Artikel-artikel dari bulan Maret 2017

Vlogging: Alternatif untuk Dokumentasi Perjalanan

Hari ini, banyak sekali vlog-vlog bertebaran di Youtube. Vlog, atau singkatan dari “video blog”, alias mendokumentasikan peristiwa melalui video, sebenarnya adalah konsep yang sudah lama ada. Tapi, baru mulai tahun 2015 mulai populer. Pengalaman saya pribadi, pertama kali mengenal konsep vlog ini adalah tahun 2015, tentu saja dengan Casey Neistat. Namun, pada saat itu, tak terpikir oleh saya ada orang-orang lain juga yang melakukan vlog ini hampir setiap hari. Sebelumnya, saya sempat melanggan beberapa Youtuber, terutama Mark Wiens, yang mengulas kuliner. Tapi tentu saja, istilah vlog itu belum sempat saya asosiasikan dengan Mark Wiens, karena beliau hanya menerbitkan video setiap Rabu dan Sabtu.

Vlog pada dasarnya menyiratkan kita harus bisa melakukannya hampir setiap hari, mengingat konsep blog pada awalnya juga begitu, seperti diary atau jurnal harian. Isinya juga tidak mesti bertema atau bermanfaat dalam arti memecahkan masalah orang lain, misalnya berbagi ilmu. Cukup keseharian saja, tapi dikemas dan diceritakan semenarik mungkin. Salah satu tema vlog yang paling populer tentu saja adalah perjalanan. Ada beberapa pejalan yang menceritakannya dalam vlog, contoh saja Louis Cole, Ben Brown, Vagabrothers atau Mike Dewey.

Saya sempat ngobrol dengan teman saya blogger Arif Widianto (yang dulu pernah ikut bersama mengelola Ransel Kecil), tentang apakah vlog benar-benar memberi manfaat bagi orang banyak. Menurut saya, tidak selalu konten harus memberi manfaat secara langsung. Membangun konten dan audiens itu bisa banyak caranya. Ada dua jenis tipe konten: vanity dan yang bermanfaat. Vanity artinya konten yang condong pada gimik, kosmetik, visual. Ini kita lihat dalam beberapa konten vlog, atau konten media sosial yang lebih bercerita pada sisi material: apakah kegiatannya itu dilakukan secara menarik, ditampilkan dan disunting sehingga “menjual”, tapi tidak perlu memiliki bobot atau filosofi tertentu. Yang kedua, konten bermanfaat, adalah konten yang berusaha untuk memberi nilai bagi orang lain. Misalnya, konten ulasan produk, tips dan trik fotografi, belajar mendesain web, dan lain sebagainya. Menurut saya, tidak ada yang salah dari keduanya. Yang penting, fokus menelurkan konten-konten secara konsisten, jelek atau baik.

Vlog bertema perjalanan ini cukup bagus menurut saya, karena lebih berkata banyak hal melalui visual dan suara. Tidak hanya kata. Selain itu, lebih dekat dengan pejalannya, lebih otentik. Kami juga ingin memulai vlogging, tapi belum pasti apakah akan bertema perjalanan. Yang jelas, untuk awalnya, kami akan coba untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan akhir minggu kami di Singapura. Mudah-mudahan kami punya anggaran untuk jalan-jalan lagi dan bisa memberikan konten perjalanan yang menarik dan juga bermanfaat bagi anda semua.

Oh ya, kalau penasaran, ini dia vlog termutakhir kami di channel Youtube kami (jangan lupa subscribe, ya!):


Merencanakan Perjalanan dengan Trello

Mungkin saat ini anda bertanya-tanya, “Apa pula Trello itu?”, atau yang sudah biasa menggunakannya di kantor akan menggerutu, “Aduh, di kantor sudah jenuh pakai itu, malah pas jalan-jalan disuruh pakai itu lagi!”

