Catatan Perjalanan (halaman 1 dari 17)

Perjalanan Menuju Melbourne Itu

Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh
Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh

Setelah sepuluh tahun menunggu dan menabung, akhirnya kami sekeluarga (saya, Lintang dan anak kami, Janis, yang berusia 11 bulan) bisa berangkat ke Australia, untuk menemui keluarga angkat saya yang berada di sana. Keluarga angkat saya ini tinggal di Newcastle, tetapi kami memutuskan untuk bertemu di Melbourne, karena saya bisa sambil bekerja (cuti saya habis) dan ada cabang kantor di sana, lalu kami juga ingin sekali ke Melbourne, yang katanya kota paling nyaman ditinggali sedunia.

Kami pergi dengan Singapore Airlines, setelah menimbang-nimbang antara itu dan Garuda Indonesia. Memang, Garuda Indonesia punya penerbangan langsung enam jam dan 30 menit, tetapi kami merasa lebih mantap dengan Singapore Airlines, dengan pesawat yang lebih bagus—menurut saya—Boeing 777-300ER dan pelayanan yang lebih atentif, dengan reputasi penanganan anak bayi yang lebih mantap. Benar saja, kami diperhatikan lebih baik karena membawa balita. Bassinet (tempat tidur bayi) dan makanan bayi pun dapat dipesan di situs webnya dengan mudah. Asuransi perjalanan juga disandingkan jadi satu dengan harga tiket, dengan harga terjangkau dan mencakup semua penumpang. Kebetulan, kami suka pakai AIG, dan kebetulan pula, Singapore Airlines juga menggunakan AIG. Memang jodoh.

Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam
Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam

Tak masalah juga bagi kami untuk transit dulu di Singapura, karena bandaranya sangat nyaman dan saya berkesempatan nostalgia karena sempat tinggal di sini tahun lalu. Lagipula, bisa bertemu dengan teman lama selama empat jam transit itu.

Bertemu teman kami di Singapura
Bertemu teman kami di Singapura

Perjalanan dimulai jam 10:00 pagi, walau penerbangan baru lepas landas pada pukul 14:00 siang. Ini untuk menghindari kemacetan yang tak terduga dari Pondokgede ke bandara. Sampai di bandara pukul 11:00 lebih sedikit, check-in dan langsung masuk ke ruang tunggu. Lebih enak menunggu di dalam daripada melihat kesemrawutan bandara Soekarno-Hatta di luar, apalagi kami membawa bayi.

Kami agak khawatir Janistra akan rewel selama di perjalanan. Tapi ternyata tidak terlalu. Kami sudah siapkan makanan dalam tempat kecil untuknya kalau-kalau dia lapar selama di bandara, dan untungnya, Janis juga mau makan makanan yang kami beli atau yang diberi di pesawat.

Benar saja, pengalaman terbang jauh pertama kali dengan bayi bersama Singapore Airlines sangat mengesankan. Hampir setiap pramugara dan pramugari menanyakan nama anak kami, dan selanjutnya memanggilnya dengan nama. Mereka juga langsung menawarkan untuk memasang bassinet sesaat setelah tanda mengenakan sabuk pengaman dipadamkan.

Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne
Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne

Transit di Singapura selama empat jam, kami sempatkan untuk keluar imigrasi dan bertemu teman kami di sana, Bady. Sengaja kami rencanakan transit yang agak lama agar Janistra bisa istirahat, bermain dan bersih-bersih badan. Kami juga bisa makan malam yang lebih enak. Tempat langganan saya di Changi adalah pujasera di Terminal 3, tapi kami kemudian pindah ke Heavenly Wang di area kedatangan Terminal 3 area keberangkatan.

Asyik berbicara dengan teman kami, tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan kami harus masuk ke area keberangkatan dan imigrasi untuk melanjutkan penerbangan ke Melbourne pada pukul 9 malam.

(Tulisan ini akan berlanjut di bagian berikutnya!)

Transit di Bandara Incheon

Salah satu kegiatan favorit saya ketika terbang adalah transit. Semakin lama transitnya, seringkali saya semakin senang. Bagi orang lain yang sedang terburu-buru mungkin ini menyebalkan, tapi buat saya, transit adalah bagian dari perjalanan dengan pesawat terbang yang patut dinikmati. Kapan lagi bisa berlama-lama di perjalanan? Kalau perjalanan kantor, biasanya saya buat sedemikian rupa hingga saya punya banyak waktu transit untuk rileks, jalan-jalan dan yang penting, karena itu perjalanan kantor, semua pengeluaran dibiayai kantor. Asyik, bukan?

