Kategori: Catatan Perjalanan (halaman 1 dari 10)

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 2)

Dove Lake Circuit

Satu hal yang saya paling khawatirkan ketika berangkat adalah apakah saya bisa menyetir sepanjang ribuan kilometer, berhari-hari, di tanah asing dengan aturan yang berbeda?

Apakah kemudian anak saya yang masih berusia tiga tahun bisa bertahan di kursinya selama minimal satu jam saja, jika harus berhenti-henti?

Domba-domba yang jumlahnya lebih banyak dari manusia. 10 domba : 1 manusia?

Ternyata, kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan. Menyetir di Tasmania terhitung mudah karena jalan relatif sepi, aturan jelas, supir-supir yang lain lebih sabar, serta pemandangan yang menyejukkan mata. Mustahil untuk mengantuk dalam perjalanan ini karena setiap berbelok, ada saja pemandangan yang indah. Tapi, anda tetap harus hati-hati dan patuh pada batas kecepatan atau rekomendasi kecepatan. Anda bisa menyetir di sini dengan SIM A Indonesia, dilengkapi terjemahan resmi (tidak mesti dari polisi atau kedutaan, cukup dari penerjemah bersumpah).

Tips: Untuk menerjemahkan SIM, kami menggunakan jasa Worldnet Translation di Jakarta Timur. Worldnet Translation adalah salah satu penerjemah bersumpah resmi kedutaan besar Australia di Jakarta.

Anak kami juga ternyata tidak segelisah itu. Paling-paling hanya meminta cemilan, atau minta diputarkan lagu anak-anak. Alhasil, playlist yang kami susun dengan lagu-lagu kesukaan saya dan istri pun hanya diputar sesekali. Tak apa, yang penting anak bahagia! 

Hari ke-1: 2 Agustus 2018

Hari di mana kami terbang ke Devonport, sebuah kota pelabuhan di utara Tasmania, melalui Melbourne. 

Sekitar dua minggu sebelumnya, kami sudah mulai berkemas. Bukan apa, karena ini perjalanan nan panjang, kami berusaha untuk memasukkan semua kebutuhan secara berkala, sehingga tidak ada yang lupa. Hasilnya, kami membawa dua koper kecil dan satu koper medium—suatu keniscayaan karena blog ini judulnya “ransel kecil”—tapi apa daya, kami perlu membawa jaket musim dingin yang besar ukurannya, serta sepatu boots. Kami memutuskan membawa dua pasang sepatu, satu pasang boots dan sepasang lain sepatu kasual, karena tidak semua destinasi memiliki salju atau perlu trekking. Saya juga harus menyetir, rasanya pakai boots berlama-lama menyetir akan melelahkan.

Kabin kami di Devonport, dan mobil sewaan, sebuah Mitsubishi ASX.

Satu hal yang paling kami sesalkan adalah ternyata kami membawa baju terlalu banyak, karena ada beberapa hari di mana kami bisa mencuci dan mengeringkan baju. 

Area bermain anak di penginapan

Oh ya, tak lupa, satu yang penting adalah kami membawa penanak nasi mungil dan alat makan. Tidak lupa pula outlet enam colokan dengan converter Australia. Jangan sampai nanti berebut tempat listrik!

Untuk keperluan di mobil, kami bekali diri dengan banyak cemilan, air mineral (baik untuk minum atau keperluan lain, misal isi radiator), surat izin mengemudi Indonesia lengkap dengan terjemahan, serta SIM internasional untuk backup, ponsel dengan Google Maps yang selalu terisi baterai. Tips: untuk memasang ponsel di dasbor mobil, kami sarankan gunakan pelekat magnet yang dipasang di lidah air conditioning dibanding pelekat di kaca, karena lebih stabil. Kami menggunakan merek Scosche MagicMount. Harganya juga jauh lebih murah dari phone holder lain.

Selain itu, untuk menghindari menggunakan sistem audio mobil, kami juga membawa bluetooth speaker sendiri. Benar-benar berusaha mandiri tidak tergantung peralatan di tempat.

Untuk urusan navigasi, kami serahkan sepenuhnya pada Google Maps, dan ternyata cukup efektif.

Hari pertama kami gunakan untuk check-in ke penginapan pertama kami, sebuah kabin sederhana di Discovery Parks Devonport. Setelahnya, kami belanja kebutuhan dasar seperti yang sudah diulas di artikel sebelumnya.

Beruntung, hampir semua yang kami butuhkan ada di Woolworth’s terdekat. Sisa hari kami gunakan hanya untuk beristirahat dan masak makan malam karena besok kami akan berangkat ke Cradle Mountain. Cuaca cerah, namun suhu cukup dingin di kisaran 5-10 derajat Celcius.

Hari ke-2: 3 Agustus 2018

Sambil menunggu waktu checkout, Janis kami ajak bermain di playground di penginapan. Kebetulan penginapan ini menghadap ke laut, jadi kami sempatkan juga untuk melihat sedikit ke pesisir, mengintip kapal yang sedang berada di tengah Selat Bass, selat yang memisahkan Tasmania dan benua Australia yang utama.

Di Tasmania, dan Australia secara umum, banyak sekali penginapan bertema kabin atau chalet yang ada dapur dan beberapa kamar (termasuk bunk bed). Biasanya, penginapan seperti ini disebut self-contained atau self-catering accommodation. Ini bukti bahwa Australia adalah tujuan wisata yang ramah keluarga dan mengapresiasi kebebasan.

Perjalanan menuju Cradle Mountain dilalui dalam waktu lebih kurang 1,5 jam. Hanya berbekal panduan Google Maps, kami pun mulai menyetir. Tidak lebih dari 15 menit, kami sudah berada di pedesaan. Pemandangannya indah sekali. Di kejauhan, tampak pegunungan. Di kanan kiri, tampak lapangan hijau dipenuhi jerami, domba, kuda dan sapi. Jalan berliku nan halus. Rumah-rumah penduduk yang tersebar. Ini sih, seperti di Switzerland, ya! Rasanya ingin berlarian di lapangan hijau sambil bernyanyi The Sound of Music!

Decak kagum kami tak berhenti, sampai terkadang ingin tiba-tiba berhenti mendadak untuk mengambil foto. Tapi kami harus jalan terus sebelum makan siang!

Lanskap berubah sekitar 30 menit menuju lokasi. Jalan lebih berliku, melalui tebing yang tinggi. Ketika keluar dari tebing-tebing ini, kami masuk ke lanskap lain pula: hijau mulai berkurang, lebih “tandus” tapi banyak tanaman perdu, pohon-pohon yang bentuknya semakin berbeda. Kita sudah sampai di dataran tinggi midlands, dengan iklim yang lebih kering dan elevasi yang lebih tinggi, didominasi grasslands dan tanaman perdu. Hal ini jugalah yang membuat Tasmania unik, karena kondisi seperti ini tidak ditemukan di pulau lain di Australia. Kondisi ekologi Tasmania yang terisolir membuat kondisi flora dan faunanya tumbuh unik.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil melihat tanda-tanda di pinggir jalan yang mengatakan jalanan ini akan sangat licin jika ada salju dan kemungkinan ditutup. Syukurlah, pada saat itu, tidak ada salju, tapi memang jalanan agak basah. Saran kami, selalu pantau kondisi jalan.

Tidak banyak kendaraan yang melintas, tapi begitu masuk ke penginapan kami, ternyata banyak yang menginap. 

Kabin kami di Cradle Mountain
Dapur di kabin yang cantik dan lengkap

Kami menginap di sebuah kabin unik yang berarsitektur minimalis. Sangat berbeda dengan penginapan kami di Devonport yang sangat basicThis one is our favourite yet! Ada dua kamar yang lumayan besar ukurannya (dan bukan bunk bed), ruang keluarga yang proper, serta kamar mandi dengan bathtub dan ukuran yang luas. Belum lagi dapur yang—walaupun masih menyatu dengan ruang makan—cukup besar dan nyaman, dengan amenities lengkap.

Kabin di sini semuanya independen, dalam arti tidak dalam satu bangunan. Untuk mencapai masing-masing kabin kita perlu menyetir, karena jaraknya jauh. Di setiap kabin ada area untuk parkir mobil. Jadi, memang idealnya menyewa mobil. Berjalan kaki bisa saja, asal tahan dingin.

Tentu saja, karena sudah lewat makan siang, kami putuskan untuk mengakhiri hari di penginapan. Sorenya kami mampir ke lounge di dekat resepsionis sambil menikmati cokelat panas di depan perapian. Hm, nyaman! A real cabin in the wood experience (bukan film horor itu, ya!).

Bersantai di lounge hotel dekat perapian

Istri pun masak untuk makan siang dan malam berupa pasta spaghetti bolognaise dan cream soup ayam. Sedap!

Oh ya, kami baru tahu, dari pengalaman ini, kalau di dunia ini ternyata ada yang namanya bed warmer alias alat elektronik pemanas tempat tidur yang biasanya ditempatkan di bawah kasur. Fungsinya tentunya untuk menghangatkan tempat tidur/kasur, sehingga bisa tidur lebih nyaman. Suhu pada saat itu lebih dingin dari biasanya, terlebih hujan, dan mencapai 3-5 derajat Celcius. Pemanas yang ada di kamar utama, ruang keluarga dan kamar kedua juga kurang pengaruh. Brrr! Beruntung ada pemanas tempat tidur.

Hari ke-3: 4 Agustus 2018

Pagi hari tiba, kami bergegas sarapan di kabin, lalu segera menyalakan mobil dan menuju Cradle Mountain Visitor Centre. Pusat pengunjung ini—untungnya—terletak tidak jauh dari pintu masuk utama penginapan. Tapi tetap harus menyetir ke sana. Cukup lima menit sampai.

