Artikel-artikel dari bulan April 2014

Berhemat Pangkal Jalan-Jalan Maksimal

Sampai saat ini banyak yang bertanya bagaimana “berwisata murah ala ransel” atau malah ada juga yang ingin “wisata murah atau nyaris gratis tetapi fasilitas maksimal”. Berwisata murah ala ransel tentu lebih terdengar logis dan sangat bisa diusahakan, tetapi wisata murah atau nyaris gratis dengan fasilitas maksimal? Mungkin perlu pintar-pintar mencari kesempatan promosi, undangan atau dengan “nebeng” keluarga atau teman di tempat tujuan.

Tidak ada formula khusus untuk berwisata murah ala ransel, dan niat berwisata murah bisa saja tiba-tiba pudar ketika kita tidak disiplin pada rencana ketika sampai di tujuan. Namun, ada beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya sebelum, ketika dan setelah perjalanan itu.

Beli tiket transportasi pada hari-hari kerja

Biasanya, tiket-tiket transportasi seperti pesawat, bis dan kereta api akan lebih mahal pada ujung minggu dibanding tengah minggu. Cari keberangkatan hari Rabu atau Kamis dan pulang pada hari yang sama. Resikonya memang kita harus cuti lebih panjang dari kantor, misalnya. Tetapi harga yang didapat bisa lebih murah hampir setengahnya. Jangan lupa juga lihat grafik pergerakan harga tiket pesawat pada bulan-bulan ke depan.

Berkemas ringkas

Sudah seringkali diulas di situs ini maupun di situs-situs lain, berkemas ringkas merupakan kunci wisata murah pengalaman maksimal. Anda tak perlu membayar bagasi berlebih, bisa naik angkutan umum lebih leluasa tanpa harus membayar taksi, lebih cepat bergerak dan mengejar jadwal berikutnya, serta belanja awal lebih murah. Lupakan oleh-oleh.

Menginap di rumah teman atau keluarga

Sewaktu saya ke Hanoi tahun 2009, saya menginap di rumah teman lama di sana. Teman yang orang Vietnam ini justru juga membuat rencana jalan-jalan di kotanya. Selain menghemat uang, saya juga menghemat waktu. Saya cukup membawa oleh-oleh dan sesekali, jika mau, membawakannya makanan dari hasil jalan-jalan atau memasak sesuatu di sana.

Gunakan transportasi umum

Jangan malas untuk mempelajari transportasi umum, apalagi jika hanya jalan-jalan. Kecuali anda mengejar waktu, menggunakan transportasi umum adalah salah satu cara mengenal kultur dan kebiasaan orang lokal.

Bawa air minum sendiri

Dari botol kosong, bawa air minum putih sendiri dari penginapan atau rumah teman. Ini akan menghemat banyak waktu. Isi di jalan.

Beli makanan yang tahan beberapa hari

Contohnya, roti. Roti yang bisa dimakan dua hari dapat jadi cemilan ketika lapar, dan makanan utama juga dapat lebih dihemat jika kita bisa “mencampurnya” dengan roti. Misalnya, beli salad saja, lalu kita makan pakai roti. Atau…

Makan besar 2 kali sehari

Sarapan cukup roti dan gratisan kopi atau teh. Makan siang dan malam bolehlah kita beli di jalan kalau memang kita tak tahan lapar dan fokus perjalanan adalah wisata kuliner.

Jangan beli oleh-oleh

Kedengarannya jahat, tapi minimalisir pembelian oleh-oleh atau tidak sama sekali. Ini akan membuat pengeluaran membengkak. Jika harus, belilah yang ukurannya kecil, murah, banyak dan bisa dibawa di ransel.

Pelajari bahasa lokal

Jika bisa berbahasa lokal seringkali kita bisa menawar harga lebih murah, karena dianggap lebih akrab.