Maka, ketika pergi ke Amerika Serikat beberapa tahun lalu, saya menyempatkan berkesperimen dengan reservasi penerbangan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil transit cukup lama (hingga 11 jam) di bandara Incheon, Korea Selatan. Ternyata, saya suka dengan bandara ini.

Hal pertama yang saya lakukan tentu adalah makan. Seperti bandara internasional yang megah di berbagai belahan dunia, tentu bandara Incheon juga memiliki banyak pilihan makanan. Harganya tentu saja tidak selalu bersahabat, tapi, buat saya yang dibayari waktu itu… tidak masalah. Berbagai pilihan pujasera, seperti Global Chow, Food Capital, Vita Via, Food Square, dan lain sebagainya, membuat saya bisa menikmati sedikit Korea Selatan walau tidak berkunjung ke Seoul. Harga-harganya cukup bersahabat dengan standar “harga bandara”. Satu porsi bi bim bap (secara harfiah berarti “nasi campur”) masih dalam kisaran 10.000 won, atau Rp87.700. Porsi ini memiliki lauk dasar tetapi bisa ditambahkan sajian pelengkap (ban chan). Tentu, ada makanan jenis lain, tidak hanya makanan Korea Selatan.

Jika sudah kenyang, kita bisa berjalan-jalan keliling bandara. Nah, ini tentu terkait dengan apakah kita sudah masuk ke aula keberangkatan atau belum. Jika dalam status transit, maka sebagai warga negara Indonesia, pilihan kita ada dua: keluar melalui imigrasi dengan visa transit yang gratis, lalu melihat-lihat bandara di luar, atau langsung masuk ke aula keberangkatan melalui proses transit internal, dan gerak kita terbatas di aula keberangkatan. Pilihan makanan pun terbatas. Tentunya, sebagai pelancong oportunis, bisa jadi saya akan lebih memilih keluar bandara, bahkan bisa mampir ke Seoul jika sempat.

Jika berada di aula keberangkatan dan tak sempat keluar, maka jangan sedih. Kita bisa tetap makan dan istirahat. Ada ruang istirahat di lantai atas yang terdiri dari banyak kursi malas dan sofa. Di dekatnya juga ada konter makanan dan minuman ringan untuk menyegarkan diri setelah istirahat. Jika ingin menghubungi keluarga, bisa mampir ke stasiun komputer terdekat untuk chatting dengan sanak keluarga. Ingin terhibur? Mampirlah ke ruang televisi. Karena waktu itu saya mempersiapkan diri untuk perjalanan paling tidak 10 jam lagi, maka saya sempatkan untuk mandi di tempat pemandian umum di dalam bandara. Jangan bayangkan pemandian umum ini kotor, ramai dan sesak. Tempatnya bersih, privasinya terjaga karena kita mendapatkan tempat mandi sendiri, lalu mendapatkan perlengkapan mandi mulai dari handuk, sikat gigi, pelembab kulit, sabun dan syampo. Tentu, ada harganya, ketika saya ke sana tahun 2011 tarifnya sekitar USD14.

Bagi yang membawa anak-anak, waktu saya datang ke sana, ada workshop budaya Korea di mana kita bisa belajar tentang seni rupa Korea, misalnya Korean fan painting (mengecat kipas Korea) atau belajar tari-tarian. Tentu, acara-acara seperti ini bersifat sementara dan justru menarik, karena tidak akan ada pengalaman yang sama ketika berkunjung. Selain itu, ada juga pameran budaya Korea yang sifatnya lebih semi-permanen, menampilkan hanbok (pakaian tradisional) atau khazanah budaya lain seperti lukisan dan artefak keramik.

Jika memang anda bukan tipe yang senang di bandara, maka tidak ada salahnya mencoba keluar bandara dengan visa transit. Kita tidak perlu membuat visa transit ini sebelumnya di Jakarta. Izin transit diberikan kepada berbagai warga negara, termasuk Indonesia, dengan durasi maksimum 30 hari asal kita bisa menunjukkan tiket terusan. Dengan visa transit ini, anda bebas ingin ke Seoul atau hanya berkeliling di sekitar kota Incheon yang terdekat.

