Barangkali ini pengecualian bagi saya yang tak begitu suka soto.

Soto Ayam Pak Sungeb “Jl. Bank” di Jl. R. A. Wiria Atmaja, Purwokerto, Jawa Tengah, menjadi labuhan kami pada waktu itu setelah turun dari stasiun Purwokerto setelah lima jam perjalanan dari Gambir, Jakarta. Bak Sroto Sokaraja yang berisi daging sapi, soto ayam yang juga cukup populer di Purwokerto ini juga dilengkapi dengan sambal kacang.

Soto Ayam Kampung Pak Sungeb, Purwokerto

Awalnya, saya tak begitu simpatik dengan sambal kacang: Kenapa kacang bisa dijadikan sambal? Apa yang menarik dari sambal kacang? Warnanya coklat, pucat, rasanya pun biasa saja. Terkadang, ternyata, kacang menjadi tekstur yang menarik. Rasanya tidak sehebat sambal lain yang benar-benar terbuat dari cabai dan bawang, atau olahan terasi dan udang. Tidak begitu nendang, kata orang.

Melihat kualitas soto kebanyakan yang persentase kuahnya hingga 50%-60%, dilimpahi oleh tauge dan pelengkap seadanya, saya sedikit senang melihat isi soto yang cukup memenuhi mangkok ukuran sedang yang bisa digenggam kedua telapak tangan itu. Isinya suwiran ayam kampung, ketupat, taoge, daun bawang, taburan bawang goreng, dilengkapi kerupuk mi dan kerupuk warna. Suwiran ayamnya istimewa, warnanya kecoklatan seperti daging bebek. Kuahnya manis berkaldu. Dipadu dengan samnbal kacang, teksturnya terasa lebih kaya.

Jangan tertipu dengan nama “Soto Ayam Jl. Bank”, karena jalan aslinya adalah Jl. R. A. Wiria Atmaja — disebut demikian, mungkin karena ada museum bank di jalan yang sama. Sudah turun-temurun dikelola sejak 1958.