Kontrol diri

Ingat, tidak semua tempat harus dikunjungi dalam satu waktu. Walaupun ada tempat-tempat yang “wajib dikunjungi”, jangan terjebak dengan kecenderungan itu. Setiap perjalanan ke suatu tempat adalah milik Anda sendiri dan percaya naluri Anda. Lebih baik santai dan fokus di dua atau tiga tempat daripada berkeliling enam tempat sekaligus dalam satu hari. Tentunya, ini akan menghemat biaya juga.


Pemakaman Unik di Trunyan

Deretan ancak saji
Deretan ancak saji.

Pada jalan-jalan edisi Pulau Bali ini, kami mengunjungi satu desa yang memiliki tradisi pemakaman yang tidak biasa. Lokasi desa ini terletak di Pinggir Danau Batur, Kintamani, Bali.

Berangkat dari hotel jam 10.00 pagi, tujuan kami adalah dermaga perahu Danau Batur. Perahu motor memang transportasi yang digunakan untuk mencapai Trunyan. Ketika kami tiba di dermaga segera berdatangan para pemilik perahu motor yang menawarkan jasa penyeberangan menuju desa.

“Ayo pak nyebrang, mumpung masih siang. Mayatnya juga masih baru ini. Baru dua minggu-an,” ujar salah satu pemilik perahu motor.

Istri saya yang sebelumnya tidak tahu mengenai pemakaman Desa Trunyan kaget dan sedikit takut. Dia bingung kenapa bapak ini menyebut kata mayat. Memang, perjalanan ini saya buat sebagai kejutan untuk istri. Harga paket yang ditawarkan menuju desa Trunyan adalah Rp600.000.

Saya sempat bertanya, “Kok, mahal banget pak harga paketnya?”

“Memang segitu harganya kecuali buat rombongan jadi Rp350.000 per pasangan,” jawab bapak pemilik perahu motor.

Pemandangan dari perahu motor

Pemandangan dari perahu motor
Pemandangan dari perahu motor.

Masih kaget dengan harga tersebut, saya dan istri memutuskan menunggu sebentar mungkin saja ada rombongan jadi kami bisa bergabung dengan rombongan tersebut. Menunggu sekitar 20 menit sambil mata awas melihat ke parkiran berharap ada rombongan datang tapi tetap nihil. Saya mendatangi lagi bapak itu untuk tawar-menawar akhirnya kami sepakat berangkat dengan harga Rp500.000. Saya dan istri berpikir, toh, sudah sampai di sini, agak sayang juga jika kami batal menyebrangi desa Trunyan. Setelah menyelesaikan pembayaran kami diberikan jaket pelampung. Nah, di sinilah muncul lika-liku seru perjalanan. Tiba-tiba muncul dua pasangan lagi yang akan bergabung dengan perahu kami. Kami coba mendatangi bapak tersebut untuk bertanya kalau yang berangkat rombongan berarti kami hanya perlu membayar Rp350.000, tetapi dia bersikeras dengan memberikan penjelasan yang tidak masuk di akal dan berkilah. Sebagai pejalan, memang harus berhadapan dengan hal-hal seperti ini. Tetapi, kami memilih melanjutkan perjalanan.

Tengkorak dan sesajen
Tengkorak dan sesajen.

Mayat di dalam anyaman
Mayat di dalam anyaman.

Perjalanan menyeberang danau disambut dengan dingin angin Gunung Batur. Istri saya musti merapatkan jaketnya karena dinginnya suhu pegunungan. Danau Batur sendiri berwarna coklat agak kehijauan dimana cukup banyak ditemui eceng gondok di perairan danau tersebut. Setelah berlayar 20 menit akhirnya kami merapat ke jeti kayu, dibantu dua orang penjaga pemakaman desa Trunyan. Ada kejadian unik di gerbang pemakaman desa Trunyan, kami diminta untuk membayar retribusi sebesar Rp20.000. Saya menolak membayar biaya ini karena sebelumnya kami dijanjikan tidak perlu membayar apapun lagi setelah membayar biaya boat di dermaga. Dengan sedikit berdebat kedua bapak tersebut akhirnya setuju kalau kami tidak perlu membayar apapun lagi.

