Artikel-artikel dari bulan September 2014

Mengalami Halloween di Resorts World Sentosa, Singapura

Salam hangat dari Resorts World Sentosa, Singapura!

Resorts World Sentosa telah beroperasi lebih dari empat tahun, dan mereka terus mengajak para pengunjung datang kembali. Ini adalah resor terintegrasi pertama di Singapura.

Oktober mendatang, Universal Studios Singapura akan mempersembahkan acara Halloween unggulan – Halloween Horror Nights. Acara yang telah dilangsungkan ke empat kalinya, dijanjikan sebagai pengalaman Halloween paling menyeramkan di Asia. Dengan 4 rumah hantu, 4 scare zone yang menyeluruh, dan 13 malam acara menakutkan selama bulan Oktober dan November, para pengunjung akan dibawa ke dalam set film horor berkualitas tinggi ketika mereka menghadapi ketakutan mereka. Alami Universal Studios Singapura tidak seperti biasanya dengan beberapa pilihan wahana, pertunjukan dan atraksi yang tersedia sepanjang malam. Ini adalah pengalaman taman bermain Halloween yang menyeluruh, hanya untuk Anda yang bernyali besar.

Sebagai tambahan terbaru di resor ini, Trick Eye Museum Singapura adalah cabang luar negri pertama dari galeri seni Korea terkenal dengan berbagai lukisan 3-D dan karya seni ilusi optik. Museum ini melampaui lebih dari sekadar galeri; langkahkan kaki dan jadilah bagian karya seni ketika Anda berinteraksi di dalamnya. Biarkan imajinasi Anda terbang bebas!

Dari tanggal 29 September 2014 sampai 1 Oktober 2014, Ransel Kecil akan menghadiri “Halloween Horror Nights” yang ke-4 di Universal Studios Singapura. Seperti apa liputannya? Nantikan di blog ini.


Terpana Pesona Air Terjun Dua Warna

Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.
Air terjun dan telaga berwarna hijau-biru.

Pelesir itu, buat Agmalun Hasugian, mesti menyejukkan pikir. Pelesir yang memenatkan pikiran seharusnya dihindari. Pelesir-pelesir yang bikin suntuk semacam itu, menurut Agmal, justru digemari masyarakat urban dewasa ini. Berkaraoke, belanja di mal, menonton film di bioskop, atau menyantap makanan di restoran-restoran mahal menjadi budaya masyarakat yang tinggal di perkotaan, tak terkecuali Medan, yang bagi Agmal adalah hiburan-hiburan kelas rendah yang konsumtif.

Maka, ketika pada suatu siang sehabis sembahyang Jumat Agmal mengajak teman-temannya, termasuk saya, untuk berpelesir, kami paham bahwa pelesir yang dia maksud pasti bakalan asyik. Dan ternyata benar, destinasi yang dia tawarkan sangat memikat hati: air terjun dua warna.

***

Pos penjaga hutan (ranger).
Pos penjaga hutan (ranger).

Air terjun dua warna dapat ditempuh dengan menyewa angkutan kota (angkot) yang jamak ditemui di Medan. Kota Medan, saya rasa, memiliki sistem perangkotan (maafkan kalau afiksasi saya terdengar janggal di telinga) yang baik. Angkot ditempeli nomor yang menunjukkan trayeknya. Jika anda hendak ke Merdeka Walk, misalnya, anda mesti naik angkot bernomor 103—dan sampailah anda di sana.

Jangan kaget ketika sopir menyetir ugal-ugalan. Sopir angkot di Medan memang merasa punya sembilan nyawa. Melesat di lajur kanan, sang sopir bisa saja tiba-tiba banting setir ke kiri ketika melihat calon penumpang melambaikan tangan atau tatkala seseorang bilang, “Minggir, Bang.” Pegangan pun harus kuat karena si sopir bisa mengerem dan mengegas angkot secara mendadak. Walaupun begitu, keselamatan penumpang agaknya masih menjadi perhatian. Saat menaikkan penumpang, angkot belum akan jalan kalau penumpang tersebut belum duduk nyaman di jok yang tersedia.

