Catatan Perjalanan (halaman 1 dari 17)

24 Jam di Guayaquil, Ekuador

Kebanyakan turis berkunjung ke Ekuador untuk melihat ibukota Quito serta Kepulauan Galapagos yang melegenda karena menjadi inspirasi Charles Darwin dalam mencetuskan teori evolusi. Menurut saya, Guayaquil haruslah juga menjadi salah satu destinasi utama bagi para turis yang mengunjungi Ekuador meskipun hanya sehari saja. Dalam perjalanan saya ke Peru baru-baru ini, saya dan teman saya sempat melihat-lihat Guayaquil selama 24 jam sebelum kami kembali dari Peru ke tempat kami tinggal di Pantai Timur Amerika Serikat. Kami terpesona pada cantiknya Guayaquil!

Kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduknya di Ekuador ini sebenarnya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Guayaquil adalah kota metropolitan dengan pelabuhan yang ramai dan aktifitas perdagangan dan jasa yang menggeliat sepanjang siang dan malam. Dalam sejarah negeri-negeri Amerika Latin, Guayaquil terkenal karena menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822, yang mempertemukan dua tokoh besar pro-kemerdekaan Amerika Latin, yakni Jose de San Martin dan Simon Bolivar. Kini, bagi kebanyakan turis, ibukota finansial Ekuador ini berperan sebagai tempat persinggahan bagi turis asing yang hendak berkunjung ke Galapagos. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk tiba di Galapagos dari Bandara Jose Joaquin de Almedo di Guayaquil.

Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000
Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000

Begitu kami tiba di Guayaquil, kami terkesan pada megahnya bandara. Rasanya tidak jauh beda dengan Terminal 3 Bandara Changi di Singapura. Di antara terminal kedatangan dengan foyer tempat penumpang bisa dijemput ada kolam ikan koi yang dikelilingi tanaman-tanaman tropis. Sambil menunggu datangnya shuttle bus dari hotel, saya memutuskan memberi makan ikan-ikan koi yang berseliweran. Pengunjung bandara bisa dengan mudah membeli makanan ikan koi dari vending machine di sebelah kolam. Saya pun memasukkan koin 25 sen/satu quarter berlambang bald eagle Amerika Serikat ke dalam vending machine karena mata uang yang berlaku di Ekuador adalah dolar AS.

Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil
Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil

Dari hotel, kami dijemput oleh ayah teman dekat saya ketika S1 yang kebetulan berasal dari Guayaquil dan kini kembali tinggal di kota kelahirannya setelah lama merantau di New York dan Puerto Rico. Tío Leo langsung mengajak kami bersepeda santai di kawasan cagar alam Pulau Santay. Sebuah jembatan pedestrian dengan panjang sekitar 1 km menghubungkan Guayaquil dengan Santay yang dipisahkan oleh sungai Guayas. Dari jembatan ini kami menikmati pemandangan metropolis Guayaquil yang penuh pencakar langit. Namun, hiruk pikuk kota besar terasa langsung hilang sebegitu sepeda kami memasuki wilayah cagar alam. Dari raised platform tempat kami bersepeda, kami bisa dengan mudah melihat burung-burung berseliweran di antara berbagai jenis bakau dan tanaman tropis lainnya. Pantas saja Tío Leo sering bersepeda ke Santay untuk menghilangkan penat.

Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil
Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil

Sambil bersepeda ke kampung nelayan di Santay untuk makan siang dan melihat penangkaran buaya, Tío Leo banyak bercerita tentang optimismenya akan masa depan Ekuador. Ia adalah pendukung berat Presiden Rafael Correa yang saat ini tengah menjabat. Menurutnya, Presiden Correa memberikan angin perubahan dan rasa percaya diri sebagaimana Presiden Obama, Modi, dan Jokowi membawa negara masing-masing ke era baru yang terlihat lebih menjanjikan. Kata Tío Leo, Presiden Correa yang ekonom dan lulusan Amerika Serikat tetapi berasal dari keluarga kelas pekerja Guayaquil ini berani mengajukan tuntutan penghapusan utang rezim lama ke pengadilan internasional dan berhasil mengurangi secara drastis jumlah utang Ekuador, selain juga berhasil mengurangi angka kemiskinan dan memberikan akses yang luas ke pendidikan dan layanan kesehatan bagi rakyat Ekuador. Bahkan, wajah cagar alam Santay yang tampak rindang dan desa nelayan Santay yang bersih dengan fasilitas memadai tidak lepas dari peran sang presiden. Cagar alam tersebut baru saja diresmikan Correa pertengahan tahun 2014 lalu.

Sekembalinya kami dari Santay, kami langsung naik Metroquil, sistem bus rapid transit Quayaquil yang tidak jauh beda dengan TransJakarta busway di ibukota, menuju ke bulevar Malecon 2000. Dengan panjang sekitar 2,5 km, boardwalk lebar di samping sungai Guayas ini adalah tempat rekreasi utama warga Quayaquil dan sekitarnya. Beruntung kami ada di sana pada Sabtu sore, karena ada dua konser musik gratis di atas boardwalk menghibur jalan-jalan sore kami menyusuri Malecon 2000. Di sisi kiri kami berjajar gedung-gedung tua bernuansa art deco dan moorish yang terawat dengan baik sedangkan angin sepoi-sepot berhembus dari sungai di sisi sebelah kanan. Sisi selatan Malecon 2000 tempat kami memulai jalan-jalan sore didominasi tempat perbelanjaan bawah tanah serta bermacam-macam pujasera yang menawarkan makanan khas Ekuador maupun makanan cepat saji internasional. Di sepanjang boardwalk berjajar patung-patung tokoh historis asal Guayaquil, termasuk monumen yang memperingati berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822. Di sana sini terdapat area rekreasi dan olahraga yang bisa dinikmati secara gratis oleh penduduk Guayaqil. Mendekati akhir boardwalk di bagian utara, kami mendapati beberapa museum, pusat kebudayaan, serta bioskop IMAX. Tak jauh dari pusat kebudayaan tersebut ada taman kota rindang dengan kolam air mancur tua yang amat cantik. Kalau tidak ingat bahwa ada banyak tempat menarik lain yang harus dikunjungi, rasanya saya ingin menghabiskan sore membaca buku di tempat yang sedemikian teduh. Ah, andai saja kota saya Jakarta punya banyak taman kota indah seperti ini.

Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822
Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822

Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador
Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador

Dari ujung utara Malecon 2000, Tío Leo mengajak kami naik ke puncak bukit atau cerro Santa Ana. Di bukit inilah, yang sering juga disebut Las Penas, pemukiman pertama di Guayaquil berdiri. Karena itulah, di puncak bukit terdapat reruntuhan benteng lengkap dengan meriam-meriamnya. Di bagian paling atas bukit ada kapel kecil dan mercusuar yang hingga kini masih berfungsi. Untuk sampai ke puncak bukit, kami perlu mendaki ratusan anak tangga yang dikelilingi rumah-rumah kuno beraneka warna yang kebanyakan kini telah beralih fungsi menjadi restoran, galeri, dan toko suvenir. Arsitektur Hispaniknya mengingatkan saya pada rumah-rumah kuno di kawasan kota tua Intramuros di Manila. Dari bawah bukit, cerro Santa Ana terlihat seperti favela di Rio de Janeiro dan Gamcheon art village di Busan yang dicat warna-warni, sedangkan dari puncak mercusuar, kami menikmati pemandangan kota Guayaquil diiringi temaram matahari yang mulai tenggelam. Rumah-rumah aneka warna di punggung bukit berkilau terang terkena sinar mentari sore. Indah sekali. Kata Tío Leo, satu dekade lalu Las Penas/Cerro Santa Ana adalah daerah kumuh. Pemerintah Guayaquil bersama dengan warga lokal lantas merevitalisasi kawasan kuno ini. Hasilnya jelas tidak mengecewakan. Kalau waktu Anda di Guayaquil terbatas, daerah ini layak menjadi persinggahan utama.

