“Don’t be a tourist. Plan less. Go slowly. I traveled in the most inefficient way possible and it took me exactly where I wanted to go.”

Serupa dengan petikan Andrew Evans di atas, yang berkelana dari Washington D.C. ke Antartika, saya juga termasuk golongan orang yang selalu merencanakan perjalanan dengan perencanaan yang seadanya, kalau kata anak abege zaman sekarang tidak perlu persiapan yang rempong, atau merepotkan. Hal ini sudah kebiasaan saya sejak dulu: Sederhana, cepat dan praktis. Langkah saya ke Dataran Tinggi Dieng untuk kali kedua, persiapannya yang ringkas, berkemas dadakan yang super cepat, dan dengan daypack dan gembolan yang tidak begitu banyak.

Dulu, kesan pertama amat memesona dan menegangkan. Kali ini, kesan kedua, sangat amat memesona dan lebih menegangkan. Kali kedua ini saya datang untuk menyambangi Dieng Culture Festival. Beragam acara akan disajikan dalam acara ini, mulai dari ritual rambut gimbal, pentas seni budaya, wayang kulit, pesta kembang api dan lain-lain.

Hari Jumat petang, terlihat dari jendela gedung kantor, langit yang mulai meredup, badan masih terpaku di depan meja kantor, tapi jiwa dan pikiran sudah melayang dan melambung di Dieng sana. Bola mata yang tak lepas memandangi jarum jam yang berjalan begitu lama menuju pukul lima. Satu menit… dua menit… tiga menit… saya nantikan. Begitu lama rasanya sampai akhirnya, teng! Jam lima! Saya langsung keluarkan langkah kaki seribu menuju meeting point di Rawamangun, untuk jumpa kawan-kawan JKT24 bersama pergi menuju Dataran Tinggi Dieng.

Rasa menegangkan, heboh, dan penasaran campur aduk jadi satu di perjalanan dari Jakarta menuju Dieng. Perjalanan malam yang panjang, damai tanpa macet, duduk santai sambil memandang kanan kiri jalan yang dipenuhi kilauan dan kelip lampu jalan, ditambah earphone yang selalu tersangkut di telinga. Rentetan lagu terputar dalam playlist, satu demi satu terdengar menenangkan jiwa. Tiba-tiba terdengar lagu “Scream” dari Usher. Salah satu bait yang menurut saya klop dengan suasana malam itu, entah kebetulan atau apa, bunyinya:

If you wanna scream, yeah, Let me know and I’ll take you there”.

Tentu saja! Ini sesuai sekali dengan gambaran hati saya. Saya ingin teriak! Please take me to Dieng! Saya ingin teriak sekencang-kencangnya di sana, di pinggir kawah, atau di pinggiran bukit. Bagi saya semua lelah, mulai jenuh, penat dan tekanan kerja, akan keluar terbuang bersama teriakan itu.

Jalan Pantura dan Jalan Trans Selatan Jawa menjadi saksi perjalanan tujuh ratus dua puluh menit menuju Dieng. Pagi menjelang siang, saya sampai di Dataran Tinggi Dieng. Saya jejakkan telapak kaki saya untuk kali kedua, matahari belum terlalu naik seratus delapan puluh derajat, terasa campuran udara dingin dan hangat, perpaduan yang sempurna rasa hangatnya sinar sang surya dengan dinginnya hembusan semilir angin.

Sebelum lebih menyelami keindahan Dieng, terlebih dahulu saya dan teman-teman JKT24 merapat ke homestay untuk menaruh daypack. Tiba di teras homestay terlihat dari luar homestay yang tidak begitu besar. Seketika saya berpikir, mungkin saya dan teman-teman JKT24 tidak akan tertampung semua. Ternyata homestay ini sangat besar memanjang ke belakang, ada empat kamar, satu ruang tamu, satu ruang televisi, satu ruang keluarga, satu toilet dan satu dapur.

Kawah Sileri dan Telaga Warna

Kawah Sileri
Kawah Sileri

Daypack, carrier, dan semua barang gembolan saya dan teman-teman JKT24 telah rampung dimasukkan ke homestay. Kemudian, dengan minibus, kami bergegas pergi menyelami keindahan Bumi Dieng. Pertama, ke Kawah Sileri. Kawah yang indah, gumpulan asap kawah membumbung tinggi ke langit yang begitu indah, langit tinggi yang terang berwana toska, dibalut gumpalan awan yang bergerak saling mengejar dan bertubrukan satu sama lain. Tubrukannya membentuk keindahan awan yang tak terhingga. Di sekeliling kawah tertampang bukit hijau luas membentang, hijau perkebunan sayur-mayur milik penduduk yang tumbuh dengan suburnya, hijau dan indah, pantulan warna hijaunya amat menyegarkan mata.

