Artikel-artikel dari bulan Desember 2013

Sepenggal Kisah Fotografer dari Siem Reap

Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.
Kimleng dan tuk-tuk kebanggaannya.

Pilihanlah mempertemukan saya dengan seorang Kimleng Sang, dan oleh karenanya saya sama sekali tidak merasa menyesal.

Selesai menjelajah India, saya selalu terpikir untuk menjelajahi Kamboja, tepatnya untuk melihat Angkor Wat yang sangat tersohor itu, walau agak ragu. Jujur saja, sejak awal saya memang tidak terlalu menyukai kuil Buddha yang menurut saya terlalu biasa bila dibandingkan dengan kuil Hindu. Namun demikian, ingatan mengenai film Tomb Rider memang sudah terpatri sedemikian rupa, sehingga cukup untuk menggeret langkah saya untuk terbang ke sana.

Perkenalan saya dengan Kim diawali dengan rangkaian pencarian akan seorang pemandu tur di Siem Reap. Bagi saya ini penting, karena saya memang berkelana seorang diri. Beberapa nama telah saya kantongi dan setelah membaca serta menelusuri lebih lanjut, saya memutuskan untuk menghubungi Kim melalui email. Gayung bersambut, Kim bersedia untuk memandu saya selama dua hari untuk melihat seluruh kompleks Angkor dan mengabadikannya dengan kamera.

Kimleng berpose di salah satu kuil.
Kimleng berpose di salah satu kuil.

Angkor Wat.
Angkor Wat.

Angkor Wat dan danau kecil di depannya.
Angkor Wat dan danau kecil di depannya.

Hari itu pun tiba. Kim dengan sabar telah menunggu saya di lobi hotel sejak pukul delapan pagi sesuai dengan rencana sebelumnya. Tuk-tuk miliknya tampak bersih beralas selembar kain putih pada joknya. Saya pun duduk dengan nyamannya. Caranya mengendarai pun amat hati-hati sambil tidak lupa berhenti untuk menunjukkan tempat-tempat yang layak untuk difoto.

Kim bukan hanya supir tuk-tuk, namun juga fotografer. Nikon D5000-nya setia berada dalam gendongan bahu kanannya sambil menemani saya menyusuri keseluruhan kompleks Angkor Wat. Dengan sabar ia akan membantu memperbaiki kualitas foto saya dengan mengganti pengaturan kamera Nikon D1700 yang saya bawa. Di beberapa tempat yang memerlukan lensa wide angle dan saya tidak memilikinya, ia akan meminjamkannya dengan senang hati. Saya yang penasaran akan isi tas ranselnya, semakin kaget sewaktu mengetahui ia membawa beberapa lensa, pembersih lensa, tripod dan bahkan perlengkapan untuk melindungi kamera bila hujan. “Supaya Madam bisa motret dengan nyaman”, ujarnya perlahan. Tak lama ia pun menawarkan handuk dan air mineral dingin. Usut demi usut rupanya Kim memiliki semacam kotak pendingin kecil di dalam tuk-tuknya.

Kim sangat mengenal seluk-beluk daerah Angkor Wat dan tepatnya mengetahui tempat-tempat terbaik untuk fotografi. Hal terakhir ini yang membedakannya dengan pemandu lain, apalagi bagi saya yang memang sengaja datang untuk memotret (dan dipotret sebagai bonusnya). Kompleks Angkor yang sangat ramai itu hampir tidak pernah terekam dalam hasil bidikan saya. Kim tahu kapan persisnya kami harus berada agar terhindar dari kerumunan. Bayangkan, dalam keramaian di kuil Bayon pun, kami mengetahui jalan setapak yang memisahkan kami dari pengunjung lain. Kim pula yang dapat membuat saya menempuh jalan berlumpur, memanjat reruntuhan, melompat sana-sini untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal. Semut-semut manis yang menggerogoti kaki kami tidak digubrisnya. Saya tidak hanya memerlukan jasanya untuk menjelaskan sejarah bangunan yang kami kunjungi, namun juga ‘mata’ fotografer yang dimilikinya. Kami dapat berlama-lama memotret reruntuhan kuil yang berlumut, karena kami terbuai akan kekontrasan warnanya. Sebagai gantinya, tidak jarang Nikon milik saya berpindah ke tangannya, agar saya dapat diabadikan dengan leluasa. Kim amat hobi memotret orang, dan untungnya saya hobi berpose, jadilah kami pasangan sepadan.