Air danau Dove Lake yang sungguh jernih (tapi dingin)
 Boatshed di Dove Lake

Agenda hari ini adalah mencapai Dove Lake, situs utama dari Cradle Mountain yang bisa dinikmati hampir semua kalangan. Untuk mencapainya, ada dua opsi. Yang pertama, menyetir sendiri sejauh 7km, tapi melalui jalan berliku dan seringkali harus bergantian karena tidak semua dua jalur; atau yang kedua—opsi yang kami pilih—naik bis shuttle dari Visitor Centre.

Tips: jangan lupa untuk membeli Park Pass atau tiket masuk taman nasional di Tasmania sebelum naik bis. Jenis-jenis Park Pass ini ada yang khusus Cradle Mountain saja, atau yang termasuk taman nasional lain di Tasmania. Selain itu, ada yang berlaku terbatas, 8-minggu atau tiket tahunan. 

Kami memilih opsi tiket 8-minggu yang termasuk unlimited entry ke semua taman di Australia untuk 8 orang dan satu kendaraan, seharga A$60 (Rp700.000). Tampak mahal, tapi kalau beli satuan akan jauh lebih mahal karena kami berencana mengunjungi taman-taman lainnya (sekitar A$16.50 per orang dewasa x 2, dan anak-anak usia 5-7 tahun A$8.25, anak-anak di bawah 5 tahun gratis).

Menikmati hal-hal kecil seperti menemukan sungai kecil di bawah jembatan

Bis shuttle ini berangkat dari Visitor Centre setiap 20 menit, dengan jadwal pertama pukul 09:30 pagi dan jadwal terakhir pulang dari Dove Lake pukul 16:00 petang. Ia berhenti di beberapa tempat. Tujuan akhirnya adalah Dove Lake. Tiketnya gratis jika sudah membeli Park Pass, tapi harus diminta setiap hari dan berlaku 1×24 jam. Jadi misalnya besoknya ingin kembali ke Dove Lake, maka harus menukar dengan tiket bis yang baru keesokan harinya jika sudah lebih dari 1×24 jam.

Dove Lake Circuit dengan Glacier Rock (di latar belakang, batu besar)

Perjalanan ke Dove Lake memang benar berliku, tetapi menelusuri hutan hujan subtropis. Jika kita kuat, bisa berjalan ke Dove Lake sejauh 10km, atau misalnya tertinggal bis terakhir, maka terpaksa naik mobil orang lain (hitchhiking) atau jalan kaki 10km lagi ke Ranger Station (satu perhentian setelah Visitor Centre).

Sesampainya di Dove Lake, kita disambut pemandangan danau dengan latar belakang Cradle Mountain yang diliputi kabut. Jangan lupa untuk mengisi walker book, buku tamu yang akan merekam siapa saja yang melakukan trekking di sekitarnya. 

Ada banyak sekali jalur trekking, mulai dari yang sangat mudah sampai yang menantang. Ada pilihan very short walk sampai long walk dan naik ke puncak Marion’s Lookout, misalnya. Semua terpampang nyata dan jelas di walker centre, di mana ada jalur dan perhentian yang direkomendasikan, waktu yang diperlukan dan jarak yang ditempuh. Begitu pula dengan baju, alat dan perbekalan yang direkomendasikan. Yang paling populer adalah Dove Lake Circuit, jalur sejauh 6km berkeliling Dove Lake yang bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Jangan lupa untuk memeriksa waktu agar tidak tertinggal bis terakhir ke Visitor Centre, ya.

Jika ingin pengalaman trekking yang lebih menantang, maka cobalah Overland Track, yang bisa ditempuh dalam waktu enam malam, sejauh 65km, bermula dari Ronny Creek (satu perhentian sebelum Dove Lake) sampai Lake St. Clair. Kabar baiknya, kita bisa melalui berbagai macam lanskap yang indah dan khas Tasmania, jika kita bisa melakukannya. Kabar buruk atau realitanya, dibutuhkan persiapan dan latihan mental serta fisik yang matang untuk melaksanakannya. Ketika musim panas, akan semakin ramai yang melakukannya, tapi untuk mencegah overcrowding, diperlukan pemesanan jauh-jauh hari. Tidak bisa sembarang melaksanakan begitu saja. Minimum tiga orang dalam satu rombongan. Ada titik-titik pemberhentian dengan lokasi perkemahan dan fasilitas umum seperti toilet dan tempat masak komunal.

Karena kami membawa Janis, kami hanya melakukan trekking sederhana 2km di sekitar Dove Lake, sambil menikmati pemandangan di Boat Shed dan Glacier Rock (yang kebetulan tutup karena akan dibangun sebuah platform yang aman). Sudah cukup buat kami dan anak kami, yang cenderung lebih senang berhenti dan melihat air mengalir atau bertanya soal tanaman ini dan itu. 

Awas! Ada beruang ganas!

Tips: Tidak semua jalan bebatuan di Dove Lake ramah stroller, jadi lebih baik tidak membawanya. Jika ingin membawa stroller, silakan mencoba Enchanted Walk (diulas kemudian). 

Hati-hati ketika hujan, gunakan sepatu yang bisa digunakan untuk permukaan licin. Kami menggunakan winter boots. Jangan menggunakan sepatu hak tinggi.

Jika anda ingin membawa stroller atau dengan orang tua yang tidak bisa berjalan jauh, bisa mencoba Enchanted Walk, sebuah rute jalan kaki sederhana sejauh 1km yang melingkar (looping) dan dilengkapi dengan laluan terbuat dari kayu, pengaman berupa kawat agar tidak licin, serta beberapa bagian yang memiliki pegangan. Anda dapat menikmati suasana hutan hujan subtropis melewati sungai kecil di tengahnya. 

Enchanted Walk yang memesona

Kalau masih kurang puas, di sekitarnya ada banyak rute berjalan yang sederhana tapi juga menarik, seperti The Waterfalls Walk, King Billy Track, Speeler Track dan Dove Canyon Track. Tidak perlu sampai ke Dove Lake, anda sudah bisa menikmati keindahan alam. Jika ingin yang lebih panjang, cobalah Pencil Pine Track di samping Enchanted Walk.

Lapar? Maka kafe terdekat ada di sebuah hotel bernama Cradle Mountain Lodge di samping Enchanted Walk, kopi dan makanannya lumayan enak. Harga di kisaran A$20 untuk makanan utama (mahal tapi porsinya besar, bisa dibagi) dan A$5-6 untuk kopi atau cokelat hangat. Kafe selanjutnya yang kami rekomendasikan ada di Visitor Centre, dengan kisaran harga sama. Di sini juga anda bisa membeli suvenir dan mengisi bensin.

Tips: Mengisi bensin di Australia sangat mudah, walau tidak ada yang akan membantu anda mengisi mobil anda. Biasanya, anda mengisi dulu (cukup pilih bensin yang diinginkan—biasanya unleaded—tekan pengisinya dan tunggu sampai penuh (ketika penuh, pegangannya akan terlepas sendiri atau memaksa anda berhenti). Setelah itu, datang ke kaunter dan informasikan nomor pompanya. Anda bisa membayar pakai kartu kredit atau tunai.

Hari kami akhiri setelah makan siang, lalu bersantai sejenak di lounge hotel sampai petang, sambil meminjam DVD. Oh ya, di sini tidak ada sinyal ponsel maupun wifi, jadi hiburannya hanya DVD dan TV kabel.

Anehnya, kami merasa lebih bahagia tanpa internet, walau sesekali ingin update Instagram juga. Hihihi.

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 1)

Cradle Mountain

Tasmania adalah negara bagian terkecil dan paling selatan posisinya di Australia. Kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya pernah mendengar namanya, tapi tak pernah berkunjung ke sana. Selama beberapa dekade, ia pun hanya dianggap sebagai halaman belakang oleh orang Australia sendiri, dan dari sejarahnya yang cukup kelam—sebagai tempat pembuangan narapidana dari Inggris—tak banyak yang ingin berkunjung ke sana.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Tasmania, secara pelan tapi pasti, beranjak menjadi destinasi yang semakin terkenal. Jika Islandia menjadi terkenal karena lanskap yang menyerupai planet lain karena aktivitas volkaniknya—dramatis, dari tandus sampai hijau, lapang sampai bergerigi nan memuncak—maka Tasmania adalah kebalikannya, ia adalah tanah yang bersahabat seperti surga, tapi juga memberi kejutan di setiap sisinya.

Ketika kami mulai membuka dan mengikuti akun Instagram @tasmania, dari situlah hati kami jatuh cinta. Kesan pertama kami adalah Tasmania mirip sekali dengan Selandia Baru, dengan gunung menjulang, perjalanan darat, rumput meluas, udara bersih. Tasmania seperti sahabat lama yang hangat, merangkul dan mengundang. Sangat bersahaja. “Hey, kamu. Apa kabar? Bagaimana jalan-jalanmu di tempat lain yang indah itu? Mampirlah, nikmati pekaranganku yang sudah kurapikan dengan bunga, dengan lautan rumput melebar yang sangat hijau, berlatar belakang gunung yang menyingkap dirinya pelan-pelan. Lihatlah wombat, wallaby dan kangguru berlarian menemanimu. Besok hari jika sempat, kita akan melihat pantai dekat rumahku dengan bebatuan yang berapi-api. Nikmatilah, dengan secangkir kopi atau teh manis.”

Ronny Creek, Cradle Mountain

Tasmania memang penuh warna, hangat, bersahabat dan ramah. Seperti surga.

Semua ada di sebuah pulau yang bisa dijangkau relatif mudah dan cepat, serta belum ramai pengunjung. Ia juga menjadi destinasi yang sangat ramah keluarga.

Di sini, semua ada, untuk semua.

Berjalan di hutan hujan subtropis

Mari mulai dari kehidupan kota. Hobart dan Launceston, dua kota terbesar di pulau ini, menjadi nadi utama kehidupan kota. Museum nan berkelas (tanpa antrian gila-gilaan seperti di London atau Paris), pengalaman kuliner yang menyenangkan (tanpa antrian panjang seperti di Eropa atau di Jepang), jalan kaki yang menyenangkan, rileks dan tidak padat. Penuh kejutan kecil di sana-sini. Pemilik warung makan yang ramah. Atau, cobalah Richmond, 30 menit dari Hobart, di mana impian masa kecil tinggal di kota menawan menjadi nyata, hampir seperti kota di sebuah film Walt Disney.