Suasana senja di atas puncak Cerros Santa Ana; gambar diambil dari puncak mercusuar

Kami lantas berjalan kaki menuju Katedral Metropolitan Guayaquil yang dibangun dengan gaya neo-Gothik. Di depan Katedral ini terdapat sebuah plaza dan taman dengan nama Parque Seminario, tetapi lebih banyak dikenal dengan sebutan Parque de las Iguanas. Disebut begitu karena memang taman ini dihuni banyak sekali iguana. Kami menemukan iguana bergelantungan di pohon, tidur-tiduran di pinggir kolam ikan dan berkeliaran di sekitar pagar. Meskipun malam sudah tiba, taman ini terang oleh lampu-lampu besar. Di tengah taman berdiri patung perunggu Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan negeri-negeri Amerika latin yang namanya kini diabadikan juga sebagai nama negara Bolivia. Di sekeliling patung terdapat banyak tempat duduk yang ramai oleh keluarga dan pasangan. Beberapa dari mereka mencoba memberi makan dan bermain dengan para iguana yang memang sudah menjadikan taman ini habitatnya. Berlama-lama guna bercengkerama dengan iguana-iguana jinak di taman ini boleh-boleh saja, asal jangan kaget kalau tiba-tiba ada “bom” kotoran iguana atau burung yang jatuh ke badan Anda dari pepohonan tempat para hewan bermukim.

Malam sudah penuh menyelimuti Guayaquil ketika kami memutuskan menyudahi jalan-jalan kami. Tío Leo lantas membawa kami ke restoran khas Ekuador tak jauh dari Parque de las Iguanas. Karena Guayaquil terletak dekat laut, pilihan saya jatuh pada “chupe de corvine y camarones” yakni sup ikan dan udang khas Guayaquil yang bertaburan irisan bawang dan kentang. Hmm, segar dan yummy! Apalagi bila ditambah dengan sedikit aji atau saus sambal. Tentu kami tak lupa mengudap penganan nasional Guayaquil yaitu pisang goreng. Sambil makan, Tío Leo bercerita banyak tentang dinamika perubahan yang tengah terjadi di Ekuador, di mana beberapa tahun terakhir di bawah Presiden Correa korupsi mulai berkurang dan birokrasi menjadi lebih efisien. Memang Ekuador masih harus banyak belajar memperbaiki kekurangan di sana-sini, tapi perubahan itu sudah bisa dilihat. Misalnya saja, dulu Guayaquil adalah kota yang terkenal dengan tingkat kriminalitas tinggi. Banyak sekali terjadi perampokan dan pembunuhan yang menjadikan penumpang dan terkadang juga supir taksi sebagai korban. Kini semua taksi yang beroperasi di Guayaquil dilengkapi dengan tombol darurat di sebelah tempat duduk penumpang. Begitu ada kemungkinan kejadian mengkhawatirkan di dalam ataupun di luar taksi, sang penumpang dapat menekan tombol tersebut dan mobil polisi terdekat akan segera tiba. Setelah sistem tersebut mulai diimplementasikan, angka kriminalitas Guayaquil mulai menurun.

Setelah puas mengobrol, Tío Leo mengantar kami kembali ke tempat kami menginap yang terletak tak jauh di bandara dan berseberangan dengan mal terbesar di Guayaquil, Mall de Sol. Waktu istirahat telah tiba setelah seharian menjelajahi Guayaquil. Kami pun harus terbang kembali ke New York keesokan harinya. Sebelum tidur saya mengirimkan pesan WhatsApp ke Melina, teman kuliah S1 saya yang merupakan putri Tío Leo dan kini bermukim di Puerto Rico setelah sebelumnya sempat tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya: “Guayaquil is a great city; I wish Jakarta had something like Malecon 2000 and its beautiful gardens.” Tak berapa lama Melina menjawab: “Jakarta has so much potential and sooo much it can showcase; it just needs the government to see how important it is to invest on it.” Benar, true that, Melina!

