Bulan: Agustus 2018

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 2)

Dove Lake Circuit

Satu hal yang saya paling khawatirkan ketika berangkat adalah apakah saya bisa menyetir sepanjang ribuan kilometer, berhari-hari, di tanah asing dengan aturan yang berbeda?

Apakah kemudian anak saya yang masih berusia tiga tahun bisa bertahan di kursinya selama minimal satu jam saja, jika harus berhenti-henti?

Domba-domba yang jumlahnya lebih banyak dari manusia. 10 domba : 1 manusia?

Ternyata, kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan. Menyetir di Tasmania terhitung mudah karena jalan relatif sepi, aturan jelas, supir-supir yang lain lebih sabar, serta pemandangan yang menyejukkan mata. Mustahil untuk mengantuk dalam perjalanan ini karena setiap berbelok, ada saja pemandangan yang indah. Tapi, anda tetap harus hati-hati dan patuh pada batas kecepatan atau rekomendasi kecepatan. Anda bisa menyetir di sini dengan SIM A Indonesia, dilengkapi terjemahan resmi (tidak mesti dari polisi atau kedutaan, cukup dari penerjemah bersumpah).

Tips: Untuk menerjemahkan SIM, kami menggunakan jasa Worldnet Translation di Jakarta Timur. Worldnet Translation adalah salah satu penerjemah bersumpah resmi kedutaan besar Australia di Jakarta.

Anak kami juga ternyata tidak segelisah itu. Paling-paling hanya meminta cemilan, atau minta diputarkan lagu anak-anak. Alhasil, playlist yang kami susun dengan lagu-lagu kesukaan saya dan istri pun hanya diputar sesekali. Tak apa, yang penting anak bahagia! 

Hari ke-1: 2 Agustus 2018

Hari di mana kami terbang ke Devonport, sebuah kota pelabuhan di utara Tasmania, melalui Melbourne. 

Sekitar dua minggu sebelumnya, kami sudah mulai berkemas. Bukan apa, karena ini perjalanan nan panjang, kami berusaha untuk memasukkan semua kebutuhan secara berkala, sehingga tidak ada yang lupa. Hasilnya, kami membawa dua koper kecil dan satu koper medium—suatu keniscayaan karena blog ini judulnya “ransel kecil”—tapi apa daya, kami perlu membawa jaket musim dingin yang besar ukurannya, serta sepatu boots. Kami memutuskan membawa dua pasang sepatu, satu pasang boots dan sepasang lain sepatu kasual, karena tidak semua destinasi memiliki salju atau perlu trekking. Saya juga harus menyetir, rasanya pakai boots berlama-lama menyetir akan melelahkan.

Kabin kami di Devonport, dan mobil sewaan, sebuah Mitsubishi ASX.

Satu hal yang paling kami sesalkan adalah ternyata kami membawa baju terlalu banyak, karena ada beberapa hari di mana kami bisa mencuci dan mengeringkan baju. 

Area bermain anak di penginapan

Oh ya, tak lupa, satu yang penting adalah kami membawa penanak nasi mungil dan alat makan. Tidak lupa pula outlet enam colokan dengan converter Australia. Jangan sampai nanti berebut tempat listrik!

Untuk keperluan di mobil, kami bekali diri dengan banyak cemilan, air mineral (baik untuk minum atau keperluan lain, misal isi radiator), surat izin mengemudi Indonesia lengkap dengan terjemahan, serta SIM internasional untuk backup, ponsel dengan Google Maps yang selalu terisi baterai. Tips: untuk memasang ponsel di dasbor mobil, kami sarankan gunakan pelekat magnet yang dipasang di lidah air conditioning dibanding pelekat di kaca, karena lebih stabil. Kami menggunakan merek Scosche MagicMount. Harganya juga jauh lebih murah dari phone holder lain.

Selain itu, untuk menghindari menggunakan sistem audio mobil, kami juga membawa bluetooth speaker sendiri. Benar-benar berusaha mandiri tidak tergantung peralatan di tempat.

