Adalah mudah bagi saya untuk kembali lagi ke Hanoi di masa akan datang. Hanoi memang tak sempurna, mirip kebanyakan kota di Indonesia yang kurang teratur, kurang rapi, organik dan ada bagian-bagian yang kurang cantik. Tapi di antara semua itu, ada aura lain yang memancar dari Hanoi. Aura historis peninggalan Perancis dan romantika Asia yang kental mengudara seketika kita menginjakkan kaki di pusat kotanya. Lingkar luar kotanya memang sedang berbenah dan berencana dengan pusat-pusat industrinya, namun di hatinya, ia tetap kota yang punya karisma tersendiri.

Empat hari saya habiskan di Hanoi bersama teman saya, Muhammad Arif, dan kami menginap di teman lama di salah satu bilangan pemukiman di Hanoi. Lan Nguyen adalah host kami, seorang warga lokal Vietnam. Kami kenal di Internet melalui program internasional yang pernah kami ikuti bersama. Beliau tinggal di sebuah flat (apartemen sederhana) yang ukurannya kira-kira 15 x 6 meter. Walaupun terhitung kecil, tapi flatnya amat nyaman dan rapi. Lan juga hanya tinggal bersama ibunya yang merupakan orang tua tunggal.

Pertama kali menjejakkan kaki di bandara Noi Bai, Hanoi, Vietnam, udara sejuk seperti tidak ada bedanya dengan suhu pendingin udara di pesawat yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur. Perjalanan tiga jam tidak menjadi masalah besar kecuali rasa ingin sampai yang ada di lubuk hati karena penasaran. Permainan Fieldrunners di iPod Touch pun terasa amat sangat hambar dibandingkan dengan kesenangan yang saya rasakan.

Bandara Noi Bai sendiri tidak besar. Mirip ukuran bandara Polonia di Medan, Sumatera Utara. Setelah keluar dari imigrasi dan menukar mata uang dong di money changer (waktu itu kursnya 1 USD = 17,400 dong; saya tukar 50 USD = sekitar 800,000-an dong), saya kirim pesan singkat ke teman saya, Lan Nguyen, yang menjemput saya dengan taksi. Bau keringat di badan diri pun tak saya hiraukan dan saya peluk Lan yang sudah tidak saya temui tiga tahun lamanya (terakhir kali kami bertemu di San Francisco, Amerika Serikat). Kami bertiga pun mencari taksi yang tadi ditumpangi Lan. Tak disangka, taksinya hilang tanpa alasan jelas, padahal belum dibayar. Akhirnya kami naik minibus dengan harga 30.000 dong per orang. Lan terpaksa menelepon ke perusahaan taksinya untuk meminta taksinya datang ke rumah dan membayarnya.

Untuk sampai ke rumah Lan, butuh waktu 1 jam 30 menit, ditambah macet. Itu pun tidak sampai ke rumah, kami masih harus naik taksi kecil (dengan ukuran mirip mobil merek Chery QQ) ke daerah tempat tinggalnya. Keluarlah uang sekitar 50,000 dong untuk bertiga. Karena sampai di Hanoi pada malam hari, kami tak begitu sempat melihat suasana kota, yang relatif sepi setelah melewati kemacetan. Sesampainya di rumah Lan, kami disuguhi makan malam lezat berupa ayam yang dikukus dan sayur kailan, beserta nasi panas. Yum!

Kota Hanoi pada pagi hari, di bulan Januari, adalah bicara musim dingin. Suhu antara 15-25°C. Kabut menyelimuti berbagai sisi kota, dengan fluktuasi yang tak tentu. Pagi bisa terang, ketika hari mulai siang, kabut bisa menebal disertai rintik-rintik hujan. Tapi tak masalah, sejauh mata memandang, di pusat kota, bangunan-bangunan berwarna kuning milik pemerintahan dan bangunan bersejarah lain melengkapi danau dalam kota yang menyiratkan rasa bahagia. Sendu, memang, dan jalanan sepi dari mobil, tapi kami merasa lebih bisa bertukar pikiran satu sama lain lebih baik. Berjalan dari Temple of Literature, menyusuri diplomatic enclave dengan trotoar yang lebar dan penjaga keamanan yang berdiri diam di atas podium, lalu ditawari untuk memotret seorang pedagang buah yang menggantungkan jajaannya di badan, sampai akhirnya berhenti di sebuah toko bubble tea untuk melepas dahaga sejenak. Kabut semakin menebal ketika kami mencapai Ho Chi Minh Mausoleum, makam Ho Chi Minh, bapak pejuang kemerdekaan Vietnam.

