Artikel-artikel dari bulan Mei 2017

Perjalanan ke London Itu

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pergi ke London, Inggris. Destinasi ini adalah salah satu bucket list kami, selain Iceland. Mengingat usia Janis yang masih dua tahun, kami memutuskan untuk pergi ke London dulu, karena secara tantangan lebih mudah.

Akhir Januari 2017, kami mulai merencanakan kapan berangkat. Setelah menimbang-nimbang, dipilihlah sekitar bulan April atau Mei 2017, karena pada saat itu sudah terkumpul cukup cuti dan uang untuk bisa berangkat. Pertengahan Februari 2017, kami mulai daftar visa Inggris. Kami bisa melakukannya melalui VFS Global di Singapura, dan ternyata prosesnya cukup mudah. Formulirnya diisi online lalu dicetak, dan dilengkapi dengan beberapa dokumen pendukung standar. Karena kami penduduk Singapura, maka kami juga perlu melampirkan izin tinggal di sini.

“Visa diperkirakan jadi 15 hari kerja.”

Tidak masalah buat kami, karena perjalanan masih jauh hari. Beruntung, enam hari kemudian, visa kami semua sudah keluar. Syukurlah!

Kami pun sibuk cari tiket pesawat. Akhirnya, setelah menimbang antara Malaysia Airlines dan Qatar Airways, pilihan jatuh pada Qatar Airways. Harga lebih mahal sedikit, tetapi perjalanan dibagi menjadi dua bagian (masing-masing sekitar tujuh jam dengan transit di Doha, Qatar).

Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari belanja baju hangat (karena diperkirakan suhu masih antara 8 hingga 15 derajat Celcius), sampai makanan, untuk mengantisipasi lapar malam karena jetlag. Dua koper medium, satu tas stroller dan dua ransel menjadi teman kami. Kami juga membeli stroller kompak dan kamera mungil untuk mengurangi beban dalam perjalanan kali ini.

Kamis, 27 April 2017, 18:00. Kami sudah tiba di bandara Changi, dan proses check-in sudah dilakukan untuk penerbangan dari Singapura ke Doha, lalu dari Doha ke London. Kami sempat was-was, apakah Janis bisa tidur? Apakah dia betah? Terakhir kali waktu perjalanan ke Melbourne yang juga tujuh jam lamanya, ia masih berusia satu tahun dan masih muat di baby bassinet. Sekarang, badannya sudah besar, dan sudah mendapatkan tempat duduk sendiri. Kami pasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Area bermain di Changi


Menunggu sambil menelepon eyang dan tante


Sudah boarding di Qatar Airways tujuan Doha


Child’s meal versi Qatar Airways

Janis sempat rewel di bandara, mungkin merasa asing. Tapi setelah diajak main jungkat-jungkit di bandara, ia pun senang lagi. Tersenyum bahagia. Kami sempatkan menelepon eyang dan tantenya, agar ia merasa senang. Saya sempat menukar uang secukupnya, supaya dapat digunakan untuk, terutama, makan dan transpor ketika sudah sampai di London.

Ini pertama kali kami naik Qatar Airways. Cukup menyenangkan. Para pramugara dan pramugarinya sangat ramah dan baik hati, terutama terhadap anak kecil. Janis dapat berbagai macam hadiah, dan makanannya diberikan dalam bentuk koper mungil. Perjalanan tujuh jam pun tidak terasa, walau saya tidak bisa tidur. Syukurlah, Janis bisa tidur sepanjang perjalanan!

Sampai di bandara Doha, Qatar, sekitar pukul satu pagi waktu lokal, atau sekitar pukul enam pagi waktu Singapura. Sesuai dengan waktu bangun Janis. Janis pun bangun seketika mendarat, dan kami bisa “sarapan” walau seadanya. Dalam perjalanan kali ini, kami mencoba sebuah lounge berbayar, tapi suasananya ternyata tidak nyaman: ruang sempit dan ada yang merokok di dalam ruangan. Pelajaran: tidak usah begini lagi lain kali, mending di luar saja, pilihan banyak dan ruang lebih luas buat anak untuk berlari-lari.


