Trung Nguyen Coffee di Stasiun Kereta Api Ho Chi Minh CityLaju taksi yang saya tumpangi sekencang laju degup jantung saya mengantisipasi perjalanan yang akan saya lalui. Saya akan melalui 20 jam di atas kereta api, di sebuah negara berkembang dengan bahasa yang tak saya pahami sama sekali.

Ho Chi Minh City menuju Hue. 12:20 siang. Gerbong nomor 1, kabin nomor 3 dan _berth_ nomor 18. Lima perhentian stasiun.

Bayangan stasiun kereta api yang padat, bising dan kotor langsung sirna ketika saya sampai di Ga Sài Gòn. Stasiun ini modern dan bersih. Setelah melakukan klarifikasi di sana-sini, saya merasa lega. Ini memang tempat yang benar. Stasiun kereta api ini tidak besar. Sejauh mata memandang, sepertinya hanya ada dua jalur kereta api.

Trung Nguyen Coffee, produk kopi kebanggaan Vietnam, ternyata punya gerai di stasiun ini. 12:01. Saya sempatkan duduk dan pesan kopi untuk menenangkan diri. Kafe ini melayani penumpang dalam ruangan berpendingin udara dan dengan sajian kopi yang cukup nikmat untuk lidah penikmat kopi awam seperti saya. Disajikan dengan es, pilihan kopi tertentu bisa menyejukkan tubuh yang sudah didera panas kota Ho Chi Minh City yang sama seperti Jakarta.

Pukul 12:15 saya putuskan untuk masuk ke peron. Karcis kereta api yang berukuran seperti kartu nama itu pun hanya dilihat, tanpa dilubangi apalagi disobek. Begitu masuk, saya dengan mudah menemukan nomor gerbong. Dibantu salah satu petugas, saya mengkonfirmasikan _berth_ saya. Dalam satu kabin, ada empat _berth_ (tempat tidur) yang cukup nyaman, dilengkapi selimut. Beruntung, saya dapat _berth_ yang di bawah. Lima menit kemudian, dua wanita berusia kira-kira 30-an tahun masuk dan menempati kedua _berth_ di atas.

Kabin dan BerthKereta api bertolak tepat waktu pada 12:20. Saya coba rilekskan diri, tiduran, sambil mencoba membaca buku _Istanbul: Memories of a City_ karangan Orhan Pamuk. Buku yang cukup memberi makan pada laparnya nafsu perjalanan saya, dan cocok sekali dibaca dalam suasana seperti ini. Laju kereta api ternyata tak sekencang laju degup jantung saya tadinya. Ia bertolak dengan anggun, dengan irama yang familiar. Beberapa menit kemudian, lantunan lagu berkumandang. Ternyata itu adalah pendahulu pengumuman penumpang yang memberitahu bahwa kereta api telah berangkat. Tidak hanya sampai di situ, ada rekaman yang menjelaskan tentang sejarah perkeretaapian di Vietnam.

Hari ini, hanya ada satu perusahaan yang mengelola jalur kereta api di Vietnam, yaitu “Vietnam Railways”:http://www.vr.com.vn/English/. Jalur kereta api utama di Vietnam adalah jalur Utara-Selatan sepanjang 1.726 km, jalur yang telah menjadi nadi utama transportasi di Vietnam sejak diresmikan tahun 1936 oleh kolonialis Perancis. Jalur kereta api Utara-Selatan ini juga menjadi saksi sejarah pemersatu Vietnam. Ketika perang Vietnam, jalur ini sempat banyak sekali dibombardir oleh tentara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Ketika kedua negara pecahan tersebut bersatu pada dekade 70-an, jalur ini juga diperbaiki.

