Catatan Perjalanan (halaman 1 dari 30)

Tentang Rumah Mungil di Pantai Brighton

oleh

Begitu tahu kami akan ke Melbourne, istri saya, Lintang, langsung berkata, “Di Melbourne bukannya ada pantai yang ada rumah-rumah berwarna-warni itu, ya?”

Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton
Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton.

Saya sekilas teringat, sepertinya, ya, ada! Setelah mencarinya di Google, ternyata memang ada, dan letaknya di Brighton Beach, di sebelah selatan pusat kota Melbourne. St. Kilda, tujuan pantai dan dermaga populer itu, berbatasan langsung dengan Brighton, kota di sebelah selatannya. Pantai Brighton ada di pesisir barat kota Brighton.

Seagull?
Sekumpulan burung camar barangkali mencari makanan.

Kami berencana pergi ke sana setelah perjalanan ke Phillip Island dibatalkan karena alasan kenyamanan Janis. Menurut Google Maps, jika dari East Melbourne, kami harus menyetir sekitar 25-30 menit dan menempuh jarak sekitar 13-14 km ke arah selatan.

Kami pun bertanya-tanya, sebenarnya rumah-rumah kecil berwarna-warni di pinggir pantai ini apa dan buat apa ya? Ternyata, setelah diselidiki, mereka punya sejarah panjang. Pada abad ke-18, mereka digunakan sebagai tempat ganti baju untuk wanita yang sedang rekreasi di pantai Brighton. Sejak saat itu, fungsinya tetap sama. Hari ini, ia dikelola pemerintah, ada yang dimiliki pribadi, dan ada sebagian yang dijual lagi oleh pemiliknya. Harganya hari ini bisa mencapai Rp2,5 milyar, namun tak ada listrik dan air, dan tidak bisa diinapi semalaman atas alasan keamanan dan kenyamanan pengguna pantai. Jadi, siapapun yang menjadi pemiliknya harus menggunakannya sebagai sarana rekreasi pantai pada saat pantai buka saja. Setelah itu, pack up and leave.

Ada aturan juga tentang pengecetan dan modifikasi. Rumah-rumah kecil ini tidak boleh dicat dengan menampilkan merek atau usaha tertentu, tidak boleh dipakai beriklan, dan tidak boleh dimodifikasi melebihi ruang yang disediakan. Selain itu, tidak boleh digunakan sebagai tempat usaha, misalnya dijadikan warung kelontong, tempat nasi pecel, apalagi usaha fotokopi.

Keramaian di Pantai Brighton

Keramaian di Pantai Brighton
Keramaian di Pantai Brighton.

Terkesan eksklusif dan restriktif, tapi mungkin saya bisa paham tujuannya: untuk melindungi pantai ini dan melestarikan sejarah rumah-rumah kecil ini.

Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai
Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai.

Kami suka daerah Brighton. Saat itu sudah musim gugur, angin sejuk cukup kencang tapi tidak terik dan berkeringat. Kami berjalan agak jauh menyisir pantai dari mulai dari The Baths at Middle Brighton, sebuah restoran dan klub olahraga—dengan ruang parkir mobil yang agak luas—menuju ke selatan.

Melihat ke pusat kota Melbourne
Jika melihat ke utara, anda dapat melihat pusat kota Melbourne dari kejauhan.

Perjalanan diakhiri dengan membeli fish and chips di “warung” terdekat dan memarkir mobil tempat di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin senja.

Carol, Janis dan Lintang menikmati senja dan fish and chips
Carol, Janis dan Lintang di dalam mobil.

Pantai Brighton menjelang senja
Pantai Brighton menjelang senja.

Kami akan kembali, Brighton.

Bertemu Fauna Asli Australia di Healesville

oleh

Jika berkunjung ke Australia, hewan-hewan pertama yang terpikir hanyalah kangguru dan koala. Mungkin Tasmanian Devil, karena ia teman Bugs Bunny dan Daffy Duck yang terkenal itu. Siapa yang terpikir bertemu echidna, wombat, wallaby atau platypus? Bahkan tak ada nama Indonesia-nya!

Hewan-hewan inilah yang kami lihat dalam perjalanan kami ke Healesville Sanctuary, tempat perlindungan hewan khas Australia, yang jaraknya sekitar 65.1km dari Melbourne dan rata-rata memakan waktu 1 jam 15 menit menggunakan mobil sewa. Beruntungnya pada waktu itu, kami tinggal naik mobil sewaan Carol dan keluarga.


Perkiraan Google Maps untuk rute dari Melbourne ke Healesville Sanctuary.