Dari Tele, Memandang Toba

Semburat fajar di Danau Toba
Semburat fajar di Danau Toba

Berawal dari kesuntukan sehabis berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, teman saya Rakhmat Alfian mengusulkan ide luar biasa: melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan. Dibisikkan dari kelas-kelas, akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

Tomok
Tomok

Toba, dari Tele
Toba, dari Tele

***

Saya beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Di atas feri, angin danau berembus sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang, terpampang perbukitan hijau yang mengelilingi danau Toba. Di lain sisi tampak rumah-rumah bolon—rumah adat Samosir—dan nyiur-nyiur dan kapal-kapal yang tengah bersandar—semua panorama yang disaput awan tipis. Indah sekali. Semakin indah karena kami juga ditemani seniman cilik yang mendendangkan lagunya.

Perjalanan tak lama karena segera saja kami sampai di Tomok. Tomok adalah tempat singgah pertama dan utama feri-feri yang menuju Samosir. Di Tomok, suasana riuh oleh para penjual yang menggelar lapak dan para pembeli yang berdesak-desakan mencari makanan, barang kerajinan, dan tetek bengek lain yang khas Toba-Samosir. Tomok sejatinya pasar akbar di tepi danau.

Cukup lama kami berbelanja di Tomok hingga datanglah kawan-kawan kami yang membawa mobil. Sebelum bertolak dari Tomok, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar yang wingit dan mengambil banyak sekali foto. Foto-foto, buat kami, merupakan tautan yang menghubungkan kita dengan generasi mendatang: semacam sistem pengendalian intern supaya di masa depan anak-cucu kita masih bisa melihat apa yang seharusnya (masih) ada di masa mereka.

Segera mencebur
Segera mencebur

Siang cukup terik dan kami berada dalam perjalanan menuju Tuktuk, desa penginapan populer para turis. Populer karena di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus yang menawarkan pemandangan langsung danau Toba dari tepian.

Lantaran perut mulai keroncongan, kami memutuskan mencari rumah makan. Bukan sembarang rumah makan, melainkan rumah makan yang khusus menghidangkan makanan halal. Memang agak sukar menemukan penjual makanan halal di pulau yang juga merupakan kabupaten ini. Harus benar-benar selektif dan mensyaratkan penjual tak menawarkan sama sekali makanan non-halal di buku menunya.

Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah pertigaan dengan gapura besar bermotif ukiran Batak Toba. Di sana terdapat padang rumput hijau yang luas nian. Naluri narsistik kami segera terbit. Jadilah padang rumput itu menjadi tempat mejeng yang hiruk piruk di siang bolong. Momen-momen nan bersejarah itu lekas dipotret oleh Muhammad Reza Budiman.

***

Sesampainya di Tuktuk, berkat diplomasi Yobin, kami mendapat penginapan murah yang cukup nyaman dan—yang paling penting—memungkinkan kami untuk menikmati danau Toba teramat dekat. Tanpa banyak cakap, saya dan beberapa teman segera berganti pakaian dan mencebur ke danau.

Brrr. Segarnya air danau menguliti rasa capai setelah semalaman lebih berkendara. Betah rasanya berlama-lama berendam di danau Toba. Selain jernih, air tak berombak dan tak berasa asin sehingga seolah seperti berenang di kolam renang raksasa.

Sehabis berenang, tidur menjadi langkah selanjutnya buat merontokkan penat. Dalam urusan renang—dan tampaknya semua cabang olahraga lain—jangan pernah sekalipun melawan Muhammad Taufik Taqdir, yang biasa dipanggil Opik. Ketika semua puas berenang—yang tadinya capai menjadi segar lalu capai kembali—Opik masih asyik berakrobat di danau. Angin mulai berembus kencang dan hujan jatuh rintik-rintik tanda akan datang badai, tapi si Opik masih saja berenang.

