Mungkin pagi hari itu bukan pagi yang biasa untuk saya. Ia tidak biasa bukan karena matahari yang bersembunyi di balik awan mendung, atau karena udara sejuk yang saya rasakan ketika kami menginjakkan kaki di bandara. Pagi itu menjadi luar biasa karena saya mengalaminya di sebuah negeri asing yang selama ini hanya bisa saya bayangkan lewat mimpi, atau saya rasakan kehadirannya melalui lembaran buku.

Selasa, 12 Oktober 2010, pesawat yang ayah dan saya tumpangi mendarat di Siem Reap, sebuah kota kecil yang terletak di jantung Indo-China, Kamboja. Sebuah saksi di dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi panggung perhatian para arkeolog dan sejarawan dunia. Mahakarya apa yang tertinggal di Siem Reap, mungkin kita semua sudah tahu. Namun, sebelum tulisan ini menuju ke sana, saya akan menceritakan kronologi perjalanan saya yang tak kalah menarik.

Lanskap Siem Reap hampir sama dengan pulau Jawa, namun ia tidak memiliki pegunungan. Sepanjang mata memandang adalah tanah datar yang di beberapa bagiannya ditanami sawah.

Candi di kompleks Ta Prohm, dengan pohon yang seperti memeluknya
Candi di kompleks Ta Prohm, dengan pohon yang seperti memeluknya

Pada hari pertama, kami memilih untuk tidak mengunjungi candi-candi yang berserakan di kota kecil itu. Kami mengelilingi Siem Reap sambil melihat-lihat pemukiman yang pada musim hujan tergenang oleh air. Kami diantar kendaraan Tuk-Tuk, kendaraan sejenis delman namun menggunakan motor sebagai penariknya.

Kami menyaksikan dan merasakan detail-detail yang sering kami—sebagai orang yang tinggal di kota besar Jakarta—lupakan atau mungkin kami abaikan. Sepanjang perjalanan tercium bau tanah yang segar, bercampur dengan aroma ternak yang samar. Angin bertiup sepoi-sepoi. Langit memamerkan arak-arakan awannya yang berkumpul semakin padat di utara. Kemudian saya sadari bahwa awan-awan di Siem Reap memiliki formasi yang sedikit berbeda dengan awan di daerah kepulauan Indonesia. Tentu saja, karena Siem Reap merupakan bagian dari benua Asia yang maha luas, maka baik kontur tanah maupun langitnya-pun pasti akan berbeda walau hanya sedikit. Sebuah detail menarik yang baru saya temui kali ini di dalam “sejarah perjalanan” saya.

Candi di kompleks Ta Prohm
Candi di kompleks Ta Prohm

Dalam perjalanan berkeliling kota hari pertama itu, kami menemukan banyak hal menarik. Sapi-sapi yang berkeliaran di pinggir jalan. Anjing liar yang selalu menggongong bercanda. Candi-candi kecil yang menyembul dari balik pepohonan di hutan, sampai kepada anak-anak Kamboja yang memiliki sorot mata begitu ramah.

Siem Reap adalah kota yang sangat bersahaja, dengan masyarakat yang terlihat sederhana. Sulit untuk membayangkan bahwa pada keesokan harinya, kami akan menyaksikan salah satu kompleks bangunan terindah yang pernah diciptakan oleh umat manusia.

Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam
Angkor Wat, dilihat dari seberang kolam

Kami memulai tur keliling candi pada hari kedua, dan berangkat pukul sembilan pagi dari hotel. Setelah membeli tiket terusan untuk tiga hari seharga US$40 per orang, kami langsung meluncur ke kompleks Angkor Wat. Udara pagi itu sedikit dingin dan berangin, memperindah suasana mistis Siem Reap, dan tentunya membuat saya semakin gelisah serta tidak sabar untuk menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri candi legendaris itu.

Angkor sebenarnya bukan sekedar candi. Lebih dari itu, ia merupakan kompleks kota kuno, yang dipercaya memiliki tata kota terbaik pada masanya dan dihuni oleh penduduk sebanyak satu juta jiwa. Sebagai perbandingan, kota London pada saat itu dihuni sebanyak “hanya” sekitar 100 ribu jiwa.

Ukiran penari Apsara yang saya temukan di dalam Angkor Wat
Ukiran penari Apsara yang saya temukan di dalam Angkor Wat

Perjalanan menuju kompleks Angkor bisa ditempuh sekitar 15 menit dari tengah kota Siem Reap menggunakan Tuk-tuk. Kami melewati jalan yang begitu bersih dan tampak masih asli, diselingi kicauan burung dan sosok monyet-monyet yang bergantung dari dahan satu ke dahan lainnya. Kemudian kami disambut oleh kolam yang sangat besar, mengingatkan saya akan kolam-kolam kuno Majapahit yang tersebar di daerah Jawa Timur. Di tengah kolam tersebut, sebuah jembatan kokoh berdiri memanjang. Di ujung jembatan tersebut, terlihat mahakarya yang selama ini saya tunggu-tunggu kehadirannya di depan mata. Situs yang menggetarkan dunia, Angkor Wat.

