Kebanyakan turis berkunjung ke Ekuador untuk melihat ibukota Quito serta Kepulauan Galapagos yang melegenda karena menjadi inspirasi Charles Darwin dalam mencetuskan teori evolusi. Menurut saya, Guayaquil haruslah juga menjadi salah satu destinasi utama bagi para turis yang mengunjungi Ekuador meskipun hanya sehari saja. Dalam perjalanan saya ke Peru baru-baru ini, saya dan teman saya sempat melihat-lihat Guayaquil selama 24 jam sebelum kami kembali dari Peru ke tempat kami tinggal di Pantai Timur Amerika Serikat. Kami terpesona pada cantiknya Guayaquil!

Kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduknya di Ekuador ini sebenarnya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Guayaquil adalah kota metropolitan dengan pelabuhan yang ramai dan aktifitas perdagangan dan jasa yang menggeliat sepanjang siang dan malam. Dalam sejarah negeri-negeri Amerika Latin, Guayaquil terkenal karena menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822, yang mempertemukan dua tokoh besar pro-kemerdekaan Amerika Latin, yakni Jose de San Martin dan Simon Bolivar. Kini, bagi kebanyakan turis, ibukota finansial Ekuador ini berperan sebagai tempat persinggahan bagi turis asing yang hendak berkunjung ke Galapagos. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk tiba di Galapagos dari Bandara Jose Joaquin de Almedo di Guayaquil.

Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000
Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000

Begitu kami tiba di Guayaquil, kami terkesan pada megahnya bandara. Rasanya tidak jauh beda dengan Terminal 3 Bandara Changi di Singapura. Di antara terminal kedatangan dengan foyer tempat penumpang bisa dijemput ada kolam ikan koi yang dikelilingi tanaman-tanaman tropis. Sambil menunggu datangnya shuttle bus dari hotel, saya memutuskan memberi makan ikan-ikan koi yang berseliweran. Pengunjung bandara bisa dengan mudah membeli makanan ikan koi dari vending machine di sebelah kolam. Saya pun memasukkan koin 25 sen/satu quarter berlambang bald eagle Amerika Serikat ke dalam vending machine karena mata uang yang berlaku di Ekuador adalah dolar AS.

Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil
Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil

Dari hotel, kami dijemput oleh ayah teman dekat saya ketika S1 yang kebetulan berasal dari Guayaquil dan kini kembali tinggal di kota kelahirannya setelah lama merantau di New York dan Puerto Rico. Tío Leo langsung mengajak kami bersepeda santai di kawasan cagar alam Pulau Santay. Sebuah jembatan pedestrian dengan panjang sekitar 1 km menghubungkan Guayaquil dengan Santay yang dipisahkan oleh sungai Guayas. Dari jembatan ini kami menikmati pemandangan metropolis Guayaquil yang penuh pencakar langit. Namun, hiruk pikuk kota besar terasa langsung hilang sebegitu sepeda kami memasuki wilayah cagar alam. Dari raised platform tempat kami bersepeda, kami bisa dengan mudah melihat burung-burung berseliweran di antara berbagai jenis bakau dan tanaman tropis lainnya. Pantas saja Tío Leo sering bersepeda ke Santay untuk menghilangkan penat.

Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil
Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil

Sambil bersepeda ke kampung nelayan di Santay untuk makan siang dan melihat penangkaran buaya, Tío Leo banyak bercerita tentang optimismenya akan masa depan Ekuador. Ia adalah pendukung berat Presiden Rafael Correa yang saat ini tengah menjabat. Menurutnya, Presiden Correa memberikan angin perubahan dan rasa percaya diri sebagaimana Presiden Obama, Modi, dan Jokowi membawa negara masing-masing ke era baru yang terlihat lebih menjanjikan. Kata Tío Leo, Presiden Correa yang ekonom dan lulusan Amerika Serikat tetapi berasal dari keluarga kelas pekerja Guayaquil ini berani mengajukan tuntutan penghapusan utang rezim lama ke pengadilan internasional dan berhasil mengurangi secara drastis jumlah utang Ekuador, selain juga berhasil mengurangi angka kemiskinan dan memberikan akses yang luas ke pendidikan dan layanan kesehatan bagi rakyat Ekuador. Bahkan, wajah cagar alam Santay yang tampak rindang dan desa nelayan Santay yang bersih dengan fasilitas memadai tidak lepas dari peran sang presiden. Cagar alam tersebut baru saja diresmikan Correa pertengahan tahun 2014 lalu.

