Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah “Mau menginap di mana?”, “Kalau di hotel, kan, mahal.” Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.

Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.

Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.

Tempat lain yang pernah saya inapi adalah SPBU atau pom bensin. “Hotel kuda laut” kalau kata bapak Indra Azwan, sang pencari kebenaran dari Malang. Tidak usah ragu jika ingin menginap di sana. Para karyawan dan pengelola pom bensin di Indonesia sudah mahfum bahwa sesekali akan ada pemuda berduit pas-pasan yang akan menumpang menginap di sana. Di pom bensin biasanya ada mushala dan kamar-mandi dan di pom bensin yang agak besar biasa ada swalayan.

Saya juga pernah menginap di pelabuhan. Di Pelabuhan Ketapang ada sebuah mushala kecil yang cukup nyamana untuk diinapi, meskipun tidak boleh tidur di dalam. Lazimnya dataran rendah, biasanya nyamuk di pelabuhan kejam-kejam. Makanya jika ke mana-mana selalulah membawa sleeping bag dan obat nyamuk oles. Sekedar sleeping bag tidak akan cukup untuk menghambat tekad nyamuk-nyamuk nakal untuk menghisap darah manusia.

Menginap di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka juga sangat berkesan bagi saya. Karena jauh dari mana-mana dan terletak di ujung barat Pulau Bangka, pelabuhan ini sunyi senyap di malam hari. Ketika mendarat di sana, saya seperti keluar dari mesin waktu yang membawa saya ke masa lalu. Orang-orang berebut turun dari kapal feri membawa koper-koper besar, dinanti oleh para penjemput yang menyongsong dengan gembira dari dermaga. Dekat dermaga ada sebuah mercusuar tua yang memancarkan cahaya kuning temaram, yang terus berputar sendu memandu haluan kapal yang melintasi selat berhala. Agar bisa tidur dengan nyaman, saya harus menggabungkan dua bangku panjang untuk digunakan sebagai tempat berbaring.

Selain tempat-tempat di atas masih banyak tempat lain yang bisa diinapi: masjid, kantor polisi, emperan toko, dan lain-lain. Sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menginap di berbagai “kamar koboi” tersebut. Bahkan di sebuah masjid di kawasan Kuta, seorang bapak paruh baya secara tak terduga memberi saya dan seorang kawan “sangu” Rp. 20.000. “Untuk musafir,” kata beliau. Jadi tidak ada alasan bagi anak muda untuk menunda-nunda melakukan perjalanan, terlebih dengan alasan tiada uang untuk menyewa penginapan.

  • Disunting oleh SA 17/04/2012