Sambil menyerumput kopi saat makan siang, Kim pun menuturkan kisah hidupnya hingga menjadi seperti sekarang. Kimleng Sang dilahirkan 35 tahun lalu di sebuah desa kecil di provinsi Takeo, dekat perbatasan Kamboja dengan Vietnam. Latar belakangnya yang hanya pendidikan setingkat SD, membuatnya menjadi buruh kasar untuk membantu ekonomi keluarganya yang memang pas-pasan. Takdirlah yang membawanya untuk menjadi petugas keamanan di Phnom Penh sambil menyempatkan untuk belajar bahasa Inggris. Akhirnya ia memutuskan untuk mengadu nasib di Siem Reap tahun 2000 dan membeli tuk-tuk dengan seluruh uang tabungannya. Semakin lama bahasa Inggris Kim pun terasah dengan banyaknya turis asing yang memakai jasanya. Kemampuan fotografinya baru tergali beberapa tahun terakhir, saat ia memiliki beberapa klien yang memang seorang fotografer. Seorang fotografer bernama David Bibbing dari Kanada mengajarinya cara memotret. Penyuntingan foto juga dipelajarinya, hingga kini ia masih sering berkonsultasi bila memiliki kesulitan saat menyunting fotonya. David pula yang memberinya kenang-kenangan berupa sebuah kamera D-SLR.

Berawal dari itu semua, kini Kim menabung untuk membeli kamera Nikon yang lebih canggih. Dengan memungut biaya jasa US$40 untuk sehari penuh tur di Angkor Wat dan US$50 untuk Banteay-Srei, hal ini tentu saja tidak sukar baginya. Jasa Kim ini memang sedikit mahal dari jasa tuk-tuk yang rutin ditawarkan oleh hotel yang saya tempati. Untuk tur Angkor sekitar US$15 dan ekstra biaya untuk pemandu US$22, jadi total yang mereka biasa tawarkan US$37. Namun dengan selisih US$3 saja, saya telah mendapatkan supir tuk-tuk, pemandu dan fotografer pribadi. It’s more than just good deal to me!

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Ukiran wajah di Angkor Wat.
Ukiran wajah di Angkor Wat.

Perjuangan Kim berbuah manis. Kini namanya sudah cukup terkenal di berbagai forum dan banyak fotografer asing yang mengenalnya. Tidak jarang pula pelancong yang sengaja memakai jasanya agar dapat dipotret dengan leluasa. Bagaikan membawa seorang fotografer pribadi ke dalam kompleks Angkor. Kim dapat mengumpulkan foto-foto hasil bidikannya dalam USB flashdisk agar dapat langsung diterima oleh kliennya setelah selesai tur. Dalam sebulan Kim dapat memperoleh klien 7-10 orang. Oleh karenanya, jauh-jauh hari biasanya para klien telah mengontaknya.

Hasil jepretan Kimleng untuk saya.
Hasil jepretan Kimleng untuk saya.

Foto-foto hasil bidikan Kim sendiri tersimpan dengan rapi dalam situs pribadinya. Berbagai ulasan mengenainya dapat ditemukan di situs semacam Trip Advisor. Sebagian besar memuji sikapnya yang sopan, ramah, dan selalu bersedia membantu dalam hal apapun. Saya selalu ingat akan satu ulasan yang menyebutkan saat seorang turis bermaksud memotret Angkor di kala matahari terbit. Tanpa sengaja, filter lensanya terjatuh ke dalam pinggir danau saat ia bermaksud mengabadikan refleksi Angkor dalam air. Turis ini pun merasa bahwa filter ini tidak akan ditemukan dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Yang membuatnya kaget adalah saat Kim menemuinya kembali saat membawa filter tersebut di siang hari. Rupanya Kim kembali mendatangi danau yang sama untuk mencari filter tersebut. Ia beralasan bahwa bila ia mencarinya saat terjatuh tadi, gerakan tubuhnya di dalam air akan mengganggu riakan serta menimbulkan distorsi. Hal ini tentu saja akan mengganggu para fotografer yang memang saat itu sedang duduk-duduk untuk mengabadikan refleksi Angkor dalam air sambil menunggu matahari terbit.

Dua hari bersama Kim membuat perjalanan saya sangat berkesan. Dari Kim pula saya mengetahui bahwa tuk-tuk dalam bahasa Khmer sebenarnya disebut remork motor, namun para turis lebih suka menyebutnya tuk-tuk. Saya selalu mengingatnya setiap kali saya melihat hasil-hasil bidikan saya selama di Angkor. Saya tidak hanya menemukan seorang supir tuk-tuk yang ramah, namun juga seorang fotografer yang handal dan teman perjalanan dengan pribadi yang menyenangkan. Ya, sebuah pilihan lah yang membawa saya ke Siem Reap dan mengenal seorang Kimleng Sang, bukan Angelina Jolie.

  • Disunting oleh LEN 17/12/2013

Dataran Tinggi Dieng: Dari Telaga hingga Puncak Gunung

Kabut menyeringai Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu
Kabut menyeringai Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu.

