Mudik tahun ini ke Semarang, Karanggede dan Solo adalah pengalaman pertama keluarga kami mudik sejak Janis lahir tahun lalu. Lebaran tahun lalu, kami tidak mudik, karena Janis masih berusia empat bulan. Kami sempat pulang ke Semarang dan Solo untuk mengunjungi eyang-eyang pada Desember 2015, tapi ketika itu jalanan tidak begitu ramai.

Perjalanan di hari yang cerah
Perjalanan Jakarta-Semarang dengan Garuda Indonesia cukup aman dan damai pada lebaran hari kedua.

Lain cerita pada tahun 2016, kami berniat mudik walau hanya empat hari. Rencananya, kami berangkat pada lebaran hari ke-2, setelah berlebaran hari pertama di Jakarta. Setelah menikah, memang kami harus pintar-pintar membagi waktu dan “jatah” antara keluarga saya dan istri, hingga tidak ada yang merasa ketinggalan. Memang, eyang, bude, pakde, om dan tante semua mengerti jika kami tidak pulang, tapi akhirnya kami kasihan juga dan kebetulan ada waktu.

Rute kami sederhana. Terbang dari Jakarta ke Semarang, lalu menyetir dari Semarang ke Solo melalui Karanggede, sebuah desa di dekat Boyolali, lalu menginap di Solo semalam sebelum menyetir kembali ke Semarang dan terbang pulang ke Jakarta pada hari ke-empat. Kenapa kami tidak pulang dari Solo saja? Karena mobil harus kami kembalikan ke Semarang. Orang tua Lintang berdomisili di Semarang dan cara paling baik menurut kami adalah dengan mengambil dan menggunakan mobil di rumah Semarang lalu kembali ke kota yang sama. Pulangnya pun terbang dari Semarang ke Jakarta.

Terbang kali ini barangkali menjadi pengalaman terbang Janis ke-10 atau ke-11 kalinya, sehingga kami tidak terlalu khawatir. Walau demikian, kami tetap bersiap mental dan fisik. Siapa tahu Janis bisa lebih rewel dari sebelumnya, apalagi mengingat jam perjalanan kami cukup siang dan melewati jam tidur paginya, pukul sembilan.

Janis tertidur pulas di udara setelah menangis ketika lepas landas
Janis tertidur pulas di udara, setelah menangis ketika lepas landas.

Bersiap terbang bersama eyang-kung
Bersiap terbang bersama eyang-kung.

Benar saja, Janis menangis ketika pesawat akan lepas landas, cukup keras. Kami cukup terbantu karena ada eyangnya yang membantu menenangkan. Sepertinya suhu pesawat yang cukup hangat membuatnya rewel. Ketika pesawat sudah berada di udara, pendingin udara berfungsi baik, Janis tertidur pulas sampai mendarat di Semarang. Pada hari kedua lebaran 2016, bandara Soekarno-Hatta dan pesawat (kami naik Garuda Indonesia) cukup ramai tapi tidak padat. Kondisi cuaca juga baik sehingga tidak terjadi guncangan yang berarti.

Bandara Ahmad Yani, di sisi lain, sangat padat dengan pemudik. Kami tadinya mencoba menyewa mobil di Golden Bird, tetapi ternyata armadanya habis. Akhirnya, kami naik taksi resmi bandara, dan ternyata cukup murah: Rp90.000 saja, tarif flat sampai tujuan kami di Banyumanik. Belum termasuk tol.

Perjalanan dari bandara Ahmad Yani ke Banyumanik memakan waktu 30-45 menit. Banyumanik adalah sebuah kecamatan di selatan Semarang yang berbatasan dengan kota Ungaran. Kebetulan dinas eyang-kung Janis di sini, dan rumah dinasnya ada di Banyumanik.

Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang
Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang.

Kenyangkan diri sebelum berangkat
Makan dulu sebelum terbang ya!

Kami makan siang sebentar sebelum mulai berangkat melalui darat dengan menyetir mobil dari Semarang ke Solo, melalui Karanggede. Mengingat perjalanan ini akan melewati beberapa titik macet, kami menyiapkan beberapa hal berikut untuk Janis dan kami semua, seperti popok, mainan bayi, air minum yang cukup (terutama air mineral), ganti baju, serta uang tunai tentunya.

Macet di Suruh terbayar dengan pemandangan seperti ini
Macet terbayar dengan pemandangan seperti ini, apalagi ketika senja.

Sejauh ini, perjalanan mudik kami menyenangkan, walau ada beberapa titik kemacetan yang tidak kami duga (antara Salatiga dan Karanggede, di desa Suruh), sehingga Janis kelelahan luar biasa. Namun, setelah tidur semalam, mood kami semua kembali seperti semula.

Setelah mengalami mudik pertama dengan bayi ini, kami simpulkan beberapa hal. Yang pertama, jika ada rezekinya, naiklah pesawat ke titik terdekat dari kampung halaman. Menabunglah hingga cukup. Ini akan membantu menjaga mood dan kesehatan fisik semua orang. Yang kedua, jika membawa bayi, bawa persediaan makan, minum dan sandang yang cukup, terutama untuk bayi. Jika ada rezeki lebih, sewalah mobil pribadi sehingga bisa bebas berhenti di mana saja. Yang ketiga, menginaplah di beberapa titik, sehingga energi tidak terforsir. Selain itu, sebisa mungkin bayi kenyang sebelum perjalanan sehingga bisa menghemat banyak waktu dan tenaga.

Memang, mudik jadi semacam perjuangan dan kewajiban, dan banyak orang rela berkorban bersusah-payah di perjalanan demi sampai di tujuan. Tetapi, mari kita bersusah-payah di hari lain untuk menabung lebih banyak sehingga ketika mudik tiba, kita bisa merasa lebih nyaman.

Wajah bahagia bisa mudik
Wajah bahagia bisa mudik.