Artikel-artikel dari kategori Catatan Perjalanan (halaman ke-1 dari 30)

Pengalaman Pertama Mudik Bersama Bayi

Mudik tahun ini ke Semarang, Karanggede dan Solo adalah pengalaman pertama keluarga kami mudik sejak Janis lahir tahun lalu. Lebaran tahun lalu, kami tidak mudik, karena Janis masih berusia empat bulan. Kami sempat pulang ke Semarang dan Solo untuk mengunjungi eyang-eyang pada Desember 2015, tapi ketika itu jalanan tidak begitu ramai.

Perjalanan di hari yang cerah
Perjalanan Jakarta-Semarang dengan Garuda Indonesia cukup aman dan damai pada lebaran hari kedua.

Lain cerita pada tahun 2016, kami berniat mudik walau hanya empat hari. Rencananya, kami berangkat pada lebaran hari ke-2, setelah berlebaran hari pertama di Jakarta. Setelah menikah, memang kami harus pintar-pintar membagi waktu dan “jatah” antara keluarga saya dan istri, hingga tidak ada yang merasa ketinggalan. Memang, eyang, bude, pakde, om dan tante semua mengerti jika kami tidak pulang, tapi akhirnya kami kasihan juga dan kebetulan ada waktu.

Rute kami sederhana. Terbang dari Jakarta ke Semarang, lalu menyetir dari Semarang ke Solo melalui Karanggede, sebuah desa di dekat Boyolali, lalu menginap di Solo semalam sebelum menyetir kembali ke Semarang dan terbang pulang ke Jakarta pada hari ke-empat. Kenapa kami tidak pulang dari Solo saja? Karena mobil harus kami kembalikan ke Semarang. Orang tua Lintang berdomisili di Semarang dan cara paling baik menurut kami adalah dengan mengambil dan menggunakan mobil di rumah Semarang lalu kembali ke kota yang sama. Pulangnya pun terbang dari Semarang ke Jakarta.

Terbang kali ini barangkali menjadi pengalaman terbang Janis ke-10 atau ke-11 kalinya, sehingga kami tidak terlalu khawatir. Walau demikian, kami tetap bersiap mental dan fisik. Siapa tahu Janis bisa lebih rewel dari sebelumnya, apalagi mengingat jam perjalanan kami cukup siang dan melewati jam tidur paginya, pukul sembilan.

Janis tertidur pulas di udara setelah menangis ketika lepas landas
Janis tertidur pulas di udara, setelah menangis ketika lepas landas.

Bersiap terbang bersama eyang-kung
Bersiap terbang bersama eyang-kung.

Benar saja, Janis menangis ketika pesawat akan lepas landas, cukup keras. Kami cukup terbantu karena ada eyangnya yang membantu menenangkan. Sepertinya suhu pesawat yang cukup hangat membuatnya rewel. Ketika pesawat sudah berada di udara, pendingin udara berfungsi baik, Janis tertidur pulas sampai mendarat di Semarang. Pada hari kedua lebaran 2016, bandara Soekarno-Hatta dan pesawat (kami naik Garuda Indonesia) cukup ramai tapi tidak padat. Kondisi cuaca juga baik sehingga tidak terjadi guncangan yang berarti.

Bandara Ahmad Yani, di sisi lain, sangat padat dengan pemudik. Kami tadinya mencoba menyewa mobil di Golden Bird, tetapi ternyata armadanya habis. Akhirnya, kami naik taksi resmi bandara, dan ternyata cukup murah: Rp90.000 saja, tarif flat sampai tujuan kami di Banyumanik. Belum termasuk tol.

Perjalanan dari bandara Ahmad Yani ke Banyumanik memakan waktu 30-45 menit. Banyumanik adalah sebuah kecamatan di selatan Semarang yang berbatasan dengan kota Ungaran. Kebetulan dinas eyang-kung Janis di sini, dan rumah dinasnya ada di Banyumanik.

Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang
Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang.

Kenyangkan diri sebelum berangkat
Makan dulu sebelum terbang ya!

Kami makan siang sebentar sebelum mulai berangkat melalui darat dengan menyetir mobil dari Semarang ke Solo, melalui Karanggede. Mengingat perjalanan ini akan melewati beberapa titik macet, kami menyiapkan beberapa hal berikut untuk Janis dan kami semua, seperti popok, mainan bayi, air minum yang cukup (terutama air mineral), ganti baju, serta uang tunai tentunya.

Macet di Suruh terbayar dengan pemandangan seperti ini
Macet terbayar dengan pemandangan seperti ini, apalagi ketika senja.