Untuk urusan navigasi, kami serahkan sepenuhnya pada Google Maps, dan ternyata cukup efektif.

Hari pertama kami gunakan untuk check-in ke penginapan pertama kami, sebuah kabin sederhana di Discovery Parks Devonport. Setelahnya, kami belanja kebutuhan dasar seperti yang sudah diulas di artikel sebelumnya.

Beruntung, hampir semua yang kami butuhkan ada di Woolworth’s terdekat. Sisa hari kami gunakan hanya untuk beristirahat dan masak makan malam karena besok kami akan berangkat ke Cradle Mountain. Cuaca cerah, namun suhu cukup dingin di kisaran 5-10 derajat Celcius.

Hari ke-2: 3 Agustus 2018

Sambil menunggu waktu checkout, Janis kami ajak bermain di playground di penginapan. Kebetulan penginapan ini menghadap ke laut, jadi kami sempatkan juga untuk melihat sedikit ke pesisir, mengintip kapal yang sedang berada di tengah Selat Bass, selat yang memisahkan Tasmania dan benua Australia yang utama.

Di Tasmania, dan Australia secara umum, banyak sekali penginapan bertema kabin atau chalet yang ada dapur dan beberapa kamar (termasuk bunk bed). Biasanya, penginapan seperti ini disebut self-contained atau self-catering accommodation. Ini bukti bahwa Australia adalah tujuan wisata yang ramah keluarga dan mengapresiasi kebebasan.

Perjalanan menuju Cradle Mountain dilalui dalam waktu lebih kurang 1,5 jam. Hanya berbekal panduan Google Maps, kami pun mulai menyetir. Tidak lebih dari 15 menit, kami sudah berada di pedesaan. Pemandangannya indah sekali. Di kejauhan, tampak pegunungan. Di kanan kiri, tampak lapangan hijau dipenuhi jerami, domba, kuda dan sapi. Jalan berliku nan halus. Rumah-rumah penduduk yang tersebar. Ini sih, seperti di Switzerland, ya! Rasanya ingin berlarian di lapangan hijau sambil bernyanyi The Sound of Music!

Decak kagum kami tak berhenti, sampai terkadang ingin tiba-tiba berhenti mendadak untuk mengambil foto. Tapi kami harus jalan terus sebelum makan siang!

Lanskap berubah sekitar 30 menit menuju lokasi. Jalan lebih berliku, melalui tebing yang tinggi. Ketika keluar dari tebing-tebing ini, kami masuk ke lanskap lain pula: hijau mulai berkurang, lebih “tandus” tapi banyak tanaman perdu, pohon-pohon yang bentuknya semakin berbeda. Kita sudah sampai di dataran tinggi midlands, dengan iklim yang lebih kering dan elevasi yang lebih tinggi, didominasi grasslands dan tanaman perdu. Hal ini jugalah yang membuat Tasmania unik, karena kondisi seperti ini tidak ditemukan di pulau lain di Australia. Kondisi ekologi Tasmania yang terisolir membuat kondisi flora dan faunanya tumbuh unik.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil melihat tanda-tanda di pinggir jalan yang mengatakan jalanan ini akan sangat licin jika ada salju dan kemungkinan ditutup. Syukurlah, pada saat itu, tidak ada salju, tapi memang jalanan agak basah. Saran kami, selalu pantau kondisi jalan.

Tidak banyak kendaraan yang melintas, tapi begitu masuk ke penginapan kami, ternyata banyak yang menginap. 

Kabin kami di Cradle Mountain
Dapur di kabin yang cantik dan lengkap

Kami menginap di sebuah kabin unik yang berarsitektur minimalis. Sangat berbeda dengan penginapan kami di Devonport yang sangat basicThis one is our favourite yet! Ada dua kamar yang lumayan besar ukurannya (dan bukan bunk bed), ruang keluarga yang proper, serta kamar mandi dengan bathtub dan ukuran yang luas. Belum lagi dapur yang—walaupun masih menyatu dengan ruang makan—cukup besar dan nyaman, dengan amenities lengkap.

