Pertama kali saya mendengar adanya kampung muslim di Vietnam, saya sempat mengernyitkan dahi. Hingga pada akhirnya, kesempatan itu datang untuk melihatnya pertama kali, ketika saya berkunjung ke Vietnam tahun lalu.

Ketika itu saya ingin pergi ke Kamboja dari Ho Chi Minh City. Resepsionis hotel tempat saya tinggal di Ho Chi Minh City menyarankan saya untuk pergi ke Kamboja melalui Sungai Mekong, dan perjalanan tersebut membutuhkan menginap satu malam di Chau Doc, tempat adanya kampung muslim. Tanpa berpikir dua kali, saya mengiyakan dan ambil paket tersebut. Harganya 700.000 dong Vietnam atau sekitar Rp350.000.

Esok pagi, sekitar pukul 07:30 saya dan teman saya dijemput bis yang akan membawa saya ke Kamboja melalui Sungai Mekong.

Perjalanannya cukup lama dan melelahkan, karena baru sekitar pukul tujuh malam, bis yang kita tumpangi sampai di hotel di daerah Chau Doc.

Setelah masuk ke hotel dan mandi, kami berencana mencari makan malam di luar. Pegawai hotel mengatakan mereka tidak menyediakan makanan halal.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami tidak menemukan rumah makan yang menyediakan makanan halal. Hanya ada penjual buah dan jajanan pasar. Untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan, kami membeli buah apel dan pir.

Saat kami akan kembali ke hotel, kami berjumpa anak-anak muda dengan wajah Melayu dan berpakaian muslim. Kami ucapkan salam dan berbicara dalam bahasa Melayu, namun mereka tidak mengerti. Syukur, salah satu dari mereka mampu berbahasa Inggris meski terbata-bata. Dia menyarankan untuk menyeberang ke delta di seberang sungai, karena ada kampung muslim dan rumah makan halal.

Dengan membayar 1.500 dong Vietnam, kami menaiki feri yang akan menyeberang ke delta seberang. Selama kami menunggu, ada satu perempuan berjilbab dengan anaknya. Saya berusaha untuk berbahasa Melayu yang sederhana, namun dia hanya paham kalau saya lapar dan ingin makanan halal. Ada hal lucu di atas feri, ada tiga waria yang menggoda saya dan teman saya. Dan perempuan muslim ini sangat marah dan berbicara dalam bahasa Vietnam sambil mengibas tangannya untuk mengusir ketiga waria tersebut.

Setelah kami sampai di delta seberang, ternyata ada acara pernikahan. Peempuan ini menyarankan kami untuk ikut makan malam bersama mereka. Tentu saja kami menolak dengan halus. Mengingat kami mengenakan kaos dan celana pendek selutut, tidak sopan sekiranya kami ikut hadir dan makan malam. Salah seorang remaja pria menanyakan kami dengan kata “lapar?” dan “makan?”, lalu dia mengajak kami ke salah satu rumah tetua di situ.

Kebetulan sekali rumah tersebut sedang ramai dikunjungi ibu-ibu. Tak berapa lama, keluarlah seorang ibu tua yang dipanggil “Ibu Haji”. Remaja ini mengutarakan maksud kami dengan kata lapar dan makan. Ternyata, Ibu Haji ini mampu berbahasa Melayu cukup fasih.

Ibu Haji menawarkan cucu dan menantunya untuk mengantarkan kami ke rumah makan Muslim di bagian lain delta di Chau Doc, karena lokasi rumah makan tersebut lumayan jauh dari rumah Ibu Haji.

Selama menunggu cucu dan menantunya berganti pakaian, kami sempat berbincang-bincang mengenai kaum muslim di Chau Doc. Dia berkata bahwa kaum muslim di sini merupakan keturunan dari pendatang muslim dari Malaysia, Bugis maupun Jawa, sejak abad ke-17. Banyak keturunannya yang sebenarnya sudah tidak bisa berbahasa Melayu, Bugis maupun Jawa. Beliau pernah sekolah di Malaysia di masa mudanya, maka beliau masih bisa berbahasa Melayu.

Dua cucu beliau sekarang belajar agama Islam di Malaysia. Sekolah madrasah yang ada di Chau Doc hanya setingkat SMA. Untuk belajar agama Islam lebih tinggi, harus ke Malaysia. Malaysia lebih dekat juga dengan asal-usul mereka di masa lalu. Sayangnya tak satupun yang bersekolah di Indonesia.

Mesjid di Chau Dhoc.

Kaum muslim di Chau Doc, banyak yang meninggal saat perang Vietnam dulu. Saat itu banyak yang melarikan diri ke Thailand dan Malaysia. Setelah perang mereda, sebagian dari mereka kembali daerah mereka di Chau Doc, sebagian lagi menetap di Thailand dan Malaysia. Beliau teringat, masa perang dulu merupakan masa yang sulit. Mereka harus melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri. Percakapan kami terhenti, setelah cucu dan menantu beliau telah siap mengantarkan kami.

Dengan menaiki dua motor, kami diajak menuju delta lain yang lumayan jauh dengan melewati jembatan. Sekitar lima menit, kami sampai di rumah makan terbuka yang memiliki taman dan wifi gratis (canggih juga!). Kami memesan pho, mi rebus daging sapi khas Vietnam. Selama di Ho Chi Minh City, kami belum menemukan pho halal.

Selama menunggu pesanan kami datang, Abdul Rojak, cucu Ibu Haji dan menantunya, bercakap-cakap bersama kami. Sayangnya, Abdul Rojak tidak terlalu mengerti bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Banyak pengunjung yang penasaran tentang kami. Mereka mendekati kami dan menanyakan beberapa hal dalam “bahasa tarzan” atau bahasa isyarat.

Mereka sangat gembira ketika tahu bahwa kami dari Indonesia, lalu menanyakan tujuan kami ke Vietnam. Mereka sungguh penasaran dengan pakaian kami berdua. Pengunjung di rumah makan itu yang perempuan memakai jilbab dan yang pria mengenakan sarung atau celana panjang dan kopiah warna putih. Kami hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos.

Untungnya, pesanan kami segera datang, dengan membayar 40.000 dong Vietnam, kami membawa dua bungkus pho daging sapi. Kami diantar hingga ke tempat penyeberangan feri untuk kembali di hotel.

Esok paginya, kami berkumpul di lobi hotel untuk menunggu kapal kayu yang akan membawa kami keliling Chau Doc untuk melihat keramba ikan gurame dan perkampungan muslim. Ada hal yang menarik. Pemandu wisata menjelaskan, dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih, yang memiliki keramba ikan gurame adalah kaum miskin. Itu alasan mereka hidup di atas sungai bukan di daratan, karena harga tanah mahal.

Saat akan memasuki kampung muslim, dijelaskan bahwa pelajar di sekolah muslim mampu berbahasa Inggris dan Arab dengan baik. Kami berdua tertawa, karena kami tahu bahwa kemampuan pelajar muslim di Chau Doc dalam berbahasa Inggris sangat minim.

Kami mengelilingi delta yang kami sempat kunjungi malam sebelumnya. Kami mengucapkan salam kepada orang-orang muslim yang sempat kami temui. Kami pun melewati rumah makan yang sempat kami kunjungi. Kami pun harus meninggalkan kampung muslim di Chau Doc untuk menuju perbatasan Kamboja melalu Sungai Mekong.