Sejauh ini, perjalanan mudik kami menyenangkan, walau ada beberapa titik kemacetan yang tidak kami duga (antara Salatiga dan Karanggede, di desa Suruh), sehingga Janis kelelahan luar biasa. Namun, setelah tidur semalam, mood kami semua kembali seperti semula.

Setelah mengalami mudik pertama dengan bayi ini, kami simpulkan beberapa hal. Yang pertama, jika ada rezekinya, naiklah pesawat ke titik terdekat dari kampung halaman. Menabunglah hingga cukup. Ini akan membantu menjaga mood dan kesehatan fisik semua orang. Yang kedua, jika membawa bayi, bawa persediaan makan, minum dan sandang yang cukup, terutama untuk bayi. Jika ada rezeki lebih, sewalah mobil pribadi sehingga bisa bebas berhenti di mana saja. Yang ketiga, menginaplah di beberapa titik, sehingga energi tidak terforsir. Selain itu, sebisa mungkin bayi kenyang sebelum perjalanan sehingga bisa menghemat banyak waktu dan tenaga.

Memang, mudik jadi semacam perjuangan dan kewajiban, dan banyak orang rela berkorban bersusah-payah di perjalanan demi sampai di tujuan. Tetapi, mari kita bersusah-payah di hari lain untuk menabung lebih banyak sehingga ketika mudik tiba, kita bisa merasa lebih nyaman.

Wajah bahagia bisa mudik
Wajah bahagia bisa mudik.


Tentang Rumah Mungil di Pantai Brighton

Begitu tahu kami akan ke Melbourne, istri saya, Lintang, langsung berkata, “Di Melbourne bukannya ada pantai yang ada rumah-rumah berwarna-warni itu, ya?”

Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton
Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton.

Saya sekilas teringat, sepertinya, ya, ada! Setelah mencarinya di Google, ternyata memang ada, dan letaknya di Brighton Beach, di sebelah selatan pusat kota Melbourne. St. Kilda, tujuan pantai dan dermaga populer itu, berbatasan langsung dengan Brighton, kota di sebelah selatannya. Pantai Brighton ada di pesisir barat kota Brighton.

Seagull?
Sekumpulan burung camar barangkali mencari makanan.

Kami berencana pergi ke sana setelah perjalanan ke Phillip Island dibatalkan karena alasan kenyamanan Janis. Menurut Google Maps, jika dari East Melbourne, kami harus menyetir sekitar 25-30 menit dan menempuh jarak sekitar 13-14 km ke arah selatan.

Kami pun bertanya-tanya, sebenarnya rumah-rumah kecil berwarna-warni di pinggir pantai ini apa dan buat apa ya? Ternyata, setelah diselidiki, mereka punya sejarah panjang. Pada abad ke-18, mereka digunakan sebagai tempat ganti baju untuk wanita yang sedang rekreasi di pantai Brighton. Sejak saat itu, fungsinya tetap sama. Hari ini, ia dikelola pemerintah, ada yang dimiliki pribadi, dan ada sebagian yang dijual lagi oleh pemiliknya. Harganya hari ini bisa mencapai Rp2,5 milyar, namun tak ada listrik dan air, dan tidak bisa diinapi semalaman atas alasan keamanan dan kenyamanan pengguna pantai. Jadi, siapapun yang menjadi pemiliknya harus menggunakannya sebagai sarana rekreasi pantai pada saat pantai buka saja. Setelah itu, pack up and leave.

Ada aturan juga tentang pengecetan dan modifikasi. Rumah-rumah kecil ini tidak boleh dicat dengan menampilkan merek atau usaha tertentu, tidak boleh dipakai beriklan, dan tidak boleh dimodifikasi melebihi ruang yang disediakan. Selain itu, tidak boleh digunakan sebagai tempat usaha, misalnya dijadikan warung kelontong, tempat nasi pecel, apalagi usaha fotokopi.

Keramaian di Pantai Brighton

Keramaian di Pantai Brighton
Keramaian di Pantai Brighton.

Terkesan eksklusif dan restriktif, tapi mungkin saya bisa paham tujuannya: untuk melindungi pantai ini dan melestarikan sejarah rumah-rumah kecil ini.

Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai
Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai.

Kami suka daerah Brighton. Saat itu sudah musim gugur, angin sejuk cukup kencang tapi tidak terik dan berkeringat. Kami berjalan agak jauh menyisir pantai dari mulai dari The Baths at Middle Brighton, sebuah restoran dan klub olahraga—dengan ruang parkir mobil yang agak luas—menuju ke selatan.

