Artikel-artikel dari kategori Akomodasi (halaman ke-1 dari 2)

Menjadi Pengguna Airbnb yang Baik

Menjadi Pengguna Airbnb yang Baik

Saya sudah tiga tahun terakhir jarang sekali menginap di hotel maupun hostel, dan selalu menggunakan Airbnb. Banyak manfaat dari Airbnb, jika dilakoni dengan cermat. Pertama, dengan harga yang mirip hotel maupun hostel, kita bisa mendapat kamar atau apartemen (bahkan rumah!) dengan kualitas yang sepadan atau lokasi dan fasilitas yang tepat di tempat kita mau. Yang kedua, kita bisa hidup seperti orang lokal dan menikmati rutinitas sehari-hari orang lokal. Ketiga, menjalin persahabatan baru dengan pemilik penginapan. Barangkali bisa jadi jodoh pula!

Namun, tetap waspada karena beberapa kasus melanda baik pemilik maupun pengguna Airbnb. Ada yang apartemennya diacak-acak setelah pesta ilegal, ada yang benar-benar hancur porak poranda, ada pengguna Airbnb yang meninggal karena kecelakaan ayunan di pohon (sehingga isu keselamatan mengemuka) dan beragam kasus lain. Sedikit dibanding jumlah pemesanan Airbnb sepanjang masa, tetapi dampaknya luar biasa ketika terjadi.

Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk mencari penginapan yang tidak hanya sedap dipandang foto-fotonya, tetapi juga melihat komentar dan reputasi. Kalau perlu, saya klarifikasi dulu kepada pemiliknya, dan mencoba berkomunikasi dengannya. Apakah pemiliknya berkomunikasi dengan baik dan cepat membalas? Apakah ia bisa berbahasa Inggris dengan lancar? Menurut saya komunikasi penting karena begitu ada masalah, pemiliknya-lah yang akan kita hubungi dulu. Ingat, foto cantik bisa menipu.

Saya juga lebih suka pemilik yang mau menerima dan menyambut tamunya secara langsung. Beberapa kali saya datang ke Airbnb dan hanya pembantunya yang menyambut, karena pemiliknya tinggal di tempat lain. Ini penting karena jika terjadi apa-apa, saya tahu benar berurusan dengan siapa. Selain itu, pengalaman menginap di Airbnb seharusnya adalah pengalaman autentik: bercakap-cakap dengan pemilik, mengetahui cerita pribadinya dan cerita tentang tempat yang saya inapi, dijamu seperti sahabat. Kalau tidak, apa bedanya dengan menginap di hotel dan hostel?

Sebagai tamu, jangan lupa pula untuk menghargai tempat dan pemilik. Jangan mengotorinya sembarangan dan tidak membersihkannya. Bersihkanlah dan kembalikan segalanya seperti semula ketika anda pergi. Jangan melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan menghancurkan reputasi pemilik tempat. Jangan meminta yang aneh-aneh seperti mengantarkan ke bandara kecuali ditawarkan. Walau semua benda yang ada di tempat menginap bisa anda nikmati, rawatlah seperti benda-benda itu milik sendiri. Tempat anda menginap adalah rumah kesayangan bagi pemiliknya.


Iboih Inn Bar & Resto Pulau Weh, Aceh

Dermaga tempat bersantai
Dermaga tempat bersantai.

Berbicara mengenai Sabang, tak bisa menghindar dari lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”. Benar saja, Indonesia adalah negara kepulauan, dan kepulauan tersebut dimulai dari ujung paling barat yaitu Pulau Weh dengan Sabang sebagai pusat kotanya. Beruntung sekali bagi saya bisa mengunjungi tempat seindah ini. Banyak tempat menarik di Pulau Weh, diantaranya yang saya kunjungi adalah Tugu Nol Kilometer, Iboih, Rubiah, Gapang, Sabang sebagai pusat kota Pulau Weh, dan Sumur Tiga, dan dari semua tempat tersebut yang paling berkesan menurut saya adalah Iboih.

Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga
Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga.

Resepsionis
Resepsionis.

Iboih terletak di bagian tengah Pulau Weh. Butuh sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan mobil dari Pelabuhan Balohan menuju Iboih. Iboih memiliki banyak pantai yang menawan. Sesampainya di Iboih mobil yang saya naiki parkir di sekitar dermaga Iboih, pas di tepi pantai. Suasana laut mulai saya rasakan, hembusan angin saya dengar seakan sedang menyapa saya “Selamat Datang di Iboih”.

Hari sudah menunjukan Pukul 12 siang, namun matahari tidak begitu terik, tak lama setelah itu saya langsung mencari tempat untuk menginap. Banyak sekali penginapan di Iboih, mulai dari tarif yang murah sampai dengan tarif yang mahal. Setelah berdikusi dengan teman saya, akhirnya saya putuskan untuk menginap di Iboih Inn.

Banyak pertimbangan mengapa saya memilih untuk menginap di Iboih Inn, salah satunya menurut referensi dari masyarakat lokal, Iboih Inn merupakan salah satu penginapan yang ternyaman. Dari segi harga, Iboih Inn memang tergolong agak mahal dibandingkan dengan penginapan yang lainnya, namun hal ini sebanding dengan kenyamanan yang di dapat yang mungkin tidak bisa di dapat dari penginapan lain.

Saya pikir, sudah jauh-jauh datang dari Jakarta ke Sabang, untuk harga soal belakangan, yang penting saya dan teman saya bisa menginap di penginapan ternyaman dan terindah, dan menurut saya Iboih Inn merupakan penginapan yang tepat untuk saya.

Untuk menuju penginapan ini, dari dermaga Pantai Iboih Inn ada dua cara, cara yang pertama bisa minta dijemput di dermaga Pantai Iboih oleh pihak Penginapan Iboih Inn menggunakan kapal, atau jalan kaki lewat perbukitan. Saya jalan kaki menuju atas perbukitan, karena saya belum booking sebelumnya, terdapat jalan setapak menuju Iboih Inn, jalannya rapi dan dari jalan itu terlihat pemandangan laut dan pantai yang menyenangkan mata. Perjalanan dilanjutkan jalan kaki 15 menit sebelum sampai di Iboih Inn.

Saya langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar. Untungnya masih ada kamar tersedia. Saya memilih kamar yang paling mahal yang letaknya pas di tepi laut. Terdapat bebagai macam jenis kamar di Iboih Inn, mulai dari Budget Room, Deluxe Seaview-fan, dan Deluxe AC Seaview.

Dermaga apung
Dermaga apung.