Bangun dari tidur, ternyata beberapa teman telah pulang mendahului kami. Idah Rosida, Retisa Heryati Siwi, dan Agmalun Hasugian mesti kembali ke Medan dan tak mungkin menginap lantaran suatu agenda. Jadilah Anggina Rizki Harahap dan Izzah Annisa saja kaum perempuan yang tersisa bersama kami.

Usai sembahyang Isya, kami menuju tempat makan yang unik karena pemiliknya penyuka reptil. Sembari menyantap hidangan, kami dan reptil saling memandang tentang siapa dari kami yang harus memperkenalkan diri duluan.

Sekembalinya ke penginapan, ternyata acara tak lantas selesai (“Malam Minggu pulak!” kata anak Medan). Acara selanjutnya, bakar-bakaran ikan! Tentu bukan membakar ikan belaka yang jadi pokok acara. Bakar-bakaran jadi asyik dan semarak sebab ditingkahi dengan obrolan tak berkesudahan yang dilengkapi dengan olok-olok menyenangkan. Judulnya bakar-bakaran ikan, tapi isinya rupa-rupa upaya buat memunculkan keakraban dan mempererat persahabatan.

***

Keesokan paginya kami bersiap meninggalkan penginapan dan, tentu saja, Tuktuk. Tujuan kami selanjutnya adalah Tele, puncak tertinggi di Samosir. Di Tele terdapat menara pandang yang konon mampu menyajikan lanskap danau Toba secara lengkap dan utuh.

Melewati persawahan, pohon-pohon, bukit-bukit, para bule yang bersepeda, dan kuburan-kuburan Batak yang dibangun teramat megah, pulau Samosir tak kalah dengan pulau Bali—paling tidak menurut saya. Keduanya dipersamakan oleh kebudayaan dan religi yang kuat, namun sayang diperbedakan oleh dukungan finansial yang ibarat bumi dengan langit.

Penginapan bergaya rumah Bolon
Penginapan bergaya rumah Bolon

Patung-patung di makam Raja Sidabutar
Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

Di Tele, ketika teman-teman lain seperti Syaeful Amri, Alfauzi Saiful Anwar, Adib Fathoni, dan Septano Guna Aji berfoto-foto mesra, saya merasa bahwa saya pasti, harus, dan akan mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi suatu hari nanti, dengan perasaan yang tak kalah mesra dibanding foto-foto mereka semua.

Menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Resorts World Sentosa, Singapura

Semalam saya berkesempatan menghadiri Halloween Horror Nights 4 di Universal Studios, Singapura. Apa yang terjadi kemarin setelah matahari terbenam? “Demoncracy” merajalela, mengambil-alih Universal Studios dipimpin oleh Minister of Evil.

Empat scare zones dan empat haunted houses yang diset sukses membuat kami merinding disko semalaman.

Jack's Nightmare Circus
Jack’s Nightmare Circus.

Jack's 3-Dementia
Jack’s 3-Dementia.

Acara dimulai dengan Jack’s Nightmare Circus, tentu saja bintang dari pertunjukannya adalah Jack si badut jahat. Sirkus ini menampilkan banyak performers yang ternyata didatangkan dari luar Singapura, tapi, ya, ujung-ujungnya dibunuhin semua sama si Jack (oops, spoiler?).

Selesai sirkus, kami beranjak menelusuri scare zones dan haunted houses.

Haunted houses yang disiapkan ada empat buah, Jack’s 3-Dementia yang keren banget memakai efek 3D untuk menipu color coordination dan depth of field kita. Jing’s Revenge yang berlatar di sebuah sekolah dan sukses membuat orang-orang terbirit-birit karena hantu klasik sekolahnya sangat mengagetkan. Mati Camp yang sangat bising, tempat Minister of Evil mendidik tentara-tentaranya dengan cara yang sangat kejam. Haunted house terakhir adalah Laboratory of Alien Breeding, ini personally bikin saya sangat merinding karena ada banyak humanoid reptil dengan sisik yang banyak pula.