Sekembalinya kami dari Santay, kami langsung naik Metroquil, sistem bus rapid transit Quayaquil yang tidak jauh beda dengan TransJakarta busway di ibukota, menuju ke bulevar Malecon 2000. Dengan panjang sekitar 2,5 km, boardwalk lebar di samping sungai Guayas ini adalah tempat rekreasi utama warga Quayaquil dan sekitarnya. Beruntung kami ada di sana pada Sabtu sore, karena ada dua konser musik gratis di atas boardwalk menghibur jalan-jalan sore kami menyusuri Malecon 2000. Di sisi kiri kami berjajar gedung-gedung tua bernuansa art deco dan moorish yang terawat dengan baik sedangkan angin sepoi-sepot berhembus dari sungai di sisi sebelah kanan. Sisi selatan Malecon 2000 tempat kami memulai jalan-jalan sore didominasi tempat perbelanjaan bawah tanah serta bermacam-macam pujasera yang menawarkan makanan khas Ekuador maupun makanan cepat saji internasional. Di sepanjang boardwalk berjajar patung-patung tokoh historis asal Guayaquil, termasuk monumen yang memperingati berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822. Di sana sini terdapat area rekreasi dan olahraga yang bisa dinikmati secara gratis oleh penduduk Guayaqil. Mendekati akhir boardwalk di bagian utara, kami mendapati beberapa museum, pusat kebudayaan, serta bioskop IMAX. Tak jauh dari pusat kebudayaan tersebut ada taman kota rindang dengan kolam air mancur tua yang amat cantik. Kalau tidak ingat bahwa ada banyak tempat menarik lain yang harus dikunjungi, rasanya saya ingin menghabiskan sore membaca buku di tempat yang sedemikian teduh. Ah, andai saja kota saya Jakarta punya banyak taman kota indah seperti ini.

Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822
Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822

Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador
Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador

Dari ujung utara Malecon 2000, Tío Leo mengajak kami naik ke puncak bukit atau cerro Santa Ana. Di bukit inilah, yang sering juga disebut Las Penas, pemukiman pertama di Guayaquil berdiri. Karena itulah, di puncak bukit terdapat reruntuhan benteng lengkap dengan meriam-meriamnya. Di bagian paling atas bukit ada kapel kecil dan mercusuar yang hingga kini masih berfungsi. Untuk sampai ke puncak bukit, kami perlu mendaki ratusan anak tangga yang dikelilingi rumah-rumah kuno beraneka warna yang kebanyakan kini telah beralih fungsi menjadi restoran, galeri, dan toko suvenir. Arsitektur Hispaniknya mengingatkan saya pada rumah-rumah kuno di kawasan kota tua Intramuros di Manila. Dari bawah bukit, cerro Santa Ana terlihat seperti favela di Rio de Janeiro dan Gamcheon art village di Busan yang dicat warna-warni, sedangkan dari puncak mercusuar, kami menikmati pemandangan kota Guayaquil diiringi temaram matahari yang mulai tenggelam. Rumah-rumah aneka warna di punggung bukit berkilau terang terkena sinar mentari sore. Indah sekali. Kata Tío Leo, satu dekade lalu Las Penas/Cerro Santa Ana adalah daerah kumuh. Pemerintah Guayaquil bersama dengan warga lokal lantas merevitalisasi kawasan kuno ini. Hasilnya jelas tidak mengecewakan. Kalau waktu Anda di Guayaquil terbatas, daerah ini layak menjadi persinggahan utama.