Pagi-pagi jam tujuh kami sudah di luar menunggu jemputan Carol. Sebenarnya janji kami adalah pada pukul delapan, tetapi kami sengaja mencari sarapan dulu di sekitar apartemen, dan agar Janis bisa sarapan di taman. Kapan lagi, selain di sini? Di Jakarta sulit, ya.

Janis senang sekali makan roti. Kami pun membeli beberapa paket roti di 7-11. Orang tuanya makan sushi paketan sudah bahagia.

Sarapan sebelum berangkat.
Sarapan dulu sebelum berangkat, yuk?

Sekitar pukul delapan, Carol, Jillian, Eleanor dan Miranda datang membawa dua mobil. Kami langsung berangkat dan menuju Healesville!

Di Australia, jika membawa anak di bawah 12 tahun, atau ketika tingginya belum cukup, wajib menggunakan booster seat, dan tidak boleh dilepas selama perjalanan. Ini membuat kami sedikit kewalahan karena peraturan di Indonesia yang lebih rileks. Kami punya booster seat di mobil kami di Jakarta, tapi terkadang untuk menyusui, harus kami lepas dan dipangku. Di Australia, tidak bisa begitu. Akhirnya, setiap Janis rewel karena takut atau haus, kami harus berhenti dulu di jalan.

Pemandangan selama perjalanan, lebih kurang seperti ini
Pemandangan selama perjalanan lebih kurang seperti ini.

Pemandangan selama di jalan begitu cantik, walau tidak hijau seperti di Indonesia. Sejauh mata memandang, topografi relatif datar, namun cuaca begitu baik hingga hamparan pohon, perdu dan rumput terlihat bagus. Apalagi, di beberapa tempat, kami melihat kebun stroberi dan anggur. Tidak seperti di Indonesia, perjalanan di lingkungan pedesaan di sini begitu sepi dan tenang. Jalanan besar dan mulus. Tidak ada truk dan bis berlomba-lomba di jalan. Semuanya cukup santun.

Sekitar satu jam kemudian kami berhenti di kafe Church & Main untuk brunch. Lintang dan saya memesan calamari salad. Janis kami suapi makanan yang kami bawa sebagai bekal. Makan pagi menjelang siang ini berlangsung agak lama karena kami bertemu teman Carol di sana. Janis cukup mentolerir perjalanan ini, walau di jalan kami sempat berhenti tiga atau empat kali.

Makan apa ya?
Makan apa, ya? Janis di kafe Church & Main, Healesville.

Sesampainya di Healesville Sanctuary, kami langsung membeli tiket. Tempatnya dijaga sealami mungkin, sehingga tidak terlalu banyak pengkondisian atau lingkungan buatan manusia. Jangan heran kalau tampak agak “raw” atau kasar. Jalan untuk pejalan kaki pun hanya tanah. Satu lokalitas atau kandang hanya dibatasi oleh pintu dua sisi, selebihnya pembatas alami seperti bebatuan dan pohon. Ini barangkali untuk menjaga agar hewan-hewan di sini tidak merasa terkungkung dan stres, ya?

Koala!
Koala yang selalu bertengger.

Hewan-hewan yang kami lihat bervariasi, mulai dari yang terkenal seperti kangguru dan koala, sampai yang kami, orang Indonesia ini, belum tahu: echidna, wombat, wallaby, tasmanian devil atau platypus. Hewan-hewan apa sajakah itu?

Echidna (dibaca “ekidna”), adalah hewan mamalia yang mirip landak. Makanannya adalah semut, dan masih satu keluarga dengan platypus. Walaupun ia mamalia, tapi ia bertelur. Ukurannya cukup besar, seperti landak. Hidupnya di Australia dan Papua Nugini.

Echidna!
Echidna, mirip landak ya?

Wombat adalah hewan mamalia berkaki empat yang menurut kami sangat lucu. Bulunya banyak, mirip seperti beruang tapi versi kecil, atau marmut tapi versi besar. Bagaimana, ya? Lucu, deh, pokoknya. Ketika kami berkunjung ke kandangnya, ada satu yang sedang tidur terlentang. Janis terhibur melihatnya.

janisdanwombat
Janis, perkenalkan, wombat. Wombat, perkenalkan, Janis.

Wallaby adalah, gampangnya, “versi kecil” dari kangguru, karena secara taksonomi, mereka masih satu genus. Sekilas, wallaby lebih lincah lari ke sana ke mari karena badannya lebih kecil. Tapi, mereka tampaknya lebih pemalu.

Wallaby sedang minum!
Wallaby sedang minum!