Ini bukan artikel berbayar, murni karena kecintaan saya pada aplikasi yang satu ini. Jika anda pernah mendengar papan kanban, atau sederhananya adalah metode perencanaan dan pengembangan produk atau proyek yang berdasar pada visualisasi apa yang direncanakan, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang sudah selesai dilakukan. Berikut definisi situs LeanKit:

Kanban is Japanese for “visual signal” or “card.” Toyota line-workers used a kanban (i.e., an actual card) to signal steps in their manufacturing process. The system’s highly visual nature allowed teams to communicate more easily on what work needed to be done and when. It also standardized cues and refined processes, which helped to reduce waste and maximize value.

Terdengar berat? Ya, memang, awalnya metode ini digunakan dalam produksi pabrik di Jepang, lalu sekarang populer lagi di dunia startup yang gemerlap itu, untuk merencanakan dan mengembangkan perangkat lunak atau aplikasi yang sering kita pakai sehari-hari, misalnya aplikasi berbasis web atau aplikasi di ponsel. Intinya adalah pada visualisasinya sehingga lebih gampang dicerna. OK, sebelum kita jadi pusing, mari kita selami langsung Trello itu sendiri. Berikut adalah contoh papan kanban di Trello.


Wah, unyu juga, ya, background-nya?

Standarnya, dibagi menjadi tiga bucket, yakni “To Do” (yang akan dilakukan), “Doing” (yang sedang dilakukan), dan “Done” (yang selesai dilakukan). Tentu saja ada banyak cara lain untuk menggolongkan dan menamai bagian-bagian vertikal ini. Bebas sih. Tapi pada dasarnya struktur ini paling berguna untuk kebanyakan situasi.


Menambahkan lampiran seperti gambar


Jadinya ada preview seperti ini

Intinya, semacam to do list, tapi lebih komprehensif, lebih mendetil. Buat saya, satu vertikal to do list saja tidak cukup, karena untuk beberapa perjalanan yang kompleks, setiap aktivitas punya “anak-anaknya” lagi yang membutuhkan penjabaran. Bahkan dalam satu aktivitas ada check list yang lebih khusus. Belum lagi mengumpulkan pranala atau melampirkan foto, PDF, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan Google Drive atau Dropbox, tapi tidak bisa melihat dengan jelas dan cepat apa yang harus dilakukan dan apa yang sedang dilakukan.

Setiap vertikal (disebut “list”) dapat memiliki sebanyak mungkin kartu (“card”), dan setiap kartu ini bisa dipindahkan ke vertikal lain dengan mudah, semudah menggesernya saja. Asyik, bukan?

Teman saya bahkan menggunakannya untuk merencanakan perjalanan dari hari ke hari, mirip seperti kalender. Jadi, misalnya:


Contoh itinerary per hari

Dalam setiap kartu di situ, dia akan memasukkan informasi tempat dari website lain, atau menambahkan check list apa yang akan dilakukannya.

Jadi, banyak sekali manfaat Trello ini untuk merencanakan perjalanan. Cara memakainya pun terserah anda, sesuai kebutuhan. Semua bisa diakses dari browser atau download aplikasinya di iOS maupun Android. Berbagi dengan sesama pejalan yang akan berkelana bersama-sama, dan tak perlu khawatir kehilangan arah atau dokumen tertentu.


Trik Memilih Kursi Penerbangan

Buat saya, posisi menentukan prestasi. Sama halnya dengan kursi penerbangan. Posisi menentukan situasi. Situasi apakah saya akan menjadi lebih nyaman dalam perjalanan pesawat atau tidak. Untuk penerbangan jarak jauh, ini menjadi penting. Ini beberapa “formula” saya. Tentu saja, kelasnya kelas ekonomi karena jarang-jarang saya punya kesempatan duduk di kelas bisnis atau kelas pertama.

Window vs. Aisle

Jika bepergian sendiri, untuk penerbangan jarak pendek, saya selalu mencoba memilih duduk dekat jendela (window seat, kursi A dalam diagram di atas). Ini karena saya terkadang takut terbang, dan melihat keluar jendela membantu sedikit untuk mengurangi ketakutan itu. Untuk penerbangan jarak jauh, saya lebih suka memilih duduk di gang (aisle seat, kursi B), agar mudah ke toilet atau jalan kaki agar sirkulasi darah lebih lancar.