Launceston, kota lembah Tamar Valley yang sendu di pagi hari

Senang dengan alam? Beranjaklah sedikit saja ke luar kota, maka cuplikan menarik dari Tasmania sebagai pulau yang dekat dengan alam akan menampakkan diri. Mount Wellington, sebuah gunung berketinggian 1.200m di atas permukaan laut yang bisa diakses 30 menit dari kota Hobart. Tamar Valley dan Narantwapu National Park, hanya sekitar 1 jam dari Launceston. Beranjaklah beratus-ratus kilometer ke Cradle Mountain, untuk melihat gunung dan danau Dove Lake yang terindah di Tasmania, bagian dari Lake St. Clair National Park yang dicintai para trekker.

Senang dengan pantai? Ketika musim panas, beralihlah ke Bruny Island atau Freycinet National Park untuk bermain di pantai putih berlatar belakang pegunungan menawan serta air biru toska.

Senang dengan hewan? Hampir di setiap taman nasional selalu ada kesempatan untuk melihat hewan asli Australia seperti wallaby, wombat dan yang paling terkenal… Tasmanian devil

Wallaby di depan kabin penginapan kami di Cradle Mountain

Berkelana dengan anak-anak? Kondisi alam yang beragam dan tidak terlalu ekstrem (misal, gunung tinggi atau berapi, atau cuaca ekstrem) membuat Tasmania menjadi pilihan yang tepat buat anak kecil! Musim panasnya tidak terlalu panas, musim dinginnya juga masih boleh tahan. Banyaknya lahan untuk berlari-lari dan kans bertemu hewan liar yang ramah juga menjadi daya tarik buat si kecil.

Yang membuat Tasmania menarik buat kami adalah keseimbangan yang hakiki:

  • Ukuran pulau yang “pas”: Ukurannya yang cukup pas untuk dijelajah dengan mobil. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung, maksimal 4 jam, dan bisa dipecah menjadi 2-2 atau 1-1-2 jam untuk istirahat atau berhenti bermalam. Ukuran pulau yang pas juga membuat penyusunan rencana perjalanan (itinerary) menjadi lebih mudah, dan hampir semua yang kami inginkan dapat dicapai dalam dua minggu. Kalau pun kami merasa kurang, itu hanya karena Tasmania terlalu indah dan kami ingin lebih berlama-lama!
  • Kombinasi kota besar dan alam yang seimbang: Alam yang terpencil (remoteness) dapat dicapai hanya 1-2 jam dari kota besar. Jika butuh apa-apa atau terjadi keadaan darurat, bisa dengan mudah kembali ke kota besar.
  • Variasi alam yang seimbang: Kecuali gurun (yang tentu bisa diakses di benua Australia yang utama), semua ada di sini, mulai dari gunung (Cradle Mountain, Hartz Mountain, Ben Lomond) sampai pantai (Bay of Fires, Bruny Island, Freycinet National Park, dan hampir seluruh sisi timur pulau), ada. Pulau-pulau kecil juga ada di sekitarnya, seperti Maria Island dan Flinders Island, atau daratan luas di tengah dengan berbagai kota kecil.
  • Bersahaja, tapi tetap memukau: Tasmania memang tidak sedramatis Selandia Baru atau Islandia, tetapi ia tetap punya ketertarikan tersendiri, dan menarik untuk pengelana ekstrem seperti pendaki gunung, sampai wisatawan keluarga yang ingin menikmati pemandangan dengan aman dan nyaman.
  • Harga masih relatif terjangkau: Pada saat tulisan ini dibuat, Tasmania masih mengarah menjadi bintang pariwisata dunia, seperti apa yang pernah terjadi pada Islandia beberapa tahun lalu. Harga-harga masih relatif terjangkau, seperti sewa mobil seharga $10-20 AUD per hari. Jika memasak sendiri, biaya-biaya pun akan dapat ditekan. Biaya hidup di kota-kota di sini pun juga lebih murah dibanding biaya hidup di kota-kota Australia lain seperti Sydney atau Melbourne, dan opsi menginap juga hadir di kota-kota menawan seperti Richmond dan Deloraine.
  • Ramah jetlagTerutama bagi yang berasal dari Indonesia atau Asia secara umum, perbedaan waktu tidak terlalu menonjol seperti jika kita ke Islandia (7-8 jam ke belakang), atau Selandia Baru (5-6 jam ke depan). Tasmania masih berbeda 3 jam dengan Waktu Indonesia Barat, atau dari kami di Singapura, hanya 2 jam. Efek jetlag tidak terlalu terasa, terutama buat anak kami.

Untuk perjalanan kali ini, kami cukup konservatif dalam membuat rencananya. Awalnya, memang, kami menganut sistem “kebut dua minggu”, di mana setiap satu atau dua hari, kami berhenti dan menginap di suatu tempat, dirancang sedemikian rupa hingga ia benar-benar mengelilingi pulau secara bundar. 

Ronny Creek, Cradle Mountain
Ross, Tasmania: Salah satu dari sekian banyak kota kecil pemberhentian kami

Rencana perjalanan awal kami:

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Stanley, sebuah kota kecil di pesesir utara Tasmania juga, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Strahan, kota kecil dengan latar hutan hujan, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Lake St. Clair, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke New Norfolk, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Hobart, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Port Arthur, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Orford, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Swansea/Coles Bay, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke St. Helens, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam.
  • Pulang.

Tapi setelah dipikir-pikir, rencana di atas memakan waktu 16 hari, terlalu lama untuk jadwal kami. Selain itu, sepertinya sedikit ngoyo, ya? Hidup di jalan terus dan tidak ada waktu bongkar kemas dan menikmati suasana.

Akhirnya, setelah dipilih-pilih, kami membuat rencana baru yang lebih realistis, dengan harapan suatu saat akan kembali lagi ke Tasmania (amin!):

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 3 malam. Mengorbankan Stanley.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 2 malam. Mengorbankan Strahan.
  • Lanjut ke Coles Bay, menginap 2 malam. Mengorbankan Bay of Fires/St. Helens.
  • Lanjut ke Hobart via Port Arthur, menginap 4 malam. Mengorbankan Lake St. Clair, New Norfolk.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam. Di perjalanan mampir ke Richmond, Ross dan Deloraine.
  • Hari terakhir, pulang.
Masak sendiri di hotel/kabin self-catering

Total perjalanan darat adalah 13 hari, dengan perjalanan udara 2 hari.

Dengan begini, kami bisa bongkar kemas dan istirahat di setiap tempat minimal selama 2 malam (kecuali Devonport yang hanya singgah). Devonport adalah persinggahan logistik, di mana kami akan membekali diri di awal dan berkemas final dan istirahat di akhir. Devonport juga dipilih sebagai pintu masuk karena tiket terusan dari Melbourne ke sana lebih murah daripada ke kota-kota lain, dan posisinya paling dekat dengan Cradle Mountain, perhentian pertama kami.

Setelah rencana perjalanan difinalisasi, kami menentukan beberapa hal penting lain seperti:

  • Sewa mobil: Kami memutuskan menggunakan Europcar karena mereka paling transparan ketika proses pemesanan. Kalau cari harga yang lebih murah, mungkin bisa coba Budget. Ada beberapa opsi lain yang lebih murah seperti Apex Rental tetapi ia tidak ada di Devonport, tempat kami mendarat. Pastikan anda memilih opsi ekstra yang diperlukan seperti child seatroad side assistance (jika tidak mahir mengganti ban dan lain sebagainya), serta yang paling penting asuransi yang meliputi kecelakaan. Jangan lupa aktifkan asuransi snow cover jika akan pergi ke daerah bersalju.
  • Menyusun menu makanan: Ini akan menentukan anggaran dan kenyamanan. Untuk kami, kami memutuskan untuk masak sendiri ketika pagi dan malam, dan opsi makan di luar ketika siang, atau ketika sedang bepergian dari satu kota ke kota lain. Tips: kami beli penanak nasi mungil yang bisa menyediakan nasi cukup untuk dua dewasa dan satu anak. Langkah selanjutnya setelah memutuskan masak adalah menyusun menu. Menu ini kami variasikan, tapi secara kasar, beginilah kira-kira menu kami bergantian:
    • Pasta bolognaise dengan daging cincang (atau minimal bumbunya saja)
    • Kari ala Jepang dan nasi putih, dengan sayur wortel, brokoli dan kentang (jika ada)
    • Ayam/daging/tuna tumis teriyaki/saus tiram dengan sayur wortel dan brokoli dan nasi putih
    • Tom yam dengan sayuran seadanya plus ayam atau protein lain
    • Sosis domba digoreng saja (sosis di Australia jauh lebih enak dan alami), biasanya untuk sarapan
    • Sandwich isi salmon asap, alpukat potong atau dihancurkan, keju lembaran dan telur mata sapi, biasanya untuk sarapan
    • Telur mata sapi dan nasi untuk sarapan
  • Menyusun daftar belanja: Ini benar-benar kami anggap serius karena ada beberapa hari seperti di Cradle Mountain di mana kami akan benar-benar jauh dari supermarket, atau pun kalau ada, antara lebih mahal harganya atau kami memang malas keluar karena dingin! Berikut daftar belanja yang kami punya secara kasar:
    • Bahan masak dasar seperti beras, daging, ayam, ikan, sayur seperti wortel dan brokoli, pasta, tomat, telur, minyak zaitun dan lainnya
    • Bumbu masak dasar seperti bawang-bawang dan beragam saus
    • Makanan siap makan yang bisa dijadikan makanan utama juga seperti roti tawar dan selai-selai
    • Kudapan, seperti keripik, cokelat, wafer dan lain sebagainya, berguna untuk di jalan misalnya ketika mendaki gunung
    • Minuman, seperti susu, jus, dan air mineral (penting!)
    • Perawatan tubuh seperti sabun, sampo jika diperlukan
    • Peralatan kebersihan, seperti kantung sampah, ini sangat penting ketika sampah banyak tetapi penginapan hanya menyediakan tempat sampah kecil
  • Pesan penginapan: Kami ingin berusaha untuk menggunakan jenis penginapan yang bervariasi, mulai dari hotel, rumah, apartemen, sampai kabin. Syukurlah, kami bisa mencoba semuanya dalam perjalanan ini. Fokus kami ketika di gunung adalah kenyamanan dan keamanan, oleh karenanya pengeluaran akomodasi di gunung paling mahal, di sebuah hotel yang menurut kami sungguh baik dan nyaman. Di kota, kami fokus pada rumah atau apartemen. Di pantai, kami menyewa kabin.
  • Pesan tiket pesawat: Kami memesan tiket pesawat Emirates dari Singapura ke Melbourne (7,5 jam), lalu QantasLink untuk terusan dari Melbourne ke Devonport (50 menit). Pengalaman kedua kami naik pesawat double-decker A380, dan pengalaman pertama kami semua naik De Havilland Dash-8! 
  • Visa Australia: Kebetulan kami sudah punya visa Australia 3 tahun multiple entry, jadi untuk kali ini, urusan visa menjadi mudah.
Hasil hiking 1,5km dengan anak, pemandangan indah di Wineglass Bay

