Artikel-artikel dari bulan Juli 2014

Bagaimana AirAsia Mengubah Hidup (Jalan-Jalan) Saya

Pramugari AirAsia melayani penumpang
Pramugari AirAsia melayani penumpang

Saya baru senang jalan-jalan sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009, itu juga karena beberapa tahun sebelumnya saya sudah mulai bekerja, bisa menabung dan bisa menentukan bagaimana saya membelanjakan tabungan saya. Dari kuliah, saya sudah senang membaca artikel-artikel perjalanan. Bahkan, dari SMP pun, saya kadang membaca majalah National Geographic dan bermimpi menjadi fotografer. Fotografer idola saya waktu itu adalah Reza Deghati. Liputan yang membuat saya terinspirasi adalah liputan tentang Iran dan Maroko. Warna-warna menarik dan lanskap yang getir membuat saya ingin langsung pergi ke sana dan mencoba merekam semuanya dari kacamata saya sendiri.

Sebenarnya, beberapa kali sebelum bekerja saya sempat bepergian ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Jepang, Malaysia dan Singapura — namun kalau tidak dibiayai orang tua, kebetulan ada pihak lain yang membiayainya. Pengalaman 5 tahun tinggal di Malaysia tahun 1996 – 2001 juga memberikan kontribusi pada kesukaan saya jalan-jalan dan “melihat dunia”.

Kesempatan pertama itu datang pada Desember 2008, ketika teman saya, Arif, mengajak untuk pergi ke Vietnam. Kebetulan, saya punya teman di Hanoi, dia orang Vietnam. Kami terakhir kali bertemu di Amerika Serikat tahun 2005. Kami pikir, apa salahnya untuk berkunjung ke sana sembari bertemu teman lama. Saat itu, posisi keuangan kami terbatas, dan tidak semua maskapai memiliki sistem reservasi online dengan kartu kredit. Dengan membeli tiket pesawat online, pada pandangan saya, bisa mendapatkan tarif lebih murah dari jika melakukan pemesanan melalui telepon atau datang langsung ke kantor reservasi, misalnya. Konsumen lebih leluasa memilah-milah mana harga, waktu dan tempat yang terbaik. Pilihan akhirnya jatuh pada AirAsia.

Sejak melakukan pesanan pertama kali di AirAsia, tidak ada maskapai lain yang memiliki sistem reservasi online serapi AirAsia — setidaknya begitu menurut pengalaman saya pribadi. Semua prosesnya jelas, pembayaran lancar, ada opsi ekstra lain seperti makanan dan penambahan bagasi, dan dukungan customer service yang membantu.

Sebagai aviation geek juga, saya lebih suka terbang dengan Airbus A320/A320neo. Usia pesawat-pesawat yang digunakan AirAsia lebih muda, interiornya bersih dan terang. Beberapa maskapai beranggaran rendah lain yang saya gunakan menggunakan varian lain dan pesawat yang lebih tua usianya. Tempat duduk kulit tampak baru, bersih dan tidak kusam. Makanan dan minuman yang ditawarkan lebih mengena di hati dan disesuaikan dengan tujuan.

Penerbangan pertama saya adalah dari Kuala Lumpur ke Hanoi. Waktu itu, terminal di Kuala Lumpur masih LCCT (Low-cost Carrier Terminal) yang bersebelahan dengan terminal utama KLIA. Proses check-in sampai naik pesawat memang tak senyaman sekarang di KLIA2, tapi cukup lancar. Pertama kali naik ke pesawat AirAsia, impresi saya adalah pesawat ini baru dan bersih. Waktu itu, kursi tidak di-assign alias bisa duduk di mana saja. Kami pun terbang dengan antisipasi yang mungkin agak berlebihan. Perjalanan selama tiga jam itu kami lalui dengan damai.

Namun, kedamaian itu berakhir ketika hendak mendarat.