Menapaki Sejarah di Hoi An

hoian_bangunantua

Ketika membaca tentang Hoi An di salah satu novel, saya jadi penasaran dan merencanakan perjalanan ke sana. Kota yang diakui UNESCO sebagai salah satu khazanah warisan dunia ini terletak di provinsi Quang Nam di bagian sentral Vietnam. Kota kecil berpenduduk 120.000 jiwa.

Walaupun menjadi kota turis, akses ke kota ini sangat bergantung dengan keberadaan kota Da Nang, sekitar 30 km di utara. Kota Da Nang memiliki satu-satunya bandara dan stasiun kereta api yang paling dekat.

Setelah riset sana-sini, akhirnya saya memutuskan naik kereta api ke Da Nang setelah perjalanan dari Hue, kota historis lain di utara kota itu. Dari Da Nang, berlanjut dengan taksi yang sudah saya pesan dari hotel di Hoi An, seharga 100.000 rupiah. Ada alternatif lebih murah yaitu dengan bis, yang hanya sekitar 8.000 rupiah untuk bis umum atau 40.000 rupiah untuk bis turis.

Sepanjang perjalanan singkat dari Da Nang ke Hoi An, saya melihat sebuah perkembangan pesisir yang pesat. Pemerintah tampaknya ingin menjadikan pesisir antara kedua kota ini sebagai pusat wisata pantai atau bahari. Beberapa hotel lokal dan internasional pun sedang dibangun. Jalanan cukup besar dan sepi.

hoian_museum

Hoi An memiliki slogan “The Ancient Town“, atau kota tua. Benar saja, pusat kotanya masih didominasi bangunan tua dan jalan-jalan sederhana yang tak beraspal. Jangan bayangkan kota tua yang bernafas Eropa, Hoi An justru sangat bernafas Vietnam tradisional. Ia dinobatkan sebagai kota tua otentik Asia yang masih terawat. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

hoian_pedagang01

hoian_pedagang02

Namun, jangan khawatir. Bagi anda pecinta sejarah, pasti suka dengan keadaan Hoi An sekarang. Memang, untuk setiap “perangkap turis”, atau “tourist trap“, selalu ada bagian-bagian yang berkembang sesuai keinginan pasar. Beruntung, pemerintah dan penobatan UNESCO tampaknya sedikit membantu merawat kota tua pada kondisi nostalgisnya.

Menjelajah kota ini lebih baik dengan jalan kaki. Selain kecil, kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya membuat kita tak ingin cepat-cepat melalui setiap detil. Rasanya seperti mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17.

Dapat saya bayangkan dulu di jalan-jalan mungil ini ada pedagang keramik, pedagang gerobak yang menjajakan rempah-rempah, kuli pelabuhan, penjaja makanan atau majikan yang memarahi anak buahnya. Saat ini wajahnya sudah berubah, pedagang cinderamata mendominasi, menjajakan baju dan memorabilia Vietnam untuk berbagai usia, lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer sampai miniatur beragam kapal antik. Ruas jalan mungil memastikan mobil tidak bisa melaluinya dan saya pikir ini bagus. Tentu saja, penjaja makanan tetap ada, baik itu yang di rumah makan maupun gerobak, menjual mi Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran. Siap-siaplah untuk dipanggil masuk oleh pelayan restoran.

hoian_malam

Malam hari tak kalah dengan siang hari, justru lebih menarik. Lampu-lampu kecil dan lampion-lampion menghiasi seluruh penjuru Old Town, geliat pedagang dan penjaja makanan pun seolah tiada henti. Alunan tembang instrumental mengumandang dari pengeras-pengeras suara yang dipasang di bangunan-bangunan kota. Udaranya cukup sejuk.

Hoi An dipenuhi turis, jadi mungkin bagi mereka yang mencari ketenangan, di sini bukan tempatnya. Namun, bagi mereka yang senang dengan fotografi, sejarah dan melihat Vietnam dari sisi berbeda, Old Town di Hanoi cukup layak dikunjungi. Fotografi arsitektur menjadi tema utama. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah rumah toko (shophouse) kuno ala peranakan dan fotolah suasana jalan. Hati-hati dengan rendahnya langit-langit! Setelah itu, coba ke tepi sungai, atau bahkan naik perahu kecil untuk memotret pedagang buah di pinggiran.

hoian_sumbangan

Jalan-jalan ke Hoi An tergolong murah. Hotel yang cukup besar dan bersih hanya bertarif sekitar USD20 (Rp200.000) per malam, bisa diisi dua orang. Tentu, hotelnya bukan gedung yang besar, tapi hanya sebuah rumah toko. Berkeliling tak perlu kendaraan bermotor, kecuali anda ingin ekskursi lebih luas ke pantai di sekitarnya. Cukup jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD0.50 atau Rp5.000 per hari). Sewa sepeda motor, jika perlu, bertarif sekitar USD5 (Rp50.000) per hari.

