!http://ranselkecil.com/images/67.jpg (Golden Gate Park)!

Saya tak cukup dekat dengan ayah saya, walau seminggu sekali bertemu. Ayah lebih banyak diam, dan kami tak banyak menghabiskan waktu bersama. Kalau di rumah, saya biasanya hanya ngobrol panjang lebar dengan ibu. Pergi bersama pun lebih banyak dihabiskan dengan ibu, entah itu ke supermarket terdekat, atau menemani mengantarkan adik. Komunikasi saya dengan ayah lebih banyak dilakukan dengan ponsel, terbatas untuk hal-hal yang perlu saja. Apalagi selama saya empat tahun kuliah di Bandung, dan sekarang delapan bulan tinggal terpisah lagi. Tapi toh bukan berarti beliau tak mengerti kebutuhan anak-anaknya. Dalam diamnya, beliau punya banyak rencana dan selalu membantu dengan ikhlas dan sangat baik.

Karena tak banyak waktu yang saya habiskan dalam kehidupan sehari-hari bersamanya itu, justru waktu-waktu perjalanan yang singkat bersamanya yang bisa membawa kami lebih dekat satu sama lain. Perjalanan yang hanya berumur seminggu, paling lama 10 hari, menjadi salah satu cara saya untuk lebih dekat dengan sosok ayah saya. Interaksi yang lebih dari sekedar “kewajiban” anak pada ayah, atau sebaliknya. Lebih kepada hubungan seperti teman yang sangat baik. _Dad, not as a parent, but as a best friend_. Walau mungkin tak banyak bicara satu sama lain, tetapi, dengan hanya bersamanya di tempat yang jauh, jauh dari kewajiban dan rutinitas, sedikit meleburkan jarak yang selama ini ada.

Beberapa kali kami melakukan perjalanan bersama, berdua saja. Dari yang dekat, dalam negeri, sampai yang jauh, ke belahan bumi lain. Saya menghabiskan waktu dua kali 7 hari bersama ayah saya ke San Francisco, Amerika Serikat, dan satu kali ke Tokyo, Jepang. Semuanya untuk urusan saya, ayah hanya menemani. Walaupun begitu, saya tak membayangkan ke sana sendiri tanpa beliau, ketika itu saya masih berusia 19 tahun.

Satu hal yang saya suka dari beliau, rencana perjalanan selalu dibuat sangat matang. Beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana merencanakan perjalanan. Biasanya, beliau akan membuat satu folder khusus berkantung plastik atau folder yang memiliki _punch ring_ itu. Dipersatukan olehnya seluruh berkas seperti fotokopi identitas, paspor, rencana perjalanan, informasi hotel, peta lokasi, jadwal salat, brosur yang relevan sampai alamat-alamat penting seperti kedutaan besar, rumah sakit, atau lokasi-lokasi lain yang relevan. Saking detailnya, tebal folder ini bisa sampai 20 – 30 lembar. Perfeksionisme dalam perencanaan ini saya rasakan juga walau beliau tak ikut serta dalam perjalanan. Ketika beberapa hari sebelum berangkat, misalnya ketika saya hendak magang di Kuala Lumpur, Malaysia selama 2,5 bulan, beliau memberikan saya satu berkas tebal berisi semua informasi yang saya butuhkan. Riset saya tak seberapa dibanding folder yang beliau buatkan. Beliau juga pernah menitipkan saya brosur mengenai Taiwan, padahal saya hanya transit, tak keluar imigrasi!

Tahun 2005. Ketika saya transit di bandara Narita, Tokyo, kami kelaparan. Spontan, beliau langsung berkata, “Kamu tunggu di sini saja, ya.” 15 menit kemudian, beliau membawa sebungkus besar penuh dengan makanan instan dan ringan. “Bisa berhemat!” Saya tahu ayah saya sebenarnya tak pelit, tapi kapan lagi kami bisa menikmati sarapan pagi “miris” seperti itu di hadapan kaca besar sambil menikmati pemandangan pesawat lalu lalang, di antara deretan tempat duduk yang sepi. Sempurna dalam ketidaksempurnaan.

Pertama kali melakukan perjalanan lebih dari 10 jam dengan pesawat, seperti dari Hong Kong ke San Francisco pada 2004, beliau lebih banyak tidur. Sesekali mencoba menonton TV. Dengan usianya yang kepala lima, suhu dingin sedikit langsung berselimut atau memakai _sweater_. Ini adalah perjalanan ke Amerika Serikat pertama kali seumur hidupnya. Wajahnya terlihat letih sekali ketika sampai di tujuan setelah 13 jam perjalanan. Belum lagi ketika dibentak oleh petugas imigrasi Amerika Serikat hanya karena salah paham yang tak seberapa. Miris hati saya, sudah letih-letih begini, tapi beliau tetap sabar. Ingin rasanya saya bentak balik, tapi ah, buat apa. Beliau juga sabar menunggu saya diwawancara sampai dua jam karena petugasnya juga sudah cukup tua dan gaptek! Sampai-sampai bagasi kami dibawakan oleh petugas Cathay Pacific. Hebatnya, setelah seluruh urusan kelar, beliau masih bersemangat mengobrol dengan penumpang _shuttle van_ kami ke pusat kota San Francisco, bercerita mengenai Indonesia. Begitu sampai di hotel, kami langsung tertidur pulas selama enam jam.