Bukan, bukan masalah pesawatnya. Tetapi, beberapa penumpang (yang kebetulan warga negara Vietnam) tiba-tiba berdiri melepas sabuk pengaman ketika pesawat sudah mulai descending (turun). Mereka ingin berfoto-foto bersama dengan blitz kamera. Kabin yang sudah gelap karena hendak mendarat tiba-tiba heboh dan silau. Mereka tak mau duduk. Pramugara dan pramugari terpaksa meminta mereka duduk. Akhirnya, mereka duduk.

Ternyata, kehebohan belum berakhir! Ketika pesawat baru saja touch down dan masih di landasan, mereka berdiri lagi dan berteriak terkagum-kagum. Saya dan teman hanya tertawa geli. Tentu saja, para staf pramugara dan pramugari cepat tanggap meminta mereka kembali duduk.

Singkat cerita, perjalanan pertama saya dengan AirAsia heboh namun lancar. Tidak ada yang mengecewakan. Perjalanan ini menjadi pembuka bagi perjalanan-perjalanan berikutnya dengan AirAsia yang selalu menyenangkan — dan menandakan diluncurkannya blog travel saya di Ransel Kecil ini.

Setelah itu, seperti tumbuh harapan untuk selalu jalan-jalan, karena semuanya jadi mudah dengan AirAsia. Untuk penerbangan dalam negeri pun, saya lebih suka menggunakan AirAsia karena dari Jakarta berangkat di Terminal 3 dan kabinnya lebih nyaman. Sampai sekarang, walau tak benar-benar pergi, saya suka iseng buka AirAsia.com hanya untuk melihat-lihat harga dan kemungkinan destinasi selanjutnya.


Dari Bawah Laut Hingga Atas Bukit Pulau Kanawa

Bar saat senja
Bar saat senja

Perahu saya berlabuh setelah perjalanan dua hari satu malam mengelilingi Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, di sebuah pulau kecil yang sudah disulap menjadi resort sederhana dengan pemandangan yang luar biasa bernama Pulau Kanawa. Menginjakkan kaki di Pulau Kanawa sekitar jam dua siang, tubuh terasa tidak sabar untuk segera melihat apa yang tersembunyi di perairan sekitar pulau ini.

Bawah laut Pulau Kanawa begitu memanjakan mata saya. Kegiatan snorkeling saya mulai dari dermaga yang berada di utara pulau lalu berlanjut menuju ke arah barat. Berbagai koral dan ikan yang beraneka warna menemani sepanjang kepakan kaki di permukaan laut. Petualangan bawah laut ini berawal dari sambutan rombongan ikan menuju laut lepas, ikan nemo yang malu-malu bersembunyi dibalik koral, dan berakhir dengan bertemunya saya dengan penyu yang berenang santai, tenang, dan bebas. Hingga tak terasa saya sudah berenang cukup jauh hingga ke bagian barat pulau ini.

Pesisir pantai Pulau Kanawa
Pesisir pantai Pulau Kanawa

Restoran outdoor
Restoran outdoor

Setelah lelah snorkeling dan badan yang kering dengan sendirinya, saya menghabiskan sore dengan membaca buku di hammock yang berada di samping dermaga. Di pantai sebelah utara pulau ini dengan mudahnya terlihat bayi ikan hiu yang berenang di pinggir pantai menemani pengunjung yang menghabiskan waktu tidur sore di pantai yang sepi ditemani angin semilir yang menjemput tenggelamnya matahari.

Malam hari dihabiskan dengan makan malam di restoran yang ada di pulau dengan tiga bagian restoran yaitu dalam ruangan, luar ruangan yang ditemui dengan pohon rindang berbalut lampu temaram, dan bar kecil di luar ruangan dengan musik mengalun. Pilihan menu terdiri dari berbagai pasta yang memang bukan makanan lokal namun apa boleh buat hanya ini satu-satunya tempat bersantap di pulau kecil ini. Listrik pulau ini padam pada pukul 11 malam, setelah makan malam saya berjalan santai menuju pantai hanya untuk merebahkan badan ke pasir dan mata saya tak berhenti menatap gugusan bintang terbaik yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Dermaga
Dermaga

Fasilitas Bale'
Fasilitas Bale’

Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit

Waktu menunjukkan jam empat pagi, saya terbangun dan pergi ke arah selatan pulau untuk melihat matahari terbit dari puncak bukit. Dengan penerangan senter, saya mendaki bukit yang cukup dengan waktu lima belas menit untuk mencapai ke puncak. Setelah sampai puncak, lambat laun sang surya menampakkan dirinya menerangi seluruh kecantikan pulau ini. Pemandangan dari atas bukit ke arah pantai dan laut dapat terlihat gradasi putih pantai dengan biru laut yang begitu menawan.