Depan, Tengah, vs. Belakang

Jika saya membawa bayi yang masih bisa tidur dalam bassinet, saya akan duduk di paling depan, dekat dinding, atau sering disebut sebagai bulkhead seat (deretan C). Alasannya jelas, karena bassinet hanya bisa digantungkan di dinding. Jika saya bepergian sendiri, saya suka di tengah pesawat (deretan D), karena lebih tenang (jauh dari bayi dan toilet). Jika bepergian dengan anak kecil yang sudah bisa duduk, saya lebih memilih di baris paling belakang dari satu segmen, tapi bukan di belakang pesawat (deretan E). Ini karena saya dapat memastikan ruang privasi yang lebih buat saya dan anak saya, serta tidak ada orang yang akan terganggu di belakang saya. Memang sih, resikonya kursi tidak fully reclined, tapi tak apa.

3-4-3 vs. 3-3-3 vs. 2-4-2

Beberapa pesawat berbadan lebar memiliki skema 3-4-3, yakni 3 di sayap kiri, 4 di tengah dan 3 di kanan. Dalam hal ini, jika grup saya jumlahnya 3 orang, maka lebih baik berada di sayap kiri atau kanan. Logika mudah. Tapi, jika skemanya 3-3-3, saya lebih suka di tengah karena kami menguasai dua gang (aisle). Dalam kasus 2-4-2, agak lebih tricky. Saya mungkin akan memilih kursi tengah, dengan resiko ada orang lain di situ. Atau mungkin, tukar jam/pesawat jika memungkinkan. Untuk pesawat berbeadan sempit yang biasanya 3-3, sudah jelas, saya bebas memilih mana saja.

Bagian Tengah Pesawat

Beberapa riset menunjukkan bahwa duduk di bagian tengah pesawat (dekat sayap) berpotensi mengurangi guncangan turbulensi karena (katanya) lebih “seimbang”. Saya tak tahu pasti ini hoax apa bukan, tapi boleh dicoba, dan sejauh ini saya tak mengalami masalah berarti. Malah, ketika saya pernah duduk di kursi paling belakang sebuah pesawat Boeing 777-300ER, saya mengalami guncangan luar biasa dan mendengar bising mesin yang begitu kuat.

Kursi “premium”

Beberapa kursi dijual sebagai kursi “premium”, biasanya yang dekat dengan pintu darurat. Kalau anda sendiri, bolehlah dicoba, asal tahan dingin. Jika membawa anak-anak, biasanya tidak diperbolehkan duduk di dekat pintu darurat.


6 Hal Kenapa Singapura Lebih Baik Buat Anak-Anak


Terpukau di National Library, Bugis

Suatu ketika, saya mengobrol dengan teman saya. Saya bertanya, “Kenapa orang Indonesia kalau ke Singapura selalu mengeluh Singapura itu membosankan? Sudah ke mal ini dan itu, lalu tidak ada apa-apa lagi.”

Teman saya itu kemudian menjawab, “Karena mereka tidak melihat sisi lain dari Singapura. Mereka ke sini hanya ingin bersenang-senang tapi dari sudut pandang mereka saja. Tidak salah sih, tapi andaikan mereka melihat dari sisi lain, Singapura itu tidak membosankan.”

Dia melanjutkan, “Di sini, anakmu bisa leluasa berjalan dan bermain, tanpa takut kena polusi, macet, bahaya ditabrak, atau kejadian-kejadian lain. Coba saja melakukan itu di Jakarta. Paling aman anak diajak ke mal atau ke luar kota. Lihat di sini, begitu banyak ruang publik, gratis pula.”


Berlarian tanpa henti di Marina Bay Sands

Betul. Saya mensyukuri saya tinggal di sini saat ini. Memang, semuanya mahal, paling tidak lebih mahal dari di Indonesia. Tapi mahal-nya itu sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sini. Terutama, untuk saat ini, buat anak saya yang masih dua tahun.

