Kami bertiga tertidur pulas dari jam dua siang hingga jam tujuh malam pada hari pertama kami datang, karena kelelahan tidak tidur dalam perjalanan. Janis saja yang tidur. Akibatnya, kami sudah tak punya energi lagi untuk pergi jauh-jauh. Kami putuskan untuk di apartemen saja dan makan malam sushi dan nasi kari paket yang kami beli di 7-11 terdekat.

southern_cross_02

southern_cross_03

southern_cross_01
Penampakan stasiun Southern Cross, stasiun paling modern di Melbourne.

Hari kedua di Melbourne adalah hari kerja, dan saya memanfaatkan pagi hari untuk ke tempat co-working teman sejawat saya. Bahagianya bekerja di perusahaan saya yang sekarang, saya bisa meminta bekerja di luar kantor sesuai kebutuhan. Kebetulan, ada teman saya yang bekerja di Melbourne. Saya bertandang ke York Butter Factory, sebuah tempat co-working yang cukup hits. Bangunan tua masih terjaga dan tempat ini awalnya adalah pabrik mentega. Sekarang, ia menjadi tempat bekerja para “buruh digital” seperti saya.

melbourne_morning
Selamat pagi, Melbourne!

York Butter Factory
Penampakan York Butter Factory. Sumber gambar di sini.

Satu hal yang sangat patut dicontoh di Melbourne adalah usaha pemerintah dan masyarakat lokalnya untuk melestarikan bangunan tua, terutama di pusat kotanya. Menurut teman saya di sana, ketika ada pihak yang ingin mengubah fasad atau bagian kecil dari bangunan, proses perizinannya panjang, dan harus atas persetujuan tetangga-tetangganya pula.


Area Central Business District di Melbourne.

Karena masih jetlag, Janis dan istri saya masih tinggal di apartemen sampai siang hari. Kami berjanji untuk bertemu agak siang, atau agak sore. Akhirnya kami bertemu sore hari karena ternyata istri dan anak saya memang belum terbiasa dengan waktu lokal. Saya sudah beberapa kali mengalami jetlag yang lebih parah, jadi buat saya ini masih biasa saja.

station
Stasiun Jolimont.

train
Kereta datang di Stasiun Jolimont.

waiting_jolimont
Menunggu kereta di Stasiun Jolimont.

Oh ya, ini hari pertama saya mencoba naik kereta, dari stasiun Jolimont ke stasiun Southern Cross. Kemarin kami sempat mencoba tram, dari Jolimont ke Flinders St. untuk berbelanja di supermarket Coles. Hari ini giliran kereta. Jaraknya cukup dekat, hanya dua stasiun pemberhentian. Setelah itu, saya jalan kaki dua blok. Sekilas, Melbourne memang mirip San Francisco, tapi San Francisco lebih berbukit. Suhunya terhitung “pleasant“, tidak lembab (sehingga harus berhati-hati kekeringan kulit), dan matahari juga tak terlalu kuat.

Namun, Carol Calderwood, teman kami di Newcastle yang akan terbang juga ke Melbourne sore ini, mewanti-wanti bahwa Melbourne punya cuaca yang tak terprediksi. Terkadang bisa panas, terkadang hujan, terkadang mendung. Betul saja, sorenya hujan!

Selesai bekerja pada pukul empat sore, saya minta izin pada teman saya untuk pulang dan menemui Janis dan istri. Kami janji bertemu di stasiun Southern Cross. Setelah itu, kami punya rencana untuk bertemu keluarga Carol Calderwood yang baru mendarat di Melbourne. Kami berencana bertemu di National Gallery of Victoria (NGV), sekitar satu kilometer dari Southern Cross.

Kami putuskan untuk jalan kaki. Awalnya semangat, lalu ternyata menyadari bahwa jaraknya lumayan jauh!

Ternyata, itu keputusan yang benar. Karena kami dapat menyeberangi jembatan Queensbridge St. melintasi Sungai Yarra yang terkenal itu! Ketika senja, pula… Ah, indahnya!

queensbridge_shot
Janis dan Lintang di jembatan Queensbridge St.

yarra_01
Sungai Yarra di sore hari, menjelang senja.

yarra_02
Matahari senja di Sungai Yarra. Cantik, kan?

Keputusan terasa lebih tepat ketika kami sampai di Southbank Promenade, area pejalan kaki di pinggir Sungai Yarra. Saat itu, sedang ada banyak jajanan pinggir jalan dalam format food truck dan kios-kios kecil. Hari Jumat sore, ketika akhir minggu baru saja dimulai, dan penduduk Melbourne baru saja gajian. Ramainya minta ampun! Senang rasanya.

Sambil berjalan ke NGV, kami memutuskan untuk duduk sebentar menikmati berliner stroberi. Semilir angin sore dengan hujan rintik-rintik membuat segalanya semakin sempurna. Janis pun senang.

biggay_ice
Kios es krim Big Gay Ice Cream.

happy_girl
Si kecil bahagia!

Ketika kami akhirnya sampai di NGV, sedang ada pameran Andy Warhol. Tapi karena ada komitmen bertemu dengan teman kami dari Newcastle, niat itu urung kami wujudkan. Kami jalan kaki ke Queen Victoria Gardens sambil menunggu.

Tak lama kemudian, Carol menelepon dan akhirnya kami bertemu keluarga ini setelah 10 tahun lamanya tidak bertemu! Kami bertemu Carol, Miranda dan Eleanor. Suaminya, Bruce, terpaksa tinggal di Newcastle karena masih bekerja. Jillian, anaknya satu lagi, akan sampai malam nanti. Kemungkinan kami akan bertemu dengan Jillian besok.

queen_victoria_gardens_02

queen_victoria_gardens_03

queen_victoria_gardens_04

queen_victoria_gardens_01
Queen Victoria Gardens.

meet_carol
Bertemu ibu angkat kami sekaligus teman lama, Carol Calderwood.

Malam itu kami habiskan dengan jalan di taman dan makan di sebuah pub. Ya, kami membawa bayi ke pub — tapi pub ini ternyata ramah keluarga, kok. Bukan pub yang hingar-bingar dengan orang-orang yang mabuk-mabukan. Ternyata, mereka juga menyediakan kursi bayi.

Setelah puas makan malam dan bernostalgia dengan teman lama, kami pulang naik kereta dari stasiun Flinders St.

night_train
Menunggu kereta malam untuk pulang di Stasiun Flinders St.

pub_shot
Makan malam di pub Charles Dickens, Collins St.

Besok, kami akan berangkat melihat koala dan kangguru di Healesville Sanctuary, dua jam perjalanan dari kota! Tak sabar rasanya.