Jenis Budget Room terletak di atas perbukitan, letaknya agak jauh dari tepi laut, jenis kamar ini adalah jenis kamar yang paling murah harganya Rp200.000 (tahun 2013) harga tersebut sudah termasuk free sarapan. Tipe kamar ini ada yang twin bed ada pula yang single bed, bisa di pilih sesuai dengan kebutuhan.

Tipe kamar yang kedua adalah Deluxe Seaview-Fan, letak kamar ini agak dekat dengan laut, tidak dilengkapi dengan AC hanya kipas angin saja, harganya sekitar Rp300.000 (tahun 2013), harga ini sudah termasuk sarapan.

Tipe Kamar yang terakhir adalah Deluxe AC Seaview, letak kamar ini pas sekali di pinggir laut, harganya Rp400.000 (tahun 2013). saya menginap di tipe kamar ini, sengaja saya memilih tempat ternyaman, tak masalah bagi saya harus mengeluarkan kocek yang lebih mahal, asalkan bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih. Saya cukup puas dengan kenyamanan di kamar ini, dari kamar saya terlihat laut yang amat biru, saya bisa merasakan hembusan angin pantai dan bisa mendengarkan suara ombak. Kenyamanan tidak cukup sampai di situ, kamar ini juga dilengkapi pendingin udara dan air panas di kamar mandinya.

Persewaan alat snorkeling
Persewaan alat snorkeling.

Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap
Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap.

Terdapat banyak fasilitas-fasilitas menarik di penginapan ini, di antaranya bar dan resto yang terdapat di tepi laut dan dermaga apung. Bar dan restorannya menyediakan banyak makanan yang enak dengan harga yang terjangkau, saya sempat memesan nasi goreng di restoran ini. Di dekat restoran dan bar terdapat dermaga tempat untuk bersantai ria, terdapat meja dan bangku yang nyaman untuk ngobrol-ngobrol dan menikmati hangatnya matahari. Terdapat juga dermaga terapung yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai ataupun memancing.

Fasilitas lain di penginapan ini disediakan persewaan alat-alat snorkeling, harganya relatif murah, selain ini terdapat pula persewaan kamera bawah air, jadi para pengunjung yang suka dengan aktivitas laut tidak perlu takut karena fasilitas semuanya sudah disediakan di sini. Iboih Inn juga menyediakan persewaan kapal kecil yang bisa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Rubiah yang letaknya tidak jauh dari Iboih.

Menu sarapan Iboih Inn sangat istimewa dan lengkap: nasi, lauk dan sayur.

Secara keseluruhan saya puas menginap di Iboih Inn, bagi anda yang berniat untuk berlibur ke Pulau Weh terutama di daerah Iboih, penginapan ini bisa dijadikan salah satu pilihan terbaik, informasi lebih lengkapnya dan pemesanan bisa di hubungi di:

Iboih Inn
Teupin Layeu, Iboih, Pulau Weh
Sabang, Aceh, Indonesia
E-mail: iboih.inn@gmail.com atau contact@iboihinn.com
Telepon: +62 811 841 570, +62 812 699 1659

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Hotel Carolina, Kenyamanan di Tepi Danau Toba

Loncat ke Danau Toba dari dermaga kecil ini
Loncat ke Danau Toba dari dermaga kecil ini.

Bulan Maret lalu saya berkesempatan untuk berkeliling di provinsi Sumatera Utara, mulai dari Medan, Pematangsiantar, Parapat, sampai Berastagi. Saya pun mengunjungi ikon provinsi Sumatera Utara yang namanya sudah tersohor di Indonesia bahkan dunia, yaitu Danau Toba dan Pulau Samosir.

Danau Toba sudah menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi turis asing. Tak heran, bila fasilitas pariwisata di Danau Toba sudah cukup memadai, termasuk fasilitas penginapan dan hotel yang lumayan banyak dan bervariasi.

Hotel Carolina adalah salah satu hotel yang tersedia di Pulau Samosir. Letaknya di Tuktuk Siadong. Saat saya mengunjungi Danau Toba, saya menginap dan bermalam di hotel ini. Saya mendapatkan informasi tentang hotel ini dari internet. Saat saya mencari beberapa referensi hotel di internet terdapat banyak pilihan, namun Hotel Carolina yang berhasil menarik perhatian saya. Mulai dari pertimbangan harga, tempat dan pemandangan di sekitarnya.

Suasana kamar "Hill 2"
Suasana kamar “Hill 2”.

Menuju Danau Toba saya berangkat dari Parapat, dari Parapat menyeberang menggunakan kapal ke pulau Samosir tepatnya di daerah Tuktuk Siadong. Saat kapal yang saya naiki hendak merapat di Tuktuk Siadong, pemandangan Pulau Samosir dan keindahan Danau Toba terlihat amat menenangkan. Kapal merapat di Tuktuk Siadong tepat di dermaga milik Hotel Carolina. Saya menuruni kapal dengan langkah perlahan. Sesaat setelah turun saya langsung menuju lobi hotel.

Hotel Carolina tidak jauh dari dermaga kapal, tinggal jalan menuju ke atas sudah terlihat lobi hotel dengan arsitektur Batak yang amat khas. Jenis kamar di Hotel Carolina terdiri dari kelas ekonomi yang terdiri dari “Economy – Hill 1”, “Economy – Hill 2” dan “Economy – Beach”. Kemudian, kelas “Standard” yang terdiri dari rooms “Standard – Hill”, “Standard – Beach”, dan kelas “Deluxe”, yang terdiri dari kamar “Deluxe – Hill” dan “Deluxe – Beach”. Perbedaan Hill dan Beach terletak pada lokasi, kamar-kamar “Hill” terletak agak di atas seperti di bukit, sedangkan kamar-kamar “Beach” hampir terletak di tepi danau dengan pemandangan Danau Toba yang terlihat amat jelas.

Pekarangan hotel
Pekarangan hotel.

Menikmati pesisir Danau Toba
Menikmati pesisir Danau Toba.

Saat saya sampai di hotel Carolina, saya tidak sempat memesan sebelumnya. Saya dan teman saya sudah niat langsung pesan di tempat saja. Sayangnya, kala itu sudah banyak kamar yang penuh, tinggal tersisa kelas “Hill 2”, saya pun menginap di kamar kelas ini. Saya menginap sekamar berdua dengan teman saya dengan harga Rp150.000. Kamarnya kecil, namun bersih dan nyaman. Di dalamnya ada dua tempat tidur yang terpisah. Ada dua sofa juga yang terletak di depan jendela dengan pemandangan keluar langsung ke bukit yang terlihat juga Danau Toba walau tidak begitu jelas.