Tasmanian Devil atau Tassie versi Warner Bros tampaknya besar dan garang. Aslinya, badannya lebih kecil, dan wajahnya lebih imut. Ia adalah mamalia berkaki empat yang masih juga marsupial. Banyak ditemukan di Pulau Tasmania, yaitu pulau di selatan benua Australia. Sedihnya, generasi berikutnya mungkin tidak dapat melihat hewan ini lagi karena mereka terancam punah. Beberapa pusat penangkaran di Australia berusaha untuk menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Penyebabnya? Tumor wajah yang menular dari satu hewan ke hewan lain. Di Healesville Sanctuary ini, ada tempat konservasi Tasmanian Devil di mana mereka diternakkan dan dihindarkan dari tumor.


Video tentang Tassie.

Platypus adalah hewan mamalia yang hidup setengah di darat dan setengah di air. Bentuknya seperti gabungan antar bebek dan berang-berang.

platypus_detail
Platypus. Sumber gambar di sini.

Selain hewan-hewan di atas, masih ada lagi yang lain seperti dilansir di situs web mereka. Ada Emu juga, burun besar dengan bulu yang sangat lebat.

Emu!
Burung Emu yang legendaris itu. Besar sekali!

Healesville Sanctuary ini bagian dari sistem konservasi hewan di negara bagian Victoria, khususnya di area Melbourne dan sekitarnya. Ia fokus pada hewan bushland atau hewan-hewan yang asli Australia. Ada tiga “kebun hewan” di sekitar Melbourne yang tergabung dalam wadah Zoos Victoria, antara lain: Werribee Open Range Zoo, Melbourne Zoo, dan Healesville Sanctuary.

Di Sanctuary ini juga ada rumah sakit, di mana hewan-hewan yang sakit bisa disembuhkan. Mulia, bukan?

Peta Healesville Sanctuary
Peta Healesville Sanctuary. Sumber gambar di sini.

Kangguru sedang beristirahat!
Kangguru sedang beristirahat!

Kami berputar-putar hampir dua jam lamanya, untung saja ada tempat berlabuh bagi Janis untuk menyusu di tengah hutan.

Setelah puas melihat hewan-hewan yang kami tak pernah lihat secara langsung, kami pun pulang untuk mengejar beberapa agenda lain, seperti makan malam, karena kami sudah lapar berat. Selain itu, kami khawatir Janis akan rewel karena sudah seharian di luar. Benar saja, kami berhenti sekitar dua atau tiga kali di perjalanan pulang untuk menyusui Janis. Tapi, kami semua puas.

bersama-miranda-dan-jillian
Menunggu yang tertinggal, sudah setengah jalan, nih!

Rencana esok harinya sebenarnya adalah ke Phillip Island untuk melihat penguin, tapi akhirnya kami batalkan karena jaraknya ditempuh dalam waktu dua jam dan kami tak membayangkan Janis mungkin akan merasa sangat letih. Sepertinya, road trip belum bisa jadi opsi buat si kecil. Nanti ya, Nak, tunggu agak besar sedikit!

Kisah Pabrik Mentega dan Sungai Yarra

oleh

Kami bertiga tertidur pulas dari jam dua siang hingga jam tujuh malam pada hari pertama kami datang, karena kelelahan tidak tidur dalam perjalanan. Janis saja yang tidur. Akibatnya, kami sudah tak punya energi lagi untuk pergi jauh-jauh. Kami putuskan untuk di apartemen saja dan makan malam sushi dan nasi kari paket yang kami beli di 7-11 terdekat.

southern_cross_02

southern_cross_03

southern_cross_01
Penampakan stasiun Southern Cross, stasiun paling modern di Melbourne.

Hari kedua di Melbourne adalah hari kerja, dan saya memanfaatkan pagi hari untuk ke tempat co-working teman sejawat saya. Bahagianya bekerja di perusahaan saya yang sekarang, saya bisa meminta bekerja di luar kantor sesuai kebutuhan. Kebetulan, ada teman saya yang bekerja di Melbourne. Saya bertandang ke York Butter Factory, sebuah tempat co-working yang cukup hits. Bangunan tua masih terjaga dan tempat ini awalnya adalah pabrik mentega. Sekarang, ia menjadi tempat bekerja para “buruh digital” seperti saya.

melbourne_morning
Selamat pagi, Melbourne!

York Butter Factory
Penampakan York Butter Factory. Sumber gambar di sini.

Satu hal yang sangat patut dicontoh di Melbourne adalah usaha pemerintah dan masyarakat lokalnya untuk melestarikan bangunan tua, terutama di pusat kotanya. Menurut teman saya di sana, ketika ada pihak yang ingin mengubah fasad atau bagian kecil dari bangunan, proses perizinannya panjang, dan harus atas persetujuan tetangga-tetangganya pula.


Area Central Business District di Melbourne.