Puas menikmati panorama Kawah Sileri, berlanjut menghampiri keindahan Telaga Warna. Lokasinya tidak begitu jauh dari Kawah Sileri. Sekitar dua tahun yang lalu, kunjungan pertama saya ke Telaga Warna menorehkan bekas keindahan yang luar biasa di memori saya. Kunjungan kedua lebih membekas. Mengapa? karena tidak seperti kunjungan saya yang pertama, kala itu, di kunjungan saya yang kedua, saya menyusuri keindahan panorama Telaga Warna melalui atas bukit. Menyusuri jalan setapak munuju atap bukit, ditemani rumput ilalang di kanan-kiri jalan, hembusan angin semilir yang sesekali terdengar di telinga dan menggoyangkan Mandevilla sanderi (bunga terompet) yang bergelantungan di dahan. Terus melangkah, mendaki bukit, langkah demi langkah tak terasa lelahnya, sampai pada langkah terakhir tiba di atap bukit. Saya terdiam sejenak dengan mulut ternganga, terhipnotis dengan mahakarya Sang Maha Agung yang begitu sempurna menciptakan Bumi Dieng. Telaga Warna ini penuh pesona, terlihat berdampingan tiga telaga berwana. Damai rasanya.

Telaga Warna
Telaga Warna

Telaga Warna
Telaga Warna dari sisi lain

Itulah seni perjalanan bagi saya, menemukan ketenangan yang tiada tara.

Langit mulai memudar, warna toska mulai luntur seiring datangnya senja. Saya memutuskan untuk beranjak ke Dieng Theater yang letaknya tidak terlalu jauh dari Telaga Warna. Teater ini bentuknya tidak terlalu besar, tapi saya tidak peduli dengan ukurannya. Bagi saya, yang paling penting adalah film yang diputar malam itu yang menampilkan sejarah Bumi Dieng.

Hari semakin malam, udara semakin dingin, saya dan teman-teman JKT24 memutuskan untuk kembali ke homestay untuk sejenak bersih-bersih badan. Dari kawasan Telaga Warna dan Dieng Theater, kami jalan kaki ke homestay. Dengan udara yang dingin yang menusuk, kami jalan bersama beriringan menyusuri trotoar, sambil berceloteh ringan dan bercanda. Udara yang dingin itu seketika menjadi hangat dengan kebersamaan kami. Sampai di homestay, tidak ada yang berani mandi malam itu. Jangankan mandi, untuk sekedar cuci muka saja rasanya dingin sekali. Malam itu, empat belas derajat Celcius, saya terbalut dengan jaket gunung yang nampaknya tidak cukup menghangatkan tubuh saya. Badan kedinginan, nafas mulai mengembun, sesekali gigi tesentak karena dingin. Ini adalah kali kedua saya ke sini dan saya tetap tidak bisa beradaptasi dengan dingin yang menusuk seperti ini.

Wayang Kulit

Usai bersih-bersih dan cuci muka, saya tetap niatkan keluar homestay untuk melihat pertunjukan wayang kulit di komplek Candi Arjuna. Acara wayang kulit ini merupakan salah satu bagian dari serangkaian acara Dieng Culture Festival, jadi sayang sekali bila harus dilewatkan begitu saja. komplek Candi Arjuna tidak begitu jauh dari homestay. Penonton langsung disambut dengan iringan gamelan yang terdengar merdu. Dalang Wayang kulit dengan lincahnya mengayunkan tangannya, para pengiring suara dan sinden dengan dialek khas Jawa yang kental, membuat pertunjukan semakin meriah. Dentingan suara gamelan sungguh menenteramkan malam.

Sudah saatnya tubuh di istirahatkan untuk persiapan esok harinya untuk bangun sedini mungkin agar bisa mengejar matahari terbit di Bukit Sikunir.

