Sudut kota San Francisco

Hampir setiap tengah malam, saya terbangun dari tidur. Udara terasa begitu dingin, dan suara mobil terdengar lalu lalang di kejauhan. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk sadar bahwa saya tidak berada di rumah. Saya meringkuk di atas ranjang yang terletak di apartemen, dan mengendus aroma ruangan yang mungkin masih tercium berbeda walau sebenarnya saya sudah mulai terbiasa. Dinginnya terasa berbeda, begitu juga dengan udara luar yang tercium sampai ke dalam. Ternyata roommate saya membuka jendela kamar. Ketika saya melihat ke luar jendela yang terbuka, terlihat jelas jalanan lengang, beberapa bangunan bertingkat yang saya tidak familiar sebelumnya. Ya, saya berada di tempat asing.

Hampir satu bulan berselang semenjak saya meninggalkan Jakarta, Indonesia. Saya ingat, pada hari itu semuanya terasa begitu sulit. Perasaan hati campur aduk, di antara kesedihan yang amat sangat terselip secercah harapan akan sesuatu yang lebih baik. Hari demi hari yang semakin merapat selalu mengingatkan saya bahwa saya akan meninggalkan keluarga dan sahabat tercinta, dan saya selalu bilang pada diri sendiri bahwa itu tidak apa. Negeri Paman Sam tidak jauh, hanya selang terbang sehari. San Francisco sesungguhnya dekat, hanya ketakutan dan kesedihan yang membuat jarak jadi begitu terasa.

Caffe Triste

Setelah terbang kurang lebih dua puluh jam, saya sampai. Mungkin benar kata para petualang, San Francisco sangatlah indah. Tak henti-hentinya saya bergumam dalam hati, bahwa kota ini mungkin adalah salah satu ‘hadiah’ yang diberikan bumi kepada Amerika. Sebuah pahatan alam yang terasa nyata di dalam hiruk-pikuk kota modern, di antara penghuninya yang bekerja dan bermain siang maupun malam, di antara udara sejuk yang bergumul dengan hangatnya sinar matahari pantai barat, dan di atas bukit-bukitnya yang selalu menciptakan bayangan panjang dari gedung-gedungnya yang tinggi menjulang. Saya langsung jatuh cinta. Seperti laiknya pendatang yang mengarungi samudera dan udara, seberapa lama-pun perjalanan mereka, lelah terobati ketika samar-samar lampu gemerlap tampak di bukit-bukit. Kabut tipis datang dan menciptakan ilusi magis. Burung camar berterbangan di teluk yang terletak di sisi jalan bebas hambatan, berkicau menyambut pendatang untuk bersenang-senang.

Lalu Lintas di Jembatan Golden Gate

Garis langit San Francisco di malam hari

Lalu lintas di San Francisco

Distrik Bisnis di San Francisco

Sebagai calon pelajar yang akan menghabiskan waktu kurang lebih tiga setengah tahun, saya memiliki banyak waktu untuk menjelajahi kota. Dan dengan demikian tak perlu terburu-buru. Namun tetap naluri wisatawan mendominasi diri. Dan karena saya datang bersama paman—yang hanya akan berada di kota selama dua minggu—maka semakin lengkaplah nafsu untuk berplesir. Perjalanan saya di kota ini diwarnai oleh kekaguman sekaligus keterkejutan yang datang silih berganti. Misalnya, saya terkejut akan bedanya pecinan di San Francisco dengan pecinan Jakarta. Pecinan San Francisco terasa seperti dunia lain. Sebuah daerah masyarakat Cina yang terkonsentrasi, di mana para penghuninya tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali untuk bercakap-cakap, menyerahkan bon restoran dengan aksara Cina, serta adanya kebiasaan meludah di pinggir jalan. Sangat aneh untuk saya, yang terbiasa dengan pecinan di Jakarta (Indonesia) di mana komunitas Tionghoa-nya bisa berbahasa Indonesia dan membaur dengan masyarakat setempat. Terlalu dini untuk menilai apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang positif maupun negatif, namun ‘kejanggalan’ itu tetap membuat saya berdecak.

Amerika memang sebuah ‘benua baru’. Sebuah keajaiban yang seperti dihadiahkan kepada bangsa Eropa ratusan tahun yang lalu, walau demi itu mereka membunuh sebuah peradaban tua yang sudah menempati benua ini sebelumnya. Apa yang ada di pikiran Christopher Columbus ketika ia melihat sebuah daratan di barat, setelah berbulan-bulan mengarungi samudera tanpa beristirahat? Apakah ia melihat sebuah cikal bakal negara adidaya? Sebuah Romawi modern. Sulit dibayangkan bahwa negara ini dibangun dan berdiri di atas tanah ‘baru’. Memang, sejarah peradaban dunia tidak pernah lepas dari penaklukan dan perebutan wilayah, serta pembantaian besar-besaran. Namun tetap saja pencapaian yang diraih Amerika berhasil membuat hati saya ciut. Ada di antah berantah mana saya sekarang? Dunia ini baru buat saya, dan saya merasa sungguh kecil.

Walau demikian, di antara perasaan tertinggal dan galau yang kerap menghampiri, saya tak kuasa untuk mengagumi setiap sudut kota ini. San Francisco terasa sangat romantis. Ia cantik laiknya seperti seorang putri yang menggeliat bahagia ketika pagi tiba, dan bersolek nakal ketika malam datang. Ia sejuk dan terkadang dingin menggigit pada waktu tertentu, namun kembali menghangat ketika matahari bersinar cerah tanpa awan. Selusuri jalanan ramai di pecinan dan anda akan bersua dengan wajah-wajah tua ras Asia, yang seakan baru saja mengadu nasib di negeri ini beberapa hari yang lalu. Anda juga akan menemukan ratusan galeri seni yang tersebar di seluruh kota, mungkin minimal dua galeri pada setiap blok-nya, memajang hasrat kreatif yang menggebu-gebu ingin diapresiasi. Di antara pencakar langit yang menjulang tinggi, anda bisa menangkap siluet tipis Bay Bridge berdiri di atas laut. Tengadahkan kepala anda setiap saat, dan bila beruntung anda akan menyaksikan burung-burung camar yang terbang beriringan, mungkin mereka berusaha menghindari kabut dingin yang datang dari teluk. Atau jika anda berkelana lebih jauh lagi ke selatan, anda akan disambut oleh bendera raksasa bermotif pelangi, silahkan tersenyum dan selamat datang sekali lagi ke San Francisco.

Tidak berlebihan kiranya untuk mengatakan bahwa ‘tiada waktu terbuang di San Francisco’. Setiap detiknya adalah santapan lezat, pemandangan indah yang selalu menghampiri, dan inspirasi tiada henti.

Panorama Jembatan Golden Gate

Baru kemarin, saya terbangun lagi dari mimpi. Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Dingin masih menusuk, langit gelap, dan teman-teman saya terlelap. Saya melihat ke arah luar jendela, dan tampak bulan sabit bersinar terang. Bintang bersinar cerah seperti biasa, tanda bahwa kota ini baru selesai berpesta. Saatnya San Francisco, putri yang cantik, untuk tidur dan menyambut pagi yang sebentar lagi tiba. Siapa tahu, sewaktu matahari menyambut saya di antah-berantah, saya akan semakin berbahagia.

Disunting oleh SA 14/02/2011