Proses perencanaan berlangsung kurang lebih 2-3 minggu sebelum berangkat, tapi kami puas. Untuk cerita masing-masing hari di perjalanan Tasmania kali ini, ikuti artikel berikutnya, ya!

Perth, Destinasi Terbaik untuk Keluarga

Kami datang ke Perth tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang bilang destinasi ini membosankan. Ada yang bertanya, “Ngapain kamu ke Perth? Ada apa di situ?”

Pemandangan dari Kings Park & Botanic Garden

Yang kami tahu, Australia selalu jadi destinasi yang oke buat keluarga, apalagi yang punya anak kecil seperti kami. Jadi, kami pesan saja tiket pesawat ke Perth dari Singapura, sambil berharap cemas (tapi senang). Oh ya, kami liburan ke Perth ini sebenarnya tidak direncanakan. Kami menang undian di kantor, di mana tiap bulan satu orang pegawai bisa pergi ke mana saja dengan budget S$3,000. Enak kan? Makanya, kerja di HomeAway, ya.

Karena sifatnya mendadak, kami agak malas mengurus visa. Kami pun ingat, masih ada visa Australia yang berlaku tiga tahun itu. Perth juga waktunya sama dengan Singapura, jadi tidak ada masalah jet lag. Cus!

Walaupun beberapa orang mengatakan Perth tidak ada apa-apanya, kami justru terkejut. Kenapa bisa begitu, ketika kami melihat justru banyak sekali pantai yang bagus, iklim yang bersahabat, kota yang tidak terlalu ramai seperti Melbourne atau Sydney… sungguh surga bagi kami. Janis pun bisa berlari-larian ke mana-mana dengan leluasa. Teman kami yang sudah lama tinggal di Perth pun bilang, memang banyak penduduk Perth yang kurang bersyukur dengan keadaannya. Padahal, Perth itu tempat yang enak buat hidup!

Tapi benar deh, pantai di sini yang terbaik yang pernah kami lihat. Pasir bersih dan putih, ombak yang bersahabat dan “santai”, air yang bersih dan berwarna biru toska… luar biasa. Belum lagi melihat Samudera Hindia yang membentang luas sampai Afrika. Pantai di pesisir barat Australia membentang beratus-ratus kilometer, mulai dari Geraldton, sebuah kota kecil jauh di utara Perth, sampai Margaret River, dan terus ke Augusta di ujung selatan.

Kami datang tanpa rencana pasti, yang pasti adalah kami menyewa mobil. Sebuah Toyota Corolla Hatch sederhana yang kami sewa dengan total biaya AU$350 per minggu (tanpa besin, tanpa supir, karena supirnya saya, cukup dibayar makan saja).

Berbekal Google Maps, kami secara acak memilih tujuan pertama kali di Perth. Hompimpa, ternyata yang keluar adalah Matilda Bay. Sebenarnya tanpa hompimpa sih, kami cuma mau tujuan yang dekat dengan rumah menginap saja, sembari menunggu check-in jam 3 sore.

Kami tinggal di daerah Crawley, sebuah suburb di barat pusat bisnis (CBD), tidak jauh dari pusat kota. Senang sekali tinggal di daerah ini, karena tidak begitu jauh dari pusat kota, tapi suasananya tenang seperti di pinggiran. Selain itu, kami juga dekat dengan pesisir, mungkin sekitar 15-20 menit menyetir mobil. Matilda Bay adalah waterfront terdekat dari tempat menginap kami, dan ada kafenya.

Kopi sore di Bayside Kitchen, Matilda Bay

Di Matilda Bay ini, kita bisa melihat CBD dari kejauhan, di seberang Swan River, sambil menikmati kopi di Bayside Kitchen, sebuah kafe bertema rumah pantai.

Dari 7 hari di sini, kami merencanakan segalanya dari hari ke hari, alias satu hari sebelumnya, bahkan kadang di pagi harinya.

Di hari ke-2, kami mencoba pergi ke Caversham Wildlife Park, untuk melihat kangguru dan koala buat si kecil. Perjalanan dari tempat menginap kami memakan waktu 1 jam. Di sini, kami bisa berinteraksi dengan kangguru langsung, memberi mereka makan (dari pakan yang sudah disediakan). Kita juga bisa berfoto bareng koala, yang ternyata harus tepat waktu, karena mereka punya waktu tidur siang!

Berpose bersama koala di Caversham

Bermain bersama kangguru di Caversham

Kangguru bersantai

Memberi makan kangguru

Setelah puas ke Caversham Wildlife Park, melihat beberapa hewan lain, seperti burung dan wombat, kami ke tengah kota lagi untuk menikmati kopi sore di South Foreshore, tepatnya di cafe bernama The Boatshed Cafe. Rileksnya!

Di hari ke-3, kami mencoba salah satu pantai. Kami bingung memilih antara Scarborough atau Cottesloe, tapi akhirnya Cottesloe menjadi pilihan karena lebih dekat jaraknya. 15 menit perjalanan menyetir saja. Matahari terik tapi suhu lumayan dingin (20-25 Celcius).

Pantai Cottesloe merupakan salah satu pantai yang populer, selain Scarborough. Oleh karenanya, pantai ini cukup ramai. Ada hotel, pertokoan dan rumah makan di sekitarnya. Tempat parkir banyak. Ini kali pertama anak kami benar-benar main di pantai. Kami makan siang ikan barramundi yang ternyata enak sekali.

Cottesloe Beach

Bermain ayunan di Cottesloe

Kami juga sempatkan berkunjung ke Kings Park dan Botanic Garden, taman botani dan memorial Anzac dengan pemandangan ke arah CBD dan Swan River yang menakjubkan. Lokasinya agak tinggi, dengan rumput yang berkualitas tinggi, membuat piknik menjadi nikmat luar biasa dan kalau tidak berhati-hati, bisa ketiduran sampai sore…

Karena masih belum puas dengan pantai, kami pun pergi ke pantai lain di North Fremantle. Menurut teman kami, ini pantai yang lebih sepi dan pasirnya lebih bagus. Benar. Lebih rileks, walau tidak sedramatis Cottesloe. Kami di sana sambil main air dan menikmati senja.

Janis bermain pasir dari jarak dekat

Bersantai di pantai Coast Port

Puas main di pantai, kami mengakhiri hari dengan makan malam di Chicken Charcoal di bilangan Dianella. Chicken Charcoal, tidak seperti namanya, tidak hanya menyajikan ayam bakar, tapi juga ribs domba bakar, yang luar biasa enaknya. Tekstur luar yang renyah dan dagingnya yang lembut, sangat menggugah selera. Tepat untuk makan malam setelah main di pantai. Apalagi, dilengkapi nasi biryani hangat, kentang goreng dan salad kepiting.

Perth memang bukan destinasi kuliner, tapi jika anda benar-benar ingin mencoba hal baru, cobalah makan daging kangguru. Tenang, daging kangguru di sini berasal dari kangguru yang diternak khusus. Rasanya seperti apa? Sama seperti daging sapi, hanya tidak ada lemaknya. Cukup sehat, bukan?

Perjalanan ini diakhiri dengan klimaks yang cukup menyenangkan: Rottnest Island, atau Pulau Rottnest. Pulau konservasi ini menjadi tujuan wisata banyak orang di Perth, terkenal dengan mamalia unik yang berhabitat di sini: quokka. Pulau ini juga memiliki beberapa pantai mungil yang indah.
Biasanya, pengunjung akan menyewa sepeda dan berkeliling pulau, sembari menginap semalam atau dua malam. Tapi waktu kami datang, sedang hujan, sehingga kami memutuskan untuk berkeliling menggunakan bis yang walau cukup mahal (AU$18 per orang dewasa, gratis buat anak di bawah 4 tahun), bisa membawa kami keliling pulau untuk seharian, tanpa batas.

Pinky Beach, Rottnest Island

Tidak usah khawatir kelaparan, karena di sini banyak makanan dan juga pertokoan, termasuk sebuah supermarket. Bawa makanan ke salah satu tempat duduk yang tersedia, dan voila, kita bisa piknik ditemani quokka yang berkeliaran. Hati-hati, jangan memberi mereka makan karena mereka sudah punya diet khusus.

Mercusuar di Pinky Beach, Rottnest Island

Pinky Beach, Rottnest Island

Sambil menunggu hujan reda, kami makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14:30, dan kapal kami kembali ke Fremantle adalah pukul 16:25. Kami sempatkan berkeliling ke pesisir dekat dermaga, untuk melihat sebuah mercusuar di dekat Pinky Beach, sebuah pantai mungil yang sungguh indah.