Sayang sekali saya hanya menghabiskan satu malam di Pulau Kanawa yang indah ini. Setelah sarapan pagi kapal menuju Labuan Bajo telah berlabuh dan siap mengantarkan saya serta pengunjung lain pulang. Satu malam di Pulau Kanawa seperti mimpi bagi saya, keindahan dari atas bukit hingga bawah laut tidak tercela.


Menyentuh Hati Pejalan dengan “The Changi Experience”

Bandara Internasional Changi di Singapura adalah hub udara terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu yang terbesar di Asia. Menghubungkan lebih dari 270 kota di 60 negara, bandara ini menawarkan maksimum waktu transfer 60 menit untuk perjalanan transit. Bagi pejalan ransel, juga ditawarkan program Changi Connects yang membuat transfer penerbangan dari dan ke penerbangan hemat biaya tanpa harus melewati imigrasi atau harus mengambil bagasi mereka dulu. Efisiensi perjalanan penerbangan adalah kunci di bandara ini.

Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari
Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari

Bandara Changi dari menara
Bandara Changi dari menara

Bandara Changi di malam hari
Bandara Changi di malam hari

Tidak heran, sejak dibuka, bandara ini telah memenangi lebih dari 460 penghargaan “Best Airport” atau bandara terbaik di dunia, salah satunya “Best Airport in the World” versi publikasi Business Traveller’s selama 26 tahun berturut-turut. Skytrax, penghargaan aviasi bergengsi di dunia juga memberikan Changi titel “World’s Best Airport” selama lima kali, terakhir tahun 2014.

Jika pun anda ingin menghabiskan waktu untuk transit yang lebih panjang, bandara ini menawarkan banyak hal untuk dilakukan dan dilihat. Banyak fasilitas relaksasi, arena hiburan, lima taman-taman tematik dan layanan internet gratis di 550 kios di seluruh terminal. Mereka yang punya waktu transit lebih panjang (minimal lima jam) dapat mengikuti tur gratis keliling kota Singapura selama dua jam ke Merlion, Marina Bay Waterfront Promenade, Chinatown dan Little India. Mereka yang melakukan perjalanan dengan keluarga pun akan merasa dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ramah keluarga, seperti ruang ganti popok bayi, travelator dan ruang tunggu yang besar dan nyaman untuk stroller bayi.

Kios internet gratis
Kios internet gratis

Selain area publik yang bisa dinikmati kapan saja, anda juga bisa mencoba fasilitas Slide@T3, luncuran tertinggi di Singapura, lalu mempelajari dunia aviasi secara menyenangkan di Changi Aviation Gallery, yang memamparkan sejarah operasional bandara ini.

Slide@T3
Slide@T3

Changi Airport memiliki tiga terminal dengan kapasitas tahunan total 66 juta penumpang. Terminal 1 dibuka tahun 1981, terminal 2 tahun 1990 dan terminal 3 tahun 2008. Ada dua landasan sepanjang empat kilometer. Pesawat lepas landas setiap 90 detik sekali. Bayangkan.

Terminal 1 baru saja direnovasi tahun 2012 untuk melayani penumpang lebih baik lagi. Konsep yang diusung dalam renovasi ini adalah membuat terminal menjadi replika “kota tropis”. Terminal ini juga memiliki kolam renang di atapnya yang menghadap ke landasan, alasan yang sempurna untuk menunggu pesawat anda selanjutnya. Anda juga bisa bersantau di jacuzzi atau berolahraga di pusat kebugaran.

Terminal 2 mengusung konsep modern dengan tetap memperhatikan penghijauan dan pencahayaan alami.

Terminal 3 mengusung arsitektur atap yang unik, yang memperhatikan pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik sehingga terminal ini lebih ramah lingkungan.