Hari sudah semakin sore, setelah menaruh dan merapikan barang bawaan di kamar, saya dan kawan saya bergegas menuju tepian Danau Toba yang dikelola oleh Hotel Carolina. Hanya tamu Hotel Carolina yang boleh masuk ke tempat ini. Tempatnya sangat nyaman, di tepian pinggir danau dengan nuasa di pinggir pantai. Banyak orang berenang di sini, yang juga dilengkapi dermaga dan papan loncat untuk terjun di Danau Toba. Terdapat banyak gazebo dengan bangku kayu yang tersusun rapi untuk duduk bersantai memandangi Danau Toba.

Esok paginya, saya menyantap sarapan di restoran hotel, tempatnya dekat dengan lobi hotel. Restoran yang amat nyaman, lumayan luas, ada fasilitas live music juga. Tersedia berbagai masakan yang harganya tidak terlalu mahal, mulai dari masakan barat, Indonesia dan Cina. Rasanya sangat lezat.

Di antara fasilitas yang bagus dan nyaman, ada satu lagi fasilitas yang menjadi nilai tambah di Hotel Carolina, yaitu fasilitas penyewaan mobil dan motor. Jadi, pengunjung hotel yang ingin berkeliling di Pulau Samosir tidak perlu khawatir kesulitan kendaraan. Saya menggunakan fasilitas penyewaan ini yaitu menyewa sepeda motor yang saya gunakan untuk berkeliling di Pulau Samosir, harga sewanya tidak terlalu mahal, hanya Rp40.000/per hari.

Secara keseluruhan Hotel Carolina di mata saya sangat positif. Tempatnya nyaman, indah di tepi Danau Toba, fasilitas untuk berenang di Danau Toba juga nyaman dan aman. Fasilitas kamar juga nyaman dan harga tidak terlalu mahal, dan untuk urusan makanan tidak perlu khawatir untuk memilih makanan enak.

Bila anda mempunyai rencana ke Danau Toba dan Pulau Samosir, dan ingin melihat indahnya danau dari tepian Danau Toba, sambil berenang untuk merasakan kesegaran air danau, pilihlah hotel yang terletak tepat di tepi danau Toba dan memiliki lokasi yang aman untuk berenang, Hotel Carolina salah satunya.

Hotel Carolina
Tuktuk Siadong – Pulau Samosir
Sumatera Utara
Indonesia 22395
Tel.: +62 625 451210 / +62 625 451100
Faks.: +62 625 451250
E-mail: carolina@indosat.net.id


Guest Inn Muntri, George Town, Penang, Malaysia

Salah satu hal yang jadi agenda wajib bagi saya dalam mempersiapkan suatu perjalanan adalah mencari tempat menginap di daerah tujuan. Perjalanan saya ke Penang, Malaysia, pada akhir Januari 2013 sudah saya rencanakan sejak setahun sebelumnya. Rencananya saya akan berangkat dengan dua orang teman yang semuanya wanita. Ketika tiket pesawat rute SBY-PEN-KUL-JOG sudah di tangan, yang sibuk dilakukan adalah mencari tempat menginap dan membuat rencana jalan-jalan. Berhubung saya berencana berangkat dengan dua orang teman, maka hal ini menjadi PR bersama, agar semua bisa sreg nantinya dan tidak ada yang mengeluh karena merasa tidak cocok dengan tempat menginap yang sudah dipilih.

Awalnya hal ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan, mencari, membaca ulasan dan menyortir pilihan-pilihan tempat menginap yang ada. Berbagai penawaran dari situs web seperti Agoda, Booking.com dan Hotels.com kami banding-bandingkan harga, fasilitas dan lokasinya.

Jumlah kami yang bertiga semakin memperkecil pilihan, umumnya hotel menyediakan kamar standar dengan tempat tidur double atau twin, kalau pun ada kamar yang bisa untuk bertiga, atau bisa ditambah extra bed, harga akhirnya di atas anggaran yang kami rencanakan. Selain itu, tidak banyak pilihan kamar hotel dengan fasilitas yang memadai dengan lokasi yang bagus dan harga yang tidak terlalu mahal untuk mahasiswa seperti kami, terutama juga dikarenakan waktu kunjungan kami yang jatuh pada long weekend di Malaysia, banyak tempat menginap rekomendasi para blogger yang sudah penuh.

Masing-masing dari kami pun mengajukan pilihan. Saya akhirnya memilih Guest Inn Muntri yang menyediakan kamar jenis dorm dengan 4 bunk bed, kamar mandi luar dan walaupun tidak ada pemisahan antara kamar khusus wanita dan laki-laki, namun dengan harga RM28 per malam sudah termasuk sarapan, dan lokasinya yang strategis menurut saya itu merupakan tawaran yang bagus. Selain itu sudah lama saya ingin merasakan pengalaman menginap di dorm, karena selama ini meski pernah menginap di penginapan murah meriah tipe “3S” (Sangat Sangat Sederhana), seperti ketika saya ke Pacitan, saya tidak pernah berbagi kamar dengan orang lain, selalu menyewa kamar pribadi, paling banter dengan fasilitas kamar mandi di luar. Namun, seorang teman saya lebih menyukai kamar dengan fasilitas kamar mandi dalam agar memiliki privasi lebih, sementara yang satu lagi oke-oke saja walau harus berbagi kamar di dorm. Cukup lama kami menunda pemilihan hotel ini karena preferensi masing-masing tadi, kami hanya memesan dua opsi berbeda yaitu dorm di Guest Inn Muntri tadi dan satu kamar superior di hotel lain lewat website Booking.com, karena di sini tidak ada biaya pembatalan asalkan tidak melewati batas waktu yang ditentukan. Tentunya, sambil terus mencari pilihan-pilihan lainnya.

Akhirnya kami sampai pada titik bosan memilih-milih hotel, terlalu banyak ulasan yang kami baca dan waktunya pun sudah semakin dekat. Untungnya saya berhasil meyakinkan teman-teman saya untuk memilih Guest Inn Muntri dengan alasan untuk mencoba pengalaman baru, karena memang tidak ada seorang pun di antara kami yang pernah menginap di dorm. Toh, saya pikir karena kami bertiga, jadi kami hanya akan sekamar dengan seorang tamu lain, kalaupun digabung dengan tamu laki-laki, tidak akan jadi masalah. Namun menjelang hari keberangkatan, seorang teman saya terpaksa harus membatalkan perjalanannya. Jadilah kami hanya berangkat berdua. Saya jadi harap-harap cemas, berharap semoga tidak sekamar dengan roommate laki-laki yang kelakuannya aneh-aneh. Karena dari cerita pengalaman pejalan wanita lain yang menginap di dorm, apalagi yang campur, mereka pernah harus sekamar dengan tamu laki-laki yang kadang pulang ke dorm dalam keadaan mabuk dan “nyasar” ke tempat tidur orang lain.