The Lab
The Lab.

The Scary Tales
The Scary Tales.

Di antara empat haunted houses ini terdapat empat scare zone. Bedanya dengan haunted house, scare zone ini tempatnya terbuka. Di siang hari dia seperti setup horor biasa di Universal Studios, tapi di malam hari jadi ada “penunggunya”.

Masing-masing scare zone mengusung tema berbeda, mulai dari kota New York yang disatroni setan (Demoncracy), zombie koboi dan Indian (Canyon of The Cursed), gang yang isinya hantu semasa kecil (Bogeyman) sampai ke zona favorit saya: The Scary Tales. The Scary Tales ini sendiri merupakan zona di mana para putri yang berasal dari dongeng-dongeng berubah menjadi versi horornya. Di sini saya berkesempatan melihat Rapunzel “botak tapi gondrong” dan Red Riding Hood yang bawa kapak berdarah ke mana-mana. Benar-benar kebalikan dari dongeng-dongeng yang biasa saya dengar.

Demoncracy
Demoncracy.

Akhir kata, beberapa jam yang saya habiskan di sana sangat menakutkan namun menghibur. Terima kasih Resorts World Sentosa atas undangannya, besok-besok lagi, ya!

Terpana Pesona Air Terjun Dua Warna

Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.
Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.

Pelesir itu, buat Agmalun Hasugian, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Pelesir-pelesir yang bikin suntuk semacam itu, menurut Agmal, justru digemari masyarakat urban dewasa ini. Berkaraoke, belanja di mal, menonton film di bioskop, atau menyantap makanan di restoran-restoran mahal menjadi budaya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tak terkecuali Medan, yang bagi Agmal adalah hiburan-hiburan kelas rendah yang konsumtif.

Maka, ketika pada suatu siang sehabis sembahyang Jumat Agmal mengajak teman-temannya, termasuk saya, untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dia maksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: air terjun dua warna.

***

Pos penjaga hutan (ranger).
Pos penjaga hutan (ranger).

Air terjun dua warna dapat ditempuh dengan menyewa angkutan kota (angkot) yang jamak ditemui di Medan. Kota Medan, saya rasa, memiliki sistem perangkotan (maafkan kalau afiksasi saya terdengar janggal di telinga) yang baik. Angkot ditempeli nomor yang menunjukkan trayeknya. Jika anda hendak ke Merdeka Walk, misalnya, anda mesti naik angkot bernomor 103—dan sampailah anda di sana.

Jangan kaget ketika sopir menyetir ugal-ugalan. Sopir angkot di Medan memang merasa punya sembilan nyawa. Melesat di lajur kanan, sang sopir bisa saja tiba-tiba banting setir ke kiri ketika melihat calon penumpang melambaikan tangan atau tatkala seseorang bilang, “Minggir, Bang.” Pegangan pun harus kuat karena si sopir bisa mengerem dan mengegas angkot secara mendadak. Walaupun begitu, keselamatan penumpang agaknya masih menjadi perhatian. Saat menaikkan penumpang, angkot belum akan jalan kalau penumpang tersebut belum duduk nyaman di jok yang tersedia.

Di atas Sutra.
Di atas Sutra.

Bersama angkot Medan sewaan, kami menuju objek wisata air terjun dua warna yang terletak di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Perjalanan ditempuh selama lebih-kurang dua jam, melalui Jalan Jamin Ginting yang panjangnya bukan main: terentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Deli Serdang.

Menuju air terjun dua warna, kami mesti melewati kawasan Perkemahan Pramuka Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. Bumi perkemahan yang pada 1972 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah berjalan kaki selama beberapa menit, sampailah kami di pos penjaga hutan (ranger) yang bakal memandu kami.