Di terminal-terminal tersebut kita juga dapat mendapatkan fasilitas pijat seluruh tubuh, manikur-pedikur, potong rambut, gym, fasilitas mandi dan ruang tunggu eksklusif (lounge) yang dapat dibayar tanpa harus memiliki keanggotaan tertentu. Selain itu, jika anda mengantuk dan butuh istirahat, ada tempat istirahat (napping areas) yang tenang dan dapat dinikmati gratis. Selain itu, ada juga hotel transit yang bisa disewa singkat jika ingin privasi lebih.

Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal
Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal

Kolam renang di terminal berpemandangan landasan
Kolam renang di terminal berpemandangan landasan

Konsep “kota tropis” kelihatan di hampir semua terminalnya, dibuktikan dengan berbagai tanaman dan kebun yang ada di sekitarnya. Ada taman tematik yang bisa kita nikmati di setiap terminal, antara lain “Cactus Garden” (Terminal 1), “Enchanted Garden”, “Orchid Garden” dan “Sunflower Garden” (Terminal 2) dan “Butterfly Garden” (Terminal 3).

Taman dalam bandara
Taman dalam bandara

Ruang dan sofa bersantai
Ruang dan sofa bersantai

Tempat beristirahat
Tempat beristirahat

Mereka yang datang di sela-sela perjalanan bisnis, dapat menikmati Business Centre sekiranya membutuhkan layanan pencetakan, fotokopi, faks dan pengiriman dokumen. Tersedia juga Transit Hotel, Ambassador Transit Lounge dan Rainforest Lounge untuk beristirahat atau bekerja dengan tenang. Jika kehabisan baterai ponsel atau tablet anda, jangan khawatir. Ada 856 titik pengisian ulang baterai di semua terminal yang dapat dinikmati gratis.

Ambassador Transit Hotel
Ambassador Transit Hotel

Ada lebih dari 350 toko di terminal-terminal di sini baik di luar ruang keberangkatan maupun di dalamnya untuk memberikan kesempatan berbelanja yang nyaman dan maksimal, dengan harga yang kompetitif. Lapar? Jangan lewatkan 120 outlet makanan dan minuman di seluruh terminal, termasuk sebuah pujasera yang dikunjungi warga Singapura setiap harinya hanya untuk makan.

Ketika saya pergi ke sana dan transit selama enam jam beberapa saat lalu, saya juga menikmati teater film gratis yang dioperasikan 24 jam dan memutarkan film-film blockbuster bergantian. Bagi yang suka game, ada ruang permainan yang menawarkan console game. Yang suka musik dapat pergi ke sudut musik. Yang ingin nonton televisi, tersedia ruang televisi. Tidak akan kehabisan opsi untuk menghibur diri.

Nonton film gratis
Nonton film gratis

Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal
Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal

Lebih detil lagi mengenai Transit Hotel, mereka terletak di area Departure Transit di semua terminal. Khusus Ambassador Transit Hotel dilengkapi fasilitas lebih banyak seperti wake-up call service, televisi, kamar mandi di dalam dan teh/kopi gratis. Jika ada kamar kosong, maka anda bisa menikmati kamar yang menghadap ke landasan dengan jendela besar. Asyik, kan?

The Kinetic Rain
The Kinetic Rain

“The Changi Experience” tidak hanya fokus pada kenyamanan dan kelancaran perjalanan penggunanya, tetapi juga sensory experience atau pengalaman indera. Tidak sekedar dekorasi, tapi juga esensi dari bandara itu sendiri. Beberapa instalasi seni ditampilkan di sini, antara lain “Kinetic Rain” yang terdiri dari 1.216 “tetesan” yang dibuat dari perunggu, digantung, dan digerakkan oleh komputer membentuk 16 bentuk yang berbeda, seperti pesawat terbang, balon udara dan layang-layang. Selain itu, beberapa seni patung dan instalasi juga ditampilkan di berbagai sudut terminal.