Suasana senja di atas puncak Cerros Santa Ana; gambar diambil dari puncak mercusuar

Kami lantas berjalan kaki menuju Katedral Metropolitan Guayaquil yang dibangun dengan gaya neo-Gothik. Di depan Katedral ini terdapat sebuah plaza dan taman dengan nama Parque Seminario, tetapi lebih banyak dikenal dengan sebutan Parque de las Iguanas. Disebut begitu karena memang taman ini dihuni banyak sekali iguana. Kami menemukan iguana bergelantungan di pohon, tidur-tiduran di pinggir kolam ikan dan berkeliaran di sekitar pagar. Meskipun malam sudah tiba, taman ini terang oleh lampu-lampu besar. Di tengah taman berdiri patung perunggu Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan negeri-negeri Amerika latin yang namanya kini diabadikan juga sebagai nama negara Bolivia. Di sekeliling patung terdapat banyak tempat duduk yang ramai oleh keluarga dan pasangan. Beberapa dari mereka mencoba memberi makan dan bermain dengan para iguana yang memang sudah menjadikan taman ini habitatnya. Berlama-lama guna bercengkerama dengan iguana-iguana jinak di taman ini boleh-boleh saja, asal jangan kaget kalau tiba-tiba ada “bom” kotoran iguana atau burung yang jatuh ke badan Anda dari pepohonan tempat para hewan bermukim.

Malam sudah penuh menyelimuti Guayaquil ketika kami memutuskan menyudahi jalan-jalan kami. Tío Leo lantas membawa kami ke restoran khas Ekuador tak jauh dari Parque de las Iguanas. Karena Guayaquil terletak dekat laut, pilihan saya jatuh pada “chupe de corvine y camarones” yakni sup ikan dan udang khas Guayaquil yang bertaburan irisan bawang dan kentang. Hmm, segar dan yummy! Apalagi bila ditambah dengan sedikit aji atau saus sambal. Tentu kami tak lupa mengudap penganan nasional Guayaquil yaitu pisang goreng. Sambil makan, Tío Leo bercerita banyak tentang dinamika perubahan yang tengah terjadi di Ekuador, di mana beberapa tahun terakhir di bawah Presiden Correa korupsi mulai berkurang dan birokrasi menjadi lebih efisien. Memang Ekuador masih harus banyak belajar memperbaiki kekurangan di sana-sini, tapi perubahan itu sudah bisa dilihat. Misalnya saja, dulu Guayaquil adalah kota yang terkenal dengan tingkat kriminalitas tinggi. Banyak sekali terjadi perampokan dan pembunuhan yang menjadikan penumpang dan terkadang juga supir taksi sebagai korban. Kini semua taksi yang beroperasi di Guayaquil dilengkapi dengan tombol darurat di sebelah tempat duduk penumpang. Begitu ada kemungkinan kejadian mengkhawatirkan di dalam ataupun di luar taksi, sang penumpang dapat menekan tombol tersebut dan mobil polisi terdekat akan segera tiba. Setelah sistem tersebut mulai diimplementasikan, angka kriminalitas Guayaquil mulai menurun.

Setelah puas mengobrol, Tío Leo mengantar kami kembali ke tempat kami menginap yang terletak tak jauh di bandara dan berseberangan dengan mal terbesar di Guayaquil, Mall de Sol. Waktu istirahat telah tiba setelah seharian menjelajahi Guayaquil. Kami pun harus terbang kembali ke New York keesokan harinya. Sebelum tidur saya mengirimkan pesan WhatsApp ke Melina, teman kuliah S1 saya yang merupakan putri Tío Leo dan kini bermukim di Puerto Rico setelah sebelumnya sempat tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya: “Guayaquil is a great city; I wish Jakarta had something like Malecon 2000 and its beautiful gardens.” Tak berapa lama Melina menjawab: “Jakarta has so much potential and sooo much it can showcase; it just needs the government to see how important it is to invest on it.” Benar, true that, Melina!