Kenapa mesti dipandu? Soalnya, buat mencapai air terjun kami mesti menerobos lebatnya pepohonan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang termasuk dalam wilayah lereng Gunung Sibayak (2.212 m), salah satu gunung berapi aktif (stratovolcano) di Sumatera Utara. Tanpa pemandu, perjalanan akan menemui banyak masalah. Hutan yang lebat sangat mudah membuat orang tersesat. Kendati telah ada jalan setapak, hanya penjaga hutanlah yang mengerti jalan setapak mana yang mengarah ke tujuan. Ngarai-ngarai yang curam juga mesti diwaspadai karena kerap dijumpai di rute yang dilalui.
Beserta rombongan lain dan seorang pemandu yang merokok terus sepanjang waktu, kami berjalan kaki menikmati rimbunnya hutan dan segarnya napas alam. Sehabis dua jam berjalan—melewati jalanan berlumpur, mendaki batu-batu besar seukuran kerbau, menyeberang kali—dan diselingi mengaso berkali-kali, sampailah kami di lokasi.

Seperti namanya, terdapat dua macam air terjun yang mengadang kami. Air terjun pertama setinggi sekira 50 meter dan mengalirkan air berwarna hijau/biru. Sementara air terjun yang lain setinggi kira-kira 20 meter dan mengucurkan air jernih layaknya air terjun pada umumnya. Keduanya membentuk telaga yang berwarna hijau/biru dan putih keabu-abuan di mana pengunjung dapat berenang di sana. Telaga berwarna hijau/biru bersuhu sangat dingin, sedangkan telaga berwarna putih keabu-abuan bersuhu hangat.

Konon, sejauh ini belum diketahui siapa yang kali pertama menemukan air terjun itu. Informasi singkat menjelaskan bahwa seseorang bernama Imanuel Sinuraya-lah yang pada 2004 mengetahui keberadaan air terjun ini secara tak sengaja. Di samping itu, belum ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan penyebab perbedaan warna dan suhu air terjun itu. Keterbatasan informasi dan belum adanya fasilitas yang memadai membuat keberadaan air terjun dua warna menerbitkan rasa penasaran banyak orang, terutama mereka yang berjiwa petualang.

Ketika sampai di sana, sudah banyak pengunjung yang mandi, berenang, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Sebagian lain menikmati seduhan mi instan yang dijual pedagang dadakan yang mangkal di lokasi tersebut. Tak sedikit pula yang mengisi botol-botol minum mereka dengan air yang mengucur dari titik-titik mata air di dinding lembah.

***

Puas mandi dan berenang, bersama rombongan dan pemandu kami meninggalkan air terjun dua warna. Menempuh rute dan waktu yang sama saat keberangkatan, sampailah kami di pos penjaga hutan kembali. Capai, penat, dan berkeringat tentu, tapi kami sangat menikmati pelesir ini.

Berjingkat di batu-batu.
Berjingkat di batu-batu.

Kami pulang ke tempat tinggal kami di Padang Bulan, Medan, dengan menaiki Sutra. Sutra adalah angkutan antarkota/kabupaten berwujud bus tanggung yang, antara lain, menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kota Medan. Sutra sejatinya cuma merek usaha angkutan. Ada juga merek lain seperti Borneo, Dairi, Sinabung, dan seterusnya, yang sesungguhnya wujudnya, ya, itu-itu juga.

Menaiki Sutra ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Sebab, tidak seperti angkutan lain, oleh kernet kami tidak dipersilakan masuk, tapi disuruh memanjat ke atap. Lho? Ya, di atap bus kami menikmati perjalanan pulang yang sungguh mengasyikkan.

Meniti tali melewati ngarai.
Meniti tali melewati ngarai.

Sembari berpegangan pada pegangan besi di atap bus, embusan angin menerpa muka kami. Pohon-pohon di tepi jalan melambaikan daun mereka melihat kami melintas. Para ‘penunggang atap bus’ lain yang berpapasan dengan kami menyapa kami dengan teriakan mereka. Sesekali sopir melajukan bus dengan kencang, dan itu memacu adrenalin kami.

