Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 1)

Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu Special Administrative Region (SAR, sering disebut “Hong Kong SAR”) dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.

Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.

Puncak Hong Kong
Puncak Hong Kong

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Perayaan Hidup Kedua

Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak sampai memekikkan telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi.

Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.

Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat dinetralisir. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Babi yang Dikurbankan
Babi yang dikurbankan

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Kebahagiaan Sederhana di Desa Sawarna

Saya memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam ransel kecil. Ya, saya kembali melakukan perjalanan. Perjalanan impulsif untuk ke-sekian kali. Setelah resmi menjadi kaum urban dan berinteraksi dengan rutinitas pekerjaan, saya tak pernah mau menanggalkan ransel tersimpan tak terpakai.

Jadi, seketika waktu senggang, saya mencari destinasi yang mungkin dikunjungi saat akhir pekan tiba. Tak jauh dari Jakarta, tapi tetap menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar melepas kepenatan.

Sawah menghijau di Desa Sawarna
Sawah menghijau di Desa Sawarna

Setelah mencari-cari destinasi yang cocok di forum pejalan, akhirnya pilihan pun jatuh ke Desa Sawarna, desa kecil di Provinsi Banten. Ada seseorang yang mengajak jalan bersama ke sana dengan harga terjangkau. Saya tentu tak pikir dua kali untuk ikut mendaftar.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Karimunjawa Bagian “Pojokan”

Menjelang senja, ketika akhirnya KMP Muria berlabuh di dermaga Karimunjawa, kami turun. Sebagaimana ratusan penumpang lain yang telah terombang-ambing ombak lautan selama lebih dari setengah hari, badan masih sempoyongan dan terasa pegal. Penumpang kapal ramai bukan main. Akibatnya, saya dan kawan-kawan hanya kebagian tempat duduk di tangga menuju geladak bawah.

Minggu pagi di bulan Juli itu saya dan kawan-kawan berangkat dari Pelabuhan Kartini Jepara sekitar pukul 08:00 dengan armada tambahan. Sebenarnya kami berniat menyeberang sehari sebelumnya. Namun Sabtu pagi itu tiket sudah terjual habis. Kami tidak kebagian dan harus tertahan selama sehari di Jepara. Saat-saat waktu padat, KMP Muria memang sering kelebihan penumpang. Penumpang yang akan menyeberang melebih jumlah tiket yang disediakan. Sebenarnya untung juga, saya jadi mendapat kesempatan untuk bertandang ke Museum Kartini di alun-alun Jepara, selain itu saya juga bisa “cuci mata” melihat gadis-gadis Jepara yang manis sedang lari sore.


Menyelam tanpa perlengkapan (“skindiving“)

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Menonton Konser di Negeri Tetangga

Seperti yang telah kita ketahui, demam Korea saat ini sedang melanda Indonesia. Dimulai sejak beberapa tahun yang lalu dimana drama-drama Korea seperti Winter Sonata dan Fullhouse menjadi tayangan favorit pemirsa Indonesia, lalu disusul dengan begitu populernya boyband dan girlband asal negeri ginseng tersebut di tengah kalangan pelajar dan mahasiswa di negeri ini. Pada akhirnya, “invasi” Korea ini pun menyebar ke sektor-sektor lain, seperti fashion dan bahkan consumer goods.

Saya pun termasuk korban Hallyu atau Korean Wave—sebuah istilah untuk menyebut tersebarnya budaya Korea ini di seluruh penjuru dunia. Dimulai sejak masa kuliah di mana saat itu boyband Super Junior, sebuah boyband beranggotakan 13 personil dengan ketampanan khas Asia, sedang sangat terkenal dengan single “Sorry Sorry” yang memiliki lagu dan dance yang unik. Atas pengaruh seorang teman, akhirnya saya pun jatuh hati kepada boyband yang satu ini hingga akhirnya kecintaan saya ini mengantarkan saya terbang untuk pertamakalinya ke negeri tetangga, Singapura. Lho, memang apa hubungannya? Ya, saya sengaja bela-belain pergi ke negeri Merlion itu untuk menonton konser Super Junior yang bertajuk “Super Show 3”.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Tiga Jam Bernostalgia dengan Queen

Siapa yang tidak kenal kelompok musik rock Queen dengan vokalisnya Freddie Mercury. Menonton “We Will Rock You, the Musical by Queen” sudah masuk daftar wajib saya saat berkesempatan mengunjungi negara Ratu Elizabeth.