Quokka

Kami sungguh menyesal karena tidak menyempatkan menginap di Rottnest Island, karena alamnya begitu indah dan tenang. Mungkin lain kali!

Paella Nikmat di Tower Bridge


Naik tube pertama kali

Siapa sangka, pertama kali kami makan paella, makanan kebanggan Spanyol, malah bukan di Spanyol. Tapi di Inggris. Di London. Tepatnya, di pinggir Tower Bridge. Itu pun juga mendadak, karena kami semua keburu lapar, dan Janis lagi senang nasi. Untung, ada bazar makanan di sekitar Tower Bridge waktu itu, dan pilihan jatuh ke paella, antara makanan Thailand dan Korea yang juga ada nasinya.


Makan siang paella di Tower Bridge

Ternyata, Janis pun suka. Syukurlah.

London, buat kami, bukan destinasi kuliner. Walau ternyata kami salah, karena seperti ibukota negara lain yang dinamis, banyak imigran di sini yang pada akhirnya membawa banyak pengaruh budaya, salah satunya makanan.

Tower Bridge adalah atraksi turis pertama yang kami kunjungi, karena dekat dengan hotel. Sebenarnya tidak dekat juga sih, sekitar lima atau enam stop bis kota.

Hari itu juga kami pertama kali naik bis double decker merah yang terkenal itu. Sayangnya, bukan versi routemaster. Namun, jauh lebih modern, dan agak berbeda dari versi bis tingkat Singapura yang kami biasa naiki: penumpang bisa naik dan turun dari tiga pintu, di depan, di tengah dan di belakang. Di Singapura, kami hanya bisa naik dari pintu depan dan turun dari pintu tengah atau depan. Ternyata, stroller bayi juga bisa masuk tanpa harus dilipat.

Kami menghabiskan banyak waktu di Tower Bridge, hanya melihat-lihat keramaian yang ada, sembari menunggu check-in di hotel yang baru bisa pukul dua siang. Kami juga sempat eksplorasi beberapa sudut kota sambil menuju British Museum.


Salah satu fasad kafe di Bloomsbury


Beberapa sudut kota London yang menarik hati kami

Perjalanan kami hari itu sebenarnya dimulai di hotel dekat bandara. Begitu datang, kami memang pesan hotel dekat bandara sehingga bisa cepat istirahat. Pengalaman kami di Melbourne tahun lalu, satu hingga dua hari pertama dihabiskan di tempat tidur karena jetlag. Karena kami membawa anak kecil, maka kami tak ambil resiko. Daripada linglung dan keletihan mencari alamat penginapan di pusat kota London, mungkin ada baiknya kami langsung istirahat saja.


Bersiap naik bis ke bandara dari hotel dekat bandara, untuk naik kereta ke kota


Tiba di stasiun kereta di bandara Heathrow

Benar, kami tertidur pulas delapan jam setelah itu. Janis lebih lama lagi, mungkin sekitar 12 jam.

Bandara Heathrow terletak 23 km di sebelah barat kota London, dan hitungannya mungkin lebih ke “countryside“. Lingkungan sekitarnya cukup rileks dan sepi. Kami berpikir, lucu juga ya, kalau lain kali kita berlibur menghindari kota besar dan hanya mampir di sebuah desa.


Naik kereta Heathrow Express, cuma 15 menit sampai ke kota!

Untuk ke kota London dari bandara, ada banyak opsi. Opsi paling sering digunakan adalah Heathrow Express (tanpa berhenti, sekitar 15 menit, paling mahal) dan Heathrow Connect (berhenti di beberapa stasiun, sekitar 30-45 menit) tube (paling lama, sekitar 1 jam 15 menit), bis (1 jam lebih) dan taksi (1 jam lebih). Saran kami, jika banyak bawaan dan ada anak kecil, naik taksi atau Uber saja. Biayanya memang agak mahal, sekitar Rp1.000.000-an, tapi langsung ke penginapan tanpa basa-basi. Pengalaman kami waktu itu, naik kereta Heathrow Express sampai ke Paddington (karena memang akhirnya di situ), masih harus disambung beberapa line underground yang ternyata tidak ramah stroller dan koper. Alhasil, kami kesulitan menggotong koper dan membawa Janis di gendongan dan stroller. Opsi lain yang murah adalah menyewa penginapan di Paddington atau sepanjang underground jalur biru, Picadilly line.


Ruang stroller di bis kota


Transit di Paddington

Tapi, tak apa. Dari sini belajar. Begitulah gunanya traveling, ya kan?

UPDATE: Tonton vlog kami tentang hari ini di sini:

Perjalanan ke London Itu

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pergi ke London, Inggris. Destinasi ini adalah salah satu bucket list kami, selain Iceland. Mengingat usia Janis yang masih dua tahun, kami memutuskan untuk pergi ke London dulu, karena secara tantangan lebih mudah.

Akhir Januari 2017, kami mulai merencanakan kapan berangkat. Setelah menimbang-nimbang, dipilihlah sekitar bulan April atau Mei 2017, karena pada saat itu sudah terkumpul cukup cuti dan uang untuk bisa berangkat. Pertengahan Februari 2017, kami mulai daftar visa Inggris. Kami bisa melakukannya melalui VFS Global di Singapura, dan ternyata prosesnya cukup mudah. Formulirnya diisi online lalu dicetak, dan dilengkapi dengan beberapa dokumen pendukung standar. Karena kami penduduk Singapura, maka kami juga perlu melampirkan izin tinggal di sini.

“Visa diperkirakan jadi 15 hari kerja.”

Tidak masalah buat kami, karena perjalanan masih jauh hari. Beruntung, enam hari kemudian, visa kami semua sudah keluar. Syukurlah!

Kami pun sibuk cari tiket pesawat. Akhirnya, setelah menimbang antara Malaysia Airlines dan Qatar Airways, pilihan jatuh pada Qatar Airways. Harga lebih mahal sedikit, tetapi perjalanan dibagi menjadi dua bagian (masing-masing sekitar tujuh jam dengan transit di Doha, Qatar).

Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari belanja baju hangat (karena diperkirakan suhu masih antara 8 hingga 15 derajat Celcius), sampai makanan, untuk mengantisipasi lapar malam karena jetlag. Dua koper medium, satu tas stroller dan dua ransel menjadi teman kami. Kami juga membeli stroller kompak dan kamera mungil untuk mengurangi beban dalam perjalanan kali ini.

Kamis, 27 April 2017, 18:00. Kami sudah tiba di bandara Changi, dan proses check-in sudah dilakukan untuk penerbangan dari Singapura ke Doha, lalu dari Doha ke London. Kami sempat was-was, apakah Janis bisa tidur? Apakah dia betah? Terakhir kali waktu perjalanan ke Melbourne yang juga tujuh jam lamanya, ia masih berusia satu tahun dan masih muat di baby bassinet. Sekarang, badannya sudah besar, dan sudah mendapatkan tempat duduk sendiri. Kami pasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Area bermain di Changi


Menunggu sambil menelepon eyang dan tante


Sudah boarding di Qatar Airways tujuan Doha


Child’s meal versi Qatar Airways

Janis sempat rewel di bandara, mungkin merasa asing. Tapi setelah diajak main jungkat-jungkit di bandara, ia pun senang lagi. Tersenyum bahagia. Kami sempatkan menelepon eyang dan tantenya, agar ia merasa senang. Saya sempat menukar uang secukupnya, supaya dapat digunakan untuk, terutama, makan dan transpor ketika sudah sampai di London.

Ini pertama kali kami naik Qatar Airways. Cukup menyenangkan. Para pramugara dan pramugarinya sangat ramah dan baik hati, terutama terhadap anak kecil. Janis dapat berbagai macam hadiah, dan makanannya diberikan dalam bentuk koper mungil. Perjalanan tujuh jam pun tidak terasa, walau saya tidak bisa tidur. Syukurlah, Janis bisa tidur sepanjang perjalanan!

Sampai di bandara Doha, Qatar, sekitar pukul satu pagi waktu lokal, atau sekitar pukul enam pagi waktu Singapura. Sesuai dengan waktu bangun Janis. Janis pun bangun seketika mendarat, dan kami bisa “sarapan” walau seadanya. Dalam perjalanan kali ini, kami mencoba sebuah lounge berbayar, tapi suasananya ternyata tidak nyaman: ruang sempit dan ada yang merokok di dalam ruangan. Pelajaran: tidak usah begini lagi lain kali, mending di luar saja, pilihan banyak dan ruang lebih luas buat anak untuk berlari-lari.


Berfoto di depan instalasi seni karya Urs Fischer yang populer itu


Tiba di Doha

Transit kali ini sekitar lima jam. Tidak terasa. Hanya saya yang memanfaatkan fasilitas mandi, ibu dan anak tidak karena penuh sekali antriannya. Hanya lap badan dan ganti popok untuk Janis.

Seketika, waktu untuk boarding ke pesawat A380-800 tujuan London pun tiba. Kami sangat terpompa semangatnya. Ini pengalaman pertama kami semua naik pesawat sebesar ini, sayang Janis tidur, walau tak lama setelah lepas landas, ia bangun. Alhamdulillah, lepas landas sangat mulus, pesawat tidak mengalami guncangan berarti, dan walau mata terbuka, Janis tidak rewel dan malah mau makan dan bermain.


Menunggu boarding A380-800!


Pertama kalinya kami sekeluarga naik pesawat sebesar ini


Akhirnya mendarat di London Heathrow!

Kami tiba di bandara Heathrow, London, di terminal 4, dalam cuaca mendung. Setelah melewati antrian imigrasi yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya menunggu bis untuk menuju hotel di hari pertama. Hotel di hari pertama ini kami pilih di dekat bandara, untuk bisa segera beristirahat. Esok harinya baru kami akan ke tengah kota.