Dari kejauhan, pucuk-pucuk Angkor Wat terlihat sangat tinggi menantang angkasa. Pada masa di mana gedung pencakar langit merupakan hal biasa, dan menara Eiffel sudah tidak terlalu ajaib lagi, penampakan Angkor Wat tetap menimbulkan sensasi aneh dalam tubuh. Ada desir yang terasa kuat di dalam dada setiap saya menyaksikan bangunan candi. Aura mistis yang begitu kuat mencengkram setiap indra, membumbungkan imajinasi saya akan sebuah kota yang dulu pernah jaya, bangsa besar yang mampu memahat budaya mereka di atas tanah kekuasaannya.

Dibangun pada masa pemerintahan Jayawarman II pada tahun 1112, Angkor Wat merupakan sebuah candi Hindu yang sekaligus berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir Jayawarman II. Ketika saya memasuki candi ini, terbersit sedikit perasaan iri dan terkalahkan yang berhubungan dengan kondisi candi-candi di Indonesia. Candi-candi di Indonesia tidak kalah rumit dan megahnya, bahkan menurut saya dalam beberapa aspek candi-candi Indonesia memiliki pencapaian yang lebih dari candi di Kamboja. (Tentu tujuan dari tulisan ini bukan untuk membandingkan. Saya hanya ingin berbagi kegelisahan saya terhadap kondisi candi di Indonesia yang oleh pemerintah direnovasi sedemikian rupa, namun malah menjauhi nuansa asli yang mereka bawa.) Angkor Wat hanya satu dari puluhan candi-candi yang tersebar di Siem Reap, yang bahkan menurut saya pribadi bukan yang “terbaik” dari semua candi Kamboja. Ia memang sebuah karya arsitektural yang luar biasa, dilihat dari ukurannya, dan pencapaian artistiknya yang nyaris sempurna. Namun, ketika saya menaiki Tuk-Tuk ke perhentian selanjutnya, kejutan yang saya temui bahkan lebih dahsyat dari Angkor Wat.

Pintu gerbang candi Ta Prohm
Pintu gerbang candi Ta Prohm

Perhentian selanjutnya adalah sebuah candi yang diapit oleh empat gerbang raksasa. Di dalam candi tersebut bertahtakan wajah-wajah Jayawarman VII yang tersenyum dingin, menghadap ke arah empat mata angin. Angkor Thom atau disebut juga dengan Bayon, adalah candi terunik, dengan representasi wajah raja yang mungkin merupakan raja yang memiliki narsisisme tertinggi di dunia. Memasuki Angkor Thom seperti membiarkan diri tersesat ke dalam masa lampau. Yang membuat Angkor Thom lebih memikat dari Angkor Wat adalah situsnya yang masih relatif sepi. Kicau burung-burung saling bercengkrama menemani “wajah-wajah raja” yang setiap saat menyembul dari balik bebatuan.

Salah satu candi Ta Prohm yang ditumbuhi oleh akar pepohonan
Salah satu candi Ta Prohm yang ditumbuhi oleh akar pepohonan

Pintu gerbang menuju candi Angkor Thom, dengan wajah Jayawarman VII menghadap empat arah mata angin
Pintu gerbang menuju candi Angkor Thom, dengan wajah Jayawarman VII menghadap 4 arah mata angin

Hampir semua candi di Siem Reap menawarkan “karcis menuju masa lalu,” dan akan terlalu panjang jika saya menjelaskan satu-persatu pengalaman saya di candi-candi lain. Saran yang bisa saya berikan dalam wisata candi di Siem Reap, adalah agar Anda menyediakan waktu beberapa hari untuk mengelilingi kota Angkor. Adalah mustahil untuk mengelilingi kota Angkor dan berhenti di setiap candinya hanya dalam satu hari. Anda membutuhkan minimal dua hari untuk turun dan meresapi keindahan candi-candi tersebut. Saya pribadi menganjurkan tiga hari, atau bahkan lebih.

Selain mahakarya berupa candi-candi, Siem Reap juga menawarkan restoran-restoran dan warung kopi kelas atas. Anda bisa berkunjung ke kawasan Old Market di tengah kota, dan di sini akan anda temui bangunan-bangunan kolonial peninggalan Perancis yang disulap menjadi tempat wisata. Old Market adalah tujuan yang tepat bagi yang gemar berbelanja, serta melepas penat pada sore atau malam hari.

Apa lagi yang ada di Siem Reap? Banyak, bahkan mungkin terlalu banyak untuk dihabiskan hanya dalam waktu lima hari. Siem Reap adalah permata baru di Asia yang akan semakin bersinar. Banyak tempat-tempat yang belum saya kunjungi seperti Floating Village, candi Banteay Srey, Night Market, dan Artisan Angkor. Beberapa candi sedang dalam rekonstruksi besar-besaran, dan dalam tahun-tahun berikutnya diperkirakan akan selesai. Saya sendiri berencana untuk datang kembali.

Pagi itu, tanggal 16 Oktober 2010, saya akan meninggalkan Siem Reap. Saya akan merindukan candi-candi indah di dalam hutan, semilir angin yang bertiup di wajah ketika Tuk-Tuk membawa saya pergi jauh, aroma tanah dan rerumputan yang menebarkan hawa sejuk, serta senyuman dari masyarakat Kamboja yang sangat tulus dan ramah. Ketika pesawat mulai lepas landas, saya mengintip dari balik jendela dan menatap ke bawah. Ada genangan banjir di beberapa tempat. Siem Reap mungkin tidak sempurna, tapi ia adalah salah satu kenangan perjalanan terbaik yang pernah saya punya. Masyarakat bersahaja yang menciptakan mahakarya.

Disunting oleh ARW 3/11/10