Artikel

Menu

Catatan Perjalanan

Ketenangan di Desa Coloane, Makau

dalam kategori Catatan Perjalanan ditulis oleh

Makau, negara tetangga Hong Kong yang hanya seluas kota Bogor ini memang sangat terkenal dengan kemewahannya. Suasana yang gemerlap di malam hari, dentingan mesin-mesin kasino, pertunjukan-pertunjukan spektakuler, dan pemandangan deretan gedung hotel raksasa yang tinggi menjulang menjadi suatu daya tarik para turis untuk berkunjung ke tempat ini, baik sekedar belibur melepas penat maupun menghabiskan pundi-pundi uang mereka di meja judi.

Sudut Rua de Interior
Sudut Rua de Interior

Namun, di balik suasana kota modern yang serba glamor tersebut, tersembunyi sebuah desa yang sunyi dan sederhana di pinggiran kota bernama Coloane. Tempat ini pulalah yang menjadi tujuan utama saya ketika berkunjung ke Makau. Maka, setelah puas berkeliling Senado Square, saya langsung menaiki bus nomor 26A (alternatif lain adalah bus no. 21A yang juga lewat di depan halte Senado Square) dari halte bus di depan Largo de Senado menuju Coloane Village, perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit. Suasana di dalam bis sangatlah nyaman, selain sejuk ber AC, terdapat pula monitor di depan bus dalam tiga versi bahasa, Cantonese, Inggris, dan Portugis yang sangat ramah terhadap turis. Monitor bersuara tersebut adalah petunjuk nama halte selanjutnya yang akan disinggahi bus tersebut, sehingga kecil kemungkinan akan tersesat atau terlewat. Sebaiknya kita bayar ongkos bus dengan uang pas, karena jika uang yang kita bayarkan jumlahnya lebih besar, maka selisihnya tidak akan dikembalikan.

Kapel FX Xavier
Kapel FX Xavier

Antrian di Lord Stow Cafe.
Antrian di Lord Stow Cafe.

Lord Stow Cafe
Lord Stow Cafe

Di sepanjang jalan menuju Coloane, tampak plang-plang jalan dengan bahasa Portugis dan mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. Tak lama kemudian, sampailah bus di tempat tujuan. Saya turun di halte bus Coloane Villa dan langsung menuju Lord Stow’s Bakery untuk mencicipi Portugese egg tart yang sangat legendaris di seantero Makau. Lord Stow’s Bakery ini adalah toko pertama dimana portugese egg tart pertama kali diproduksi, jam buka mulai pukul 10.00 pagi, semakin siang antriannya semakin panjang. Jika telah membeli egg tart, cobalah untuk duduk-duduk sebentar di bangku besi yang terletak menghadap ke jalan di depan toko tersebut sambil menikmati egg tart yang bertekstur lembut dan harum tersebut. Sebenarnya, Lord Stow’s ini sudah membuka cabangnya di The Venettian Hotel, tetapi saya tetap ingin mengunjungi kedai pertama mereka yang dibangun di Coloane, tepatnya di Rua de Cordoaria. Jika belum juga kenyang dengan eggtart, di sek itar Lord Stow’s Bakery terdapat Lord Stow’s Cafe yang menyuguhkan makanan berat. Keduanya selalu dipenuhi oleh pengunjung sehingga kita harus rela untuk mengantri.

Restoran-restoran di pinggir jalan.
Restoran-restoran di pinggir jalan.

Seorang wanita mengajak anjingnya jalan-jalan.
Seorang wanita mengajak anjingnya jalan-jalan.

Setelah melepas rasa penasaran dengan egg tart, saya pun lanjut menelusuri sudut-sudut lain di desa ini. Di sebuah taman kecil terlihat pasangan suami istri yang sedang asyik mengobrol santai, di ujung jalan tampak seorang wanita berpakaian kasual sedang mengajak kedua anjingnya berjalan-jalan, tidak jauh kemudian terlihat pasangan muda yang sedang menikmati makan siang di sebuah kafe di pinggir jalan. Saya terus berjalan menuju Rua de Interior. Sungguh cantik sudut jalan ini, rumah-rumah bertingkat khas Portugis berukuran mini bersandingan satu dengan yang lainnya tanpa dibatasi pagar, beberapa memiliki pekarangan kecil dengan bunga warna warni dalam pot yang membingkai jendela. Di sudut jalan lain, banyak pula rumah tua di lorong-lorong kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, walaupun sempit, namun sangat bersih dan tertata.