Jika dipikir-pikir, ada beberapa hal yang membuat anak saya, Janis, bahagia di sini:

1. Perpustakaan yang selalu punya ruang khusus anak

Stigma perpustakaan yang membosankan, kusam dan jelek sirna seketika, ketika mengunjungi hampir semua perpustakaan umum di Singapura. Rasanya, Singapura lebih punya banyak perpustakaan per 10 km persegi dibanding kota mana pun di Indonesia. Ini bukti komitmen pemerintahnya untuk meningkatkan minat baca dan literasi penduduknya. Pendidikan benar-benar utama di sini, baik formal maupun informal. Bayangkan, bagian anak-anak di perpustakaan nasional di Bugis saja punya ruang bermain yang luas. Anak-anak bisa berlari-lari sepuasnya di sini. Orang tuanya? Malah membaca buku anak-anak. Nah, Bugis bukan hanya belanja, kan?

2. Main air, tak perlu bayar

Main air di Indonesia, di tempat yang bersih dan terjamin keselamatannya, biasanya harus bayar. Mahal pula. Di Singapura, taman bermain air tersedia banyak dan gratis. Contohnya, Gardens by the Bay. Berapa banyak dari turis Indonesia tipikal yang tahu ada tempat bermain air anak gratis di belakang Flower Dome dan Cloud Forest?

Atau, di mal apakah cuma makan dan belanja, tapi anaknya dibiarkan saja tanpa bermain? VivoCity, Katong I12 Mall dan Kallang Wave semuanya adalah pusat perbelanjaan yang di atasnya ada tempat bermain air anak. Kalau pun bayar, biasanya tidak mahal. Go splash your heart out, kids!


Aku main air, tidak ya?

3. Menikmati hutan kota

“Lho, bukannya Singapura itu kota besar yang isinya gedung semua?” Begitulah pemikiran orang Jakarta yang di kotanya memang susah ditemukan ruang terbuka hijau. Di Singapura, pemerintahnya berusaha untuk merencanakan hutan dan taman kota sebagai bagian utama, bukan “selipan”. Contoh saja, dekat tempat tinggal kami, ada East Coast Park, taman dengan pantai terpanjang di Singapura sepanjang 15km dari Marine Parade ke Changi. Di sini, anak-anak bisa bersepeda dan berlari dengan aman. Pantai juga ada, walau tak sebagus di Bali, tapi cukup.

Alternatifnya, tidak usah ke taman yang besar dan terkenal. Bahkan, di antara gedung-gedung dan kompleks perumahan tempat tinggal, juga ada taman-taman kecil yang dilengkapi fasilitas bermain dan olahraga. Semua taman-taman itu dipelihara dengan baik, dan tentu saja, ada burung-burung yang terbang, menandakan betapa sehatnya lingkungan di sini.


Bersantai di hamparan rumput di Botanic Gardens


Piknik di telaga di MacRitchie Reservoir

4. Trotoar dan ruang publik yang besar

Tak perlu jauh-jauh untuk menemani anak ke ruang yang cukup besar untuknya berlari-lari ke sana kemari, atau membayar uang ke tempat bermain anak di dalam mal-mal. Cukup jalan-jalan di Esplanade, Gardens by the Bay, Clarke Quay, atau bahkan di antara flat-flat dan apartemen, ada saja trotoar lebar yang cukup aman dan nyaman untuk berlari-lari. 

Ingin naik bukit atau hutan? Bisa saja ke MacRitchie Reservoir. Selain itu, anak-anak bisa saja main ke sekitar Asian Civilisations Museum atau Bishan Park dan habiskan petang di sana dengan rasa senang di hati, energi pun tersalurkan.