Bertempat di Dominion Theatre London, pertunjukan ini dilaksanakan setiap malam pukul 19:30, kecuali Sabtu siang, di mana ada pertunjukan tambahan pukul 14:30. Ternyata, tahun ini sudah memasuki tahun ke-10 pertunjukan dan seluruh bangku selalu hampir terisi penuh di setiap pertunjukannya.

Dominion Theatre, London
Dominion Theatre, London

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Perjalanan Singkat di Richmond, Tasmania

Richmond, kota antik nan cantik yang kami temukan secara tidak sengaja. Berawal dari ketibaan kami di Hobart, ibukota negara bagian Tasmania, Australia, pada pagi menjelang siang di penghujung musim dingin. Untuk mengikuti tur kota sudah terlambat, dan pada musim dingin, tur ini tidak beroperasi setiap hari. Berbekal informasi dari petugas hotel untuk acara perjalanan yang ramah terhadap anak-anak, kami memutuskan naik taksi untuk mengunjungi Richmond, sekitar 30 menit berkendara ke arah timur Hobart. Setelah melewati beberapa perkebunan anggur, akhirnya kota Richmond terlihat di depan mata.

Jembatan Richmond
Jembatan Richmond

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Sepotong Kisah di Daerah Perbatasan

Ini bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan. Tapi yang membuat kabupaten Nunukan menarik adalah letak geografisnya. Nunukan merupakan sebuah pulau kecil yang terpisah dari pulau utama Kalimantan namun masuk dalam provinsi Kalimantan Timur. Untuk menuju ke sana, saya naik pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta sampai Balikpapan. Setelah itu, dilanjutkan dengan Susi Air dari Balikpapan sampai Tarakan, kemudian Tarakan sampai Nunukan—semuanya di hari yang sama.

Desa Sebuku
Kampung di Dekat Pelabuhan

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Praha, Si Tua yang Eksotis

Astronomical Clock
Astronomical Clock

The city is like fairytale“, demikian kata kolega saya yang berasal dari Jerman mengomentari kecantikan ibukota negara tetangganya. Ya, ia berkomentar tentang Praha, ibukota Republik Ceko. Tidak ada lagi istilah Cekoslowakia, mengingat Ceko dan Slowakia telah memisahkan diri menjadi negara merdeka sejak tahun 1993. Benar saja, selama kurang lebih tujuh jam perjalanan bus dari Budapest, Hongaria, tempat saya menimba ilmu, saya disuguhi pemandangan yang agak berbeda. Memasuki ‘gerbang’ Praha, pertama-tama kita akan melihat banyak perusahaan multinasional di kanan dan kiri maupun gedung-gedung bertingkat. Dari kejauhan, menariknya, bangunan Prague Castle yang menjulang dapat terlihat di antara bukit-bukit. Saya semakin tidak sabar dibuatnya.

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan

Satu Hari Atraksi Gratis Istanbul

Untuk ukuran pejalan dari Asia Tenggara, berwisata di Istanbul tidak bisa dikatakan murah. Setibanya di bandara saja kita harus mengeluarkan uang sebesar US$25 untuk Visa on Arrival, membeli koin (disebut “jeton“) tram sekali jalan senilai 2 lira dan setiap ganti/transfer tram harus membeli koin lagi. Biaya penginapan berupa asrama paling murah sekitar US$9/malam, sekali makan untuk makanan sederhana seperti kabab atau falafel dan sebotol air mineral adalah 5 lira. Belum lagi harga tiket masuk museum atau atraksi wisata yang terkenal rata-rata seharga 20 lira atau museum yang kurang popular seharga 10 lira. Hitung semua itu sesuai kurs 1 lira = Rp5.000 (dibulatkan).

Blue Mosque

Untuk yang anggarannya pas-pasan atau ingin berhemat, jangan khawatir. Istanbul menyediakan banyak pilihan atraksi wisata yang tidak dikenakan bayaran. Berikut beberapa atraksi wisata gratis yang bisa dijadikan prioritas, terangkum dalam sehari perjalanan. Jangan lupa ambil peta wisata gratis yang tersedia di bandara atau penginapan!

Baca selengkapnya »

Dimuat di Catatan Perjalanan