Setibanya di Penang kami langsung menuju tempat menginap, sesuai namanya penginapan kami ini terletak di Lebuh Muntri. Berbekal peta lokasi Guest Inn Muntri dari Google Maps kami mulai mencari-cari. Ketika itu kami sudah berada di Lebuh Muntri, di lokasi yang tepat seperti ditunjukkan di peta, namun Guest Inn Muntri ini tak juga tampak. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya ketemu juga.

Dari luar Guest Inn Muntri ini nampak seperti rumah toko bertingkat model lama, ruangan di dalamnya memanjang ke belakang. Di area depan, meja resepsionis langsung digabung dengan lobi yang merupakan tempat untuk sarapan juga, dan ada meja bilyar di tengah-tengah lobi.

Melihat banyak sepatu di area dekat pintu masuk dan adanya pemberitahuan untuk melepas alas kaki, awalnya kami pikir kami diharuskan untuk melepas sepatu juga ketika masuk hotel, ternyata itu hanya berlaku bagi tamu yang menginap di lantai atas, mungkin agar tidak berisik ketika tamu berjalan lalu-lalang di lantai atas. Air minum pun tersedia di lobi, para tamu bisa mengisi ulang botol minum masing-masing di sini, sehingga bisa berhemat. Air panas serta teh dan kopi instan juga tersedia gratis. Selalu ada tamu yang nongkrong-nongkrong di lobi sambil bermain bilyar, atau sekedar minum kopi sambil internetan, karena tersedia wifi gratis yang lumayan kencang koneksinya. Selain itu yang bisa dilakukan ketika nongkrong di lobi adalah membaca coretan serta pesan dan kesan para tamu yang pernah menginap di Guest Inn Muntri, ada saja pesan lucu yang ditulis di sini. Di lobi juga tersedia beberapa sepeda yang bisa disewa. Sarapan yang disediakan tiap jam 8 pagi berupa roti tawar dengan beberapa pilihan selai dan butter, ada juga oatmeal, yang bisa dimakan sepuasnya.

Suasana lobi.
Suasana lobi.

Kami kemudian diantar ke kamar yang sangat persis seperti yang ditampilkan di internet, kamar kecil bercat putih itu tampak segar dengan adanya kotak penyimpanan yang dicat warna-warni, lumayan memberi efek ceria. Kotak penyimpanan dengan kunci ini terdapat di masing-masing tempat tidur. Karena tidak ada jendela, kami mengandalkan AC yang untungnya bukan AC sentral. Ada empat kamar mandi di lantai bawah, dua berada di tengah dan dua lagi di bagian belakang, selama menginap saya tidak pernah mengalami harus mengantri kamar mandi. Karena kami penghuni kamar yang pertama, jadi kami bebas memilih tempat tidur. Ketika sedang berbenah di kamar, datanglah staf hostel dengan seorang tamu yang akan menjadi teman sekamar kami. Setelah berkenalan, roommate tersebut bernama James yang berasal dari Republik Rakyat Cina, untungnya bahasa Inggrisnya lancar, sehingga tidak sulit untuk berkomunikasi. Dia pun asyik diajak mengobrol dan bertukar informasi.

Suasana di dorm.
Suasana di dorm.

Keesokan harinya, staf hotel datang lagi ke kamar menanyakan tempat tidur mana yang masih kosong, dia juga menanyakan apa kami tidak keberatan jika digabung dengan seorang tamu laki-laki lagi, karena dia juga berasal dari Indonesia. Rupanya tamu tadi berasal dari Surabaya, bernama Noval. Klop-lah kami ngobrol dan saya pun menawarkan untuk jalan bersama karena agenda jalan-jalan kami siang itu ternyata sama, mengelilingi objek wisata yang ada di sekitar George Town. Lokasi penginapan ini memang strategis, karena hanya dengan berjalan kaki beberapa menit kami sudah sampai ke objek wisata seperti Cheong Fatt Tze Mansion, Cathedral of the Assumption, Penang State Museum dan St. George’s Church, juga dekat dengan halte bis. Staf hotel, yang kami panggil “uncle” serta seorang pria yang bergantian shift jaga sangat ramah dan membantu sekali, kami pun masing-masing diberi peta Penang, serta dijelaskan mengenai objek wisata dan cara pergi ke sana. Staf hotel lainnya ternyata orang Indonesia yang kami panggil Mak Siti, beliau berasal dari Jepara dan baru sekitar dua tahun bekerja di Penang. Mak Siti ramah dan baik banget, mungkin karena sama-sama dari Indonesia, kami sampai sedih ketika harus berpamitan.

Akhirnya keinginan saya menginap di dorm kesampaian juga. Saya tak ragu lagi menginap di dorm. Asal pintar memilih, seperti mencari yang khusus wanita dan dengan jumlah bed yang tidak terlalu banyak dalam satu kamar agar tidak berisik, pasti lancar. Selain lebih hemat, juga bisa menambah teman baru. Bagi yang belum pernah menginap di dorm, silakan mencoba.

Guest Inn Muntri Sdn Bhd.
17, Muntri Street
10200 Georgetown, Penang
Tel: +60 04 263 3228
Fax: +60 04 262 3229
Email: booking@guestinn.com.my


The House Hostel, Sokcho, Korea Selatan

Sampai di Inter-City Bus Terminal di Sokcho saya melanjutkan berjalan kaki selama lima menit. Ya, hanya selama lima menit dari terminal bahkan plang nama penginapan ini sudah terlihat saat kita keluar terminal. The House Hostel merupakan salah satu akomodasi yang begitu hangat baik interior hingga manajer penginapan di kota yang dingin ini.

Mr. Yoo sebagai manajer dari hostel ini menyambut saya di meja resepsionis. Saya pikir serupa dengan hostel yang pernah saya inapi, petugas resepsionis hanya akan melayani urusan administrasi dan langsung memberikan kunci kamar. Ternyata Mr. Yoo sangat berbeda, setelah memberikan kunci kamar lalu ia memberikan peta pariwisata Sokcho dan menjelaskan satu persatu termasuk bagaimana cara menuju ke tempat yang harus dikunjungi di peta, tanpa diminta. Kerennya lagi Mr. Yoo menjelaskan hingga mendetil naik bis nomor berapa, jam berapa, lama perjalanan, dan dia tidak menjual tur, jadi saya diberikan informasi bagaimana saya bisa keliling Sokcho sendiri.

