Belum pukul delapan ketika kami berempat akhirnya diturunkan Pak Nurul Anshori di depan pos ojek Tamansari, Jambu, Banyuwangi. Tujuh belas kilometer dari Kawah Ijen. Selanjutnya kami harus menumpang truk pembawa belerang ke Paltuding, titik awal pendakian Gunung Ijen.

Kawah Ijen 17km

Sebelumnya, dari Sasak Perot kami menumpang angkutan pedesaan (angdes) yang dikemudikan Pak Nur. Di atas pick-up Daihatsu, yang baknya sudah dimodifikasi itu, kami berhimpit-himpitan bersama beberapa penduduk sekitar yang baru kembali dari pasar. “Angkutan dari Sasak Perot ke Jambu semakin jarang,” ujar Pak Nur tadi. “Kalah saing sama sepeda motor. Sekarang setiap orang bisa saja menjadi tukang ojek.”

Sebelum melompat ke atas mobil Pak Nur, saya sempat dibuat kesal oleh beberapa orang tukang ojek yang memaksa kami untuk menumpang motor mereka. Berkali-kali mereka membual bahwa tidak ada angkutan ke Tamansari. Bahkan ketika akhirnya ada angdes yang berhenti, para tukang ojek ini berkongsi dengan sopirnya untuk menaikkan ongkos gila-gilaan. Tarif yang seharusnya Rp. 7.000/orang naik drastis menjadi Rp. 25.000/orang. Kami beruntung karena menyetop Pak Nur, beliau mematok tarif biasa.

Pagi itu Tamansari tampak lengang. Semua warung dan kios masih tutup. Jalanan sepi. Dari tadi hanya beberapa motor tua yang lewat. Di belakang pos ojek tersebut terhampar luas kebun cengkeh milik Perkebunan Lidjen. Pepohonan cengkeh di sana kebanyakan sudah tua dimakan usia.

Di pos ojek itu kami berkenalan dengan Pak Abidi, seorang penambang belerang. Beliau sangat ramah dan murah senyum. “Saya sudah sembilan belas tahun,” jawab Pak Abidi sambil tersenyum bangga ketika ditanyai sudah berapa lama menjadi penambang. Kata beliau, sekarang para penambang sedang senang karena baru-baru ini harga belerang naik Rp. 50, dari Rp. 600/kg menjadi Rp. 650/kg. Dalam sehari seorang penambang bisa membawa turun lebih dari satu kuintal bongkahan sulfur padat.

Penambang belerang istirahat

“Semua tergantung kekuatan. Kalau kuat, ya, bawa pulang banyak. Kalau sedang tidak fit tentu cuma bisa bawa sedikit,” lanjut Pak Abidi.

Sekitar pukul setengah delapan truk pembawa belerang muncul. Bak birunya sudah dipenuhi para penambang lain yang juga akan mencari nafkah pagi itu. Kami berempat melompat naik ke atas bak truk. Kemudian truk tersebut menderu ke arah Paltuding. Melewati perkebunan cengkeh, berganti menjadi perkebunan kopi, kemudian tanpa diduga menelusup ke kanopi rerimbunan hutan raya.

Truk seringkali terguncang-guncang karena mulai dari awal kebun kopi jalanan mulai berantakan. Aspalnya jebol dan hancur di mana-mana. Di pertengahan jalan, truk kami berpapasan dengan sekelompok orang yang sedang kerepotan mendorong motor rusak akibat tidak kuat menanggung medan yang ekstrem. Jelas rute ini kurang sesuai jika dijajal touring sepeda motor.

Pangkalan penambang di Paltuding

Satu jam kemudian kami tiba di Paltuding. Truk berhenti di halaman sebuah pondok yang digunakan untuk menimbang bawaan para penambang belerang. Pagi itu sudah banyak pikulan yang keranjangnya penuh oleh bongkah belerang. Mereka ditaruh di sekitar pondok, menunggu untuk ditimbang.

Selain yang berangkat pagi-pagi, ternyata juga banyak para penambang yang bermalam di sekitar lokasi penambangan. Tidak puas dengan bawaan siang, sebagian rela lembur demi mendapatkan uang lebih. “Ada yang bermalam di Paltuding, ada juga yang di Pondok Bunder,” ujar Bu Yati, seorang pemilik warung di depan pondok penimbangan belerang. Kami sarapan dulu di warung milik Bu Yati. Harga makanan di sana murah sekali; nasi telor dengan mie dan kering tempe dijual Rp 3.000. Beliau menambahkan, “Jangan khawatir, Dik. Di atas sana (Pondok Bunder) masih ada warung, kok.”