Saya pun terus menyusuri hingga masuk ke dalam pasar. Pasar di Coloane adalah sederetan kios-kios kecil yang berjejer dalam gang yang sempit, panjang gang ini hanyalah sekitar 20 meter, lebih mirip seperti deretan warung dibandingkan dengan pasar. Hanya beberapa kios saja yang buka pada saat itu, selebihnya tutup. Ternyata, pasar di sana hanya ramai pada saat akhir minggu. Terlihat pula beberapa wanita yang sedang mengobrol, menunggui kiosnya sambil menggendong anak–anak mereka.

Di ujung gang pasar tersebut, berdirilah Chapel of St. Francis Xavier yang dirikan pada tahun 1928, bangunan ini memiliki keunikan jendela yang berbentuk oval dan terdapat menara lonceng di atasnya. Di depannya, terdapat sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang kemenangan warga lokal terhadap para bajak laut pada tahun 1910. Dahulu, Coloane merupakan sebuah desa nelayan dan pelabuhan perdagangan. Karena itu, banyak terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh para bajak laut, sehingga memicu penyerangan warga lokal terhadap bajak laut. Kemenangan inilah yang diperingati warga dalam bentuk monumen tersebut. Jika perut terasa lapar, mampirlah sebentar ke Kafe Nga Tim yang terletak di sebelah kapel tersebut untuk mencicipi kuliner khas Portugis, atau hanya sekedar duduk beristirahat. Kafe ini selalu ramai oleh turis karena masakannya terkenal sangat lezat.

Monumen kemenangan atas bajak laut.
Monumen kemenangan atas bajak laut.

Deretan mobil di tepi laut.
Deretan mobil di tepi laut.

Di seberang kapel tersebut, kita bisa melihat laut yang memantulkan cahaya temaram ketika matahari mulai terbenam. Rentetan mobil mewah terparkir di sepanjang garis laut tersebut. Tak jauh dari sana, tepatnya di Avenida de Cinco de Outubro, terdapat Kuil Tam Kung yang sangat khas dengan ornamen Cina dengan dominasi warna merah menyala pada bangunannya.

Kebanyakan warga Coloane memang tidak dapat berbahasa Inggris, mereka hanya bisa berbahasa Cantonese, jadi agak sedikit sulit jika bertanya jalan atau arah kepada mereka.

Tetapi jangan khawatir, karena Coloane sangatlah kecil, ke manapun kita melangkah pasti dapat menemukan jalan pulang dengan mudah. Setengah hari sangatlah cukup untuk menjelajahi tempat ini. Saya benar-benar puas menikmati suguhan suasana yang ditawarkan desa nelayan ini. Selain udaranya yang masih segar, kondisi lingkungannya pun sangat bersih, tertib, dan rapi. Perpaduan arsitektur Cina dan Portugis masih terasa sangat kental. Selain itu, banyak fasilitas publik yang bisa dijadikan tempat berkumpul warga setempat, sehingga kita akan betah berlama-lama berada disini. Suasana yang benar-benar damai, tidak ada yang tergesa-gesa, jauh dari hiruk-pikuk dan hingar bingar, semua terlihat tenang seperti air yang mengalir.

  • Disunting oleh SA 27/06/2013

Kristalia Stella Maries Kristalia Stella Maries. “Two roads diverged by a wooden tree. I choose the one less traveled by.” (Robert Frost) adalah kutipan yang mengisi jiwa saya. Lebih suka jalan ke tempat yang aneh dan unik. Lebih ingin menjadi berbeda daripada menjadi lebih baik. Sangat tertarik mempelajari dan mengamati perilaku manusia. Suatu saat ingin menjadi penulis perjalanan penuh waktu. Kicauan saya dapat diikuti lewat @kristalmaries.

MEDIA SOSIAL

LANGGANAN