Resepsionis.
Resepsionis.

Nama The House Hostel sepertinya bukan tanpa maksud, melainkan suasana dan atmosfer dari hostel ini dibuat sedemikian rupa seperti layaknya rumah sendiri. Lobi sekaligus ruang resepsionis hostel ini memang tidak begitu besar namun keragaman perabot dan pernak-pernik yang merupakan simbol dari penjelajah dunia kumpul di ruangan ini. Uang kertas dari seluruh dunia dipajang di dinding resepsionis dan uang receh dari berbagai negara tersebar di meja resepsionis itu tersendiri yang semuanya itu sumbangan dari traveler yang menginap di hostel ini. Masuk ke lobi sekaligus ruang resepsionis di The House Hostel seperti ruang tamu untuk pengunjung rumah Mr. Yoo.

Pintu masuk hostel.
Pintu masuk hostel.

Yang tidak kalah serunya adalah ruang makan dan dapur dari The House Hostel. Satu meja makan dengan enam kursi kayu diletakkan di tengah ruangan seperti ruang makan rumah sendiri. Selain itu di ruang makan ini juga terdapat komputer untuk menggunakan fasilitas internet gratis. Asiknya, teh atau kopi dapat dinikmati secara gratis sepanjang waktu. Seluruh tamu yang menggunakan gelas dan piring diharuskan mencuci sendiri di tempat cuci yang telah disediakan. Jadi seluruh kegiatan di hostel ini bebasis layanan mandiri karena sejauh saya mengamati, The House Hostel cuma punya tiga karyawan, dan mereka adalah anggota keluarga dari Mr. Yoo sendiri.

Salah satu sudut hostel.
Salah satu sudut hostel.

Meja untuk merilekskan diri.
Meja untuk merilekskan diri.

Lokasi yang paling saya senangi dan sebagian besar tamu dari The House Hostel adalah teras yang sangat mengasyikkan. Asyik karena banyak bangku dan meja taman tempat para pejalan berbagi cerita satu sama lain. Selain itu suasana pagi yang dingin dan sejuk di Sokcho ditemani secangkir kopi dan suasana teras yang terasa seperti di rumah membuat kita betah berlama-lama di teras hostel ini. Lucunya lagi, anjing peliharaan Mr. Yoo yang rumah mungilnya berada di sekitar teras hostel selalu ingin ikut berbincang dengan tamu yang datang.

Ruang sosialisasi dan fasilitas komputer berinternet.
Ruang sosialisasi dan fasilitas komputer berinternet.

Fasilitas di tiap kamar yang ada di The House Hostel antara lain pendingin udara, kulkas kecil, televisi, pengering rambut, dan koneksi wifi. Sepeda juga disediakan di hostel ini secara gratis untuk tamu yang ingin berkeliling kota Sokcho dengan bersepeda. Kota Sokcho sangat ramah dengan sepeda. Terdapat jalur sepeda pada tiap ruas jalan di kota ini yang mengitari berbagai objek wisata seperti danau dan pantai sehingga turis yang datang ke kota ini sangat mudah untuk menikmati kota yang mempunyai tagline “The Sky to Sea Activity“.

Saya memesan penginapan ini dengan menggunakan reservasi kolektif di internet dan saran saya lebih baik melakukan reservasi tersebih dahulu sebelum menginap di hostel ini karena The House Hostel merupakan penginapan favorit di kota Sokcho.

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

Cordial House Hotel, Istanbul

Resepsionis
Resepsionis.

Berbekal dari tulisan tangan di secarik kertas, dengan mudah saya tiba di penginapan Cordial House Hotel, Istanbul. Goresan tinta merah itu memandu saya setibanya di Bandara Internasional Ataturk.

“Beli dua jeton saja sekaligus karena nanti mesti pindah jalur kereta. Jeton itu koin plastik untuk naik tram, satu koin seharga dua lira, bisa beli di mesin atau di petugas yang berdiri di pintu masuk. Dari stasiun bandara ambil jalur merah, lalu pindah ke jalur biru di Zeytinburnu dan turun di stasiun Cemberlitas, satu stasiun sebelum Sultan Ahmed…”

Jalan sedikit sudah di Divanyolu Cadessi
Jalan sedikit sudah sampai di Divanyolu Cadessi.

Cordial House berada di Divanyolu Caddesi (“Jalan” Divanyolu), Peykhane Sokak, No. 19, tepat setelah stasiun Cemberlitas. Terdapat plang jalan yang bertuliskan “Divanyolu Caddesi” yang mengarah ke jalan selebar dua kendaraan yang menurun dengan permukaan jalan berupa susunan batu dan bollard di kedua bahu jalan. Cordial House hanya ditandai dengan dua buah neon sign berbentuk oval berwarna biru dengan tulisan Cordial House Hotel.

Rekomendasi penginapan dari seorang teman yang baru saja mengunjungi Istanbul ternyata tidak salah. Walaupun belum terdaftar di buku panduan Lonely Planet, penginapan ini sangat saya rekomendasikan untu pejalan ketat anggaran yang tidak terlalu suka keramaian turis seperti yang banyak terlihat di kawasan Sultan Ahmed.

Bar
Bar.

Lokasi Cordial House hanya 40 meter dari stasiun Cemberlitas dan Divanyolu Square di mana terdapat hamam terkenal, yakni Cemberlitas Hamami, dan juga tempat Column of Constantine berada. Atraksi utama kota Istanbul seperti Grand Bazaar (200m), Blue Mosque (250m), Basilica Cistern (300m), Haga Sophia (350m), Topkapi Palace (650m) sangat dekat ditempuh dengan berjalan kaki. Bahkan kawasan Eminonu tempat penyeberangan feri ke sisi benua Asia dan kawasan kota modern Beyoglu hanya berjarak beberapa menit dengan menggunakan tram.

Cordial House memiliki kamar single, double, twin, triple, dan quadruple dengan kamar mandi di dalam. Juga tersedia male dorm, female dorm dan mixed dorm yang cukup luas dan kamar mandi bersama di luar. Kekurangannya untuk dormitory hanya tersedia satu colokan listrik yang digunakan secara bergantian di kamar dengan kapasitas delapan orang. Setiap dormitory juga hanya memiliki satu kunci yang digunakan bersama penghuni kamar, orang pertama yang masuk ke kamar harus mengambil di resepsionis, demikian juga orang terakhir yang keluar kamar harus menyerahkan kembali ke resepsionis.