Khusus di Old Town, yang menyerupai sebuah museum hidup, belilah tiket terusan tiga hari untuk masuk ke beberapa tempat atau properti yang diseleksi khusus karena signifikansi sejarahnya, antara lain rumah-rumah tua milik pedagang lama yang sekarang disewakan pemiliknya sebagai museum, jembatan dengan arsitektur Jepang, gedung pertemuan dan lain sebagainya. Tampak dari fasad arsitektur, kota ini sepertinya menjadi ruang lebur antara beberapa budaya, antara lain Vietnam, China, Jepang dan India.

Puas menikmati kota tua, hari lain kita bisa mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi dulunya pusat peribadatan raja-raja Cham, tidak besar tetapi memiliki sejarah penting, karena merupakan peninggalan masyarakat Cham yang konon berasal dari Kalimantan. Mereka berbahasa Malayo-Polynesia, yang artinya mirip dengan bahasa Melayu, Indonesia dan Tagalog. Sayang, beberapa candi dibom dalam Perang Vietnam.

24 Jam di Guayaquil, Ekuador

Kebanyakan turis berkunjung ke Ekuador untuk melihat ibukota Quito serta Kepulauan Galapagos yang melegenda karena menjadi inspirasi Charles Darwin dalam mencetuskan teori evolusi. Menurut saya, Guayaquil haruslah juga menjadi salah satu destinasi utama bagi para turis yang mengunjungi Ekuador meskipun hanya sehari saja. Dalam perjalanan saya ke Peru baru-baru ini, saya dan teman saya sempat melihat-lihat Guayaquil selama 24 jam sebelum kami kembali dari Peru ke tempat kami tinggal di Pantai Timur Amerika Serikat. Kami terpesona pada cantiknya Guayaquil!

Kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduknya di Ekuador ini sebenarnya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Guayaquil adalah kota metropolitan dengan pelabuhan yang ramai dan aktifitas perdagangan dan jasa yang menggeliat sepanjang siang dan malam. Dalam sejarah negeri-negeri Amerika Latin, Guayaquil terkenal karena menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822, yang mempertemukan dua tokoh besar pro-kemerdekaan Amerika Latin, yakni Jose de San Martin dan Simon Bolivar. Kini, bagi kebanyakan turis, ibukota finansial Ekuador ini berperan sebagai tempat persinggahan bagi turis asing yang hendak berkunjung ke Galapagos. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk tiba di Galapagos dari Bandara Jose Joaquin de Almedo di Guayaquil.

Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000
Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000

Begitu kami tiba di Guayaquil, kami terkesan pada megahnya bandara. Rasanya tidak jauh beda dengan Terminal 3 Bandara Changi di Singapura. Di antara terminal kedatangan dengan foyer tempat penumpang bisa dijemput ada kolam ikan koi yang dikelilingi tanaman-tanaman tropis. Sambil menunggu datangnya shuttle bus dari hotel, saya memutuskan memberi makan ikan-ikan koi yang berseliweran. Pengunjung bandara bisa dengan mudah membeli makanan ikan koi dari vending machine di sebelah kolam. Saya pun memasukkan koin 25 sen/satu quarter berlambang bald eagle Amerika Serikat ke dalam vending machine karena mata uang yang berlaku di Ekuador adalah dolar AS.

Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil
Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil

Dari hotel, kami dijemput oleh ayah teman dekat saya ketika S1 yang kebetulan berasal dari Guayaquil dan kini kembali tinggal di kota kelahirannya setelah lama merantau di New York dan Puerto Rico. Tío Leo langsung mengajak kami bersepeda santai di kawasan cagar alam Pulau Santay. Sebuah jembatan pedestrian dengan panjang sekitar 1 km menghubungkan Guayaquil dengan Santay yang dipisahkan oleh sungai Guayas. Dari jembatan ini kami menikmati pemandangan metropolis Guayaquil yang penuh pencakar langit. Namun, hiruk pikuk kota besar terasa langsung hilang sebegitu sepeda kami memasuki wilayah cagar alam. Dari raised platform tempat kami bersepeda, kami bisa dengan mudah melihat burung-burung berseliweran di antara berbagai jenis bakau dan tanaman tropis lainnya. Pantas saja Tío Leo sering bersepeda ke Santay untuk menghilangkan penat.

Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil
Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil

Sambil bersepeda ke kampung nelayan di Santay untuk makan siang dan melihat penangkaran buaya, Tío Leo banyak bercerita tentang optimismenya akan masa depan Ekuador. Ia adalah pendukung berat Presiden Rafael Correa yang saat ini tengah menjabat. Menurutnya, Presiden Correa memberikan angin perubahan dan rasa percaya diri sebagaimana Presiden Obama, Modi, dan Jokowi membawa negara masing-masing ke era baru yang terlihat lebih menjanjikan. Kata Tío Leo, Presiden Correa yang ekonom dan lulusan Amerika Serikat tetapi berasal dari keluarga kelas pekerja Guayaquil ini berani mengajukan tuntutan penghapusan utang rezim lama ke pengadilan internasional dan berhasil mengurangi secara drastis jumlah utang Ekuador, selain juga berhasil mengurangi angka kemiskinan dan memberikan akses yang luas ke pendidikan dan layanan kesehatan bagi rakyat Ekuador. Bahkan, wajah cagar alam Santay yang tampak rindang dan desa nelayan Santay yang bersih dengan fasilitas memadai tidak lepas dari peran sang presiden. Cagar alam tersebut baru saja diresmikan Correa pertengahan tahun 2014 lalu.

Sekembalinya kami dari Santay, kami langsung naik Metroquil, sistem bus rapid transit Quayaquil yang tidak jauh beda dengan TransJakarta busway di ibukota, menuju ke bulevar Malecon 2000. Dengan panjang sekitar 2,5 km, boardwalk lebar di samping sungai Guayas ini adalah tempat rekreasi utama warga Quayaquil dan sekitarnya. Beruntung kami ada di sana pada Sabtu sore, karena ada dua konser musik gratis di atas boardwalk menghibur jalan-jalan sore kami menyusuri Malecon 2000. Di sisi kiri kami berjajar gedung-gedung tua bernuansa art deco dan moorish yang terawat dengan baik sedangkan angin sepoi-sepot berhembus dari sungai di sisi sebelah kanan. Sisi selatan Malecon 2000 tempat kami memulai jalan-jalan sore didominasi tempat perbelanjaan bawah tanah serta bermacam-macam pujasera yang menawarkan makanan khas Ekuador maupun makanan cepat saji internasional. Di sepanjang boardwalk berjajar patung-patung tokoh historis asal Guayaquil, termasuk monumen yang memperingati berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822. Di sana sini terdapat area rekreasi dan olahraga yang bisa dinikmati secara gratis oleh penduduk Guayaqil. Mendekati akhir boardwalk di bagian utara, kami mendapati beberapa museum, pusat kebudayaan, serta bioskop IMAX. Tak jauh dari pusat kebudayaan tersebut ada taman kota rindang dengan kolam air mancur tua yang amat cantik. Kalau tidak ingat bahwa ada banyak tempat menarik lain yang harus dikunjungi, rasanya saya ingin menghabiskan sore membaca buku di tempat yang sedemikian teduh. Ah, andai saja kota saya Jakarta punya banyak taman kota indah seperti ini.

Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822
Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822

Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador
Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador

Dari ujung utara Malecon 2000, Tío Leo mengajak kami naik ke puncak bukit atau cerro Santa Ana. Di bukit inilah, yang sering juga disebut Las Penas, pemukiman pertama di Guayaquil berdiri. Karena itulah, di puncak bukit terdapat reruntuhan benteng lengkap dengan meriam-meriamnya. Di bagian paling atas bukit ada kapel kecil dan mercusuar yang hingga kini masih berfungsi. Untuk sampai ke puncak bukit, kami perlu mendaki ratusan anak tangga yang dikelilingi rumah-rumah kuno beraneka warna yang kebanyakan kini telah beralih fungsi menjadi restoran, galeri, dan toko suvenir. Arsitektur Hispaniknya mengingatkan saya pada rumah-rumah kuno di kawasan kota tua Intramuros di Manila. Dari bawah bukit, cerro Santa Ana terlihat seperti favela di Rio de Janeiro dan Gamcheon art village di Busan yang dicat warna-warni, sedangkan dari puncak mercusuar, kami menikmati pemandangan kota Guayaquil diiringi temaram matahari yang mulai tenggelam. Rumah-rumah aneka warna di punggung bukit berkilau terang terkena sinar mentari sore. Indah sekali. Kata Tío Leo, satu dekade lalu Las Penas/Cerro Santa Ana adalah daerah kumuh. Pemerintah Guayaquil bersama dengan warga lokal lantas merevitalisasi kawasan kuno ini. Hasilnya jelas tidak mengecewakan. Kalau waktu Anda di Guayaquil terbatas, daerah ini layak menjadi persinggahan utama.