Kabin di sini semuanya independen, dalam arti tidak dalam satu bangunan. Untuk mencapai masing-masing kabin kita perlu menyetir, karena jaraknya jauh. Di setiap kabin ada area untuk parkir mobil. Jadi, memang idealnya menyewa mobil. Berjalan kaki bisa saja, asal tahan dingin.

Tentu saja, karena sudah lewat makan siang, kami putuskan untuk mengakhiri hari di penginapan. Sorenya kami mampir ke lounge di dekat resepsionis sambil menikmati cokelat panas di depan perapian. Hm, nyaman! A real cabin in the wood experience (bukan film horor itu, ya!).

Bersantai di lounge hotel dekat perapian

Istri pun masak untuk makan siang dan malam berupa pasta spaghetti bolognaise dan cream soup ayam. Sedap!

Oh ya, kami baru tahu, dari pengalaman ini, kalau di dunia ini ternyata ada yang namanya bed warmer alias alat elektronik pemanas tempat tidur yang biasanya ditempatkan di bawah kasur. Fungsinya tentunya untuk menghangatkan tempat tidur/kasur, sehingga bisa tidur lebih nyaman. Suhu pada saat itu lebih dingin dari biasanya, terlebih hujan, dan mencapai 3-5 derajat Celcius. Pemanas yang ada di kamar utama, ruang keluarga dan kamar kedua juga kurang pengaruh. Brrr! Beruntung ada pemanas tempat tidur.

Hari ke-3 & ke-4: 4 & 5 Agustus 2018

Pagi hari tiba, kami bergegas sarapan di kabin, lalu segera menyalakan mobil dan menuju Cradle Mountain Visitor Centre. Pusat pengunjung ini—untungnya—terletak tidak jauh dari pintu masuk utama penginapan. Tapi tetap harus menyetir ke sana. Cukup lima menit sampai.

Air danau Dove Lake yang sungguh jernih (tapi dingin)
 Boatshed di Dove Lake

Agenda hari ini adalah mencapai Dove Lake, situs utama dari Cradle Mountain yang bisa dinikmati hampir semua kalangan. Untuk mencapainya, ada dua opsi. Yang pertama, menyetir sendiri sejauh 7km, tapi melalui jalan berliku dan seringkali harus bergantian karena tidak semua dua jalur; atau yang kedua—opsi yang kami pilih—naik bis shuttle dari Visitor Centre.

Tips: jangan lupa untuk membeli Park Pass atau tiket masuk taman nasional di Tasmania sebelum naik bis. Jenis-jenis Park Pass ini ada yang khusus Cradle Mountain saja, atau yang termasuk taman nasional lain di Tasmania. Selain itu, ada yang berlaku terbatas, 8-minggu atau tiket tahunan. 

Kami memilih opsi tiket 8-minggu yang termasuk unlimited entry ke semua taman di Australia untuk 8 orang dan satu kendaraan, seharga A$60 (Rp700.000). Tampak mahal, tapi kalau beli satuan akan jauh lebih mahal karena kami berencana mengunjungi taman-taman lainnya (sekitar A$16.50 per orang dewasa x 2, dan anak-anak usia 5-7 tahun A$8.25, anak-anak di bawah 5 tahun gratis).

Menikmati hal-hal kecil seperti menemukan sungai kecil di bawah jembatan

Bis shuttle ini berangkat dari Visitor Centre setiap 20 menit, dengan jadwal pertama pukul 09:30 pagi dan jadwal terakhir pulang dari Dove Lake pukul 16:00 petang. Ia berhenti di beberapa tempat. Tujuan akhirnya adalah Dove Lake. Tiketnya gratis jika sudah membeli Park Pass, tapi harus diminta setiap hari dan berlaku 1×24 jam. Jadi misalnya besoknya ingin kembali ke Dove Lake, maka harus menukar dengan tiket bis yang baru keesokan harinya jika sudah lebih dari 1×24 jam.