Restoran
Restoran.

Pernah suatu hari ketika saya meminta kunci ke resepsionis, ternyata salah satu penghuni kamar sudah mengambilnya terlebih dahulu, sedangkan pintu kamar masih dalam kondisi terkunci. Akhirnya saya harus mencari kunci tersebut ke kamar mandi sambil berteriak “Anyone has Room 33 key?”. Untungnya saya menginap di male dorm, coba kalau di mixed dorm, mungkin saya akan memasuki kamar mandi wanita juga untuk mencari kunci.

Berbagai fasilitas dan layanan tersedia mulai dari wireless internet (tidak berfungsi untuk BlackBerry), air panas, belajar mempersiapkan kopi Turki, penitipan koper, pemanas ruangan, safety box, dan potongan harga untuk paket tur, pertunjukan whirling dervish dan Turkish bath. Juga tersedia sarapan pagi yang disajikan secara prasmanan di ruang makan yang terletak di lantai bawah tanah dengan menu seperti telur rebus, roti, buah zaitun, berbagai jenis keju dan selai, jus, teh dan kopi Turki. Sarapan disediakan dengan tambahan biaya. Namun, pada saat itu saya memesan melalui agoda.com yang memberikan fasilitas sarapan pagi gratis.

Ruang bersama
Ruang bersama atau “common room“.

Prasmanan sarapan pagi
Prasmanan sarapan pagi.

Secara keseluruhan fasilitas di Cordial House sangat terjaga kebersihan dan kerapihannya. Tatanan desain interior terlihat sederhana dan modern dengan menggunakan permainan warna pada dinding dan langit-langitnya. Codial House juga sangat peka terhadap penggunaan energi listrik. Koridor utama menuju kamar menggunakan sensor gerak yang secara otomatis memadamkan lampu ketika tidak ada orang yang lewat. Menempati bangunan empat lantai, Cordial House dilengkapi dengan lif kecil yang sudah usang, mirip seperti lif barang.

Alamat

Binbirdirek Mh.
Peykhane Caddesi 19
34400 Istanbúl, Turki
Tel.: +90 0212 518 0576
Situs web: www.cordialhouse.com

Peta

  • Disunting oleh SA 11/06/2012

Yang Muda Yang Bisa Menginap di Mana Saja

Seringkali akomodasi menjadi hal yang menghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Mau pergi ke suatu tempat, yang dipikirkan pertama kali adalah “Mau menginap di mana?”, “Kalau di hotel, kan, mahal.” Sebenarnya tidak begitu, terlebih untuk anak muda. Anak muda yang memiliki tubuh masih fit tidak perlu khawatir perihal akomodasi karena yang muda bisa menginap di mana saja.

Saya pernah menginap di stasiun kereta. Enak atau tidak tergantung stasiun keretanya. Di stasiun kereta besar yang memiliki fasilitas lengkap, menginap di emperan mungkin masih terasa seperti menginap di kamar kos-kosan. Bangku panjangnya cukup lebar untuk dipakai tidur, lantainya berkeramik, ada warung bahkan kios makanan cepat saji, ada mushala dan kamar mandi di pojokan. Dan biasanya di stasiun yang agak besar lumayan banyak orang yang juga tidur di sana.

Lain lagi jika tidur di stasiun kecil. Biasanya di stasiun kecil kamar mandi dikunci bertepatan dengan berakhirnya aktivitas di stasiun. Jadi kalau menginap di stasiun seperti Karangasem, Probolinggo, atau di Banyuwangi baru saya harus cepat-cepat menunaikan segala urusan sebelum kamar mandi digembok.
Soal kemananan, bukan berarti stasiun besar lebih tidak aman dibanding stasiun kecil. Menurut saya, aman atau tidak tergantung diri masing-masing. Jika pandai menjaga diri, di manapun akan aman karena kejahatan dapat mengancam seseorang di mana saja.

Tempat lain yang pernah saya inapi adalah SPBU atau pom bensin. “Hotel kuda laut” kalau kata bapak Indra Azwan, sang pencari kebenaran dari Malang. Tidak usah ragu jika ingin menginap di sana. Para karyawan dan pengelola pom bensin di Indonesia sudah mahfum bahwa sesekali akan ada pemuda berduit pas-pasan yang akan menumpang menginap di sana. Di pom bensin biasanya ada mushala dan kamar-mandi dan di pom bensin yang agak besar biasa ada swalayan.

Saya juga pernah menginap di pelabuhan. Di Pelabuhan Ketapang ada sebuah mushala kecil yang cukup nyamana untuk diinapi, meskipun tidak boleh tidur di dalam. Lazimnya dataran rendah, biasanya nyamuk di pelabuhan kejam-kejam. Makanya jika ke mana-mana selalulah membawa sleeping bag dan obat nyamuk oles. Sekedar sleeping bag tidak akan cukup untuk menghambat tekad nyamuk-nyamuk nakal untuk menghisap darah manusia.

Menginap di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka juga sangat berkesan bagi saya. Karena jauh dari mana-mana dan terletak di ujung barat Pulau Bangka, pelabuhan ini sunyi senyap di malam hari. Ketika mendarat di sana, saya seperti keluar dari mesin waktu yang membawa saya ke masa lalu. Orang-orang berebut turun dari kapal feri membawa koper-koper besar, dinanti oleh para penjemput yang menyongsong dengan gembira dari dermaga. Dekat dermaga ada sebuah mercusuar tua yang memancarkan cahaya kuning temaram, yang terus berputar sendu memandu haluan kapal yang melintasi selat berhala. Agar bisa tidur dengan nyaman, saya harus menggabungkan dua bangku panjang untuk digunakan sebagai tempat berbaring.

Selain tempat-tempat di atas masih banyak tempat lain yang bisa diinapi: masjid, kantor polisi, emperan toko, dan lain-lain. Sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan selama menginap di berbagai “kamar koboi” tersebut. Bahkan di sebuah masjid di kawasan Kuta, seorang bapak paruh baya secara tak terduga memberi saya dan seorang kawan “sangu” Rp. 20.000. “Untuk musafir,” kata beliau. Jadi tidak ada alasan bagi anak muda untuk menunda-nunda melakukan perjalanan, terlebih dengan alasan tiada uang untuk menyewa penginapan.

  • Disunting oleh SA 17/04/2012

MEININGER Hotel & Hostel, Frankfurt

Asrama enam tempat tidur
Asrama enam tempat tidur.