Suasana senja di atas puncak Cerros Santa Ana; gambar diambil dari puncak mercusuar

Kami lantas berjalan kaki menuju Katedral Metropolitan Guayaquil yang dibangun dengan gaya neo-Gothik. Di depan Katedral ini terdapat sebuah plaza dan taman dengan nama Parque Seminario, tetapi lebih banyak dikenal dengan sebutan Parque de las Iguanas. Disebut begitu karena memang taman ini dihuni banyak sekali iguana. Kami menemukan iguana bergelantungan di pohon, tidur-tiduran di pinggir kolam ikan dan berkeliaran di sekitar pagar. Meskipun malam sudah tiba, taman ini terang oleh lampu-lampu besar. Di tengah taman berdiri patung perunggu Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan negeri-negeri Amerika latin yang namanya kini diabadikan juga sebagai nama negara Bolivia. Di sekeliling patung terdapat banyak tempat duduk yang ramai oleh keluarga dan pasangan. Beberapa dari mereka mencoba memberi makan dan bermain dengan para iguana yang memang sudah menjadikan taman ini habitatnya. Berlama-lama guna bercengkerama dengan iguana-iguana jinak di taman ini boleh-boleh saja, asal jangan kaget kalau tiba-tiba ada “bom” kotoran iguana atau burung yang jatuh ke badan Anda dari pepohonan tempat para hewan bermukim.

Malam sudah penuh menyelimuti Guayaquil ketika kami memutuskan menyudahi jalan-jalan kami. Tío Leo lantas membawa kami ke restoran khas Ekuador tak jauh dari Parque de las Iguanas. Karena Guayaquil terletak dekat laut, pilihan saya jatuh pada “chupe de corvine y camarones” yakni sup ikan dan udang khas Guayaquil yang bertaburan irisan bawang dan kentang. Hmm, segar dan yummy! Apalagi bila ditambah dengan sedikit aji atau saus sambal. Tentu kami tak lupa mengudap penganan nasional Guayaquil yaitu pisang goreng. Sambil makan, Tío Leo bercerita banyak tentang dinamika perubahan yang tengah terjadi di Ekuador, di mana beberapa tahun terakhir di bawah Presiden Correa korupsi mulai berkurang dan birokrasi menjadi lebih efisien. Memang Ekuador masih harus banyak belajar memperbaiki kekurangan di sana-sini, tapi perubahan itu sudah bisa dilihat. Misalnya saja, dulu Guayaquil adalah kota yang terkenal dengan tingkat kriminalitas tinggi. Banyak sekali terjadi perampokan dan pembunuhan yang menjadikan penumpang dan terkadang juga supir taksi sebagai korban. Kini semua taksi yang beroperasi di Guayaquil dilengkapi dengan tombol darurat di sebelah tempat duduk penumpang. Begitu ada kemungkinan kejadian mengkhawatirkan di dalam ataupun di luar taksi, sang penumpang dapat menekan tombol tersebut dan mobil polisi terdekat akan segera tiba. Setelah sistem tersebut mulai diimplementasikan, angka kriminalitas Guayaquil mulai menurun.

Setelah puas mengobrol, Tío Leo mengantar kami kembali ke tempat kami menginap yang terletak tak jauh di bandara dan berseberangan dengan mal terbesar di Guayaquil, Mall de Sol. Waktu istirahat telah tiba setelah seharian menjelajahi Guayaquil. Kami pun harus terbang kembali ke New York keesokan harinya. Sebelum tidur saya mengirimkan pesan WhatsApp ke Melina, teman kuliah S1 saya yang merupakan putri Tío Leo dan kini bermukim di Puerto Rico setelah sebelumnya sempat tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya: “Guayaquil is a great city; I wish Jakarta had something like Malecon 2000 and its beautiful gardens.” Tak berapa lama Melina menjawab: “Jakarta has so much potential and sooo much it can showcase; it just needs the government to see how important it is to invest on it.” Benar, true that, Melina!