Dove Lake Circuit dengan Glacier Rock (di latar belakang, batu besar)

Perjalanan ke Dove Lake memang benar berliku, tetapi menelusuri hutan hujan subtropis. Jika kita kuat, bisa berjalan ke Dove Lake sejauh 10km, atau misalnya tertinggal bis terakhir, maka terpaksa naik mobil orang lain (hitchhiking) atau jalan kaki 10km lagi ke Ranger Station (satu perhentian setelah Visitor Centre).

Sesampainya di Dove Lake, kita disambut pemandangan danau dengan latar belakang Cradle Mountain yang diliputi kabut. Jangan lupa untuk mengisi walker book, buku tamu yang akan merekam siapa saja yang melakukan trekking di sekitarnya. 

Ada banyak sekali jalur trekking, mulai dari yang sangat mudah sampai yang menantang. Ada pilihan very short walk sampai long walk dan naik ke puncak Marion’s Lookout, misalnya. Semua terpampang nyata dan jelas di walker centre, di mana ada jalur dan perhentian yang direkomendasikan, waktu yang diperlukan dan jarak yang ditempuh. Begitu pula dengan baju, alat dan perbekalan yang direkomendasikan. Yang paling populer adalah Dove Lake Circuit, jalur sejauh 6km berkeliling Dove Lake yang bisa ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Jangan lupa untuk memeriksa waktu agar tidak tertinggal bis terakhir ke Visitor Centre, ya.

Jika ingin pengalaman trekking yang lebih menantang, maka cobalah Overland Track, yang bisa ditempuh dalam waktu enam malam, sejauh 65km, bermula dari Ronny Creek (satu perhentian sebelum Dove Lake) sampai Lake St. Clair. Kabar baiknya, kita bisa melalui berbagai macam lanskap yang indah dan khas Tasmania, jika kita bisa melakukannya. Kabar buruk atau realitanya, dibutuhkan persiapan dan latihan mental serta fisik yang matang untuk melaksanakannya. Ketika musim panas, akan semakin ramai yang melakukannya, tapi untuk mencegah overcrowding, diperlukan pemesanan jauh-jauh hari. Tidak bisa sembarang melaksanakan begitu saja. Minimum tiga orang dalam satu rombongan. Ada titik-titik pemberhentian dengan lokasi perkemahan dan fasilitas umum seperti toilet dan tempat masak komunal.

Karena kami membawa Janis, kami hanya melakukan trekking sederhana 2km di sekitar Dove Lake, sambil menikmati pemandangan di Boat Shed dan Glacier Rock (yang kebetulan tutup karena akan dibangun sebuah platform yang aman). Sudah cukup buat kami dan anak kami, yang cenderung lebih senang berhenti dan melihat air mengalir atau bertanya soal tanaman ini dan itu. 

Awas! Ada beruang ganas!

Tips: Tidak semua jalan bebatuan di Dove Lake ramah stroller, jadi lebih baik tidak membawanya. Jika ingin membawa stroller, silakan mencoba Enchanted Walk (diulas kemudian). 

Hati-hati ketika hujan, gunakan sepatu yang bisa digunakan untuk permukaan licin. Kami menggunakan winter boots. Jangan menggunakan sepatu hak tinggi.

Jika anda ingin membawa stroller atau dengan orang tua yang tidak bisa berjalan jauh, bisa mencoba Enchanted Walk, sebuah rute jalan kaki sederhana sejauh 1km yang melingkar (looping) dan dilengkapi dengan laluan terbuat dari kayu, pengaman berupa kawat agar tidak licin, serta beberapa bagian yang memiliki pegangan. Anda dapat menikmati suasana hutan hujan subtropis melewati sungai kecil di tengahnya. 

Enchanted Walk yang memesona

Kalau masih kurang puas, di sekitarnya ada banyak rute berjalan yang sederhana tapi juga menarik, seperti The Waterfalls Walk, King Billy Track, Speeler Track dan Dove Canyon Track. Tidak perlu sampai ke Dove Lake, anda sudah bisa menikmati keindahan alam. Jika ingin yang lebih panjang, cobalah Pencil Pine Track di samping Enchanted Walk.