Di atas Sutra.
Di atas Sutra.

Bersama angkot Medan sewaan, kami menuju objek wisata air terjun dua warna yang terletak di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Perjalanan ditempuh selama lebih-kurang dua jam, melalui Jalan Jamin Ginting yang panjangnya bukan main: terentang dari Kota Medan hingga Kabupaten Deli Serdang.

Menuju air terjun dua warna, kami mesti melewati kawasan Perkemahan Pramuka Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara. Bumi perkemahan yang pada 1972 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah berjalan kaki selama beberapa menit, sampailah kami di pos penjaga hutan (ranger) yang bakal memandu kami.

Kenapa mesti dipandu? Soalnya, buat mencapai air terjun kami mesti menerobos lebatnya pepohonan di Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang termasuk dalam wilayah lereng Gunung Sibayak (2.212 m), salah satu gunung berapi aktif (stratovolcano) di Sumatera Utara. Tanpa pemandu, perjalanan akan menemui banyak masalah. Hutan yang lebat sangat mudah membuat orang tersesat. Kendati telah ada jalan setapak, hanya penjaga hutanlah yang mengerti jalan setapak mana yang mengarah ke tujuan. Ngarai-ngarai yang curam juga mesti diwaspadai karena kerap dijumpai di rute yang dilalui.
Beserta rombongan lain dan seorang pemandu yang merokok terus sepanjang waktu, kami berjalan kaki menikmati rimbunnya hutan dan segarnya napas alam. Sehabis dua jam berjalan—melewati jalanan berlumpur, mendaki batu-batu besar seukuran kerbau, menyeberang kali—dan diselingi mengaso berkali-kali, sampailah kami di lokasi.

Seperti namanya, terdapat dua macam air terjun yang mengadang kami. Air terjun pertama setinggi sekira 50 meter dan mengalirkan air berwarna hijau/biru. Sementara air terjun yang lain setinggi kira-kira 20 meter dan mengucurkan air jernih layaknya air terjun pada umumnya. Keduanya membentuk telaga yang berwarna hijau/biru dan putih keabu-abuan di mana pengunjung dapat berenang di sana. Telaga berwarna hijau/biru bersuhu sangat dingin, sedangkan telaga berwarna putih keabu-abuan bersuhu hangat.

Konon, sejauh ini belum diketahui siapa yang kali pertama menemukan air terjun itu. Informasi singkat menjelaskan bahwa seseorang bernama Imanuel Sinuraya-lah yang pada 2004 mengetahui keberadaan air terjun ini secara tak sengaja. Di samping itu, belum ada bukti ilmiah yang dapat menjelaskan penyebab perbedaan warna dan suhu air terjun itu. Keterbatasan informasi dan belum adanya fasilitas yang memadai membuat keberadaan air terjun dua warna menerbitkan rasa penasaran banyak orang, terutama mereka yang berjiwa petualang.

Ketika sampai di sana, sudah banyak pengunjung yang mandi, berenang, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan. Sebagian lain menikmati seduhan mi instan yang dijual pedagang dadakan yang mangkal di lokasi tersebut. Tak sedikit pula yang mengisi botol-botol minum mereka dengan air yang mengucur dari titik-titik mata air di dinding lembah.

***

Puas mandi dan berenang, bersama rombongan dan pemandu kami meninggalkan air terjun dua warna. Menempuh rute dan waktu yang sama saat keberangkatan, sampailah kami di pos penjaga hutan kembali. Capai, penat, dan berkeringat tentu, tapi kami sangat menikmati pelesir ini.

Berjingkat di batu-batu.
Berjingkat di batu-batu.