Karena masih jetlag, Janis dan istri saya masih tinggal di apartemen sampai siang hari. Kami berjanji untuk bertemu agak siang, atau agak sore. Akhirnya kami bertemu sore hari karena ternyata istri dan anak saya memang belum terbiasa dengan waktu lokal. Saya sudah beberapa kali mengalami jetlag yang lebih parah, jadi buat saya ini masih biasa saja.

station
Stasiun Jolimont.

train
Kereta datang di Stasiun Jolimont.

waiting_jolimont
Menunggu kereta di Stasiun Jolimont.

Oh ya, ini hari pertama saya mencoba naik kereta, dari stasiun Jolimont ke stasiun Southern Cross. Kemarin kami sempat mencoba tram, dari Jolimont ke Flinders St. untuk berbelanja di supermarket Coles. Hari ini giliran kereta. Jaraknya cukup dekat, hanya dua stasiun pemberhentian. Setelah itu, saya jalan kaki dua blok. Sekilas, Melbourne memang mirip San Francisco, tapi San Francisco lebih berbukit. Suhunya terhitung “pleasant“, tidak lembab (sehingga harus berhati-hati kekeringan kulit), dan matahari juga tak terlalu kuat.

Namun, Carol Calderwood, teman kami di Newcastle yang akan terbang juga ke Melbourne sore ini, mewanti-wanti bahwa Melbourne punya cuaca yang tak terprediksi. Terkadang bisa panas, terkadang hujan, terkadang mendung. Betul saja, sorenya hujan!

Selesai bekerja pada pukul empat sore, saya minta izin pada teman saya untuk pulang dan menemui Janis dan istri. Kami janji bertemu di stasiun Southern Cross. Setelah itu, kami punya rencana untuk bertemu keluarga Carol Calderwood yang baru mendarat di Melbourne. Kami berencana bertemu di National Gallery of Victoria (NGV), sekitar satu kilometer dari Southern Cross.

Kami putuskan untuk jalan kaki. Awalnya semangat, lalu ternyata menyadari bahwa jaraknya lumayan jauh!

Ternyata, itu keputusan yang benar. Karena kami dapat menyeberangi jembatan Queensbridge St. melintasi Sungai Yarra yang terkenal itu! Ketika senja, pula… Ah, indahnya!

queensbridge_shot
Janis dan Lintang di jembatan Queensbridge St.

yarra_01
Sungai Yarra di sore hari, menjelang senja.

yarra_02
Matahari senja di Sungai Yarra. Cantik, kan?

Keputusan terasa lebih tepat ketika kami sampai di Southbank Promenade, area pejalan kaki di pinggir Sungai Yarra. Saat itu, sedang ada banyak jajanan pinggir jalan dalam format food truck dan kios-kios kecil. Hari Jumat sore, ketika akhir minggu baru saja dimulai, dan penduduk Melbourne baru saja gajian. Ramainya minta ampun! Senang rasanya.

Sambil berjalan ke NGV, kami memutuskan untuk duduk sebentar menikmati berliner stroberi. Semilir angin sore dengan hujan rintik-rintik membuat segalanya semakin sempurna. Janis pun senang.

biggay_ice
Kios es krim Big Gay Ice Cream.

happy_girl
Si kecil bahagia!

Ketika kami akhirnya sampai di NGV, sedang ada pameran Andy Warhol. Tapi karena ada komitmen bertemu dengan teman kami dari Newcastle, niat itu urung kami wujudkan. Kami jalan kaki ke Queen Victoria Gardens sambil menunggu.

Tak lama kemudian, Carol menelepon dan akhirnya kami bertemu keluarga ini setelah 10 tahun lamanya tidak bertemu! Kami bertemu Carol, Miranda dan Eleanor. Suaminya, Bruce, terpaksa tinggal di Newcastle karena masih bekerja. Jillian, anaknya satu lagi, akan sampai malam nanti. Kemungkinan kami akan bertemu dengan Jillian besok.

queen_victoria_gardens_02

queen_victoria_gardens_03

queen_victoria_gardens_04

queen_victoria_gardens_01
Queen Victoria Gardens.

meet_carol
Bertemu ibu angkat kami sekaligus teman lama, Carol Calderwood.

Malam itu kami habiskan dengan jalan di taman dan makan di sebuah pub. Ya, kami membawa bayi ke pub — tapi pub ini ternyata ramah keluarga, kok. Bukan pub yang hingar-bingar dengan orang-orang yang mabuk-mabukan. Ternyata, mereka juga menyediakan kursi bayi.

Setelah puas makan malam dan bernostalgia dengan teman lama, kami pulang naik kereta dari stasiun Flinders St.

night_train
Menunggu kereta malam untuk pulang di Stasiun Flinders St.

pub_shot
Makan malam di pub Charles Dickens, Collins St.

Besok, kami akan berangkat melihat koala dan kangguru di Healesville Sanctuary, dua jam perjalanan dari kota! Tak sabar rasanya.