Berfoto di depan instalasi seni karya Urs Fischer yang populer itu


Tiba di Doha

Transit kali ini sekitar lima jam. Tidak terasa. Hanya saya yang memanfaatkan fasilitas mandi, ibu dan anak tidak karena penuh sekali antriannya. Hanya lap badan dan ganti popok untuk Janis.

Seketika, waktu untuk boarding ke pesawat A380-800 tujuan London pun tiba. Kami sangat terpompa semangatnya. Ini pengalaman pertama kami semua naik pesawat sebesar ini, sayang Janis tidur, walau tak lama setelah lepas landas, ia bangun. Alhamdulillah, lepas landas sangat mulus, pesawat tidak mengalami guncangan berarti, dan walau mata terbuka, Janis tidak rewel dan malah mau makan dan bermain.


Menunggu boarding A380-800!


Pertama kalinya kami sekeluarga naik pesawat sebesar ini


Akhirnya mendarat di London Heathrow!

Kami tiba di bandara Heathrow, London, di terminal 4, dalam cuaca mendung. Setelah melewati antrian imigrasi yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya menunggu bis untuk menuju hotel di hari pertama. Hotel di hari pertama ini kami pilih di dekat bandara, untuk bisa segera beristirahat. Esok harinya baru kami akan ke tengah kota.


Menunggu bis Hotel Hoppa ke hotel dekat bandara

Untuk lebih dekat dengan kami, silakan tonton vlog kami di hari perjalanan ini. Bagaimana pengalaman hari ke-2? Tunggu ceritanya ya.


Kape Barako, Warung Kopi Dadakan di London


Warung kopi yang mungil tapi lengkap. Bisa berlaptop ria segala.

Saya bukan penggemar kopi sejati, tapi senang ke warung kopi. Senang minum kopi racikan bagaimana pun, terutama dengan coklat atau lebih sering disebut moka. Ketika berkunjung ke London, Inggris, baru-baru ini, saya menemukan sebuah warung kopi lucu nan mungil di utara London. Tepatnya di daerah Hampstead, yang bisa diakses dengan tube ke stasiun Hampstead.

Istimewanya warung kopi ini adalah karena ia berada di kotak telepon merah yang ikonik itu. Bagaimana bisa? Sejak kehadiran teknologi seluler, kotak-kotak telepon merah di London yang ikonik itu sudah tidak digunakan sebagai sarana berkomunikasi lagi. Akhirnya, mereka terbengkalai. Isinya kosong. Untungnya, karena menjadi ikon pariwisata, mereka dirawat dengan baik, menjadi ajang foto-foto bagi turis.


Suasana sekitar warung kopi.

Namun, tidak begitu dengan Khalid, seorang wirausahawan Jerman yang menetap di London bersama istrinya yang berasal dari Filipina. Ia melihat peluang bisnis di kotak-kotak telepon yang terbengkalai ini. Mendengar ada perusahaan yang sudah membeli beberapa kotak telepon di daerah tempat tinggalnya di Hampstead, dan menyewakannya kepada siapa saja yang berminat, ia langsung memutuskan untuk berbisnis warung kopi pinggir jalan di kotak-kotak telepon ini. Mirip seperti pedagang kopi keliling di Indonesia, atau yang menjajakan kopi di kios pinggir jalan. Yang menjadikannya unik adalah nilai sejarah dan budayanya.


Tulisan menu sederhana di samping kotak telepon.

Nama “Kape Barako” sendiri diambil dari istilah varietas kopi dari Filipina. Istri Khalid berasal dari Filipina. Ada pun varietas kopi yang digunakan ternyata bukan varietas barako itu sendiri. “Mahal jika diimpor ke sini. Saya pakai nama ini karena istri saya dari Filipina. Namanya keren, jadi kenapa tidak (dijadikan nama warung),” kata Khalid.

Walaupun biji kopinya diambil dari supplier lokal, tetap saja nikmat. Yang membuat lebih nikmat adalah suasana pinggir jalan. Apalagi musim semi yang masih sejuk. Duduk di pinggir jalan melihat orang-orang lalu-lalang.

Ah, kape barako. Nikmat.


© 2017 Ransel Kecil