Dari Tele, Memandang Toba

Semburat fajar di Danau Toba
Semburat fajar di Danau Toba

Berawal dari kesuntukan sehabis berminggu-minggu menghadapi angka-angka akuntansi di kelas, teman saya Rakhmat Alfian mengusulkan ide luar biasa: melancong ke danau Toba. Luar biasa karena ide itu pada mulanya sama sekali tanpa perencanaan. Dibisikkan dari kelas-kelas, akhirnya terkumpul sembilan belas manusia nekat yang terpikat oleh ajakan edan itu.

Jumat malam selepas kelas, dengan menyewa tiga minibus, kami bertolak dari Medan. Yohanes Binur Haryanto, putra asli Deli Serdang, Sumatera Utara, bertugas sebagai navigator. Yobin—sapaan Yohanes Binur Haryanto—pulalah yang bertugas menyetir mobil, ditemani dan bergantian dengan Mangiring Silalahi, Aulia Yudha Prathama, Ignatius Hernindio Dwiananto, dan Muhamad Iqbal.

Kami menempuh rute sepanjang 175 km dengan melewati Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan sampailah di Parapat persis waktu subuh. Di Parapat, danau Toba tampak amat luas di keremangan pagi. Terdapat pelabuhan rakyat, Ajibata dan Tigaraja namanya, buat menyeberang ke pulau Samosir. Pelabuhan Ajibata untuk penyeberangan mobil, pelabuhan Tigaraja untuk penyeberangan orang. Sebelum menyeberang, kami dijamu kerabat Yobin yang tinggal di Parapat sembari menikmati semburat fajar di tepian danau Toba.

Kondisi yang tak dapat dielakkan memisahkan kami menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diputuskan untuk berangkat lebih dulu melalui pelabuhan Tigaraja, sementara kelompok lain menunggu hingga dibuka penyeberangan mobil melalui pelabuhan Ajibata. Dalam kegentingan situasi akibat berpisahnya kongsi, teman kami Dian Vitta Agustina tak mampu lagi melanjutkan perjalanan—kembali ke Medan.

Tomok
Tomok

Toba, dari Tele
Toba, dari Tele

***

Saya beserta sebagian besar teman lain menyeberang melalui pelabuhan Ajibata dengan menaiki feri. Tujuan kami desa Tomok. Di sanalah tempat pertemuan kami dengan kelompok bermobil yang bakal menyusul kemudian.

Di atas feri, angin danau berembus sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang, terpampang perbukitan hijau yang mengelilingi danau Toba. Di lain sisi tampak rumah-rumah bolon—rumah adat Samosir—dan nyiur-nyiur dan kapal-kapal yang tengah bersandar—semua panorama yang disaput awan tipis. Indah sekali. Semakin indah karena kami juga ditemani seniman cilik yang mendendangkan lagunya.

Perjalanan tak lama karena segera saja kami sampai di Tomok. Tomok adalah tempat singgah pertama dan utama feri-feri yang menuju Samosir. Di Tomok, suasana riuh oleh para penjual yang menggelar lapak dan para pembeli yang berdesak-desakan mencari makanan, barang kerajinan, dan tetek bengek lain yang khas Toba-Samosir. Tomok sejatinya pasar akbar di tepi danau.

Cukup lama kami berbelanja di Tomok hingga datanglah kawan-kawan kami yang membawa mobil. Sebelum bertolak dari Tomok, kami mengunjungi makam Raja Sidabutar yang wingit dan mengambil banyak sekali foto. Foto-foto, buat kami, merupakan tautan yang menghubungkan kita dengan generasi mendatang: semacam sistem pengendalian intern supaya di masa depan anak-cucu kita masih bisa melihat apa yang seharusnya (masih) ada di masa mereka.

Segera mencebur
Segera mencebur

Siang cukup terik dan kami berada dalam perjalanan menuju Tuktuk, desa penginapan populer para turis. Populer karena di Tuktuk terdapat banyak penginapan bagus yang menawarkan pemandangan langsung danau Toba dari tepian.

Lantaran perut mulai keroncongan, kami memutuskan mencari rumah makan. Bukan sembarang rumah makan, melainkan rumah makan yang khusus menghidangkan makanan halal. Memang agak sukar menemukan penjual makanan halal di pulau yang juga merupakan kabupaten ini. Harus benar-benar selektif dan mensyaratkan penjual tak menawarkan sama sekali makanan non-halal di buku menunya.