Lokasi hostel ini dekat dengan Messe Frankfurt, kompleks gedung balai sidang yang biasa digunakan untuk pameran dan konferensi internasional. Aksesnya dari bandara relatif mudah, hanya satu kali kereta listrik ke Frankfurt Hauptbanhof (stasiun kereta api utama), lalu jalan kaki 10-15 menit. Anda juga bisa melanjutkan dengan S-bahn (jalur kereta listrik S) ke stasiun Messe lalu jalan kaki 5 menit.

Menurut saya, hostel ini memiliki konsistensi yang sama dengan sebuah hotel jaringan, dinilai dari konsistensi identitas yang digunakan dan aplikasinya pada seluruh lini fasilitasnya, sehingga kita bisa memastikan jaminan mutu untuk semua hostel di bawah namanya. MEININGER memiliki jaringan hostel di berbagai kota, antara lain Berlin, München, Frankfurt/Main, London, Köln, Hamburg, Wien dan Salzburg. Jaringan MEININGER juga memiliki hotel, lokasinya satu gedung dengan hostelnya.

Tanda nama di tempat tidur
Tanda nama di tempat tidur.

Fasilitas? Kualitasnya melebihi hostel rata-rata. Kamarnya bersih, sangat rapi dan nyaman. Saya merasa tinggal di hotel yang dibuat seperti asrama. Setiap tempat tidur juga memiliki tempat untuk dimasukkan kartu yang berisikan nama dan tanggal check-in dan check-out pelanggan. Kartu ini didapat ketika check-in. Dengan begitu, kita tak perlu pusing tempat mana yang masih kosong dan sudah terisi. Dalam setiap kamar juga terdapat loker dengan sistem deposit (€1). Kamar mandi ada di dalam area asrama yang terkunci rapat. Ruang mandi (shower) dipisahkan dari ruang kakus dan wastafel. Semua pintu menggunakan sistem elektronik. Lif tersedia.

Meja bersama di dalam asrama
Meja bersama di dalam asrama.

Koridor masuk asrama dengan kamar mandi di sebelah kiri
Koridor masuk asrama dengan kamar mandi di sebelah kiri.

Sarapan tersedia dengan biaya tambahan €4. Kalau pesan rombongan 12 orang, sarapan gratis. Tidak usah khawatir dengan seprei dan sarung bantal, selalu tersedia baru setiap hari dan tidak usah repot menyarungkannya sendiri. Handuk pun begitu. Di dekat resepsionis ada kafe tempat sarapan atau untuk kita beli sendiri ketika makan siang atau makan malam. Saya hanya tak percaya semua ini didapatkan dengan harga cukup hemat: €19 per malam untuk kamar asrama berisi enam tempat tidur, tidak termasuk sarapan pagi. Satu komplain saya, wifi gratisnya hanya ada di lobby dan tidak sampai ke kamar.

Kesimpulannya, hostel ini murah meriah namun super nyaman dan strategis. Cocok bagi Anda yang baru sampai Frankfurt dari penerbangan panjang dan ingin beristirahat sejenak satu malam. Satu peringatan bagi Anda, jika datang pada saat ada pameran atau konferensi harga kamar single di sini bisa mencapai €500 per malam.

Kisaran harga (harga akurat pada tanggal terbit artikel ini, perubahan adalah hak hostel/hotel terkait dan bukan tanggungjawab kami):

  • Asrama (dorm) berisi enam tempat tidur: €14-€20 per malam per orang tergantung periode.
  • Kamar single: €30-€50 euro per malam per orang, namun pada periode tertentu dapat mencapai €100-€500 euro.

Fasilitas:

  • Bangunan dan fasilitas bersih
  • 163 kamar
  • Tujuh lantai, bisa diakses dari dua lif
  • Wifi seluruh hotel (yang gratis hanya di lobby)
  • Penitipan barang gratis dan safe deposit box
  • Mesin cuci dan pengering

Alamat

MEININGER Hotel/Hostel Frankfurt/Main Convention Center
Europaviertel
Europaallee 64
60327 Frankfurt/Main
Tel. :+49 69 4015 90 52
Situs web: http://www.meininger-hotels.com

Peta

  • Disunting oleh ARW 3/11/10

Le Bambino Guesthouse, Da Nang

Tampak depan Le Bambino Guesthouse

Mencari penginapan di negeri orang adalah hal yang suka menyesakkan dada. Foto dan kenyataan bisa saja tak sesuai. Harga terlalu mahal. Lokasi tak tepat. Begitu sampai di lokasi, pelayanan tak maksimal—entah itu mereka ternyata tak pandai berbahasa Inggris atau tak bersahabat. Bagi orang muda, mungkin boleh untuk bertaruh sedikit dengan menyewa tempat penginapan yang murah meriah. Untuk tidur saja, tak perlu mahal. Namun, bagaimana dengan kita yang punya gaya perjalanan yang berbeda: ingin nyaman, aman, dan layanan yang prima, tapi harga tak selangit? Atau perjalanan yang dilakukan bersama keluarga, dengan anak kecil?

Bulan Maret lalu saya menginap di tempat yang sempurna untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Saya berada di Da Nang, sebuah kota di sentral Vietnam, sebenarnya hanya untuk transit satu malam untuk melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh City esok harinya. Kebetulan pula, ada kompetisi kembang api internasional. Ketika memesan di internet pun, saya sudah capek mencari harga murah dan presentasi yang generik dari berbagai hotel murah di Vietnam. Tak pikir panjang, saya kirim email ke penginapan yang tipenya rumah singgah ini, dan berani membayar USD35 untuk satu malam, sebuah harga yang bisa dua malam di hotel lain.

Dari gambar yang saya lihat di situs webnya, ternyata aslinya jauh lebih bagus. Saya tak mengira dapat kamar sebesar 10m x 5m! Belum lagi lengkap dengan kamar mandi yang ada bathtub-nya, meja nakas panjang begitu masuk, lemari lega, daerah sofa untuk nonton TV kabel, lantai parkit, karpet, tempat tidur ukuran raja, jendela masif gaya Perancis, dua nakas lengkap di samping tempat tidur… Saya speechless. Hanya ada tiga kamar tamu di rumah singgah ini, ketiganya bisa disewa harian, mingguan maupun bulanan. Untuk harian, tarifnya USD35. Untuk bulanan, tarifnya sekitar USD600. Cukup mahal, memang, apalagi untuk ukuran kota sedang seperti Da Nang. Tetap saja, harga itu melebihi ekspektasi. Di hotel berbintang, harga itu tak dapat fasilitas semacam ini.

