Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu Special Administrative Region (SAR, sering disebut “Hong Kong SAR”) dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.

Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.

Puncak Hong Kong
Puncak Hong Kong

Saya pun mulai mencari-cari tiket untuk berlibur di bulan ini, karena mulai bulan depan sepertinya akan susah untuk mendapat persetujuan cuti. Awalnya saya memilih tujuan wisata lokal yang lebih hemat atau mungkin Bangkok, yang lebih dekat. Namun saya pikir, kapan lagi saya ke Hong Kong dan mendapatkan akomodasi gratis? Walau, pada akhirnya nanti, saya ternyata menyewa kasur ekstra seharga HK$100 per malam, saya anggap itu sangatlah murah.

Akhirnya, saya mendapatkan tiket Jetstar seharga US$320 dari Jakarta ke Hong Kong dengan persinggahan di Singapura. Setelah dikurs, sekitar dua juta sembilan ratus rupiah. Lumayanlah! Namun, yang baru saya betul-betul sadari kemudian adalah, ternyata saya berangkat pagi hari tanggal 21 April dan baru tiba jam 19:45. Ketika di Singapura pun akan susah untuk keluar dari Changi karena hanya transit selama tiga jam.

Tapi, mau bagaimana lagi?

Pada hari H, saya pun berangkat dengan sebuah ranselk (yang saya check-in-kan, karena takut menjadi beban saat transit, dan lagipula saya membawa beberapa bahan cair). Persinggahan di Changi selama tiga jam tidaklah terasa lama. Waktu itu tepat waktu makan siang dan sayapun memesan sebuah roti lapis tuna di restoran cepat saji Subway dan juga segelas smoothies mangga dari Boost Juice. Selepas makan, saya memutuskan untuk melihat Cactus Garden di Terminal 1 yang ternyata cukup menarik dengan berbagai jenis spesies kaktus yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Penerbangan ke Hong Kong dari Singapura berlangsung selama tiga setengah jam dan tanpa makanan! Saya cukup kecewa dan menyumpahi diri sendiri karena membuang roti cokelat dari penerbangan sebelumnya (yang ternyata dioperasikan oleh ValuAir). Hasilnya, saya mendarat di Hong Kong dengan kondisi sangat lapar. Suhu di Hong Kong saat itu tidak berbeda jauh dengan Jakarta atau Singapura, tapi memang lebih sejuk.

Saya pun langsung mengisi ulang Octopus Card saya (yang saya pinjam dari seorang teman) sebanyak HK$200, dan diberitahu bahwa tarif naik Airport Express (kereta cepat) ke Central Station adalah HK$100 dengan menggunakan Octopus Card tersebut. Cukup mahal. Namun ternyata yang dinamakan Airport Express bukanlah MTR (kereta rapid) biasa, namun sebuah kereta super cepat yang bertempat duduk seperti kabin pesawat dan hanya berhenti di tiga stasiun, yaitu Tsing Yi (di Lantau Island), Kowloon, dan Hong Kong. Saya harus turun di Hong Kong Station. Aneh juga, saya baru saja mendarat di Hong Kong, dan sekarang saya naik kereta ke Hong Kong. Ternyata sebelumnya saya belum sampai di Hong Kong?

Saya pun bertemu dengan teman saya yang sedang ditugaskan di Hong Kong itu di Central Station (hanya berbeda lantai dengan Hong Kong Station). Target malam itu adalah naik Peak Tram dan tentunya ke The Peak. Namun karena saya sangat lapar, saya pun makan sejenak di McDonald’s di mal yang terhubung dengan Central Station tersebut.

Sehabis makan, karena terburu-buru (The Peak tutup jam 11 malam), kamipun naik taksi ke Peak Tram, yang sebetulnya cukup dekat dengan Central Station, dengan ongkos HK$20 (tarif minimal) dan langsung membeli tiket tram pulang pergi dan tiket ke viewing terrace seharga HK$65. Peak Tram adalah tram yang sangat bersejarah karena sudah ada sejak tahun 1888 dan tram-nya pun masih asli (meski sudah tidak terbuat dari kayu lagi) dan berfungsi dengan baik dan terkomputerisasi. Naik Peak Tram adalah pengalaman yang sangat unik karena tram menaiki bukit dengan kemiringan 45 derajat dan seolah-olah gedung-gedung di sekitarnyalah yang miring 45 derajat.

Taksi di Hong Kong
Taksi di Hong Kong

Saya dan teman saya pun langsung bergegas menuju viewing terrace dimana kita dapat melihat pulau Hong Kong dari atas bukit (aslinya bernama Victoria Peak). Dan di atas sana udara cukup dingin (dan sedikit berkabut). Indah sekali gedung-gedung berwarna-warni di wilayah Hong Kong dan Kowloon yang dipisahkan oleh sebuah selat dan juga pemandangan di sekitarnya yang dapat kita lihat 360 derajat. Mungkin lain kali saya akan kembali kesini untuk menikmati matahari terbenam dan sinarnya yang keemasan menerpa gedung-gedung tinggi itu, yang satu-per-satu menyalakan lampunya.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kami pun diusir dari teras karena akan segera tutup, meski masih sempat menikmati plaza yang berada di bawahnya. Kami memutuskan untuk menuju ke hotel (sebetulnya adalah serviced apartment) yang terletak di wilayah Tsim Sha Tsui (baca: Chim Sa Choy) di Kowloon dengan taksi karena tidak yakin MTR masih beroperasi. Kami pun naik taksi dan menyeberangi selat di antara Hong Kong dan Kowloon dengan melewati terowongan yang cukup panjang. Saya pun terkesima karena belum pernah melewati terowongan bawah laut sebelumnya.

Saat turun di Tsim Sha Tsui, betapa kagetnya kami ketika sang supir meminta ongkos sebesar HK$180! Kami pun protes meski sia-sia karena supir taksi kami tidak berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengerti bahwa taksi tersebut adalah taksi dari Hong Kong Island, dan untuk melewati terowongan, dikenakan tarif ekstra sebesar HK$45, dan dia pun harus kembali lagi dari Kowloon melewati terowongan tersebut, sehingga total tarif ekstra sebesar HK$90. Sungguh mahal, mengingat secara jarak, Peak Tram dan Tsim Sha Tsui sangatlah dekat meski terpisah oleh selat Hong Kong. Akhirnya sopir taksi kami pun memberi keringanan sedikit dan kami boleh membayar 160HKD. Kami belajar. Jangan pernah naik taksi jika harus menyeberangi selat Hong Kong. Lebih baik naik kapal feri atau MTR (dan ternyata MTR beroperasi sampai jam satu pagi!). Namun dengan MTR pun, jika kita melewati terowongan itu, akan dikenakan tarif ekstra sebesar kira-kira HK$6.

Sebelum ke hotel, saya dan teman saya sempat mencari makanan pencuci mulut di wilayah Tsim Sha Tsui dan akhirnya menemukan sebuah tempat dan saya memesan mango with sago balls in coconut milk, squid balls, dan Portuguese egg tart, ditutup dengan bubble tea dari tempat favorit kami, Gong Cha.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012