Sisa-sisa tulang manusia berserakan (bersama sampah!)
Sisa-sisa tulang manusia berserakan (bersama sampah!).

Tengkorak-tengkorak dijejer rapi
Tengkorak-tengkorak dijejer rapi.

Tibalah kami di gerbang pemakaman Desa Trunyan, suasana mulai terasa agak mistis di mana aroma dupa yang dibakar di depan gerbang sudah menyebar di hidung. Setelah menapaki undakan tangga kami dapat melihat di sebelah kanan kami ada pohon besar. Pohon tersebut mungkin sudah berusia ratusan tahun dan pohon itulah lambang desa ini. “Tarumenyan” adalah nama pohon besar ini. “Taru” berarti pohon dan “menyan” berarti wangi jadi tarumenyan berarti pohon yang wangi. Pohon inilah yang dipercaya menyerap bau dari mayat-mayat yang dimakamkan. Di bawah pohon tersebut dijejerkan tengkorak-tengkorak manusia.

Tengkorak–tengkorak ini adalah mantan penduduk desa yang sudah meninggal dan dimakamkan di sini. Di sebelah kiri undakan tangga dapat dilihat jejeran anyaman bambu yang di dalamnya terdapat mayat-mayat dengan berbagai kondisi bergantung dari lama kematian mayat-mayat tersebut. Waktu kami datang, kami melihat mayat yang masih baru di mana pada mayat tersebut masih terdapat kulit kepala sedangkan di sebelahnya ada mayat lain yang sudah jadi tengkorak. Di dalam anyaman bambu itu mayat-mayat juga dibekali makanan dan minuman kesukaannya ketika hidup di dunia. Anyaman-anyaman bambu inilah makam bagi mayat-mayat di Desa Trunyan. Mayat-mayat tersebut tidak dikuburkan atau di-“aben” tetapi hanya diletakkan begitu saja didalam anyaman bambu. Hal yang menakjubkan memang tidak ada bau sama sekali di pemakaman ini.

Pengunjung dapat bebas berfoto di lokasi ini tetapi tetap perhatikan langkah kaki kita karena mungkin saja kita menginjak potongan tulang manusia, seperti yang dialami Pak Made, pemandu kami di desa Trunyan. Waktu itu kami meminta Pak Made untuk memotret kami berdua dengan latar belakang pohon Trunyan. Anehnya, Pak Made ini tidak mau mundur dari tempat berpijaknya untuk mengambil sudut gambar yang lebih bagus. Heran mengapa Pak Made tidak mau mundur untuk mendapat sudut yang lebih baik saya mendatangi Pak Made untuk mengarahkan ternyata di belakangnya terdapat banyak tumpukan tulang belulang yang mungkin terinjak jika dia lebih mundur lagi.

Setelah melihat-lihat beberapa saat dan mendengar prosesi pemakaman jenazah di Desa Trunyan kami diberitahu bahwa hanya penduduk yang meninggal dengan wajar dan telah dewasa atau anak kecil yang gigi susunya telah tanggal saja yang dimakamkan di sini, atau dikenal dengan nama “Sema Wayah” oleh penduduk sekitar. Sedangkan bayi yang meninggal akan dikuburkan di “Sema Muda”, untuk penduduk desa yang meninggal secara tidak wajar kecelakaan ataupun dibunuh akan dimakamkan di “Sema Bantas”. Ketiga pemakaman tersebut lokasinya berbeda-beda sebagaimana sudah diatur oleh aturan adat di Desa Trunyan. Prosesinya mayat akan dibawa dari desa dengan menggunakan boat dan diikuti keluarga dengan boat yang berbeda. Berbaliklah kami dari Sema Wayah menuju dermaga keberangkatan kami tadi sambil berpikir bahwa Indonesia ini memang unik.

  • Disunting oleh SA 23/04/2014
  • Tips: Jika ingin mengunjungi desa Trunyan, jadikan perjalanannya satu paket dengan Kintamani dan Danau Batur.

© 2017 Ransel Kecil