Kanopi, ruang yang luas untuk berlarian, bahkan “berpose ala putri duyung”

5. Aturan yang berpihak pada keselamatan

Keselamatan di ruang publik adalah hal yang penting dan ditegakkan di Singapura. Di dalam bis, orang tua yang membawa anak diwajibkan untuk diberi ruang untuk duduk, dan itulah yang kami alami. Hampir setiap saat ada orang yang berbaik hati merelakan tempat duduk di bis atau di MRT untuk kami. Supir bis pun menunggu kami untuk duduk dengan sempurna sebelum menginjak pedal gas. Jika anda penyandang disabilitas, supir bis wajib membantu menurunkan anda sebelum mempersilakan orang lain untuk masuk. Di jalan-jalan hampir selalu ada trotoar dan kanopi sambung-menyambung, melindungi anda dari kecelakaan dan cuaca. Menyeberang juga tidak sembarangan dan jelas aturannya, dibantu lampu penyeberangan orang. Jembatan hampir selalu ada lif atau ramp untuk stroller.


Sarana bis yang memadai, dan jalan yang aman untuk dilintasi

6. Tidak selalu ke mal

Seperti saya bilang di atas, a good weekend is not always about going to the malls. Anak saya punya opsi untuk pergi ke taman, ruang publik mana pun, ke pantai, ke tempat bermain air. 

Bahkan, jika anaknya suka pesawat, kita bisa mengajaknya berkunjung ke bandara (dapat ditempuh hanya 20 menit dari tempat kami). Bandara Changi tidak membosankan, kami dapat menghabiskan waktu berjam-jam di situ bersama Janis. 

Museum juga menjadi opsi yang sangat memungkinkan. Kami belum memutuskan apakah anak kami akan kami daftarkan ke pre-school, tapi kami bisa ajak mereka ke museum dan mendapatkan pengalaman yang sama mendidiknya. Museum di sini tidak kusam, malah selalu dihidupkan (tidak mesjid saja yang dihidupkan, ya). Suka seni? Bisa ke National Gallery, ArtScience Museum atau Singapore Arts Museum. Jangan lupa pula, di Esplanade Theatres on the Bay, ada banyak acara yang bisa dipilih untuk anak anda.


Mau ke kafe tanpa ke mal? Bisa! Mau ke museum dan tetap bersenang-senang? Bisa!


Perbedaan Berkelana Saat Sendiri dan Sesudah Berkeluarga


Berjalan di tepi Clarke Quay, Singapura

Dulu, ketika saya masih belum menikah, bepergian ke mana pun terasa lebih ringan, tetapi mungkin lebih kesepian. Kita dengan mudahnya membeli tiket (karena di situs pemesanan pesawat, biasanya sudah default untuk satu orang, berkemas untuk satu orang, dan menganggarkan semuanya untuk satu orang. Di perjalanan, bisa saja kita tidak makan atau ngemper di jalan. Tidak banyak yang dikhawatirkan.

Setelah berkeluarga, tentu semuanya berbeda. Bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi memang banyak hal yang harus dipertimbangkan pada saat merencanakan dan menjalani perjalanan itu sendiri. Positifnya, semua terasa lebih indah, karena hal-hal kecil menjadi lebih bermakna dan kita belajar mengapresiasi hidup lebih baik.

Oh ya, tentu saja, melakukan perjalanan ketika belum punya anak, dan sesudah punya anak, adalah dua spektrum yang berbeda jauh. Tanpa anak, mirip seperti pacaran, dan keputusan relatif lebih mudah dibuat. Tapi tentu saja, ego masing-masing bisa berperan lebih besar, sehingga rencana gagal juga bisa terjadi.

Berikut beberapa tips untuk menghadapi perjalanan ketika sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak.

Manusia berencana, situasilah yang menentukan

Kita bisa merencanakan segala sesuatu hingga detil ke menitnya, dan lokasinya, serta aktivitasnya, tetapi pada realitanya, situasi dan kondisi pada saat itulah yang menentukan. Misalnya, ketika kami berencana ingin pergi ke Philip Island di selatan kota Melbourne, semua tampak memungkinkan. Sampai pada hari-H di mana Janis, anak kami, tidak betah berada di kursi bayi di mobil di sana yang masih terlalu besar buatnya. Akibatnya, perjalanan itu kami batalkan. Rencana boleh dibuat, tapi lebih fleksibel-lah. Utamakan menikmati hal-hal yang ada di sekitar tanpa harus pergi jauh-jauh.

