Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah.

Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa “cuci mata” melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.


Menyelam tanpa perlengkapan (“skindiving“)

Di dermaga, kami dijemput Pak Solichul. Selama di Karimunjawa, kami menginap di rumah beliau. Pengalaman tinggal di rumah Pak Kul adalah yang paling berkesan dari jalan-jalan saya ke Karimunjawa. Pak Kul merupakan salah seorang tokoh di Karimunjawa, pemimpin cabang sebuah ormas keagamaan sekaligus pegawai di kecamatan. Beberapa tahun yang lalu seorang kawan pernah melakukan penelitian di Karimunjawa. Suatu sore ia kebingungan karena belum tahu akan menginap di mana malam itu. Ketika ia sedang kebingungan itulah Pak Kul menghampiri. Merasa kasihan, Pak Kul mengajaknya untuk menginap di rumah. Kebetulan di samping rumah Pak Kul juga ada sebuah paviliun yang lumayan besar. Sejak itulah kediaman Pak Kul silih berganti disambangi para pelancong, informasinya pun beredar hanya dari mulut ke mulut. “Padahal saya sama sekali nggak ada niat cari duit,” ujar Pak Kul mengenang di satu malam. Sekarang di depan paviliun itu terbentang sebuah spanduk bertuliskan “Rumah Singgah Pantura”.

Kediaman Pak Kul berada di Desa Alang-Alang. Di belakang sebuah masjid. Lumayan jauh, sekitar sepuluh menit berkendara dari alun-alun. Meskipun terpencil, rumah Pak Kul istimewa. Lima meter dari pintu belakang rumah, laut sudah menghampar. Selain itu, beberapa ratus meter ke arah selatan kita akan tiba di Pantai Ujung Gelam. Setiap hari saya dan kawan-kawan menikmati senja di pantai itu; snorkeling dan skindiving di taman koral ditemani schooling ikan teri, atau sekadar duduk-duduk di pantai menikmati matahari senja yang merona.

Di sana sambungan listrik PLN belum masuk. Sumber listrik hanya berasal dari generator yang disediakan swadaya oleh warga, generator yang di atas pukul 23.00 WIB akan dimatikan oleh Pak Kul. Padahal, hanya beberapa ratus meter dari rumah beliau ada gardu listrik PLN. Pantas, di atap masjid saya melihat ada sebuah panel surya. Di negara yang pemerintahnya sibuk dagelan ini ternyata masih ada desa yang “dipaksa” untuk mandiri energi.

Tiap hari setelah makan malam, Pak Kul menyempatkan diri untuk ikut duduk-duduk mengobrol bersama kami. Beliau senang bercerita, kami senang mendengarkan. Klop sudah. Kami mendapatkan pengetahuan gratis mengenai asal-usul nama Karimunjawa, mengenai Sunan Nyamplungan dan orang-orang pertama yang mendiami Pulau Karimunjawa, bahkan sampai pada mitos mengenai kawasan bernama Karang Kapal yang kerap membuat karam kapal yang melintasi Laut Jawa.

“Para kapten kapal yang karam itu konon melihat kerlap-kerlip lampu kota di sekitar Karang Kapal,” Pak Kul berkisah. “Mereka menyangka sudah tiba di Semarang. Eh, tahu-tahu kapalnya kandas.”

Matahari terbenam di Ujung Gelam
Matahari terbenam di Ujung Gelam

Pak Kul juga menceritakan betapa masyarakat desa sudah berkali-kali memperjuangkan masuknya listrik ke kampung mereka. Perjuangan yang tampaknya tidak ditanggapi secara serius oleh instansi terkait karena sampai saat ini tiang listrik belum terpancang. “Gardunya dekat sini tapi kami sendiri nggak dapat listrik,” berapi-api Pak Kul bercerita. “Disuruh urunan untuk beli tiang pun kami mau, tapi tetap belum ditanggapi.” Ironis memang. Sementara pemerintah Jepara dan Jawa Tengah gencar mempromosikan Karimunjawa sebagai tujuan wisata, masih ada desa di sana yang belum dapat sambungan listrik.

Saya jadi berpikir. Setiap kita, setiap manusia yang suka pergi ke tempat-tempat yang jauh, sebenarnya bisa menjadi “penyambung lidah rakyat”. Asal si pejalan itu mampu menyeret dirinya dari pusat semesta karena ketika sedang berkelana ke suatu tempat, yang asing bukanlah tempat itu. Merekalah, sang pejalan, sebenarnya yang asing. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Agustinus Wibowo sang pengembara, “Di awal perjalanan, kita belajar menghilangkan diri. Semakin kita berjalan, semakin kita menemukan diri.” Jika sudah begitu, niscaya dengan serta merta seorang pejalan mampu menjadi pembawa kabar dari tempat-tempat yang luput dari perhatian pemerintah, pembawa kabar dari “Indonesia Bagian Pojokan”.

  • Disunting oleh SA 26/04/2012