Untuk urusan gastronomi, tidak ada tempat yang lebih baik untuk mencoba phở daripada di Vietnam sendiri dan Hanoi khususnya. Semangkuk phở yang dijual di pinggir jalan, baik sebagai sarapan, makan siang atau malam, dijual dengan pilihan daging ayam atau babi. Jangan kaget dengan kesederhanaan phở. Masakan Vietnam memang sangat sederhana. Warnanya tidak seindah masakan Indonesia, misalnya. Namun, rasanya sungguh nikmat. Kesegaran kuah bening phở, lembutnya daging ayam dan takaran mi yang pas membuat saya melupakan tampilannya yang tidak atraktif. Tidak seperti phở yang saya coba di Jakarta. Jika sempat, kunjungilah tempat nongkrong anak muda Hanoi: sebuah “warung jongkok” dengan suguhan pencuci mulut yang menggoda: Che Bap (sup santan dengan butiran tapioka dan butiran jagung/pisang) atau Es Teh Lemon Vietnam yang sudah kurang terasa lagi asamnya, namun tetap nikmat. Kami juga sempat mengunjungi sebuah restoran di pinggir danau Hồ Tây (West Lake), danau terbesar di Hanoi untuk menikmati bakwan udang yang disajikan dengan salad dan kacang.

Satu hal yang saya salut adalah kebanyakan masakan Vietnam, terutama masakan rumahannya, tidak digoreng atau dibakar, tapi direbus, lalu ditambah dengan bumbu yang minimal. Kesederhanaan ini justru membuatnya jadi kenikmatan tersendiri dan sehat, tentunya. Hal ini saya nikmati selama persinggahan saya di rumah Lan dan undangan makan siang dan malam di rumah neneknya yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggal Lan.

Setelah kenyang, Anda bisa menikmati secangkir kopi atau potongan kue di warung-warung kopi tradisional ataupun di Highlands Coffee, sebuah jaringan warung kopi yang lebih modern. Nikmati Vietnamese Iced Coffee yang terkenal itu!

Bagi Anda yang suka membeli buah tangan, perjalanan ke Hanoi tidaklah lengkap jika tidak mengunjungi sentra sutra untuk membeli buah tangan berupa kain sutra. Harganya bisa mencapai ratusan ribu dong. Buah tangan lain yang dapat Anda beli antara lain topi, gelang atau tempat koin, di lingkungan Old Quarter (daerah pertokoan padat yang gedung-gedungnya masih tua), tapi itu semua terserah Anda.

Ketika malam tiba, sempatkanlah untuk menyelinap di bar untuk menikmati pertunjukan musik jazz gratis (tentu saja, Anda tidak harus memesan minuman beralkohol). Tentu saja, bar mana yang baik tidak akan saya temukan kalau tidak dengan bantuan teman-teman lokal saya.

Tempat-tempat lain apa yang menarik untuk dikunjungi? Saya dibawa oleh teman-teman saya berkeliling naik sepeda motor. Benar, tidak ada cara lebih menarik dan autentik ala Vietnam modern daripada berkendara dengan sepeda motor. Bis umum tersedia, mobil juga ada, tetapi sepertinya sepeda motor tetap jadi andalan utama masyarakat lokal. Kami di bawa ke jembatan terpanjang di Hanoi, Long Bien Bridge. Jembatan ini melintasi Sungai Merah (Red River), sungai yang mengalir dari pedalaman Cina selatan hingga teluk Tonkin. Jembatan ini dirancang oleh Gustave Eiffel, yang juga merancang menara Eiffel di Paris. Jembatan ini juga dilalui oleh lintasan kereta api.

Dari semua kegiatan tersebut, menurut saya, tidak ada yang paling membahagiakan daripada duduk di sebuah kafe di tengah danau, atau hanya duduk di pinggir danau sambil memegang segelas kopi ditemani pembicaraan hangat. Cobalah berkeliling danau Hoan Kiem, danau utama di Hanoi, dan nikmatilah orang tua yang sedang menemani anaknya, romantika pasangan muda, atau anak muda dan orang tua yang berlari kecil di pagi hari.

Masih ada hal-hal lain yang saya ingin lakukan. Saya tidak sempat menonton wayang boneka air dan menonton film di salah satu sinemanya. Betapa saya berharap, saya ditakdirkan untuk kembali ke Hanoi yang penuh romantika!

Beberapa tempat menarik yang wajib dikunjungi di Hanoi: Hoan Kiem Lake, Ho Chi Minh Mausoleum, Temple of Literature, Old Quarter, Water Puppet Theatre, serta sentra penjualan sutra.