Menunggu bis Hotel Hoppa ke hotel dekat bandara

Untuk lebih dekat dengan kami, silakan tonton vlog kami di hari perjalanan ini. Bagaimana pengalaman hari ke-2? Tunggu ceritanya ya.

Pengalaman Pertama Mudik Bersama Bayi

Mudik tahun ini ke Semarang, Karanggede dan Solo adalah pengalaman pertama keluarga kami mudik sejak Janis lahir tahun lalu. Lebaran tahun lalu, kami tidak mudik, karena Janis masih berusia empat bulan. Kami sempat pulang ke Semarang dan Solo untuk mengunjungi eyang-eyang pada Desember 2015, tapi ketika itu jalanan tidak begitu ramai.

Perjalanan di hari yang cerah
Perjalanan Jakarta-Semarang dengan Garuda Indonesia cukup aman dan damai pada lebaran hari kedua.

Lain cerita pada tahun 2016, kami berniat mudik walau hanya empat hari. Rencananya, kami berangkat pada lebaran hari ke-2, setelah berlebaran hari pertama di Jakarta. Setelah menikah, memang kami harus pintar-pintar membagi waktu dan “jatah” antara keluarga saya dan istri, hingga tidak ada yang merasa ketinggalan. Memang, eyang, bude, pakde, om dan tante semua mengerti jika kami tidak pulang, tapi akhirnya kami kasihan juga dan kebetulan ada waktu.

Rute kami sederhana. Terbang dari Jakarta ke Semarang, lalu menyetir dari Semarang ke Solo melalui Karanggede, sebuah desa di dekat Boyolali, lalu menginap di Solo semalam sebelum menyetir kembali ke Semarang dan terbang pulang ke Jakarta pada hari ke-empat. Kenapa kami tidak pulang dari Solo saja? Karena mobil harus kami kembalikan ke Semarang. Orang tua Lintang berdomisili di Semarang dan cara paling baik menurut kami adalah dengan mengambil dan menggunakan mobil di rumah Semarang lalu kembali ke kota yang sama. Pulangnya pun terbang dari Semarang ke Jakarta.

Terbang kali ini barangkali menjadi pengalaman terbang Janis ke-10 atau ke-11 kalinya, sehingga kami tidak terlalu khawatir. Walau demikian, kami tetap bersiap mental dan fisik. Siapa tahu Janis bisa lebih rewel dari sebelumnya, apalagi mengingat jam perjalanan kami cukup siang dan melewati jam tidur paginya, pukul sembilan.

Janis tertidur pulas di udara setelah menangis ketika lepas landas
Janis tertidur pulas di udara, setelah menangis ketika lepas landas.

Bersiap terbang bersama eyang-kung
Bersiap terbang bersama eyang-kung.

Benar saja, Janis menangis ketika pesawat akan lepas landas, cukup keras. Kami cukup terbantu karena ada eyangnya yang membantu menenangkan. Sepertinya suhu pesawat yang cukup hangat membuatnya rewel. Ketika pesawat sudah berada di udara, pendingin udara berfungsi baik, Janis tertidur pulas sampai mendarat di Semarang. Pada hari kedua lebaran 2016, bandara Soekarno-Hatta dan pesawat (kami naik Garuda Indonesia) cukup ramai tapi tidak padat. Kondisi cuaca juga baik sehingga tidak terjadi guncangan yang berarti.

Bandara Ahmad Yani, di sisi lain, sangat padat dengan pemudik. Kami tadinya mencoba menyewa mobil di Golden Bird, tetapi ternyata armadanya habis. Akhirnya, kami naik taksi resmi bandara, dan ternyata cukup murah: Rp90.000 saja, tarif flat sampai tujuan kami di Banyumanik. Belum termasuk tol.

Perjalanan dari bandara Ahmad Yani ke Banyumanik memakan waktu 30-45 menit. Banyumanik adalah sebuah kecamatan di selatan Semarang yang berbatasan dengan kota Ungaran. Kebetulan dinas eyang-kung Janis di sini, dan rumah dinasnya ada di Banyumanik.

Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang
Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang.

Kenyangkan diri sebelum berangkat
Makan dulu sebelum terbang ya!

Kami makan siang sebentar sebelum mulai berangkat melalui darat dengan menyetir mobil dari Semarang ke Solo, melalui Karanggede. Mengingat perjalanan ini akan melewati beberapa titik macet, kami menyiapkan beberapa hal berikut untuk Janis dan kami semua, seperti popok, mainan bayi, air minum yang cukup (terutama air mineral), ganti baju, serta uang tunai tentunya.

Macet di Suruh terbayar dengan pemandangan seperti ini
Macet terbayar dengan pemandangan seperti ini, apalagi ketika senja.

Sejauh ini, perjalanan mudik kami menyenangkan, walau ada beberapa titik kemacetan yang tidak kami duga (antara Salatiga dan Karanggede, di desa Suruh), sehingga Janis kelelahan luar biasa. Namun, setelah tidur semalam, mood kami semua kembali seperti semula.

Setelah mengalami mudik pertama dengan bayi ini, kami simpulkan beberapa hal. Yang pertama, jika ada rezekinya, naiklah pesawat ke titik terdekat dari kampung halaman. Menabunglah hingga cukup. Ini akan membantu menjaga mood dan kesehatan fisik semua orang. Yang kedua, jika membawa bayi, bawa persediaan makan, minum dan sandang yang cukup, terutama untuk bayi. Jika ada rezeki lebih, sewalah mobil pribadi sehingga bisa bebas berhenti di mana saja. Yang ketiga, menginaplah di beberapa titik, sehingga energi tidak terforsir. Selain itu, sebisa mungkin bayi kenyang sebelum perjalanan sehingga bisa menghemat banyak waktu dan tenaga.

Memang, mudik jadi semacam perjuangan dan kewajiban, dan banyak orang rela berkorban bersusah-payah di perjalanan demi sampai di tujuan. Tetapi, mari kita bersusah-payah di hari lain untuk menabung lebih banyak sehingga ketika mudik tiba, kita bisa merasa lebih nyaman.

Wajah bahagia bisa mudik
Wajah bahagia bisa mudik.

Tentang Rumah Mungil di Pantai Brighton

Begitu tahu kami akan ke Melbourne, istri saya, Lintang, langsung berkata, “Di Melbourne bukannya ada pantai yang ada rumah-rumah berwarna-warni itu, ya?”

Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton
Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton.

Saya sekilas teringat, sepertinya, ya, ada! Setelah mencarinya di Google, ternyata memang ada, dan letaknya di Brighton Beach, di sebelah selatan pusat kota Melbourne. St. Kilda, tujuan pantai dan dermaga populer itu, berbatasan langsung dengan Brighton, kota di sebelah selatannya. Pantai Brighton ada di pesisir barat kota Brighton.

Seagull?
Sekumpulan burung camar barangkali mencari makanan.

Kami berencana pergi ke sana setelah perjalanan ke Phillip Island dibatalkan karena alasan kenyamanan Janis. Menurut Google Maps, jika dari East Melbourne, kami harus menyetir sekitar 25-30 menit dan menempuh jarak sekitar 13-14 km ke arah selatan.

Kami pun bertanya-tanya, sebenarnya rumah-rumah kecil berwarna-warni di pinggir pantai ini apa dan buat apa ya? Ternyata, setelah diselidiki, mereka punya sejarah panjang. Pada abad ke-18, mereka digunakan sebagai tempat ganti baju untuk wanita yang sedang rekreasi di pantai Brighton. Sejak saat itu, fungsinya tetap sama. Hari ini, ia dikelola pemerintah, ada yang dimiliki pribadi, dan ada sebagian yang dijual lagi oleh pemiliknya. Harganya hari ini bisa mencapai Rp2,5 milyar, namun tak ada listrik dan air, dan tidak bisa diinapi semalaman atas alasan keamanan dan kenyamanan pengguna pantai. Jadi, siapapun yang menjadi pemiliknya harus menggunakannya sebagai sarana rekreasi pantai pada saat pantai buka saja. Setelah itu, pack up and leave.

Ada aturan juga tentang pengecetan dan modifikasi. Rumah-rumah kecil ini tidak boleh dicat dengan menampilkan merek atau usaha tertentu, tidak boleh dipakai beriklan, dan tidak boleh dimodifikasi melebihi ruang yang disediakan. Selain itu, tidak boleh digunakan sebagai tempat usaha, misalnya dijadikan warung kelontong, tempat nasi pecel, apalagi usaha fotokopi.

Keramaian di Pantai Brighton

Keramaian di Pantai Brighton
Keramaian di Pantai Brighton.

Terkesan eksklusif dan restriktif, tapi mungkin saya bisa paham tujuannya: untuk melindungi pantai ini dan melestarikan sejarah rumah-rumah kecil ini.

Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai
Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai.

Kami suka daerah Brighton. Saat itu sudah musim gugur, angin sejuk cukup kencang tapi tidak terik dan berkeringat. Kami berjalan agak jauh menyisir pantai dari mulai dari The Baths at Middle Brighton, sebuah restoran dan klub olahraga—dengan ruang parkir mobil yang agak luas—menuju ke selatan.

Melihat ke pusat kota Melbourne
Jika melihat ke utara, anda dapat melihat pusat kota Melbourne dari kejauhan.

Perjalanan diakhiri dengan membeli fish and chips di “warung” terdekat dan memarkir mobil tempat di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin senja.

Carol, Janis dan Lintang menikmati senja dan fish and chips
Carol, Janis dan Lintang di dalam mobil.

Pantai Brighton menjelang senja
Pantai Brighton menjelang senja.

Kami akan kembali, Brighton.

Bertemu Fauna Asli Australia di Healesville

Jika berkunjung ke Australia, hewan-hewan pertama yang terpikir hanyalah kangguru dan koala. Mungkin Tasmanian Devil, karena ia teman Bugs Bunny dan Daffy Duck yang terkenal itu. Siapa yang terpikir bertemu echidna, wombat, wallaby atau platypus? Bahkan tak ada nama Indonesia-nya!