Sehabis makan, kami melanjutkan perjalanan dan melewati sebuah pertigaan dengan gapura besar bermotif ukiran Batak Toba. Di sana terdapat padang rumput hijau yang luas nian. Naluri narsistik kami segera terbit. Jadilah padang rumput itu menjadi tempat mejeng yang hiruk piruk di siang bolong. Momen-momen nan bersejarah itu lekas dipotret oleh Muhammad Reza Budiman.

***

Sesampainya di Tuktuk, berkat diplomasi Yobin, kami mendapat penginapan murah yang cukup nyaman dan—yang paling penting—memungkinkan kami untuk menikmati danau Toba teramat dekat. Tanpa banyak cakap, saya dan beberapa teman segera berganti pakaian dan mencebur ke danau.

Brrr. Segarnya air danau menguliti rasa capai setelah semalaman lebih berkendara. Betah rasanya berlama-lama berendam di danau Toba. Selain jernih, air tak berombak dan tak berasa asin sehingga seolah seperti berenang di kolam renang raksasa.

Sehabis berenang, tidur menjadi langkah selanjutnya buat merontokkan penat. Dalam urusan renang—dan tampaknya semua cabang olahraga lain—jangan pernah sekalipun melawan Muhammad Taufik Taqdir, yang biasa dipanggil Opik. Ketika semua puas berenang—yang tadinya capai menjadi segar lalu capai kembali—Opik masih asyik berakrobat di danau. Angin mulai berembus kencang dan hujan jatuh rintik-rintik tanda akan datang badai, tapi si Opik masih saja berenang.

Bangun dari tidur, ternyata beberapa teman telah pulang mendahului kami. Idah Rosida, Retisa Heryati Siwi, dan Agmalun Hasugian mesti kembali ke Medan dan tak mungkin menginap lantaran suatu agenda. Jadilah Anggina Rizki Harahap dan Izzah Annisa saja kaum perempuan yang tersisa bersama kami.

Usai sembahyang Isya, kami menuju tempat makan yang unik karena pemiliknya penyuka reptil. Sembari menyantap hidangan, kami dan reptil saling memandang tentang siapa dari kami yang harus memperkenalkan diri duluan.

Sekembalinya ke penginapan, ternyata acara tak lantas selesai (“Malam Minggu pulak!” kata anak Medan). Acara selanjutnya, bakar-bakaran ikan! Tentu bukan membakar ikan belaka yang jadi pokok acara. Bakar-bakaran jadi asyik dan semarak sebab ditingkahi dengan obrolan tak berkesudahan yang dilengkapi dengan olok-olok menyenangkan. Judulnya bakar-bakaran ikan, tapi isinya rupa-rupa upaya buat memunculkan keakraban dan mempererat persahabatan.

***

Keesokan paginya kami bersiap meninggalkan penginapan dan, tentu saja, Tuktuk. Tujuan kami selanjutnya adalah Tele, puncak tertinggi di Samosir. Di Tele terdapat menara pandang yang konon mampu menyajikan lanskap danau Toba secara lengkap dan utuh.

Melewati persawahan, pohon-pohon, bukit-bukit, para bule yang bersepeda, dan kuburan-kuburan Batak yang dibangun teramat megah, pulau Samosir tak kalah dengan pulau Bali—paling tidak menurut saya. Keduanya dipersamakan oleh kebudayaan dan religi yang kuat, namun sayang diperbedakan oleh dukungan finansial yang ibarat bumi dengan langit.

Penginapan bergaya rumah Bolon
Penginapan bergaya rumah Bolon

Patung-patung di makam Raja Sidabutar
Patung-patung di makam Raja Sidabutar

Sesampainya di Tele, pendapat saya tadi semakin teguh: betapa orang goblok, culun, katrok, dan kodian sajalah yang berpendapat bahwa danau Toba itu jelek, kumuh, dan oleh karenanya tak patut diperhatikan. Memandang Toba dari puncak Tele, saya seperti terbawa ke alam surgawi yang indah, terhanyut oleh kekaguman pada tanah kebanggaan saudara kami suku Batak, dan tersandera oleh kenangan manis tak berkesudahan yang terus membekas hingga kini.

Di Tele, ketika teman-teman lain seperti Syaeful Amri, Alfauzi Saiful Anwar, Adib Fathoni, dan Septano Guna Aji berfoto-foto mesra, saya merasa bahwa saya pasti, harus, dan akan mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi suatu hari nanti, dengan perasaan yang tak kalah mesra dibanding foto-foto mereka semua.