Mengejar Mahatari

Matahari terbit di Bukit Sikunir
Matahari terbit di Bukit Sikunir

Ketukan pintu membangunkan saya dari lelap. Terdengar suara teman saya membangunkan saya untuk segera bergegas menuju Bukit Sikunir. Subuh itu, saya bergegas dari kasur karena minibus yang akan mengantarkan kami menuju Bukit Sikunir sudah menunggu, tidak terpikir di benak saya untuk mandi terlebih dahulu, subuh itu hawa menjadi semakin dingin, suhu mencapai tiga belas derajat Celcius.

Minibus melaju perlahan, hawa dingin masuk melewati celah-celah jendela, suasana hening dan sepi, semua masih mengantuk. Kendaraan terus melaju sampai akhirnya bunyi ampas rem terdengar menandakan kami telah tiba di pemberhentian terakhir. Perjuangan untuk menikmati matahari terbit belum usai, saya pun masih harus menanjak Bukit Sikunir tuk sampai ke puncaknya. Jalan perlahan menyusuri tanah setapak menanjak, dibantu dengan cahaya senter yang redup akhirnya saya sampai di puncak. Memandang luas ke hamparan bukit, terlihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, siluet jingga mulai muncul di langit yang gelap, semakin lama berubah menjadi kemerahan, ditemani semilir angin yang membawa hawa dingin, awan putih yang bergumpal tampak di bawah bukit, seketika saya takjub karena saya berdiri diatas awan. Bukit Sikunir, sebuah bukit di atas awan. Mentari perlahan muncul, siluet jingga semakin terang, cahayanya menghapus kegelapan, dan membawa kehangatan. Kamera saya siap siagakan untuk mengabadikan sunrise yang begitu indah, amat sempurna!

Ritual Rambut Gembel

Ritual rambut gembel
Ritual rambut gembel

Rambut gembel adalah rambut yang tumbuh pada anak-anak atau bocah, umurnya kisaran lima sampai sepuluh tahun, bentuk rambutnya ikal dan tidak teratur. Berdasarkan keterangan penduduk sekitar dan para pemangku adat, sebelum rambut ini muncul dan tumbuh pada diri sang anak, anak tersebut akan mengalami demam dan panas tinggi disertai mengigau saat tidur. Gejala ini baru berhenti dengan sendirinya saat rambut sang anak mulai tumbuh secara ikal dan kusut tidak beraturan. Ritual ruwatan rambut gembel adalah tradisi peninggalan leluhur yang dari dulu hingga sekarang masih terjaga. Banyak anak di Dieng yang rambutnya tumbuh seperti itu, berdasarkan keterangan penduduk sekitar, rambut gembel yang tumbuh pada anak itu dianggap sebagai bala, sehingga para anak yang telah dipangkas rambut gembelnya, dipercayai akan tumbuh menjadi anak baik, panjang umur dan banyak rezeki. Sebaliknya, bila tidak dicukur, ia akan menjadi anak yang tidak beruntung dan kelakuannya menjadi nakal.

Siang itu matahari mulai meninggi, acara ritual siap untuk dimulai. Rombongan pemangku adat dan arak-arakan sudah mulai memasuki pelataran candi. Kala itu, ada enam orang anak yang mengikuti ritual rambut gembel, anak-anak tesebut berusia empat sampai tujuh tahun. Sebelum prosesi ruwat dimulai, setiap anak yang diruwat harus dipenuhi permintaannya. Bedasarkan informasi pemuka adat, bila permintaan itu tidak terpenuhi, sekali pun rambut gembel sudah dicukur, rambut gembel akan tumbuh kembali. Oleh karena itu, orang tua wajib mengabulkan permintaan sang anak. Kala itu, permintaan tiap anak beragam dan sangat unik: ada yang meminta sepeda, domba, ayam jago sampai makanan kecil. Semuanya dikabulkan oleh orang tuanya.

Bagi saya, ritual ini adalah bagian budaya Indonesia yang berharga nilainya, patut dijaga tradisinya. Kita harus mendukung acara itu agar terus terlaksana dalam tahun-tahun berikutnya. Siapa tahu dengan dukungan penuh orang Indonesia, acara ini bisa diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Hampir tiga jam acara ritual rambut gembel berlangsung, saya bergegas untuk melangkahkan kaki dari komplek Candi Arjuna untuk kembali ke homestay. Sesampainya di homestay langsunglah saya mengemas daypack dan bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta.

  • Disunting oleh SA 23/07/2012