Lapar? Maka kafe terdekat ada di sebuah hotel bernama Cradle Mountain Lodge di samping Enchanted Walk, kopi dan makanannya lumayan enak. Harga di kisaran A$20 untuk makanan utama (mahal tapi porsinya besar, bisa dibagi) dan A$5-6 untuk kopi atau cokelat hangat. Kafe selanjutnya yang kami rekomendasikan ada di Visitor Centre, dengan kisaran harga sama. Di sini juga anda bisa membeli suvenir dan mengisi bensin.

Tips: Mengisi bensin di Australia sangat mudah, walau tidak ada yang akan membantu anda mengisi mobil anda. Biasanya, anda mengisi dulu (cukup pilih bensin yang diinginkan—biasanya unleaded—tekan pengisinya dan tunggu sampai penuh (ketika penuh, pegangannya akan terlepas sendiri atau memaksa anda berhenti). Setelah itu, datang ke kaunter dan informasikan nomor pompanya. Anda bisa membayar pakai kartu kredit atau tunai.

Hari kami akhiri setelah makan siang, lalu bersantai sejenak di lounge hotel sampai petang, sambil meminjam DVD. Oh ya, di sini tidak ada sinyal ponsel maupun wifi, jadi hiburannya hanya DVD dan TV kabel.

Anehnya, kami merasa lebih bahagia tanpa internet, walau sesekali ingin update Instagram juga. Hihihi.

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 1)

Cradle Mountain

Tasmania adalah negara bagian terkecil dan paling selatan posisinya di Australia. Kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya pernah mendengar namanya, tapi tak pernah berkunjung ke sana. Selama beberapa dekade, ia pun hanya dianggap sebagai halaman belakang oleh orang Australia sendiri, dan dari sejarahnya yang cukup kelam—sebagai tempat pembuangan narapidana dari Inggris—tak banyak yang ingin berkunjung ke sana.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Tasmania, secara pelan tapi pasti, beranjak menjadi destinasi yang semakin terkenal. Jika Islandia menjadi terkenal karena lanskap yang menyerupai planet lain karena aktivitas volkaniknya—dramatis, dari tandus sampai hijau, lapang sampai bergerigi nan memuncak—maka Tasmania adalah kebalikannya, ia adalah tanah yang bersahabat seperti surga, tapi juga memberi kejutan di setiap sisinya.

Ketika kami mulai membuka dan mengikuti akun Instagram @tasmania, dari situlah hati kami jatuh cinta. Kesan pertama kami adalah Tasmania mirip sekali dengan Selandia Baru, dengan gunung menjulang, perjalanan darat, rumput meluas, udara bersih. Tasmania seperti sahabat lama yang hangat, merangkul dan mengundang. Sangat bersahaja. “Hey, kamu. Apa kabar? Bagaimana jalan-jalanmu di tempat lain yang indah itu? Mampirlah, nikmati pekaranganku yang sudah kurapikan dengan bunga, dengan lautan rumput melebar yang sangat hijau, berlatar belakang gunung yang menyingkap dirinya pelan-pelan. Lihatlah wombat, wallaby dan kangguru berlarian menemanimu. Besok hari jika sempat, kita akan melihat pantai dekat rumahku dengan bebatuan yang berapi-api. Nikmatilah, dengan secangkir kopi atau teh manis.”

Ronny Creek, Cradle Mountain

Tasmania memang penuh warna, hangat, bersahabat dan ramah. Seperti surga.

Semua ada di sebuah pulau yang bisa dijangkau relatif mudah dan cepat, serta belum ramai pengunjung. Ia juga menjadi destinasi yang sangat ramah keluarga.

Di sini, semua ada, untuk semua.

