Liburan bersama keluarga tentu menjadi impian kita semua. Lebih-lebih bisa melaksanakannya lengkap dengan seluruh keluarga. Saya dan istri pernah suatu ketika liburan ke tiga negara ASEAN tanpa putri kecil kami. Jalan-jalan berdua tanpa anak mungkin memang asyik. Rasanya bisa terbebas dari kesibukan mengasuh. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kangen. Sepi. Keceriaan yang sehari-hari kami hadapi rasanya hilang. Aduh, rasanya trenyuh. Maklum, sehari-hari kami biasa bertiga dan saya kerja di rumah. Sejak itu kami bertekad tidak akan pernah meninggalkan anak kami liburan.

Namun, ternyata jalan-jalan bersama anak tidak selalu segampang yang kita bayangkan. Berikut cerita kami.

Anak Jalan-jalan
Dalam perjalanan naik motor.

Usia Anak

Kami mengajak putri kami liburan “sungguhan” pertama kali pada awal 2008. Catatan: yang saya maksud sungguhan adalah meniatkan perjalanan itu sebagai liburan, bukan perjalanan untuk urusan lain sambil liburan. Usianya saat itu masih 1 tahun 8 bulan. Kami membayangkan mengenalkan liburan tentu mudah dan menyenangkan. Namun apa yang terjadi? Ia sering menangis, sering takut pada hal-hal yang kita rasa “biasa”, takut pada orang yang tidak dikenal (lebih-lebih wisatawan mancanegara), lalu menangis lagi.

Anak terlalu kecil lebih banyak menangis, karena mungkin takut, kurang pengenalan, atau pada dasarnya karakter anak begitu. Saat itu putri kami takut melihat gelombang di pantai, maklum, rumah kami jauh dari laut. Tapi tak lama ia jadi suka bermain air. Ia juga takut melihat orang asing. Makanan juga jadi hal yang vital untuk diperhatikan. Untungnya karena masih ASI, faktor makanan masih agak mudah.

Kemudian ada masalah penting yang justru harus dipertimbangkan jauh hari sebelum ingin mengajak anak berjalan-jalan. Ingatan anak di bawah tiga tahun itu masih tidak permanen. Jadi bila Anda bayangkan mengajak anak jalan-jalan lalu berharap itu jadi tabungan kenangannya di masa mendatang, jangan berharap demikian. Pada umur 4 tahun, putri kami sudah melupakan kenangannya pada saat jalan-jalan di usia 2 tahun. Untungnya kami punya rekaman lengkap perjalanan dan video perjalanan lampau. Putri kami suka melihat-lihat foto dan video perjalanannya dulu. Jadilah ia selalu memperbarui kenangan-kenangannya meski banyak yang terlupa.

Mengenal Penyu
Agak takut dengan Penyu.

Menurut saya, usia paling pas untuk mengajak anak jalan-jalan adalah ketika usianya empat tahun atau lebih. Pada usia itu, anak sudah terbentuk nalar dan logikanya, jadilah ia lebih gampang diberi pengertian, lebih menikmati perjalanan dan tempat baru, dan juga bisa mengingat kenangan perjalanannya. Pada usia anak empat tahun, ia juga mudah diarahkan untuk mempunyai banyak kegiatan, dan menikmati kegiatan itu.

Namun, ada dilema pula, karena logikanya sudah “berjalan”, kadang-kadang anak jadi ribet, susah untuk dikendalikan. Alasannya macam-macam. Banyak protes. Suka mengeluh. Dan seterusnya. Tapi itulah tantangannya sebagai orang tua. Kita akan senang kalau bisa menghasilkan petualangannya yang hebat dan dikenang anak, sementara ia juga bisa menikmatinya.

Penginapan

Menginap adalah hal wajib ketika jalan-jalan. Namun ada sedikit masalah bagi putri kami yang sudah lama tidak menginap di hotel/hostel itu. Ketika awalnya dibilang akan menginap di hotel, ia tidak tahu hotel itu apa. Awalnya ia senang-senang saja. Masalah baru dimulai setelah anak akan tidur.

Ternyata ia tak mau tidur. Lalu ia menangis. Kemudian dia bilang sedih. “Aku tak mau tidur di sini. Aku mau tidur di kamarku sendiri di rumah Jakarta.” Nah, ketahuan deh alasannya. Malam itu kami berusaha menjelaskan konsep hotel itu bagaimana, bahwa rumah akan kami tinggalkan beberapa hari, dan nanti setelah liburan kita bisa kembali ke rumah lagi. Setelah itu kami cerita dongeng tentang anak yang suka berpetualang meski pada awalnya takut tidak bisa tidur di tempat asing. Karena keberaniannya, akhirnya sang anak bisa melihat tempat-tempat indah di seluruh dunia.

Menggambar di waktu senggang dalam liburan
Kegiatan senggang waktu liburan.