Kami pulang ke tempat tinggal kami di Padang Bulan, Medan, dengan menaiki Sutra. Sutra adalah angkutan antarkota/kabupaten berwujud bus tanggung yang, antara lain, menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kota Medan. Sutra sejatinya cuma merek usaha angkutan. Ada juga merek lain seperti Borneo, Dairi, Sinabung, dan seterusnya, yang sesungguhnya wujudnya, ya, itu-itu juga.

Menaiki Sutra ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Sebab, tidak seperti angkutan lain, oleh kernet kami tidak dipersilakan masuk, tapi disuruh memanjat ke atap. Lho? Ya, di atap bus kami menikmati perjalanan pulang yang sungguh mengasyikkan.

Meniti tali melewati ngarai.
Meniti tali melewati ngarai.

Sembari berpegangan pada pegangan besi di atap bus, embusan angin menerpa muka kami. Pohon-pohon di tepi jalan melambaikan daun mereka melihat kami melintas. Para ‘penunggang atap bus’ lain yang berpapasan dengan kami menyapa kami dengan teriakan mereka. Sesekali sopir melajukan bus dengan kencang, dan itu memacu adrenalin kami.

Wisata alam sampai kapan pun menawarkan pesona yang nilainya tak dapat diutarakan dengan kata-kata. Yang memesona bukan semata destinasinya, melainkan bagaimana kita mencapai destinasi itu. Lebih daripada apa pun adalah kesadaran kita untuk terus menjaga hutan, pohon-pohon, batu-batu, tanah berlumpur, ngarai, lembah, mata air, telaga, dan air terjun agar semuanya itu bisa dinikmati pula oleh generasi sesudah kita.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

Tembok Berlin, Sorong, Papua Barat: Rajanya Makanan Laut

Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.
Suasana Tembok Berlin di pagi hari berlatar laut dan kapal.

Namanya “Tembok Berlin”, seperti nama kota di Eropa, namun ini hanya kemiripan nama saja dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Eropa. Tembok Berlin adalah tempat makan makanan laut paling ramai di kunjungi di Kota Sorong, Papua Barat.

Saya kurang begitu paham mengapa tempat ini dinamakan Tembok Berlin. Saya sempat bertanya kepada pedagang disekitar Tembok Berlin dan petugas hotel tempat saya menginap, namun mereka pun kurang begitu paham mengenai filosifi asal-muasal nama itu.

Saya berjalan menyusuri Tembok Berlin, megarahkan pandangan ke arah laut, terlihat kapal-kapal besar mulai dari kapal tanker sampai dengan kapal pinisi, angin berhembus sejuk membawa hawa kesegaran. Saya menghentikan langkah di sebuah tenda, tempat penjual makanan kecil untuk rehat sejenak ditemani segelas susu hangat. Saya duduk tepat di depan tembok pembatas antara pantai dengan jalan raya tepi pantai, santai sambil menyeruput susu hangat, kehangatannya sangat cocok di udara dingin akibat mendung.

Sore hari yang damai, awan-awan terlihat sedikit menghitam, namun tidak mengurangi magnet keindahan Kota Sorong menjelang senja. Suasana begitu santai, berkumpul bersama penduduk lokal, kawula muda, berdialog santai menunggu senja.

Senja yang ditunggu tidak begitu sempurna, terhalang awan-awan hitam, sang surya pun tidak begitu terlihat jelas, namun tetap terlihat rona jingga khas senja yang menjadi pemanis suasana.

***

Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.
Kepiting asam-manis sungguh menggugah selera.

Penjual sedang membakar ikan.
Penjual sedang membakar ikan.

Selepas senja, lapar melanda, perutku serasa memanggil-manggil untuk segera diisi. Saya kembali menyusuri Tembok Berlin ke arah selatan, mencari warung-warung penjual makanan laut. Saya amat penasaran dengan dengan sensasi makan makanan laut di pinggir laut Tembok Berlin. Sebelum pergi ke Sorong, kawanku pernah berpesan pada saya agar menyempatkan diri makan makanan laut di Tembok Berlin. Katanya tidak sah ke Sorong bila tidak menikmati makanan di Tembok Belin.