Berjalan di hutan hujan subtropis

Mari mulai dari kehidupan kota. Hobart dan Launceston, dua kota terbesar di pulau ini, menjadi nadi utama kehidupan kota. Museum nan berkelas (tanpa antrian gila-gilaan seperti di London atau Paris), pengalaman kuliner yang menyenangkan (tanpa antrian panjang seperti di Eropa atau di Jepang), jalan kaki yang menyenangkan, rileks dan tidak padat. Penuh kejutan kecil di sana-sini. Pemilik warung makan yang ramah. Atau, cobalah Richmond, 30 menit dari Hobart, di mana impian masa kecil tinggal di kota menawan menjadi nyata, hampir seperti kota di sebuah film Walt Disney.

Launceston, kota lembah Tamar Valley yang sendu di pagi hari

Senang dengan alam? Beranjaklah sedikit saja ke luar kota, maka cuplikan menarik dari Tasmania sebagai pulau yang dekat dengan alam akan menampakkan diri. Mount Wellington, sebuah gunung berketinggian 1.200m di atas permukaan laut yang bisa diakses 30 menit dari kota Hobart. Tamar Valley dan Narantwapu National Park, hanya sekitar 1 jam dari Launceston. Beranjaklah beratus-ratus kilometer ke Cradle Mountain, untuk melihat gunung dan danau Dove Lake yang terindah di Tasmania, bagian dari Lake St. Clair National Park yang dicintai para trekker.

Senang dengan pantai? Ketika musim panas, beralihlah ke Bruny Island atau Freycinet National Park untuk bermain di pantai putih berlatar belakang pegunungan menawan serta air biru toska.

Senang dengan hewan? Hampir di setiap taman nasional selalu ada kesempatan untuk melihat hewan asli Australia seperti wallaby, wombat dan yang paling terkenal… Tasmanian devil

Wallaby di depan kabin penginapan kami di Cradle Mountain

Berkelana dengan anak-anak? Kondisi alam yang beragam dan tidak terlalu ekstrem (misal, gunung tinggi atau berapi, atau cuaca ekstrem) membuat Tasmania menjadi pilihan yang tepat buat anak kecil! Musim panasnya tidak terlalu panas, musim dinginnya juga masih boleh tahan. Banyaknya lahan untuk berlari-lari dan kans bertemu hewan liar yang ramah juga menjadi daya tarik buat si kecil.

Yang membuat Tasmania menarik buat kami adalah keseimbangan yang hakiki:

  • Ukuran pulau yang “pas”: Ukurannya yang cukup pas untuk dijelajah dengan mobil. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung, maksimal 4 jam, dan bisa dipecah menjadi 2-2 atau 1-1-2 jam untuk istirahat atau berhenti bermalam. Ukuran pulau yang pas juga membuat penyusunan rencana perjalanan (itinerary) menjadi lebih mudah, dan hampir semua yang kami inginkan dapat dicapai dalam dua minggu. Kalau pun kami merasa kurang, itu hanya karena Tasmania terlalu indah dan kami ingin lebih berlama-lama!
  • Kombinasi kota besar dan alam yang seimbang: Alam yang terpencil (remoteness) dapat dicapai hanya 1-2 jam dari kota besar. Jika butuh apa-apa atau terjadi keadaan darurat, bisa dengan mudah kembali ke kota besar.
  • Variasi alam yang seimbang: Kecuali gurun (yang tentu bisa diakses di benua Australia yang utama), semua ada di sini, mulai dari gunung (Cradle Mountain, Hartz Mountain, Ben Lomond) sampai pantai (Bay of Fires, Bruny Island, Freycinet National Park, dan hampir seluruh sisi timur pulau), ada. Pulau-pulau kecil juga ada di sekitarnya, seperti Maria Island dan Flinders Island, atau daratan luas di tengah dengan berbagai kota kecil.
  • Bersahaja, tapi tetap memukau: Tasmania memang tidak sedramatis Selandia Baru atau Islandia, tetapi ia tetap punya ketertarikan tersendiri, dan menarik untuk pengelana ekstrem seperti pendaki gunung, sampai wisatawan keluarga yang ingin menikmati pemandangan dengan aman dan nyaman.
  • Harga masih relatif terjangkau: Pada saat tulisan ini dibuat, Tasmania masih mengarah menjadi bintang pariwisata dunia, seperti apa yang pernah terjadi pada Islandia beberapa tahun lalu. Harga-harga masih relatif terjangkau, seperti sewa mobil seharga $10-20 AUD per hari. Jika memasak sendiri, biaya-biaya pun akan dapat ditekan. Biaya hidup di kota-kota di sini pun juga lebih murah dibanding biaya hidup di kota-kota Australia lain seperti Sydney atau Melbourne, dan opsi menginap juga hadir di kota-kota menawan seperti Richmond dan Deloraine.
  • Ramah jetlagTerutama bagi yang berasal dari Indonesia atau Asia secara umum, perbedaan waktu tidak terlalu menonjol seperti jika kita ke Islandia (7-8 jam ke belakang), atau Selandia Baru (5-6 jam ke depan). Tasmania masih berbeda 3 jam dengan Waktu Indonesia Barat, atau dari kami di Singapura, hanya 2 jam. Efek jetlag tidak terlalu terasa, terutama buat anak kami.