Melihat ke pusat kota Melbourne
Jika melihat ke utara, anda dapat melihat pusat kota Melbourne dari kejauhan.

Perjalanan diakhiri dengan membeli fish and chips di “warung” terdekat dan memarkir mobil tempat di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin senja.

Carol, Janis dan Lintang menikmati senja dan fish and chips
Carol, Janis dan Lintang di dalam mobil.

Pantai Brighton menjelang senja
Pantai Brighton menjelang senja.

Kami akan kembali, Brighton.


Bertemu Fauna Asli Australia di Healesville

Jika berkunjung ke Australia, hewan-hewan pertama yang terpikir hanyalah kangguru dan koala. Mungkin Tasmanian Devil, karena ia teman Bugs Bunny dan Daffy Duck yang terkenal itu. Siapa yang terpikir bertemu echidna, wombat, wallaby atau platypus? Bahkan tak ada nama Indonesia-nya!

Hewan-hewan inilah yang kami lihat dalam perjalanan kami ke Healesville Sanctuary, tempat perlindungan hewan khas Australia, yang jaraknya sekitar 65.1km dari Melbourne dan rata-rata memakan waktu 1 jam 15 menit menggunakan mobil sewa. Beruntungnya pada waktu itu, kami tinggal naik mobil sewaan Carol dan keluarga.


Perkiraan Google Maps untuk rute dari Melbourne ke Healesville Sanctuary.

Pagi-pagi jam tujuh kami sudah di luar menunggu jemputan Carol. Sebenarnya janji kami adalah pada pukul delapan, tetapi kami sengaja mencari sarapan dulu di sekitar apartemen, dan agar Janis bisa sarapan di taman. Kapan lagi, selain di sini? Di Jakarta sulit, ya.

Janis senang sekali makan roti. Kami pun membeli beberapa paket roti di 7-11. Orang tuanya makan sushi paketan sudah bahagia.

Sarapan sebelum berangkat.
Sarapan dulu sebelum berangkat, yuk?

Sekitar pukul delapan, Carol, Jillian, Eleanor dan Miranda datang membawa dua mobil. Kami langsung berangkat dan menuju Healesville!

Di Australia, jika membawa anak di bawah 12 tahun, atau ketika tingginya belum cukup, wajib menggunakan booster seat, dan tidak boleh dilepas selama perjalanan. Ini membuat kami sedikit kewalahan karena peraturan di Indonesia yang lebih rileks. Kami punya booster seat di mobil kami di Jakarta, tapi terkadang untuk menyusui, harus kami lepas dan dipangku. Di Australia, tidak bisa begitu. Akhirnya, setiap Janis rewel karena takut atau haus, kami harus berhenti dulu di jalan.

Pemandangan selama perjalanan, lebih kurang seperti ini
Pemandangan selama perjalanan lebih kurang seperti ini.

Pemandangan selama di jalan begitu cantik, walau tidak hijau seperti di Indonesia. Sejauh mata memandang, topografi relatif datar, namun cuaca begitu baik hingga hamparan pohon, perdu dan rumput terlihat bagus. Apalagi, di beberapa tempat, kami melihat kebun stroberi dan anggur. Tidak seperti di Indonesia, perjalanan di lingkungan pedesaan di sini begitu sepi dan tenang. Jalanan besar dan mulus. Tidak ada truk dan bis berlomba-lomba di jalan. Semuanya cukup santun.

Sekitar satu jam kemudian kami berhenti di kafe Church & Main untuk brunch. Lintang dan saya memesan calamari salad. Janis kami suapi makanan yang kami bawa sebagai bekal. Makan pagi menjelang siang ini berlangsung agak lama karena kami bertemu teman Carol di sana. Janis cukup mentolerir perjalanan ini, walau di jalan kami sempat berhenti tiga atau empat kali.

Makan apa ya?
Makan apa, ya? Janis di kafe Church & Main, Healesville.

Sesampainya di Healesville Sanctuary, kami langsung membeli tiket. Tempatnya dijaga sealami mungkin, sehingga tidak terlalu banyak pengkondisian atau lingkungan buatan manusia. Jangan heran kalau tampak agak “raw” atau kasar. Jalan untuk pejalan kaki pun hanya tanah. Satu lokalitas atau kandang hanya dibatasi oleh pintu dua sisi, selebihnya pembatas alami seperti bebatuan dan pohon. Ini barangkali untuk menjaga agar hewan-hewan di sini tidak merasa terkungkung dan stres, ya?

Koala!
Koala yang selalu bertengger.