Saya terus melangkah mengamati warung-warung seafood yang mulai ramai. Dari kejauhan sudah tercium aroma sedapnya ikan-ikan laut yang dibakar. Saya sempat bingung ingin makan di mana, ada beberapa warung yang menjual makanan laut. Saya sempat berputar-putar mencari warung yang paling ramai dengan asumsi bahwa tempat yang ramai berarti makanannya paling enak dan favorit.

Saya menghentikan langkah di Warung Miranda. Warung ini tidak terlihat seperti restoran mewah, namun ramai, bangunan warung menggunakan bangunan semi permanen dan tanpa pendingin udara, hanya menggunakan pendingin alam, semilir angin laut yang membawa udara yang cukup sejuk. Belum mulai makan namun saya sudah bisa membayangi betapa nikmatnya menyantap seafood makanan laut langsung di tepi laut.

Warung Miranda kala itu amat ramai, saya sempat kebingungan mencari tempat, butuh beberapa menit sampai akhirnya saya dapat tempat meja di pojok kanan. Saya langsung membuka menu. Saya lihat harga makanan di daftar menu, cukup menyenangkan karena harganya tidak terlalu mahal. Menunya banyak pilihan, mulai dari udang, cumi, kepiting, dan ikan bakar, semuanya dengan pilihan bumbu saus mentega, goreng tepung dan asam-manis.

Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.
Warung makan Marinda yang ramai pengunjung.

“Pak, saya mau pesan,” kataku sedikit teriak memanggil seorang bapak paruh baya yang sedang sibuk merapikan piring. “Iya mas, mau pesan apa?” tanya bapak itu sambil menyiapkan catatan dan pena. “Saya pesan kepiting asam manis, kangkung cah satu, dan minumnya air es jeruk nipis,” pesanku dengan porsi yang tidak terlalu banyak. “Siap ditunggu pesanannya, Mas.” bapak itu kemudian langsung bergegas menuju tempat masak.

Sepuluh menit menunggu, semua makanan yang saya pesan terhidang lengkap. Saatnya makan! Satu ekor kepting basar terhidang di hadapan saya, inilah menu yang saya tunggu-tunggu, sebelum sampai di Sorong bahkan saya sudah bertekad dalam hati untuk makan kepiting di Tembok Berlin, akhirnya kesampaian juga.

Belajar dari pengalaman makan kepiting menggunakan alat pemecah cangkang di Rumah Makan Dandito Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya melihat ke sekeliling meja mencari alat untuk membuka cangkang kepiting, semacam tang atau palu khusus, namun nampaknya tidak disediakan.

Sebelum makan saya mencuci tangan sampai bersih, saya siap makan kepiting hanya dengan tangan. Seperti biasa, saya merasakan sensasi memecah cangkang kepiting, makin membuat makan terasa nikmat. Aroma saus asam-manis, yang menjadi saus kepiting makin menyeruak. Saus ini menyelimuti dan menyerap ke dalam kepiting rongga-rongga kepiting, saya makan perlahan, saya hisap perlahan, begitu nikmat dan lezat!

Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.
Dimakan bersama cah kangkung terasa lebih nikmat.

Rasa pedas sausnya sungguh amat terasa, makin mantaplah rasanya. Tak lupa saya menimati kelezatan cah kangkung yang tak kalah menggugah selera saya, begitu nikmat rasanya perpaduan yang sempurna.

Usai makan cangkang kepiting bertebaran di sekeliling piring, meja tempat saya makan menjadi sedikit kotor, saya makan berantakan seperti anak kecil. Saya puas dengan rasanya, amat enak dan sesuai dengan harapan saya. Harga makanan yang murah, suasana yang nyaman di pinggir laut, dan rasanya yang amat memanjakan lidah menjadikan Tembok Berlin sebagai tempat rajanya makanan laut.

  • Disunting oleh SA 27/09/2014

© 2017 Ransel Kecil