Kabut pagi di Launceston

Hari ke-5: 6 Agustus 2018

Kami benar-benar menikmati masa-masa tanpa internet di Cradle Mountain. Sungguh ide yang brilian. Tapi tentu saja, semua yang brilian, biasanya ada akhirnya. Termasuk menyicipi Cradle Mountain selama tiga malam.

Kami tetap harus bergerak. Tujuan selanjutnya: Launceston, via Sheffield.

Perjalanan ke Launceston, menurut Google Maps, akan memakan waktu selama lebih kurang dua jam. Dengan berhenti di Sheffield, sebuah kota kecil di tengah, mungkin akan memakan waktu tiga jam total.

Kenapa Launceston dan Sheffield? Launceston adalah destinasi wajib kunjung di Tasmania, karena ia merupakan kota terbesar kedua setelah Hobart di pulau ini, dan ditasbihkan menjadi kota yang lebih berseni. Entahlah, mungkin karena museum-museumnya? Sheffield kami pilih karena di situ kami bisa mengisi bensin, makan siang dan belanja kebutuhan dapur untuk masak di Launceston nanti. Kabarnya, ada beberapa mural yang bisa kami lihat di situ.

Perjalanan hari itu dimulai dengan jalan yang basah karena hujan sejak pagi. Kami menelusuri lagi jalan kami ke sini ketika datang tiga malam lalu, sebelum memotong di sebuah tikungan untuk mengarah ke timur, lalu sekitar satu jam kemudian, kami sampai di Sheffield.

Sheffield adalah kota yang sepi—sebagaimana kebanyakan kota-kota di Tasmania (dan mungkin, Australia, untuk ukuran orang Indonesia)—namun kami suka kota sepi! Di sini kita bisa jalan tanpa harus khawatir diburu-buru pejalan kaki (seperti di Singapura), diburu-buru sepeda dan skuter (lagi-lagi, seperti di Singapura), atau menghadapi kesemrawutan dan kemacetan (seperti di Jakarta). Janis pun bisa bermain tenang di playground sambil memetik bunga daisy. Supermarket favorit kami, IGA, ada di sini dan syukurlah kami bisa stok beberapa bahan makanan untuk malam ini.

Kota Sheffield dengan latar pegunungan
Salah satu atraksi utama di Sheffield: Mural di beberapa dinding ruko

Sambil memutar lagu di mobil, kami melanjutkan perjalanan. Suasana seperti ini yang kami cari. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya kami bertiga, dari satu kota ke kota lain. Asing. Tapi familiar.

Launceston ternyata lebih ramai dari yang kami duga. Jalan-jalannya lebih sempit, mungkin ilusi karena banyak yang parkir di pinggir jalan. Yang jelas, selain lebih ramai, konturnya kota juga lebih dinamis, sehingga banyak naik-turun “bukit”.

Sesampainya di Airbnb yang kami pesan, kami tak kuat ke mana-mana lagi, dan langsung bongkar muat barang. Mama Janis pun memasak lauk andalan: tumis salmon, brokoli dan wortel. Kami pun puas, dan tertidur pulas.

Agenda kami di Launceston esok harinya adalah mengunjungi Cataract Gorge dan Queen Victoria Museum & Art Gallery.

Cataract Gorge dan chairlift

Cataract Gorge sejatinya adalah formasi ngarai di tengah kota Launceston, yang menurut sejarahnya merupakan salah satu awal pemukiman aborigin yang penting secara tradisi. Di sini ada tiga bukit, dan masing-masing bukit itu memegang peranan penting pada kelangsungan hidup masyarakat aborigin dulu. Selain itu, ngarai ini juga punya signifikansi geologis terkait jembatan alami dari benua utama Australia ke Tasmania. Tapi sekarang, ia jadi taman kota, di mana setiap penduduk dan pengunjung bisa menikmati alam tanpa harus beranjak jauh dari kehidupan kota. Di sini, ada jalur trekking, kolam renang, chairlift terpanjang di Tasmania (A$15 pulang-pergi) dan kafe. Kegiatan yang bisa dilakukan, tentu saja jalan kaki, lari, rekreasi dan makan-minum. Kami habiskan waktu sekitar satu jam di sini, termasuk mencoba chairlift-nya yang ternyata lumayan tinggi!

Jalan kaki di salah satu jalur trekking di Cataract Gorge

Setelah puas, kami pergi ke museum Queen Victoria Museum & Art Gallery. Ternyata, museum ini ada di dua lokasi. Yang pertama di Royal Park, tempat kami pertama berkunjung, dan di Inveresk, di seberang sungai menuju ke utara kota. Museum di Royal Park fokusnya adalah karya seni, sedangkan di Inveresk adalah transportasi, sejarah alam dan ilmu pengetahuan. Tentu saja anak kami lebih tertarik di museum Inveresk, karena banyak hal yang bisa ia coba. Tapi, menurut kami, lebih cantik museum di Royal Park.

Ruang galeri seni di Queen Victoria Museum & Art Gallery di Royal Park
Queen Victoria Museum & Art Gallery di Inveresk, dengan salah satu bagian museum transportasi. Dulu kala, kereta api digunakan di Tasmania untuk mengangkut manusia dan barang, tetapi hari ini hanya barang.
Salah satu bagian menarik di museum transportasi ini adalah marka-marka kereta api yang masih dirawat apik.
Belajar hewan-hewan khas Australia
Memulai bakat seni di museum
Belajar sejarah kehidupan aborigin di Tasmania. Dulu kala, salah satu tempat berlindung sementara dari dingin dan angin adalah gubuk sederhana ini.

Sebenarnya ada satu museum lagi yang ingin kami kunjungi, yaitu Design Tasmania. Tapi setelah ke sana, museum akan tutup 30 menit lagi, dan kami harus membayar A$6 per orang. Sepertinya rugi ya untuk menikmati hanya 30 menit. Kami putuskan untuk menunda sampai besoknya jika sempat. Kami akhiri hari dengan bermain di taman kota yang kebetulan terletak di seberang penginapan.