Hewan-hewan inilah yang kami lihat dalam perjalanan kami ke Healesville Sanctuary, tempat perlindungan hewan khas Australia, yang jaraknya sekitar 65.1km dari Melbourne dan rata-rata memakan waktu 1 jam 15 menit menggunakan mobil sewa. Beruntungnya pada waktu itu, kami tinggal naik mobil sewaan Carol dan keluarga.


Perkiraan Google Maps untuk rute dari Melbourne ke Healesville Sanctuary.

Pagi-pagi jam tujuh kami sudah di luar menunggu jemputan Carol. Sebenarnya janji kami adalah pada pukul delapan, tetapi kami sengaja mencari sarapan dulu di sekitar apartemen, dan agar Janis bisa sarapan di taman. Kapan lagi, selain di sini? Di Jakarta sulit, ya.

Janis senang sekali makan roti. Kami pun membeli beberapa paket roti di 7-11. Orang tuanya makan sushi paketan sudah bahagia.

Sarapan sebelum berangkat.
Sarapan dulu sebelum berangkat, yuk?

Sekitar pukul delapan, Carol, Jillian, Eleanor dan Miranda datang membawa dua mobil. Kami langsung berangkat dan menuju Healesville!

Di Australia, jika membawa anak di bawah 12 tahun, atau ketika tingginya belum cukup, wajib menggunakan booster seat, dan tidak boleh dilepas selama perjalanan. Ini membuat kami sedikit kewalahan karena peraturan di Indonesia yang lebih rileks. Kami punya booster seat di mobil kami di Jakarta, tapi terkadang untuk menyusui, harus kami lepas dan dipangku. Di Australia, tidak bisa begitu. Akhirnya, setiap Janis rewel karena takut atau haus, kami harus berhenti dulu di jalan.

Pemandangan selama perjalanan, lebih kurang seperti ini
Pemandangan selama perjalanan lebih kurang seperti ini.

Pemandangan selama di jalan begitu cantik, walau tidak hijau seperti di Indonesia. Sejauh mata memandang, topografi relatif datar, namun cuaca begitu baik hingga hamparan pohon, perdu dan rumput terlihat bagus. Apalagi, di beberapa tempat, kami melihat kebun stroberi dan anggur. Tidak seperti di Indonesia, perjalanan di lingkungan pedesaan di sini begitu sepi dan tenang. Jalanan besar dan mulus. Tidak ada truk dan bis berlomba-lomba di jalan. Semuanya cukup santun.

Sekitar satu jam kemudian kami berhenti di kafe Church & Main untuk brunch. Lintang dan saya memesan calamari salad. Janis kami suapi makanan yang kami bawa sebagai bekal. Makan pagi menjelang siang ini berlangsung agak lama karena kami bertemu teman Carol di sana. Janis cukup mentolerir perjalanan ini, walau di jalan kami sempat berhenti tiga atau empat kali.

Makan apa ya?
Makan apa, ya? Janis di kafe Church & Main, Healesville.

Sesampainya di Healesville Sanctuary, kami langsung membeli tiket. Tempatnya dijaga sealami mungkin, sehingga tidak terlalu banyak pengkondisian atau lingkungan buatan manusia. Jangan heran kalau tampak agak “raw” atau kasar. Jalan untuk pejalan kaki pun hanya tanah. Satu lokalitas atau kandang hanya dibatasi oleh pintu dua sisi, selebihnya pembatas alami seperti bebatuan dan pohon. Ini barangkali untuk menjaga agar hewan-hewan di sini tidak merasa terkungkung dan stres, ya?

Koala!
Koala yang selalu bertengger.

Hewan-hewan yang kami lihat bervariasi, mulai dari yang terkenal seperti kangguru dan koala, sampai yang kami, orang Indonesia ini, belum tahu: echidna, wombat, wallaby, tasmanian devil atau platypus. Hewan-hewan apa sajakah itu?

Echidna (dibaca “ekidna”), adalah hewan mamalia yang mirip landak. Makanannya adalah semut, dan masih satu keluarga dengan platypus. Walaupun ia mamalia, tapi ia bertelur. Ukurannya cukup besar, seperti landak. Hidupnya di Australia dan Papua Nugini.

Echidna!
Echidna, mirip landak ya?

Wombat adalah hewan mamalia berkaki empat yang menurut kami sangat lucu. Bulunya banyak, mirip seperti beruang tapi versi kecil, atau marmut tapi versi besar. Bagaimana, ya? Lucu, deh, pokoknya. Ketika kami berkunjung ke kandangnya, ada satu yang sedang tidur terlentang. Janis terhibur melihatnya.

janisdanwombat
Janis, perkenalkan, wombat. Wombat, perkenalkan, Janis.

Wallaby adalah, gampangnya, “versi kecil” dari kangguru, karena secara taksonomi, mereka masih satu genus. Sekilas, wallaby lebih lincah lari ke sana ke mari karena badannya lebih kecil. Tapi, mereka tampaknya lebih pemalu.

Wallaby sedang minum!
Wallaby sedang minum!

Tasmanian Devil atau Tassie versi Warner Bros tampaknya besar dan garang. Aslinya, badannya lebih kecil, dan wajahnya lebih imut. Ia adalah mamalia berkaki empat yang masih juga marsupial. Banyak ditemukan di Pulau Tasmania, yaitu pulau di selatan benua Australia. Sedihnya, generasi berikutnya mungkin tidak dapat melihat hewan ini lagi karena mereka terancam punah. Beberapa pusat penangkaran di Australia berusaha untuk menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Penyebabnya? Tumor wajah yang menular dari satu hewan ke hewan lain. Di Healesville Sanctuary ini, ada tempat konservasi Tasmanian Devil di mana mereka diternakkan dan dihindarkan dari tumor.


Video tentang Tassie.

Platypus adalah hewan mamalia yang hidup setengah di darat dan setengah di air. Bentuknya seperti gabungan antar bebek dan berang-berang.

platypus_detail
Platypus. Sumber gambar di sini.

Selain hewan-hewan di atas, masih ada lagi yang lain seperti dilansir di situs web mereka. Ada Emu juga, burun besar dengan bulu yang sangat lebat.

Emu!
Burung Emu yang legendaris itu. Besar sekali!

Healesville Sanctuary ini bagian dari sistem konservasi hewan di negara bagian Victoria, khususnya di area Melbourne dan sekitarnya. Ia fokus pada hewan bushland atau hewan-hewan yang asli Australia. Ada tiga “kebun hewan” di sekitar Melbourne yang tergabung dalam wadah Zoos Victoria, antara lain: Werribee Open Range Zoo, Melbourne Zoo, dan Healesville Sanctuary.

Di Sanctuary ini juga ada rumah sakit, di mana hewan-hewan yang sakit bisa disembuhkan. Mulia, bukan?

Peta Healesville Sanctuary
Peta Healesville Sanctuary. Sumber gambar di sini.

Kangguru sedang beristirahat!
Kangguru sedang beristirahat!

Kami berputar-putar hampir dua jam lamanya, untung saja ada tempat berlabuh bagi Janis untuk menyusu di tengah hutan.

Setelah puas melihat hewan-hewan yang kami tak pernah lihat secara langsung, kami pun pulang untuk mengejar beberapa agenda lain, seperti makan malam, karena kami sudah lapar berat. Selain itu, kami khawatir Janis akan rewel karena sudah seharian di luar. Benar saja, kami berhenti sekitar dua atau tiga kali di perjalanan pulang untuk menyusui Janis. Tapi, kami semua puas.

bersama-miranda-dan-jillian
Menunggu yang tertinggal, sudah setengah jalan, nih!

Rencana esok harinya sebenarnya adalah ke Phillip Island untuk melihat penguin, tapi akhirnya kami batalkan karena jaraknya ditempuh dalam waktu dua jam dan kami tak membayangkan Janis mungkin akan merasa sangat letih. Sepertinya, road trip belum bisa jadi opsi buat si kecil. Nanti ya, Nak, tunggu agak besar sedikit!

Kisah Pabrik Mentega dan Sungai Yarra

Kami bertiga tertidur pulas dari jam dua siang hingga jam tujuh malam pada hari pertama kami datang, karena kelelahan tidak tidur dalam perjalanan. Janis saja yang tidur. Akibatnya, kami sudah tak punya energi lagi untuk pergi jauh-jauh. Kami putuskan untuk di apartemen saja dan makan malam sushi dan nasi kari paket yang kami beli di 7-11 terdekat.

southern_cross_02

southern_cross_03

southern_cross_01
Penampakan stasiun Southern Cross, stasiun paling modern di Melbourne.

Hari kedua di Melbourne adalah hari kerja, dan saya memanfaatkan pagi hari untuk ke tempat co-working teman sejawat saya. Bahagianya bekerja di perusahaan saya yang sekarang, saya bisa meminta bekerja di luar kantor sesuai kebutuhan. Kebetulan, ada teman saya yang bekerja di Melbourne. Saya bertandang ke York Butter Factory, sebuah tempat co-working yang cukup hits. Bangunan tua masih terjaga dan tempat ini awalnya adalah pabrik mentega. Sekarang, ia menjadi tempat bekerja para “buruh digital” seperti saya.

melbourne_morning
Selamat pagi, Melbourne!

York Butter Factory
Penampakan York Butter Factory. Sumber gambar di sini.

Satu hal yang sangat patut dicontoh di Melbourne adalah usaha pemerintah dan masyarakat lokalnya untuk melestarikan bangunan tua, terutama di pusat kotanya. Menurut teman saya di sana, ketika ada pihak yang ingin mengubah fasad atau bagian kecil dari bangunan, proses perizinannya panjang, dan harus atas persetujuan tetangga-tetangganya pula.


Area Central Business District di Melbourne.