Hewan-hewan yang kami lihat bervariasi, mulai dari yang terkenal seperti kangguru dan koala, sampai yang kami, orang Indonesia ini, belum tahu: echidna, wombat, wallaby, tasmanian devil atau platypus. Hewan-hewan apa sajakah itu?

Echidna (dibaca “ekidna”), adalah hewan mamalia yang mirip landak. Makanannya adalah semut, dan masih satu keluarga dengan platypus. Walaupun ia mamalia, tapi ia bertelur. Ukurannya cukup besar, seperti landak. Hidupnya di Australia dan Papua Nugini.

Echidna!
Echidna, mirip landak ya?

Wombat adalah hewan mamalia berkaki empat yang menurut kami sangat lucu. Bulunya banyak, mirip seperti beruang tapi versi kecil, atau marmut tapi versi besar. Bagaimana, ya? Lucu, deh, pokoknya. Ketika kami berkunjung ke kandangnya, ada satu yang sedang tidur terlentang. Janis terhibur melihatnya.

janisdanwombat
Janis, perkenalkan, wombat. Wombat, perkenalkan, Janis.

Wallaby adalah, gampangnya, “versi kecil” dari kangguru, karena secara taksonomi, mereka masih satu genus. Sekilas, wallaby lebih lincah lari ke sana ke mari karena badannya lebih kecil. Tapi, mereka tampaknya lebih pemalu.

Wallaby sedang minum!
Wallaby sedang minum!

Tasmanian Devil atau Tassie versi Warner Bros tampaknya besar dan garang. Aslinya, badannya lebih kecil, dan wajahnya lebih imut. Ia adalah mamalia berkaki empat yang masih juga marsupial. Banyak ditemukan di Pulau Tasmania, yaitu pulau di selatan benua Australia. Sedihnya, generasi berikutnya mungkin tidak dapat melihat hewan ini lagi karena mereka terancam punah. Beberapa pusat penangkaran di Australia berusaha untuk menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Penyebabnya? Tumor wajah yang menular dari satu hewan ke hewan lain. Di Healesville Sanctuary ini, ada tempat konservasi Tasmanian Devil di mana mereka diternakkan dan dihindarkan dari tumor.


Video tentang Tassie.

Platypus adalah hewan mamalia yang hidup setengah di darat dan setengah di air. Bentuknya seperti gabungan antar bebek dan berang-berang.

platypus_detail
Platypus. Sumber gambar di sini.

Selain hewan-hewan di atas, masih ada lagi yang lain seperti dilansir di situs web mereka. Ada Emu juga, burun besar dengan bulu yang sangat lebat.

Emu!
Burung Emu yang legendaris itu. Besar sekali!

Healesville Sanctuary ini bagian dari sistem konservasi hewan di negara bagian Victoria, khususnya di area Melbourne dan sekitarnya. Ia fokus pada hewan bushland atau hewan-hewan yang asli Australia. Ada tiga “kebun hewan” di sekitar Melbourne yang tergabung dalam wadah Zoos Victoria, antara lain: Werribee Open Range Zoo, Melbourne Zoo, dan Healesville Sanctuary.

Di Sanctuary ini juga ada rumah sakit, di mana hewan-hewan yang sakit bisa disembuhkan. Mulia, bukan?

Peta Healesville Sanctuary
Peta Healesville Sanctuary. Sumber gambar di sini.

Kangguru sedang beristirahat!
Kangguru sedang beristirahat!

Kami berputar-putar hampir dua jam lamanya, untung saja ada tempat berlabuh bagi Janis untuk menyusu di tengah hutan.

Setelah puas melihat hewan-hewan yang kami tak pernah lihat secara langsung, kami pun pulang untuk mengejar beberapa agenda lain, seperti makan malam, karena kami sudah lapar berat. Selain itu, kami khawatir Janis akan rewel karena sudah seharian di luar. Benar saja, kami berhenti sekitar dua atau tiga kali di perjalanan pulang untuk menyusui Janis. Tapi, kami semua puas.

bersama-miranda-dan-jillian
Menunggu yang tertinggal, sudah setengah jalan, nih!

Rencana esok harinya sebenarnya adalah ke Phillip Island untuk melihat penguin, tapi akhirnya kami batalkan karena jaraknya ditempuh dalam waktu dua jam dan kami tak membayangkan Janis mungkin akan merasa sangat letih. Sepertinya, road trip belum bisa jadi opsi buat si kecil. Nanti ya, Nak, tunggu agak besar sedikit!


Artikel sebelumnya

© 2016 Ransel Kecil