Mungkin tidak banyak orang yang ingin berwisata ke negara di Asia Selatan, apalagi yang namanya jarang terdengar di telinga seperti Sri Lanka. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Memang awalnya karena tergiur promo murah dari maskapai penerbangan hemat biaya rute Kuala Lumpur-Kolombo untuk periode keberangkatan enam bulan dari masa pembelian penerbangan tersebut. Tetapi perjalanan saya ke Sri Lanka juga didorong rasa penasaran akan negeri-negeri yang jarang dari pemberitaan di tanah air. Akhirnya saya pun berhasil membujuk dua orang teman untuk nekat membeli tiket penerbangan tersebut!

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya tersadar bahwa untuk peraturan terbaru, pengunjung yang ingin memasuki Sri Lanka (kecuali beberapa negara tertentu) membutuhkan visa kunjungan. Padahal sebelumnya warga negara Indonesia dapat memasuki Sri Lanka tanpa menggunakan visa kunjungan. Untungnya, untuk mengajukan visa Sri Lanka, dapat dilakukan online dengan biaya US$20. Namun, permasalahan lain muncul: saya masih buta tentang tempat yang akan dikunjungi di Sri Lanka. Tidak kehilangan akal, saya pun buru-buru di group Couchsurfing (salah satu situs untuk para backpack dunia) tentang rencana kedatangan saya yang kemudian ditanggapin dengan baik oleh para anggota Couchsurfer Sri Lanka. Dari sini muncul bayangan saya bahwa masyarakat Sri Lanka sangat ramah terhadap wisatawan asing.

Anak-anak Srilanka.
Anak-anak Sri Lanka.

Waktu berlalu cepat dan tanpa terasa tibalah hari keberangkatan. Setelah transit beberapa saat di Kuala Lumpur, akhirnya saya dan rombongan mendarat juga di sebuah pulau di ujung selatan India yang tidak lain adalah negara Sri Lanka. Begitu keluar dari Colombo International Airport, kami langsung bergegas menuju kediaman salah satu kenalan saya dari situs Couchsurfing (yang baru berkenalan dengan saya via situs tersebut dua hari yang lalu). Untungnya, karena Sri Lanka adalah negara bekas jajahan Inggris, maka seperti umumnya masyarakat negara anggota persemakmuran, fasih berbahasa Inggris. Hal ini memudahkan kami berkomunikasi dengan masyarakat lokal dalam mencari arah.

Begitu tiba di rumah teman baru saya tersebut, kami disambut dengan baik, terutama oleh pihak keluarganya. Dengan rasa penasaran, mereka bertanya banyak hal tentang Indonesia sambil sesekali membandingkan dengan kondisi di Sri Lanka. Setelahnya kami disuguhkan banyak makanan enak yang dimasak sendiri oleh ibu teman saya itu! Belakangan saya baru mengetahui bahwa memasak makanan yang lezat adalah cara bagi masyarakat Sri Lanka untuk menerima tamunya.

Sebelum menjelajahi beberapa objek menarik di Sri Lanka, kami memutuskan untuk memulai perjalanan dengan menjelajahi ibu kota Sri Lanka yakni Kolombo. Ibu kota ini menarik karena berada di pesisir pantai dengan sederet bangunan tua bekas peninggalan Inggirs. Namun kota ini tidak segemerlap ibu kota negara berkembang pada umumnya. Bahkan menurut saya masih jauh tertinggal dari Jakarta. Jarang saya melihat bangunan bertingkat, kecuali beberapa apartemen dan resident yang pada umumnya dihuni oleh para ekspatriat. Puas menikmati keindahkan kota, akhirnya kami memutuskan untuk berbelanja di sekitar Kolombo. Sudah bukan rahasia lagi kalau Sri Lanka adalah negara penghasil teh terbaik di dunia. Oleh karenanya, berbelanja produk teh adalah hal yang wajib dilakukan bila berada di Sri Lanka. Ada berbagai jenis teh yang ditawarkan, mulai dari teh aneka rasa, teh berdasarkan wilayah penanaman, hingga teh yang dikelompokkan berdasarkan ketinggian penanaman.

Setelah beberapa jam berkeliling kota Kolombo, saya tersadar satu hal: perempuan di Sri Lanka menjunjung tinggi nilai budaya mereka. Kebanyakan perempuan Sri Lanka berseliweran di jalanan sambil mengenakan busana tradisional Sari. Sangat jarang saya mendapati perempuan Sri Lanka dalam kesehariannya hanya mengenakan kaus dan jins. Hal unik lainnya yang saya dapati adalah penggunaan kata “hotel” menggantikan kata “restoran”. Sebagian besar rumah makan kecil di Sri Lanka memasang pamflet besar dengan kata “hotel”. Hal ini tentu membuat wisatawan seperti saya merasa bingung. Dari luar saya bisa saja mengira bahwa bangunan tersebut adalah penginapan kecil. Namun ternyata setelah masuk ke dalam, tempat tersebut hanya menjajakan makanan berat yang menu utamanya adalah kari and nasi. Masyarakat Sri Lanka pada awalnya tidak bisa membedakan antara restoran dan hotel, jadi hingga sekarang penggunaan terminologi yang salah tersebut menjadi umum. Duh…

Puas berkeliling Kolombo, keesokan harinya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kandy. Walaupun perjalanan menggunakan kereta ke Kandy memakan waktu sekitar 4 jam, pengalamannya tidak membosankan karena sepanjang perjalanan kami disuguhkan panorama pengunungan yang indah. Kandy sendiri adalah kota terbesar kedua di Sri Lanka. Kota yang sejuk ini dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Kandy adalah tempat transit yang paling cocok bagi wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah wisata lain, karena disekitar kota ini banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti misalnya Temple of Sacred Tooth dan danau buatan Kandy Lake yang lokasinya saling bersebelahan.