Untuk perjalanan kali ini, kami cukup konservatif dalam membuat rencananya. Awalnya, memang, kami menganut sistem “kebut dua minggu”, di mana setiap satu atau dua hari, kami berhenti dan menginap di suatu tempat, dirancang sedemikian rupa hingga ia benar-benar mengelilingi pulau secara bundar. 

Ronny Creek, Cradle Mountain
Ross, Tasmania: Salah satu dari sekian banyak kota kecil pemberhentian kami

Rencana perjalanan awal kami:

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Stanley, sebuah kota kecil di pesesir utara Tasmania juga, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Strahan, kota kecil dengan latar hutan hujan, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Lake St. Clair, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke New Norfolk, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Hobart, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Port Arthur, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Orford, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Swansea/Coles Bay, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke St. Helens, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam.
  • Pulang.

Tapi setelah dipikir-pikir, rencana di atas memakan waktu 16 hari, terlalu lama untuk jadwal kami. Selain itu, sepertinya sedikit ngoyo, ya? Hidup di jalan terus dan tidak ada waktu bongkar kemas dan menikmati suasana.

Akhirnya, setelah dipilih-pilih, kami membuat rencana baru yang lebih realistis, dengan harapan suatu saat akan kembali lagi ke Tasmania (amin!):

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 3 malam. Mengorbankan Stanley.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 2 malam. Mengorbankan Strahan.
  • Lanjut ke Coles Bay, menginap 2 malam. Mengorbankan Bay of Fires/St. Helens.
  • Lanjut ke Hobart via Port Arthur, menginap 4 malam. Mengorbankan Lake St. Clair, New Norfolk.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam. Di perjalanan mampir ke Richmond, Ross dan Deloraine.
  • Hari terakhir, pulang.
Masak sendiri di hotel/kabin self-catering

Total perjalanan darat adalah 13 hari, dengan perjalanan udara 2 hari.

Dengan begini, kami bisa bongkar kemas dan istirahat di setiap tempat minimal selama 2 malam (kecuali Devonport yang hanya singgah). Devonport adalah persinggahan logistik, di mana kami akan membekali diri di awal dan berkemas final dan istirahat di akhir. Devonport juga dipilih sebagai pintu masuk karena tiket terusan dari Melbourne ke sana lebih murah daripada ke kota-kota lain, dan posisinya paling dekat dengan Cradle Mountain, perhentian pertama kami.