San Francisco Museum of Modern Art (MoMA)

Gereja di dekat Taman Yerba Buena, San FranciscoAda satu warung kopi favoritnya di San Francisco di bilangan Market St. Warung kopi ini mungil, nyaris tak ada tempat duduk, mungkin untuk orang sibuk di daerah bisnis itu. Menu favorit beliau adalah roti bagel dan kopi hazelnut. Beberapa kali saya pergi sendiri ke San Francisco setelah itu, beliau selalu bertanya, apakah warung kopi itu masih ada. Terakhir pada 2006, warung kopi itu sudah tak ada. Sayang sekali, padahal saya masih memimpikan makan bagel dan minum kopi bersamanya di pagi dingin Desember, di taman Yerba Buena, sambil memandangi indahnya arsitektur sebuah gereja tua dan Museum of Modern Arts. Mungkin dengan beberapa anak kecil lalu lalang bersama orang tuanya. Setiap kali saya menginjakkan kaki di Yerba Buena dalam dua kali perjalanan sendiri setelah itu, saya selalu membayangkan ayah saya. Suatu malam di 2008 bersama kenalan seorang bapak berusia 50-an tahun, kembali di taman itu, kami berbicara tentang putranya. Pembicaraan itu membuat saya kangen Ayah, walau saya tahu akan pulang beberapa hari lagi. Tempat ini, tempat yang jauh ini, serasa sangat spesial di hati saya, untuk ayah saya.

!http://ranselkecil.com/images/64.jpg (Cable Car di Fisherman’s Wharf, San Francisco)!

Atau mungkin restoran Indonesia di bilangan Gary St. yang membuat kita terlalu bergembira, karena akhirnya menemukan nasi rames seharga 20 dolar. Atau mungkin beliau yang tergila-gila dengan _cable car_ menuju Fisherman’s Wharf. Atau mendengar betapa kesalnya beliau dengan pulau Alcatraz, karena dianggap tak manusiawi dijadikan objek wisata. Atau, ketika kami tak bisa menghabiskan pizza ukuran besar yang ternyata sepadan dengan dua kali pizza ukuran besar di Indonesia. Atau tersasar sampai Oakland, dan mencoba mencari Golden Gate Park dengan kombinasi BART dan Muni sampai dibantu oleh seorang ibu lokal baik hati yang mengajak kami ke rumahnya di sekitar taman sepanjang 40 blok itu!

Masih pada 2005. Sore itu cukup cerah di bandara Narita. Kami berencana menginap dua malam di Tokyo sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Beliau senang sekali bisa kembali ke Tokyo setelah hampir 15 tahun tak ke sana. Karena salah menghitung jarak, kami harus berjalan kaki hampir 2 km mencari hotel kami di bilangan Shinjuku, dari stasiun kereta api terdekat. Padahal waktu itu kami membawa tas geret dan tak tidur selama 10 jam di pesawat. Badan lemas. Suhu cukup panas, gerah. Mata mengantuk. _Lost in translation_. Namun begitu, kami benar-benar mengalami pengalaman yang tak terlupakan. Kami melihat pengemis dengan keranjang dorong. Kami meminta petunjuk pegawai berkemeja yang jalan cepat sekali ingin pulang dari kantor, lalu kesulitan berbicara bahasa Inggris. Kami melihat mesin pachinko. Kami melihat promotor toko yang berteriak keras sekali mengulang perkataan dengan cepat seperti robot, dan dia mengenakan pakaian kimono. Ketika sampai di hotel tujuan, kami dikejutkan dengan betapa mungilnya kamar kami. Dengan ukuran kamar sekitar 4x4m sudah dengan kamar mandi di dalam, dengan dua tempat tidur super hemat tempat. Kami tertawa cekikikan berdua, apalagi melihat toiletnya yang super imut, masih juga dipaksakan dengan bak berendam! Kalau bicara soal toilet, kami lebih geli lagi dengan penampilan toilet Jepang di bandara Narita, yang terlihat seperti persilangan antara toilet duduk dan jongkok. Saya tak pernah melihat beliau tertawa lepas seperti itu.

Oh ya, ayah saya juga tak suka memesan hal yang berkaitan dengan perjalanan melalui Internet, apalagi dengan kartu kredit. Jika bisa, semua harus dilakukan melalui agen dan dibayar _face to face_. Ketika memesan hotel di San Francisco, beliau memesan di agen dan menitipkan saya _voucher_ untuk diperlihatkan di hotelnya. Ketika merencanakan perjalanan ke Eropa, saya masih berusaha untuk meyakinkan beliau bahwa memesan lewat Internet adalah hal yang paling praktis.

Ayah suka perjalanan, seperti saya. Saya ingin sekali mengalami setidaknya sekali lagi perjalanan jauh seperti itu dengan beliau. Terkadang, untuk menjadi dekat, memang butuh lebih kurang 56.000 kilometer.

Ayah dan Hong Kong International Airport

Disunting oleh ARW 25/02/2010.