Wisata alam sampai kapan pun menawarkan pesona yang nilainya tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Yang memesona bukan semata destinasinya, melainkan bagaimana kita mencapai destinasi itu. Lebih daripada apa pun adalah kesadaran kita untuk terus menjaga hutan, pohon-pohon, batu-batu, tanah berlumpur, ngarai, lembah, mata air, telaga, dan air terjun agar semuanya itu bisa dinikmati pula oleh generasi sesudah kita.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

Dari Bawah Laut Hingga Atas Bukit Pulau Kanawa

Bar saat senja
Bar saat senja

Perahu saya berlabuh setelah perjalanan dua hari satu malam mengelilingi Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, di sebuah pulau kecil yang sudah disulap menjadi resort sederhana dengan pemandangan yang luar biasa bernama Pulau Kanawa. Menginjakkan kaki di Pulau Kanawa sekitar jam dua siang, tubuh terasa tidak sabar untuk segera melihat apa yang tersembunyi di perairan sekitar pulau ini.

Bawah laut Pulau Kanawa begitu memanjakan mata saya. Kegiatan snorkeling saya mulai dari dermaga yang berada di utara pulau lalu berlanjut menuju ke arah barat. Berbagai koral dan ikan yang beraneka warna menemani sepanjang kepakan kaki di permukaan laut. Petualangan bawah laut ini berawal dari sambutan rombongan ikan menuju laut lepas, ikan nemo yang malu-malu bersembunyi dibalik koral, dan berakhir dengan bertemunya saya dengan penyu yang berenang santai, tenang, dan bebas. Hingga tak terasa saya sudah berenang cukup jauh hingga ke bagian barat pulau ini.

Pesisir pantai Pulau Kanawa
Pesisir pantai Pulau Kanawa

Restoran outdoor
Restoran outdoor

Setelah lelah snorkeling dan badan yang kering dengan sendirinya, saya menghabiskan sore dengan membaca buku di hammock yang berada di samping dermaga. Di pantai sebelah utara pulau ini dengan mudahnya terlihat bayi ikan hiu yang berenang di pinggir pantai menemani pengunjung yang menghabiskan waktu tidur sore di pantai yang sepi ditemani angin semilir yang menjemput tenggelamnya matahari.

Malam hari dihabiskan dengan makan malam di restoran yang ada di pulau dengan tiga bagian restoran yaitu dalam ruangan, luar ruangan yang ditemui dengan pohon rindang berbalut lampu temaram, dan bar kecil di luar ruangan dengan musik mengalun. Pilihan menu terdiri dari berbagai pasta yang memang bukan makanan lokal namun apa boleh buat hanya ini satu-satunya tempat bersantap di pulau kecil ini. Listrik pulau ini padam pada pukul 11 malam, setelah makan malam saya berjalan santai menuju pantai hanya untuk merebahkan badan ke pasir dan mata saya tak berhenti menatap gugusan bintang terbaik yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Dermaga
Dermaga

Fasilitas Bale'
Fasilitas Bale’

Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit

Waktu menunjukkan jam empat pagi, saya terbangun dan pergi ke arah selatan pulau untuk melihat matahari terbit dari puncak bukit. Dengan penerangan senter, saya mendaki bukit yang cukup dengan waktu lima belas menit untuk mencapai ke puncak. Setelah sampai puncak, lambat laun sang surya menampakkan dirinya menerangi seluruh kecantikan pulau ini. Pemandangan dari atas bukit ke arah pantai dan laut dapat terlihat gradasi putih pantai dengan biru laut yang begitu menawan.

Sayang sekali saya hanya menghabiskan satu malam di Pulau Kanawa yang indah ini. Setelah sarapan pagi kapal menuju Labuan Bajo telah berlabuh dan siap mengantarkan saya serta pengunjung lain pulang. Satu malam di Pulau Kanawa seperti mimpi bagi saya, keindahan dari atas bukit hingga bawah laut tidak tercela.