Setelah rencana perjalanan difinalisasi, kami menentukan beberapa hal penting lain seperti:

  • Sewa mobil: Kami memutuskan menggunakan Europcar karena mereka paling transparan ketika proses pemesanan. Kalau cari harga yang lebih murah, mungkin bisa coba Budget. Ada beberapa opsi lain yang lebih murah seperti Apex Rental tetapi ia tidak ada di Devonport, tempat kami mendarat. Pastikan anda memilih opsi ekstra yang diperlukan seperti child seatroad side assistance (jika tidak mahir mengganti ban dan lain sebagainya), serta yang paling penting asuransi yang meliputi kecelakaan. Jangan lupa aktifkan asuransi snow cover jika akan pergi ke daerah bersalju.
  • Menyusun menu makanan: Ini akan menentukan anggaran dan kenyamanan. Untuk kami, kami memutuskan untuk masak sendiri ketika pagi dan malam, dan opsi makan di luar ketika siang, atau ketika sedang bepergian dari satu kota ke kota lain. Tips: kami beli penanak nasi mungil yang bisa menyediakan nasi cukup untuk dua dewasa dan satu anak. Langkah selanjutnya setelah memutuskan masak adalah menyusun menu. Menu ini kami variasikan, tapi secara kasar, beginilah kira-kira menu kami bergantian:
    • Pasta bolognaise dengan daging cincang (atau minimal bumbunya saja)
    • Kari ala Jepang dan nasi putih, dengan sayur wortel, brokoli dan kentang (jika ada)
    • Ayam/daging/tuna tumis teriyaki/saus tiram dengan sayur wortel dan brokoli dan nasi putih
    • Tom yam dengan sayuran seadanya plus ayam atau protein lain
    • Sosis domba digoreng saja (sosis di Australia jauh lebih enak dan alami), biasanya untuk sarapan
    • Sandwich isi salmon asap, alpukat potong atau dihancurkan, keju lembaran dan telur mata sapi, biasanya untuk sarapan
    • Telur mata sapi dan nasi untuk sarapan
  • Menyusun daftar belanja: Ini benar-benar kami anggap serius karena ada beberapa hari seperti di Cradle Mountain di mana kami akan benar-benar jauh dari supermarket, atau pun kalau ada, antara lebih mahal harganya atau kami memang malas keluar karena dingin! Berikut daftar belanja yang kami punya secara kasar:
    • Bahan masak dasar seperti beras, daging, ayam, ikan, sayur seperti wortel dan brokoli, pasta, tomat, telur, minyak zaitun dan lainnya
    • Bumbu masak dasar seperti bawang-bawang dan beragam saus
    • Makanan siap makan yang bisa dijadikan makanan utama juga seperti roti tawar dan selai-selai
    • Kudapan, seperti keripik, cokelat, wafer dan lain sebagainya, berguna untuk di jalan misalnya ketika mendaki gunung
    • Minuman, seperti susu, jus, dan air mineral (penting!)
    • Perawatan tubuh seperti sabun, sampo jika diperlukan
    • Peralatan kebersihan, seperti kantung sampah, ini sangat penting ketika sampah banyak tetapi penginapan hanya menyediakan tempat sampah kecil
  • Pesan penginapan: Kami ingin berusaha untuk menggunakan jenis penginapan yang bervariasi, mulai dari hotel, rumah, apartemen, sampai kabin. Syukurlah, kami bisa mencoba semuanya dalam perjalanan ini. Fokus kami ketika di gunung adalah kenyamanan dan keamanan, oleh karenanya pengeluaran akomodasi di gunung paling mahal, di sebuah hotel yang menurut kami sungguh baik dan nyaman. Di kota, kami fokus pada rumah atau apartemen. Di pantai, kami menyewa kabin.
  • Pesan tiket pesawat: Kami memesan tiket pesawat Emirates dari Singapura ke Melbourne (7,5 jam), lalu QantasLink untuk terusan dari Melbourne ke Devonport (50 menit). Pengalaman kedua kami naik pesawat double-decker A380, dan pengalaman pertama kami semua naik De Havilland Dash-8! 
  • Visa Australia: Kebetulan kami sudah punya visa Australia 3 tahun multiple entry, jadi untuk kali ini, urusan visa menjadi mudah.
Hasil hiking 1,5km dengan anak, pemandangan indah di Wineglass Bay

Proses perencanaan berlangsung kurang lebih 2-3 minggu sebelum berangkat, tapi kami puas. Untuk cerita masing-masing hari di perjalanan Tasmania kali ini, ikuti artikel berikutnya, ya!

© 2018 Ransel Kecil