Hingga sekarang, ini adalah jalur vital yang melayani arus transportasi awam ataupun industri antara dua kota utama di Vietnam, Hanoi dan Ho Chi Minh City. Sama seperti di Indonesia, ada istilah mudik. Saya tak tahu pasti apa istilah Vietnamnya. Setiap tahun, masyarakat Vietnam merayakan Tết, yaitu istilah tahun baru kalender lunar yang sudah dilokalisasi. Perayaannya selama tiga hari, dan kebiasaannya masyarakat di perkotaan akan melakukan perjalanan ke kota atau daerah. Kereta api, pesawat dan bis akan dipenuhi oleh mereka yang akan ‘mudik’. Harga tiket pesawat dan kereta api pada saat ini memang berkompetisi, hanya berbeda beberapa ratus ribu rupiah. Jika tiket pesawat habis, maka kereta api menjadi alternatif kedua.

Koridor di Reunification ExpressKereta api yang saya tumpangi berjudul Reunification Express. Setidaknya itulah yang saya tahu dari internet. Tak ada tulisan khusus. Ada beberapa kelompok Reunification Express, dibedakan dari kualitas dan waktu operasi. Kereta yang saya tumpangi bernama “SE6”. Berangkat pukul 12:20, sampai di Hue pada pukul 07:00 pagi berikutnya. Untuk mencapai Hanoi dari Ho Chi Minh City, dibutuhkan paling tidak 30 jam. Jika Anda kuat duduk selama waktu tempuh tersebut, Anda bisa memesan tiket _seater_. Jika tidak, tersedia opsi _sleeper_, atau gerbong dengan tempat tidur. Untuk saat ini, hanya tersedia pilihan _sleeper_ dengan enam atau empat tempat tidur (_berth_) dalam satu kabin, tergantung dari jenis kereta api yang Anda pilih. Ada sekitar delapan sampai sepuluh kabin dalam satu gerbong. Untuk kenyamanan yang lebih, Anda bisa memilih perusahaan transportasi swasta seperti “LiviTrans”:http://www.livitrans.com, yang memiliki gerbong dengan kabin berinterior yang relatif lebih mewah, tentu dengan harga yang lebih tinggi.

Bagaimana memesan tiket? Anda bisa menitipkan pada teman Anda atau menggunakan jasa online seperti “Vietnam Impressive”:http://www.vietnamimpressive.com. Tentu akan lebih murah jika memesan dengan menitipkan pada teman Anda di Vietnam atau beli langsung di lokasi.

Saya sempatkan membaca sampai habis sisa buku yang saya pegang. Ketika selesai, hari sudah lewat senja. Lampu pun dinyalakan. Kereta berhenti di sebuah stasiun entah di mana. Seorang nenek masuk, dan melengkapi jumlah penumpang kabin saya menjadi empat orang. Sepertinya beliau berusia sekitar 70-an tahun, namun masih tampak sangat sehat. Beliau membawa sebuah tas tanpa pengait yang berisi, tampaknya, makanan.

Ketika saya mencoba tidur, salah satu penumpang di atas memanggil saya. Seorang ibu, kisaran usia 30-an tahun, seorang guru di kota Da Nang. Beliau tertarik dengan buku yang saya baca. “Boleh saya pinjam?” Tak lama kemudian, kami berbincang panjang lebar. Tentang apa yang saya lakukan di sini, tentang pekerjaan masing-masing sampai tentang agama. “Di Vietnam, hampir seluruh populasinya tak memeluk agama. Mereka bukan tak percaya Tuhan, tapi mereka tak memilih untuk memeluk agama satu pun.” Spontan saya bertanya tentang Tết, hari raya terbesar bagi masyarakat Vietnam. Apakah itu merupakan ritual agama? “Tidak, itu lebih pada ritual budaya.”