Kamar luas di Le Bambino Guesthouse

Pemilik Le Bambino adalah pasangan Perancis-Vietnam, Jean Paul Ernecq dan Vinh Ernecq. Pak Jean sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Da Nang sejak menikah dengan istrinya, pekerjaan utamanya adalah mengelola rumah singgah ini dan sebuah restoran Perancis di bawahnya. Le Bambino sebenarnya adalah rumah tiga tingkat, lantai dasar untuk restoran, dan sisanya untuk kamar.

Tak cukup dari ukuran kamar yang masif untuk saya seorang, kita mendapatkan interaksi yang tak seperti di hotel. Lebih dekat seperti konsep homestay, sebenarnya. Pemilik akan senang hati mengobrol dengan kita, menanyakan asal, menjelaskan tempat-tempat menarik, sambil menyeduh kopi, jus jeruk atau kue jika kita mau. Bahkan beliau tak sungkan menceritakan anaknya yang sedang kuliah di Perancis. Saya bahkan sempat diantarkan ke Museum Cham, ketika pasangan itu sedang berangkat ke pasar. Ketika datang, saya dibuatkan sarapan ala Perancis: baguette, omelet jamur, kopi hitam, selai stroberi dan jus jeruk. Penyajiannya pun sempurna! Sarapan dan hospitality ini sudah termasuk dengan harga itu. Hanya saja, untuk makan siang dan makan malam, tetap harus kita cari sendiri. Namun begitu, ada rekomendasi dan petunjuk jalan. Menyenangkan, bukan?

Sarapan pagi di Le Bambino Guesthouse

Dekorasi di Le Bambino Guesthouse

Untuk keluarga, saya tak tahu berapa orang maksimal bisa menginap di sini. Tapi jika Anda berdua, atau dengan satu anak, saya rasa tak masalah. Sayang, seharusnya penginapan semacam ini ada di kota yang lebih touristy, tapi cukup baik untuk mereka yang ingin jeda sejenak beberapa hari!

Pemesanan dilakukan dengan email, mereka belum terhubung dengan reservasi kolektif. Untuk foto-foto dan informasi lanjutan, silakan kunjungi situs web mereka.

  • Le Bambino Guesthouse and Restaurant. 122/11 Quang Trung Street, Da Nang. Tel.: +84 0511 896386. Faks: +84 0511 886098. E-mail: jpernecq@yahoo.fr. Situs web: www.lebambino.com.

Disunting oleh ARW 16/06/2010


Sleepy Sams

Tampak depan hostel Sleepy Sams, SingapuraSleepy Sams adalah hostel di Singapura yang terletak di lingkungan Arab Quarter, tepatnya di Bussorah St., juga dekat dengan Sultan Mosque dan Kampong Glam. Kelebihan utama dari hostel ini adalah lokasi dan konsepnya. Lokasinya terletak di jalan bebas kendaraan dengan sederetan bangunan tua.

Jika Anda mencari alternatif penginapan murah di Singapura yang tetap memiliki karisma tersendiri, pilihlah Sleepy Sams. Interiornya ditata sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan nostalgia dan dekat dengan rumah sendiri. Di bagian resepsi, Anda akan disambut dengan berbagai perabotan kayu, cat dinding pastel dan terakota, serta sebuah perpustakaan kecil dengan buku-buku panduan pariwisata seperti Lonely Planet dan Rough Guides. Ada juga novel-novel fiksi. Buku-buku ini bisa Anda baca di tempat, atau di bawa ke kamar. Di sebelah resepsi ada ruang warnet (yang dapat digunakan gratis untuk mereka yang menginap, tanpa dihitung per jam), fasilitas TV dan permainan konsol, serta ruang untuk bersenda-gurau bersama pelancong lain.

!http://ranselkecil.com/images/45.png (Bussorah St., Singapura)!

Kamar-kamar terletak di lantai 2 bangunan ini, sebelumnya kita harus melewati dapur bersih dan kamar mandi di lantai bawah. Akses masuk ke atas hanya diberikan bagi mereka yang memiliki kunci, dan mereka yang menginap akan diberi kunci ini. Begitu masuk ke lantai 2, ada sekelompok tempat tidur bertingkat untuk kelas “asrama”. Tempat-tempat tidur ini diberi tirai/kelambu untuk menjamin privasi. Di sekitarnya terdapat kamar-kamar yang lebih privat untuk _single_ dan _double_. Kamar _single_-nya tak besar, hanya 2×1,5m. Isinya pun hanya undakan kecil untuk meja dan tempat tidurnya di bawah. Ada lampu kecil, colokan listrik plus _plug converter_. Gantungan baju juga tersedia. Ada kipas angin dan AC, terserah Anda ingin menggunakan yang mana. Interior kamar juga tak terlalu di’modernisasi’, jendela kayu tetap dipelihara, serasa tinggal di rumah Baba dan Nyonya di tahun 30-an. 2 kamar mandi tersedia di lantai atas dengan air hangat. Ketika malam hari, suasana di sini sangat redup dan tenang. Cocok bagi Anda yang suka privasi lebih.

!http://ranselkecil.com/images/42.png (Private single room di Sleepy Sams, Singapura)!

Harga menginap di sini juga relatif sama dengan harga pasar, mungkin lebih tinggi sedikit. Berikut daftar harganya:

_Female-only_ / _mixed dorm room_
SG$28 per orang per malam

_Private single room_
SG$59 per kamar per malam

_Private double room_
SG$89 per kamar per malam

_3-bed dorm room (double mattress plus single)_
SG$99 per kamar per malam (tak bisa dipesan per tempat tidur)

Sarapan pagi di Sleepy SamsFasilitas yang disediakan cukup menggiurkan:

* Gratis sarapan pagi yang dapat diminta jam berapa pun
* Gratis penggantian seprei dan bantal tidur
* Gratis WIFI sampai kamar Anda
* Gratis peta lokal
* Gratis telepon lokal
* AC, kamar tidak merokok
* Shower air panas
* Kafe dengan mesin kopi untuk membuat kopi susu, espresso, just, teh, dan lainnya
* Dapur lengkap untuk masak sendiri
* Fasilitas barbecue
* Tempat santai membaca buku dengan perpustakaan mini
* Penitipan barang
* Pencucian baju kotor
* Fasilitas telepon internasional
* _Safe deposit box_
* Keamanan terjamin (Pintu masuk menggunakan pin elektronik)

Alamat: 55 Bussorah Street, Singapore
Telpon: +65 92774988
Situs: sleepysams.com

Disunting oleh ARW.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil