manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Tidak disangka-sangka pagi itu kami dapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru.

Ketika kami sedang asyik berfoto-foto, tiba-tiba Pak Adi memelankan laju perahu. “Nah, kita sudah sampai,” ujarnya. Sejurus kemudian beliau sudah sibuk menarik-narik dan memeriksa labuh. Perahu kecil itu bergerak pelan seiring tarikan demi tarikan.

Agak jauh ke tengah laut, kapal-kapal pukat tarik berseliweran dengan berisik. Tadi Pak Adi sempat menyinggung soal keresahan nelayan tradisional terhadap eksistensi kapal pukat tarik tersebut. Pukat tarik merusak ekosistem laut karena sistemnya “hajar bleh!”, semua diembat. Beliau juga menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut kebanyakan bukan dari Teluk Karang, “Mereka dari kampung yang jauh di selatan sana.”

Di labuh pertama hanya ada satu ekor lobster. Selebihnya hanya laba-laba laut, kepiting, ikan, tengkuyung, dan bulu babi yang terjaring. Kemudian kami meluncur ke labuh kedua.

Labuh kedua sedikit lebih baik, dapat dua ekor lobster. Kami diajari Pak Adi cara melepaskan lobster dari labuh. Triknya sederhana; cukup pegang punggungnya dan lepaskan tubuhnya dari jaring dengan lembut. Ekornya akan menggelepar-gelepar, tapi jika kau memegangnya dengan benar tidak akan sampai melukai tanganmu.

Peruntungan kembali memburuk di labuh ketiga, cuma dapat satu ekor. “Beginilah hidup nelayan. Kadang dapat banyak, kadang sedikit, kadang nggak dapat sama sekali,” jelas Pak Adi ketika mendapati muka kecewa kami karena tangkapan hari itu hanya sedikit. “Udangnya kita taruh di laut saja dulu. Jualnya sekalian saja sama tangkapan besok.”

Biasanya, jika cuaca bagus, dalam sehari Pak Adi bisa membawa pulang sekitar 2 kg lobster. Per kilogramnya dihargai sekitar Rp. 50,000. “Rekor saya 32 kg,” dengan senyum bangga beliau berkata. “Waktu itu saya sampai kesusahan membawanya pulang.”

Selain kenangan gembira itu Pak Adi juga pernah punya pengalaman buruk selama melaut. Beberapa tahun yang lalu, ketika istrinya ikut melaut, perahu kecil itu oleng, terbalik, kemudian tenggelam. Untung beberapa orang nelayan yang kebetulan sedang nongkrong di pantai melihatnya lalu bergegas menolong. Perahu dan istri beliau berhasil diselamatkan.

Ketika pantulan cahaya matahari sudah mulai membutakan, kami meluncur kembali ke daratan. Usai sudah perburuan lobster hari ini.

Tiba-tiba saya teringat kisah “The Old Man and The Sea” karya Ernest Hemingway. Pak Adi persis seperti si orang tua, melaut sendiri setiap hari tanpa ada kawan yang menemani.

Disunting oleh SA 22/01/11