Pemandangan antara Ho Chi Minh City dan Nha Trang

“Kamu punya bahasa Inggris yang baik. Kebanyakan orang Vietnam tidak,” kata Ibu itu lagi. Lantas saya bertanya, apa tidak diajarkan di sekolah? “Untuk generasi sekarang, sudah diajarkan. Tapi generasi seperti saya, hanya diajarkan bahasa Rusia. Itu pun jarang digunakan hari ini.” Vietnam memang erat dengan komunisme, dan pengaruh itu masih terlihat di bagian-bagian Vietnam yang saya kunjungi. Entahlah apakah semangat itu masih mendarah daging. Vietnam sudah tampak seperti negara yang mulai menerima kapitalisme, dilihat dari berbagai investasi yang masuk. Lihat saja di Ho Chi Minh City, merek-merek lambang kapitalis terpampang. Gucci, Louis Vuitton, Christian Dior, semua memiliki outlet tersendiri di Ho Chi Minh City. Belum lagi jika melirik investasi properti pariwisata seperti Hilton dan Sheraton. Perlahan tapi pasti. Pelajar Vietnam juga lebih banyak belajar di negara-negara seperti Australia dan Amerika Serikat. Generasi muda di perkotaannya tak ubahnya berpenampilan seperti pemuda dan pemudi di Indonesia.

Pembicaraan ditutup dengan santapan makan malam yang dijual oleh penjaja yang juga merupakan staf kereta api. Makanan berat maupun makanan ringan dijual. Ada nasi dengan daging sapi atau babi yang direbus, disajikan dengan tauge, dilengkapi dengan sup sayur sederhana. Nenek sebelah saya menawari saya nasi kepal bawaannya yang dimakan dengan sayuran yang sekilas mirip kangkung. Saya tak pasti itu apa, ketika saya tanya, mereka tak tahu istilahnya dalam bahasa Inggris. Kebanyakan masakan Vietnam memang sederhana, mungkin dipengaruhi oleh kemiskinan yang sempat dibawa oleh komunisme. Masyarakat Vietnam cenderung menikmati hal-hal sederhana. Saya cukup terpana melihat seseorang melahap nasi, daging rebus dan tauge dengan nikmatnya. Bagi lidah Indonesia, masakan seperti itu kurang bisa saya nikmati.

Pemandangan di luar tak ubahnya seperti pemandangan di Indonesia. Sawah padi, pegunungan, sungai dengan rumah-rumah kecil di sepanjang pinggirnya. Sesekali melewati jembatan, sehingga suara kereta api terdengar lebih keras. Sesekali, sistem audio kereta api mengumandangkan rekaman yang menjelaskan daerah yang dilalui, dalam bahasa Vietnam dan bahasa Inggris. Luar biasa, menurut saya, karena sangat membantu orang asing untuk memahami perjalanan ini.

Kereta berhenti di beberapa stasiun, untuk menurunkan dan mengambil penumpang. Ketika pemandangan mulai ditutup oleh gelapnya malam, saya memutuskan untuk mencoba tidur: mengambil selimut dan merebahkan badan. Pintu kabin saya coba tutup, lagipula yang lain sudah tidur. Sesekali terdengar penumpang atau pegawai yang hilir mudik.

Pukul empat pagi saya terbangun, hanya untuk melihat bahwa hari masih gelap. Tak berapa lama kemudian, saya sampai di kota terakhir pemberhentian sebelum Hue, yaitu Da Nang. Pemandangan dari Da Nang ke Hue, yang disebut sebagai Hai Van Pass, sangat mengagumkan. Kami melewati pesisir pantai, pegunungan di pinggir laut dengan saksi tebing yang memukau. Sesekali melewati terowongan. Ombak berlaga dengan bebatuan, berlatar belakang matahari terbit. Suhu udara di kabin rendah dan saya harus memakai selimut sembari menikmati pemandangan di jengkal terakhir perjalanan 20 jam ini. Ibarat film, 2 jam terakhir ini adalah klimaksnya.

Perjalanan kereta api ini merupakan tujuan tersendiri bagi saya, karena banyak hal yang bisa dipelajari daripada naik pesawat. Saya mencoba memahami Vietnam melalui secercah kehidupan yang terus bergerak, seumpama menyusuri museum hidup yang akan terus ada merajut sejarah.

Disunting oleh ARW 02/04/2010