Artikel-artikel dari bulan Mei 2016

Si Turis Kecil Penggemar Focaccia

Si Kecil Penggemar Foccacia
Si Kecil Penggemar Foccacia.

Setelah diminta untuk menunggu selama tiga jam di Melbourne Cricket Ground (untungnya, taman di luar sangat luas dan nyaman), kami akhirnya ditelepon oleh pemilik Airbnb yang mengatakan kami sudah bisa masuk. Sepertinya, mereka kasihan dengan kondisi kami yang “melas”, baru datang dari penerbangan panjang dan membawa bayi. Syukurlah!

Kami pun masuk dan diinstruksikan untuk mengambil kunci di tempat rahasia di luar apartemennya.

Apartemen ini mungil, terdiri dari tiga lantai, dan kami berada di lantai dasar. Untunglah, karena ternyata tidak ada lif, dan kami juga membawa banyak barang. Apartemen studio di daerah Jolimont ini luasnya mungkin sekitar 30 meter persegi, dengan dapur tanpa sekat. Cukup buat kami bertiga selama sepuluh hari di Melbourne. Harganya sekitar A$110 per malam. Bagi kami, yang penting ada dapur, untuk membuat makanan si kecil. Ada microwave oven, kulkas, dan kompor, sudah cukup.

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne
Sudut-sudut Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne.

Kami sempatkan mandi dan istirahat sebentar. Namun, karena khawatir ketiduran sampai malam, kami hanya istirahat sebentar dan segera keluar dalam waktu satu jam, sambil menunggu pengantaran stroller.

Stroller datang diantar oleh seorang bapak bernama Rob. Beliau menjelaskan cara mengoperasikannya, dan konfirmasi tanggal penjemputan, sekitar sembilan hari lagi.

Setelah semua siap, kami langsung keluar cari makan siang. Opsinya di mana saja, ya?

Ada beberapa opsi makanan seperti makanan India, Jepang dan Italia, dan keinginan untuk ke Flinders St. atau pusat kota sekalian, tetapi karena terlalu letih, kami akhirnya memutuskan beredar di sekitar apartemen saja, jalan kaki.

Daerah yang kami tinggali sangatlah nyaman dan sepi. Sebenarnya, kesan sepi ini kesan yang pasti didapat dari kami-kami yang biasa tinggal di Indonesia yang penuh keramaian. But really, it’s like a fresh blow of air.

Janis, Senyum Dong?
Janis, Senyum Dong?

Kami berjalan ke arah Fitzroy Garden. Fitzroy Garden adalah salah satu taman terbesar di Melbourne. Didirikan tahun 1848, luasnya mencapai 26 hektar, tepat membatasi Central Business District di sebelah timur. Anda bisa jalan kaki ke taman ini dari stasiun Parliament, salah satu stasiun dalam jalur looping kereta di Melbourne, atau berhenti di stasiun kereta Jolimont dan jalan kaki sebentar ke arah barat.

Fitzroy Garden
Halo, Fitzroy Garden! (Foto diambil di lain hari.)

Salah satu fitur utama di Fitzroy Garden adalah Cook’s Cottage, tempat tinggal orang tua James Cook, penjelajah asal Inggris yang menemukan pesisir timur Australia pada abad ke-17. Ada juga kafe spesialis sarapan KereKere Green, dan restoran yang lebih upscale bernama The Pavilion, jika anda ingin makan di tengah hijaunya taman dan berwarnanya bunga-bunga. Saya membayangkan, Syahrini pasti bisa menghabiskan setengah hari di sini.

Anak kami Janis senang sekali di atas stroller. Padahal, di Jakarta, Janis hampir tidak betah di atas stroller. Mungkin karena angin semilir dan udara yang lebih bersih? Tapi memang, suasana yang berbeda ketika melakukan perjalanan berpengaruh besar terhadap mood si kecil!

Ayo cari makan siang!
Ayo, cari makan siang!

Kami berjalan menyusuri Wellington Parade untuk fokus mencari makanan. Karena sudah lapar berat, kami langsung belok ke sebuah kafe kecil sederhana (bukan makanan padang). Karena masih hari pertama, kami menghindari makan di kafe yang lebih “mahal”, untuk menghemat uang jika nanti ada tempat jajan yang lebih pantas sesuai ulasan.

Karena Janis suka makan roti, kami putuskan membeli roti focaccia isi ayam Cajun, bayam, tomat, mayonais, mustard dan keju untuk dimakan bersama. Istri saya pesan yang sama dengan isi ayam Schnitzel. Rasanya enak, tidak terlalu tajam, seperti makanan-makanan berbasis roti lain. Cukup mengenyangkan bagi perut jetlag kami ini.