Syarat mendaki ke Kawah Ijen gampang saja. Anda hanya perlu mengisi buku tamu kemudian membayar biaya retribusi Rp 4.000/orang. Jika membawa kamera anda diwajibkan membayar ekstra Rp 3.000/kamera.

Jalan tanah curam dan panjang

Dari Paltuding rute hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 3 km menyusuri jalan tanah yang lumayan lebar. Dua per tiga trek awal–dari Paltuding sampai Pondok Bunder–lumayan terjal. Sepertiga terakhir, mulai dari Pondok Bunder sampai ke bibir kawah, trek berubah menjadi landai. Yang seru adalah jalur dari bibir kawah sampai ke bawah, lokasi penambangan belerang. Mengingatkan saya pada summiting Gunung Merapi, Jawa Tengah, dari Pasar Bubrah ke Puncak. Total waktu trekking sampai turun ke kawah adalah sekitar tiga jam.

Tiap sebentar kami berpapasan dengan para penambang yang tampak kesusahan memikul keranjang belerang masing-masing. Sesekali, di antara derit bambu pikulan dan langkah-langkah kecil kepayahan mereka, para penambang menawarkan dagangan sampingan, “Kembang belirang, Mas?”

Kawah Ijen

Ketika akhirnya tiba di bibir Kawah Ijen, saya terpana mendapati kombinasi menawan antara toska, abu-abu, putih, dan biru langit. Kawah Ijen berdiameter sekitar 1 km. Titik terdalamnya adalah 175 m. Pemandangan yang tidak biasa. Pantas saja Lonely Planet edisi Indonesia menobatkannya sebagai salah satu dari empat top volcanoes di Pulau Jawa.

Dari bibir kawah kami berempat melanjutkan perjalanan ke bawah, ke lokasi penambangan belerang. Fase inilah yang paling berat. Untuk turun kami harus menembus asap belerang coklat pekat yang menghambat padangan dan pernapasan. Asap tebal dan jalur kecil nan terjal membuat perjalanan ini menjadi mengerikan. Berkali-kali langkah saya terhenti di antara boulder besar andesit. Mata ini terasa pedas. Udara juga susah untuk dihirup. Apalagi kami harus berbagi jalan dengan para penambang. Salah-salah melangkah alamat tamat ditelan jurang.

Perjalanan ke Kawah Ijen

Di tengah asap tebal itu jalan kami hanya dituntun oleh keranjang-keranjang penuh belerang para penambang yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Untuk menghemat waktu, para penambang sengaja membawa dua set keranjang bambu sekaligus. Keduanya akan dipikul secara bergantian. Bolak-balik memang, tapi rasa-rasanya itu cara yang paling efektif untuk menghemat waktu dan tenaga.

Pikulan Belerang

Saya senang sekali ketika akhirnya keluar dari cekikan asap belerang, sampai juga kami di bawah. Genangan raksasa berwarna hijau toska sudah di depan mata. Dengan riang kami meniti jalan setapak melewati aliran air panas, tantangan terakhir sebelum tiba di lokasi penambangan.

Bersama Pak Tasripan

Ketika kami tiba hanya tampak satu orang di sana. Dia sedang sibuk mengutak-atik sebuah pompa air. Namun tidak ada lagi aktivitas penambangan belerang, semuanya sudah ke bawah kecuali bapak itu. Namanya pak Tasripan. “Saya nanti jam empat turun ke Pos Bunder. Malam ini mau menginap di sana saja,” ungkapnya. “Oh, iya. Besok Jumat nggak ada yang nambang.”

Pak Tasripan berbaik hati mengambilkan lelehan belerang yang sudah membeku dari bibir pipa untuk kami. Dengan gesit beliau menembus asap panas, meruduk ke bawah pipa besi yang mengalirkan belerang. Terjawab sudah mengapa ekspresi Pak Tasripan selalu meringis, itu adalah sikap defensif terhadap hawa panas yang dikobarkan asap sulfur.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tidak lama lagi asap belerang akan semakin pekat. Kami tidak mau mengambil risiko, waktunya pulang. Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan salam perpisahan ke Pak Tasripan, kemudian kembali meniti jalan terjal berbatu ke bibir kawah. Dan turun dari haribaan Gunung Ijen, Si Gunung Kesepian.

Disunting oleh ARW 11/02/2011