Rencana ke depan

Tahun 2017, Bandara Internasional Changi akan membuka Terminal 4 yang dirancang untuk melayani penerbangan full service dan penerbangan hemat biaya. Terminal ini menggantikan Terminal Budget yang sudah tidak operasional lagi. Tentunya, Terminal 4 akan jauh lebih berkelas dari Terminal Budget, dan akan dihubungkan dengan jembatan pejalan kaki dari terminal-terminal lainnya. Terminal 4 diharapkan dapat menampung 16 juta penumpang tiap tahun dengan luas setara 27 lapangan sepak bola.

Itu sajakah? Nanti dulu — Bandara Internasional Changi juga sudah merencanakan pengembangan Terminal 1 yang dinamakan “Project Jewel”. Lokasinya ada di depan Terminal 1, dan merupakan kompleks mixed use yang akan menawarkan fasilitas-fasilitas yang memanjakan penumpang. Fitur utamanya adalah taman di dalam banguann yang lebih besar dari taman-taman lain di Changi. Dirancang oleh arsitek Marina Bay Sands, Moshe Safdie, bangunan ini didesain untuk menjadi ikon Changi yang baru dan diperkirakan selesai 2018. “Project Jewel” dibuat khususnya untuk memanjakan penumpang transit yang diperkirakan sampai 30% total pengunjung ke Changi. Dengan “Project Jewel”, kapasitas penumpang di Changi diperkirakan meningkat hingga 85 juta orang per tahun pada tahun 2018.

"Project Jewel"
Project Jewel

Terminal 5 juga akan dibangun di tanah luas di sebelah timur terminal-terminal yang sudah ada, dan ukurannya adalah gabungan dari Terminal 1, 2, 3, 4 dan Project Jewel. Kabarnya, Terminal 5 akan menjadi terminal terbesar di dunia dan melayani 50 juta penumpang setiap tahunnya.

JetQuay Terminal

Salah satu yang kita tidak tahu dari Changi adalah keberadaan JetQuay CIP (Commercially Important Person) Terminal. JetQuay ini adalah terminal elit bagi para penumpang yang ingin layanan eksklusif. Dengan membayar tarif tertentu, kita dapat menikmati penjemputan dari rumah atau hotel dengan mobil mewah, diantara ke terminal elit yang terpisah dari terminal umum, dilayani seperti raja dengan makanan dan minuman serta ruang istirahat, serta check-in dan layanan imigrasi khusus. Ketika pesawat berangkat, kita akan diantar dengan buggy car ke pintu keberangkatan. Cocok untuk mereka yang ingin privasi lebih, misalnya ketika bulan madu, perjalanan keluarga atau yang punya pesawat pribadi (mana tahu, ya?).

Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal
Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal

Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal
Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal

Indonesia dan Changi

Indonesia adalah pasar utama Bandara Internasional Changi. Penerbangan Jakarta – Singapura adalah penerbangan dengan trafik terbesar, diikuti Bangkok, Kuala Lumpur, Hong Kong dan Manila. Indonesia adalah negara ke-3 terbesar yang memasok penumpang ke bandara ini, baik untuk tujuan akhir maupun transit. Sebaliknya, Singapura menyumbang jumlah pengunjung yang besar ke Indonesia tahun 2013 saja, sekitar 6.4 juta pengunjung, semuanya melalui bandara Changi.

Hebatnya lagi, pengunjung berkewarganegaraan Indonesia ada dalam posisi ke-3 dilihat dari jumlah transaksi belanja di bandara.

The Changi Experience

The Changi Experience” adalah konsep yang menurut saya sangat menarik. Lazimnya, kita melihat bandara secara fungsional saja. Fasilitas untuk menunggu naik pesawat dan tiba dari tujuan lain. Bandara Internasional Changi melihatnya dari sisi yang berbeda: bandara adalah sebuah pengalaman, sebuah destinasi dalam dirinya sendiri. Ia adalah oasis bagi musafir — sebaik-baiknya tuan rumah adalah mereka yang melayani musafir sebaik mungkin. Inilah barangkali yang membuat Bandara Internasional Changi berkomitmen untuk melayani pengunjung dengan sebaik-baiknya.

Sampai jumpa di perjalanan Changi berikutnya!


© 2017 Ransel Kecil