Beberapa hari kemudian kami pindah hotel ke daerah lain. Kebetulan hotelnya lebih nyaman dari yang pertama. Anak kami langsung cocok. Meski ada sedikit masalah dengan shower, karena ia takut mandi disiram langsung dari pancuran! Tapi secara keseluruhan akhirnya anak kami sudah bisa menginap dengan nyaman. Ketika sampai di rumah ia malah merengek, “Aku pingin mandi pakai shower yang airnya langsung bisa panas.”

Makanan

Makanan adalah hal penting yang tak boleh diremehkan dalam setiap perjalanan bersama keluarga. Jangan sampai tidak. Jangan sampai keluarga ada yang sakit akibat telat makan. Atau sakit perut gara-gara makan yang tidak benar.

Makanan di Pesawat
Mengenal makanan di pesawat.

Namun topik makanan dengan anak kecil tidak berhenti di situ. Bagi anak kecil, makanan juga harus menarik, tidak membosankan, dan juga tidak pedas. Merica aja bagi mereka pedas! Setiap orang tua pasti pernah merasakan hal ini, ketika asyiknya makan, eh si anak melihat ada butir hitam di sayur. Tiba-tiba saja selera makan hilang. Ketika ditanya, ia bilang ia tak mau makan karena ada bintik hitam. Ketika bintik hitam dihilangkan, ia masih saja berdalih dengan macam-macam alasannya lainnya.

Yang pasti, anak juga perlu diajak menikmati makanan. Berbagai jenis makanan! Sudah sejak lama kami mengajari putri kami agar ia berani mencoba makanan baru yang pertama kali ia lihat. Kami bilang padanya kalau dia tidak berani mencicipi, ia tentu tak tahu apa rasa makanan itu. Kami bilang, kalau ia tak suka, ia boleh bilang nanti ia bisa memilih makanan yang lain.

Sebenarnya tidak hanya untuk anak, tapi kalau ingin jalan-jalan dengan lancar, kita harus bisa mencicipi segala jenis makanan di daerah tujuan. Khususnya ke daerah lain yang punya kebiasaan makanan berbeda. Anak seyogyanya dilatih terlebih dahulu. Anak harus terbiasa makan tidak hanya gurih dan enak, namun eksotismenya juga harus dinikmati: apakah itu sayuran, agak pedas sedikit, makanan asin, makanan asam, makanan manis dan jenis makanan lainnya. Nasi, pasta, spaghetti, kentang, roti, ubi, mi, pizza, shawarma, salad, dan seterusnya. Dan jangan lagi kambuh alasan kalau tidak makan nasi nanti tidak kenyang.

Petualangan

Dan pada akhirnya adalah petualangan. Sebagai orang tua, kita punya tanggungjawab tentang hal ini. Dalam menyusun rencana perjalanan, adalah penting untuk membawa misi menjadikan perjalanan itu petualangan yang hebat. Petualangan bisa mengajarkan kesenangan, keceriaan, tantangan, sejarah, seni, keindahan, kedamaian desa, kebaikan, kerja keras, menabung, dan seterusnya. Jangan sampai jalan-jalan hanya untuk niatan negatif, seperti gengsi, pamer, atau hal-hal lainnya.

Di Kebun Bunga
Di kebun anggrek.

Seyogyanya anak juga menikmati perjalanan itu sendiri, juga makna dalam perjalanan. Kita sebagai orang tua selalu harus bisa menjelaskan konsep-konspep rumit yang kita temui dalam perjalananan kepada anak, seperti: perbedaan budaya, perilaku sosial, perbedaan agama, arti kesenian, dan lain-lain. Cara lain biar anak menikmati perjalanannya adalah membawa serangkaian mainan atau rancangan kegiatan yang bisa ia nikmati selama perjalanan. Kita bisa membawa semacam puzzle, alat untuk permainan fisik misalnya layangan, frisbee, buku gambar dan pensil warna, dan lain-lain. Contohnya putri kami, ia suka menggambar, maka setiap pulang bepergian dari suatu tempat, ia bisa menikmati kesendiriannya menggambar.

Tarian tradional Bali
Tarian tradisional.

Pada jalan-jalan terakhir kami beberapa bulan lalu, rencana perjalanan kami agak lengkap: mulai dari melihat pantai, sunset/sunrise, tarian tradisional, kebun binatang, kebun bunga, desa konservasi, dan juga melihat hewan langka. Kami juga sempatkan mengunjungi pasar tradisional, pasar oleh-oleh, dan kampung-kampung lokal untuk menikmati makan yang murah. Sayang kami tidak bisa mengunjungi museum karena keterbatasan waktu.

Kalau anak mendapatkan petualangan berharga dalam hidupnya, kita tentu bisa berdoa semoga ia bisa menjadikan hal itu bekal yang berharga dalam kehidupannya.

  • Disunting oleh SA 13/10/2010