Karena masih jetlag, Janis dan istri saya masih tinggal di apartemen sampai siang hari. Kami berjanji untuk bertemu agak siang, atau agak sore. Akhirnya kami bertemu sore hari karena ternyata istri dan anak saya memang belum terbiasa dengan waktu lokal. Saya sudah beberapa kali mengalami jetlag yang lebih parah, jadi buat saya ini masih biasa saja.

station
Stasiun Jolimont.

train
Kereta datang di Stasiun Jolimont.

waiting_jolimont
Menunggu kereta di Stasiun Jolimont.

Oh ya, ini hari pertama saya mencoba naik kereta, dari stasiun Jolimont ke stasiun Southern Cross. Kemarin kami sempat mencoba tram, dari Jolimont ke Flinders St. untuk berbelanja di supermarket Coles. Hari ini giliran kereta. Jaraknya cukup dekat, hanya dua stasiun pemberhentian. Setelah itu, saya jalan kaki dua blok. Sekilas, Melbourne memang mirip San Francisco, tapi San Francisco lebih berbukit. Suhunya terhitung “pleasant“, tidak lembab (sehingga harus berhati-hati kekeringan kulit), dan matahari juga tak terlalu kuat.

Namun, Carol Calderwood, teman kami di Newcastle yang akan terbang juga ke Melbourne sore ini, mewanti-wanti bahwa Melbourne punya cuaca yang tak terprediksi. Terkadang bisa panas, terkadang hujan, terkadang mendung. Betul saja, sorenya hujan!

Selesai bekerja pada pukul empat sore, saya minta izin pada teman saya untuk pulang dan menemui Janis dan istri. Kami janji bertemu di stasiun Southern Cross. Setelah itu, kami punya rencana untuk bertemu keluarga Carol Calderwood yang baru mendarat di Melbourne. Kami berencana bertemu di National Gallery of Victoria (NGV), sekitar satu kilometer dari Southern Cross.

Kami putuskan untuk jalan kaki. Awalnya semangat, lalu ternyata menyadari bahwa jaraknya lumayan jauh!

Ternyata, itu keputusan yang benar. Karena kami dapat menyeberangi jembatan Queensbridge St. melintasi Sungai Yarra yang terkenal itu! Ketika senja, pula… Ah, indahnya!

queensbridge_shot
Janis dan Lintang di jembatan Queensbridge St.

yarra_01
Sungai Yarra di sore hari, menjelang senja.

yarra_02
Matahari senja di Sungai Yarra. Cantik, kan?

Keputusan terasa lebih tepat ketika kami sampai di Southbank Promenade, area pejalan kaki di pinggir Sungai Yarra. Saat itu, sedang ada banyak jajanan pinggir jalan dalam format food truck dan kios-kios kecil. Hari Jumat sore, ketika akhir minggu baru saja dimulai, dan penduduk Melbourne baru saja gajian. Ramainya minta ampun! Senang rasanya.

Sambil berjalan ke NGV, kami memutuskan untuk duduk sebentar menikmati berliner stroberi. Semilir angin sore dengan hujan rintik-rintik membuat segalanya semakin sempurna. Janis pun senang.

biggay_ice
Kios es krim Big Gay Ice Cream.

happy_girl
Si kecil bahagia!

Ketika kami akhirnya sampai di NGV, sedang ada pameran Andy Warhol. Tapi karena ada komitmen bertemu dengan teman kami dari Newcastle, niat itu urung kami wujudkan. Kami jalan kaki ke Queen Victoria Gardens sambil menunggu.

Tak lama kemudian, Carol menelepon dan akhirnya kami bertemu keluarga ini setelah 10 tahun lamanya tidak bertemu! Kami bertemu Carol, Miranda dan Eleanor. Suaminya, Bruce, terpaksa tinggal di Newcastle karena masih bekerja. Jillian, anaknya satu lagi, akan sampai malam nanti. Kemungkinan kami akan bertemu dengan Jillian besok.

queen_victoria_gardens_02

queen_victoria_gardens_03

queen_victoria_gardens_04

queen_victoria_gardens_01
Queen Victoria Gardens.

meet_carol
Bertemu ibu angkat kami sekaligus teman lama, Carol Calderwood.

Malam itu kami habiskan dengan jalan di taman dan makan di sebuah pub. Ya, kami membawa bayi ke pub — tapi pub ini ternyata ramah keluarga, kok. Bukan pub yang hingar-bingar dengan orang-orang yang mabuk-mabukan. Ternyata, mereka juga menyediakan kursi bayi.

Setelah puas makan malam dan bernostalgia dengan teman lama, kami pulang naik kereta dari stasiun Flinders St.

night_train
Menunggu kereta malam untuk pulang di Stasiun Flinders St.

pub_shot
Makan malam di pub Charles Dickens, Collins St.

Besok, kami akan berangkat melihat koala dan kangguru di Healesville Sanctuary, dua jam perjalanan dari kota! Tak sabar rasanya.

Si Turis Kecil Penggemar Focaccia

Si Kecil Penggemar Foccacia
Si Kecil Penggemar Foccacia.

Setelah diminta untuk menunggu selama tiga jam di Melbourne Cricket Ground (untungnya, taman di luar sangat luas dan nyaman), kami akhirnya ditelepon oleh pemilik Airbnb yang mengatakan kami sudah bisa masuk. Sepertinya, mereka kasihan dengan kondisi kami yang “melas”, baru datang dari penerbangan panjang dan membawa bayi. Syukurlah!

Kami pun masuk dan diinstruksikan untuk mengambil kunci di tempat rahasia di luar apartemennya.

Apartemen ini mungil, terdiri dari tiga lantai, dan kami berada di lantai dasar. Untunglah, karena ternyata tidak ada lif, dan kami juga membawa banyak barang. Apartemen studio di daerah Jolimont ini luasnya mungkin sekitar 30 meter persegi, dengan dapur tanpa sekat. Cukup buat kami bertiga selama sepuluh hari di Melbourne. Harganya sekitar A$110 per malam. Bagi kami, yang penting ada dapur, untuk membuat makanan si kecil. Ada microwave oven, kulkas, dan kompor, sudah cukup.

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne
Sudut-sudut Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne.

Kami sempatkan mandi dan istirahat sebentar. Namun, karena khawatir ketiduran sampai malam, kami hanya istirahat sebentar dan segera keluar dalam waktu satu jam, sambil menunggu pengantaran stroller.

Stroller datang diantar oleh seorang bapak bernama Rob. Beliau menjelaskan cara mengoperasikannya, dan konfirmasi tanggal penjemputan, sekitar sembilan hari lagi.

Setelah semua siap, kami langsung keluar cari makan siang. Opsinya di mana saja, ya?

Ada beberapa opsi makanan seperti makanan India, Jepang dan Italia, dan keinginan untuk ke Flinders St. atau pusat kota sekalian, tetapi karena terlalu letih, kami akhirnya memutuskan beredar di sekitar apartemen saja, jalan kaki.

Daerah yang kami tinggali sangatlah nyaman dan sepi. Sebenarnya, kesan sepi ini kesan yang pasti didapat dari kami-kami yang biasa tinggal di Indonesia yang penuh keramaian. But really, it’s like a fresh blow of air.

Janis, Senyum Dong?
Janis, Senyum Dong?

Kami berjalan ke arah Fitzroy Garden. Fitzroy Garden adalah salah satu taman terbesar di Melbourne. Didirikan tahun 1848, luasnya mencapai 26 hektar, tepat membatasi Central Business District di sebelah timur. Anda bisa jalan kaki ke taman ini dari stasiun Parliament, salah satu stasiun dalam jalur looping kereta di Melbourne, atau berhenti di stasiun kereta Jolimont dan jalan kaki sebentar ke arah barat.

Fitzroy Garden
Halo, Fitzroy Garden! (Foto diambil di lain hari.)

Salah satu fitur utama di Fitzroy Garden adalah Cook’s Cottage, tempat tinggal orang tua James Cook, penjelajah asal Inggris yang menemukan pesisir timur Australia pada abad ke-17. Ada juga kafe spesialis sarapan KereKere Green, dan restoran yang lebih upscale bernama The Pavilion, jika anda ingin makan di tengah hijaunya taman dan berwarnanya bunga-bunga. Saya membayangkan, Syahrini pasti bisa menghabiskan setengah hari di sini.

Anak kami Janis senang sekali di atas stroller. Padahal, di Jakarta, Janis hampir tidak betah di atas stroller. Mungkin karena angin semilir dan udara yang lebih bersih? Tapi memang, suasana yang berbeda ketika melakukan perjalanan berpengaruh besar terhadap mood si kecil!

Ayo cari makan siang!
Ayo, cari makan siang!

Kami berjalan menyusuri Wellington Parade untuk fokus mencari makanan. Karena sudah lapar berat, kami langsung belok ke sebuah kafe kecil sederhana (bukan makanan padang). Karena masih hari pertama, kami menghindari makan di kafe yang lebih “mahal”, untuk menghemat uang jika nanti ada tempat jajan yang lebih pantas sesuai ulasan.

Karena Janis suka makan roti, kami putuskan membeli roti focaccia isi ayam Cajun, bayam, tomat, mayonais, mustard dan keju untuk dimakan bersama. Istri saya pesan yang sama dengan isi ayam Schnitzel. Rasanya enak, tidak terlalu tajam, seperti makanan-makanan berbasis roti lain. Cukup mengenyangkan bagi perut jetlag kami ini.

Hari pertama ini kami gunakan untuk menyesuaikan diri dengan waktu, membeli kartu Myki untuk transportasi umum dan stok jajanan di 7-11 terdekat. Tidak lupa juga mengambil uang tunai untuk keperluan mendadak.

Setelah puas makan, kami pulang lagi ke apartemen dan tak heran, kami semua tertidur pulas dari jam dua sampai jam tujuh malam!

Bagaimana makan malam kami? Apa rencana kami di hari esoknya? Tunggu di artikel selanjutnya, ya!

Halaman sebelumnya

© 2018 Ransel Kecil