Hari pertama ini kami gunakan untuk menyesuaikan diri dengan waktu, membeli kartu Myki untuk transportasi umum dan stok jajanan di 7-11 terdekat. Tidak lupa juga mengambil uang tunai untuk keperluan mendadak.

Setelah puas makan, kami pulang lagi ke apartemen dan tak heran, kami semua tertidur pulas dari jam dua sampai jam tujuh malam!

Bagaimana makan malam kami? Apa rencana kami di hari esoknya? Tunggu di artikel selanjutnya, ya!


Terdampar di Melbourne Cricket Ground

Kami tiba di Melbourne sekitar pukul tujuh pagi waktu lokal, atau sekitar pukul empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Janis yang tidur sepanjang perjalanan baru saja bangun sekitar 20 menit sebelum pendaratan. Menangis sedikit, tapi tetap pintar, ya Nak!

Begitu mendarat, kami langsung diwanti-wanti oleh pramugari untuk membersihkan dan membuang semua makanan yang dibawa, apalagi jika itu makanan segar, seperti nasi dan ikan bandeng yang kami bawa untuk Janis. Akhirnya, terpaksa kami buang, dan untungnya, ikan bandeng itu sudah agak bau. Karena khawatir diendus oleh anjing pelacak, kami juga terpaksa mencuci semua alat makan dengan sabun seadanya di toilet.

Menunggu di taman MCG
Halo Melbourne! Maafkan perut yang agak “offside“!

Antrian imigrasi berjalan lambat. Sekitar 50 orang ada di depan kami dan kami harus berpindah jalur ketika ada bagian yang dibuka. Sekitar 45 menit kemudian, kami lolos imigrasi. Syukurlah!

Kami sudah pesan shuttle bus ke kota, tapi kesulitan menemukan dan menelepon shuttle-nya. Lagipula, kami belum beli kartu telepon lokal, dan dengan antrian pembelian kartu telepon yang begitu panjang, kami terpaksa merelakan pesanan shuttle bus itu yang sudah “pakem” di jam tertentu. Akhirnya, kami pilih saja sembarang shuttle bus yang kiranya tersedia, dan langsung bayar di tempat. It worked. Kami memilih Starbus Shuttle dan biayanya sekitar A$18 pulang pergi untuk masing-masing dewasa, sedangkan anak kami karena masih di bawah 2 tahun, gratis.

unspecified-3
Kami mengantri untuk kartu sim ini selama 30 menit!

Bentuk shuttle-nya lucu, mobil dengan 9 tempat duduk lalu di belakangnya menarik wagon kecil tempat menaruh bagasi, jadi tidak mengambil tempat di dalam mobil. Seperti layaknya shuttle bus bandara, kami harus berkeliling mengantar tamu-tamu lain ke tempat penginapannya masing-masing.

Perjalanan dari bandara Tullamarine ke pusat kota Melbourne memakan waktu sekitar satu jam. Ternyata ada beberapa titik yang macet juga. Kami agak terburu-buru menuju penginapan Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne, karena sudah capek dan khawatir Janis butuh istirahat di tempat tidur.

Ini kali pertama kali kami ke Melbourne. Kotanya nyaman dan bersih, agak mendung ketika kami datang. Yang jelas, banyak taman dan hijau-hijau. Sekilas sangat walkable. Oh ya, untuk perjalanan kali ini kami memutuskan menyewa stroller City Mini (bukan yang GT) di BebaBaby, demi menghemat bawaan dan kenyamanan di jalan. Kami juga mengejar waktu karena rencananya stroller ini akan dikirim ke penginapan jam 12 siang, padahal jam menunjukkan jam 11:30 siang.

Kami tinggal di daerah Jolimont, tepat di seberang Melbourne Cricket Ground (MCG), stadium kriket terbesar di Melbourne. Lokasinya sangat strategis: tenang, di depan taman yang luas, namun tetap bisa jalan kaki ke sarana transportasi kereta.

Sekitar pukul 11:45 kami tiba di lokasi, namun apa daya, kami belum bisa masuk! Pemilik Airbnb mengatakan kami baru bisa check-in jam 3 sore. Kami bawa satu koper ukuran medium dan satu koper ukuran kecil. Bagaimana ini? Bagaimana membunuh waktu 3 jam, dalam keadaan belum mandi dan makan?

Pemilik Airbnb menyarankan kami ke stasiun Flinders St. atau Southern Cross, dua stasiun utama di pusat kota Melbourne, untuk menitipkan barang dan makan siang di sana. Tapi, jalan ke sana agak jauh dan kami agak malas dan capek.

Kami putuskan menunggu di taman, sambil menikmati suara burung dan angin semilir. Untungnya, cuaca sangat baik.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami? Apakah kami menunggu tiga jam di taman? Baca cerita selanjutnya, ya!


© 2017 Ransel Kecil