Pemandangan Kandy Lake dari atas bukit.
Pemandangan Kandy Lake dari atas bukit.

Berpose di Kandy Lake.
Berpose di Kandy Lake.

Sebagai negara tujuan utama peribadahan bagi penganut Budha, berwisata ke kuil Budha merupakan agenda wajib bila berkunjung ke Sri Lanka. Saya sendiri berkesempatan mendatangi salah satu kuil paling terkenal di Sri Lanka yakni Temple of Sacred Tooth Relic. Disebut demikian, karena konon relik gigi Budha disimpan didalam kuil ini. Sejarah menceritakan bahwa telah banyak perang terjadi akibat perebutan Tooth Relic. Hal ini karena Tooth Relic tersebut dipercaya dapat memberikan kekuasan di pemerintahan bagi siapapun yang memegang atau mendapatkan relik tersebut.

Temple of Tooth Relic.
Temple of Tooth Relic.

Tempat lain yang wajib dikunjungi di Sri Lanka adalah Adam’s Peak, bukit setinggi 2243 meter yang dianggap sakral untuk penduduk Sri Lanka. Uniknya lagi, pendakian ke puncak Adam’s Peak adalah ziarah bagi empat agama utama di dunia yakni Budha, Hindu, Islam dan Kristen. Umat Buddha percaya bahwa jejak yang berada di puncak bukit Adam adalah jejak Buddha, umat Hindu menganggapnya sebagai tanda dari Shiva, sementara umat Muslim percaya bahwa tanda itu berasal Adam yang menangis setelah diusir Eden. Lain lagi dengan umat Kristiani yang meyakini bahwa lekukan bukit di Adam’s Peak terjadi ketika St. Thomas berdoa di puncak bukit tersebut.

Bayang-bayang Adam's Peak.
Bayang-bayang Adam’s Peak.

Berpose di Adam's Peak bersama pejalan lain.
Berpose di Adam’s Peak bersama pejalan lain.

Pendakian ke puncak Adam’s Peak yang memakan waktu tiga hingga empat jam tidak akan sia-sia, sebab pemandangan yang didapatkan ketika berada dipuncak gunung tersebut sangat memukau mata. Selain itu, bila pendaki dapat tiba di puncak bukit tepat sewaktu matahari terbit, maka ia bisa melihat fenomena alam “Shadow of Adam’s Peak“, yaitu munculnya siluet bayangan gunung yang terlihat sangat mistis.

Setelah puas menjelajahi daerah perbukitan di Sri Lanka seperti Kandy dan Adam’s Peak, kami pun melanjutkan perjalanan ke ujung Selatan Sri Lanka yakni menuju pantai Unuwatuna. Pantai ini dikenal diseluruh dunia akan pasirnya putih dan warna toska lautnya. Meskipun pantai Unawatuna sempat tersapu gelombang Tsunami di tahun 2005, namun berangsur-angsur pantai ini kembali kedatangan turis.

Pantai Unawatuna.
Pantai Unawatuna.

Sebelum kembali ke tanah air, kami menyempatkan diri untuk singgah di kota Galle. Kota yang berada di ujung paling selatan Sri Lanka ini telah berdiri sejak abad ke-16 dan kemudian mengalami perkembangan pesat selama periode kolonial Portugis, Belanda dan Inggris. Objek yang paling menarik di kota ini adalah situs warisan dunia bernama Galle Fort. Situs ini berbentuk kota benteng yang dianggap kota benteng terbaik yang pernah dibangun oleh masyarakat Eropa di Asia Selatan. Berkeliling dengan menggunakan sepada di Old Town Galle membuat kita serasa menjelajah waktu ke masa lampau. Sewaktu hendak memesan menu makanan di salah satu restoran di sekitar Old Town Gale, saya tertegun mendapatkan menu makanan yang terdengar familiar: gado-gado dan nasi goreng. Setelah ditelusuri, ternyata makanan khas Indonesia tersebut diperkenalkan oleh Belanda ke masyarakat Sri Lanka pada masa kolonial.

Secara keseluruhan, berwisata ke Sri Lanka memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Keunikan budaya serta panorama alam yang indah dan masih alami menjadi kekhasan sendiri yang ditawarkan bagi para wisatawan. Selain itu keramahan masyarakat setempat membuat wisatawan semakin betah berada di negeri yang dulu sempat dinamakan Ceylon ini.