Lebih lama di satu tempat

Dulu, ketika single, saya ingin sapu jagat. Dua hari di kota A, satu hari di kota B, bahkan kadang dua kota untuk satu hari. Pokoknya, harus semuanya dapat. Buat apa sudah menabung banyak-banyak dan lama-lama tapi tidak melihat semuanya? Sekarang, semua berubah. Saya dan istri lebih banyak ingin menikmati suasana di satu kota atau satu tempat, selain karena tidak repot berkemas dan berpindah-pindah, juga dapat menikmati vibe satu kota.

Belajar apresiasi hal-hal kecil

Jika dulu kita lebih senang untuk mengejar tren, misalnya berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mencoba makanan dan minuman tertentu, atau mengalami atraksi tertentu, maka saat ini kami dalam tahap dapat menikmati hal-hal kecil seperti jalan kaki dengan nyaman menghirup udara segar, mengamati orang-orang lalu-lalang, menyelami kehidupan di sebuah tempat seolah menjadi penghuni kota, berimajinasi lebih jauh: bagaimana kalau kita benar tinggal di sini? Lalu, berbahagia dengan apa yang ada dan yang lebih baik dari tempat asal. Atau, sekedar berbahagia bisa datang ke suatu tempat yang jauh setelah menabung berbulan-bulan.

Perlindungan perjalanan itu penting, jenderal!

Saya selalu rutin membeli asuransi perjalanan dengan coverage yang cukup baik. Bukan apa, jika terjadi apa-apa, dan biayanya banyak, tentu kita tak mau tabungan terkuras habis begitu saja, kan? Memang, kita keluar lebih banyak uang, tapi dengan jaminan yang membuat perjalanan kita lebih aman dan nyaman, tidak apa, kan? Anggaran yang saya keluarkan untuk keluarga biasanya Rp1-2 juta untuk asuransi perjalanan dengan durasi perjalanan 7-14 hari, tergantung dari produk asuransi yang Anda butuhkan. Biasanya saya menggunakan AIG, tapi saya juga ingin mencoba FWD dan WorldNomads. Beberapa asuransi juga melindungi perjalanan dari pembatalan misalnya karena sakit atau hal-hal mendadak lain dalam hidup, sampai puluhan ribu dolar Amerika.

Memilih penerbangan yang lebih nyaman

Jika melakukan perjalanan dengan bayi dan anak-anak yang lebih kecil, cobalah untuk berinvestasi sedikit dengan membeli tiket maskapai full-service dengan pelayanan prima. Anda tidak akan menyesal. Saya pernah beli tiket AirAsia dan tanpa membeli tambahan antrian cepatnya, saya barangkali harus mengantri panjang bersama penumpang lain, padahal saya membawa bayi yang waktu itu sedang rewel-rewelnya. It’s always good to splurge on flights.

Rumah vs. hotel

Menginap di rumah atau apartemen seperti model Airbnb atau HomeAway menjadi alternatif yang baik jika anda mengutamakan luas ruang dan fasilitas, tetapi bersiap untuk memasak dan membersihkan ruang sendiri. Saya biasanya menggunakan rumah atau apartemen karena tingkat privasi lebih tinggi dan beberapa host lebih bersahabat dari resepsionis hotel. Pada kasus lain, saya gunakan hotel jika saya merasa akses di sebuah tempat agak sulit, misalnya kendala bahasa, atau saya butuh fasilitas tambahan seperti sarapan pagi.

Belanja di tempat

Terkadang, belanja kebutuhan sehari-hari di tempat tujuan lebih masuk akal daripada membawa semuanya dari rumah. Misalnya, belanja toiletries atau makanan dan minuman untuk si kecil. Tentu saja, jangan lupa untuk menyiapkan makanan dan minuman si kecil selama di perjalanan pesawat, tapi secukupnya saja.


© 2017 Ransel Kecil