Suara meraung-raung seketika terdengar memekakkan telinga ketika supir memainkan gas dengan kaki kanannya. Asap hitam pekat pun menandai kualitas kendaraan yang saya tumpangi. Tanjakan cukup curam menanti di hadapan. Sebuah tanda peringatan dengan gambar jalan menanjak kembali mengingatkan pengguna jalan untuk selalu berhati-hati. Saya kemudian memperhatikan jalan sembari sesekali melirik supir di sebelah kanan yang terlihat tenang mengemudi sembari menimpali obrolan sang kernet.

Untuk dapat mencapai Dataran Tinggi Dieng, pelancong dapat menggunakan beberapa rute, misalnya dari Kabupaten Banjarnegara atau Wonosobo. Namun yang menjadi favorit wisatawan adalah rute dari Kabupaten Wonosobo. Entah karena sarana transportasi yang lebih baik atau memang merupakan jalur wisata sejak lama. Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kita akan dihadapkan perjalanan menanjak berliku yang hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan. Bahkan di beberapa titik, salah satu kendaraan harus berhenti terlebih dahulu agar kendaraan dari arah berlawanan dapat lewat duluan.

Telaga warna dan desa di sekitarnya
Telaga warna dan desa di sekitarnya.

Berpapasan dengan warga
Berpapasan dengan warga.

Hamparan bunga-bunga
Hamparan bunga-bunga.

Terlepas dari itu, kita disuguhi pemandangan alam yang indah. Lereng pegunungan yang tampak seperti undakan hijau yang tertata rapih itu adalah tebing-tebing tanah yang disulap menjadi lahan pertanian. Sungguh pemandangan yang menakjubkan, meskipun kadang membuat bertanya-tanya bila musim hujan tiba: ancaman tanah longsor bisa menjadi masalah besar.

Angin menyeruak masuk ke dalam bis dari sela-sela kaca jendela. Sejuk. Ketinggian sudah mencapai lebih dari 1700 mdpl. Sore itu langit tampak cerah. Warna biru memenuhi langit. Kurasakan senyumku mengembang sendiri.

Tidak berapa lama bis kecil ini tiba di pertigaan Dataran Tinggi Dieng. Walau gapura sudah terlihat beberapa waktu lalu, namun tempat yang dituju masih harus menempuh waktu perjalanan sekitar 10 menit lagi. Dan sekarang, aku berdiri sendiri di tepi jalan yang cukup ramai oleh lalu lalang petani yang pulang dari ladang. Bis kecil itu kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, sebuah daerah perbatasan yang tidak kalah menariknya dengan kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Wonosobo ini. Saya membayar Rp10.000 untuk perjalanan ini.

Telaga warna Telaga warna.

Pepohonan dan langit biru
Pepohonan dan langit biru.

Ada beberapa pilihan penginapan di kawasan ini. Mulai dari harga Rp60.000 hingga beberapa ratus ribu. Tentunya dengan fasilitasnya masing-masing. Pilihan saya jatuh pada yang paling murah. Kamar saya berukuran kira-kira 3×3 meter, berisi satu buah tempat tidur yang cukup untuk dua orang dan satu buah meja kecil. Kamar mandi berbagi dengan penghuni lain. Tentunya tanpa air panas.

Saya segera melangkahkan kaki menuju ke Telaga Warna yang pesonanya sudah terkenal hingga ke mancanegara ini. Cuaca cukup bersahabat sore ini. Setelah berjalan kira-kira 1,4 km, saya tiba di Telaga Warna. Warna hijau tosca yang terlihat di permukaan telaga ini sungguh sangat menawan hati. Kabut tipis yang kadang terlihat mengambang di permukaan air memberikan kesan mistis. Udara sejuk mendekati dingin semakin menambah istimewa tempat ini. Jalan setapak yang mengelilingi telaga, pepohonan yang rindang memberi kenyamanan bagi pelancong yang hendak menikmati kesejukan dan keindahannya.

Telaga Warna sejatinya adalah danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang. Kandungan mineral sulfurnya yang cukup tinggi menyebabkan pewarnaan telaga ini bermacam-macam. Uniknya, hanya dibatasi oleh “pulau” kecil rerumputan, ada sebuah telaga lagi yaitu Telaga Pengilon. Berbeda dengan “tetangganya yang berwarna”, telaga ini bening seperti warna telaga pada umumnya.

Berjalan-jalan mengelilingi Telaga Warna ini sungguh sangat menyenangkan hati, terutama bila menyempatkan diri untuk sedikit berjalan menanjak ke puncak bukit. Titik paling bagus untuk menyaksikan keseluruhan bentuk telaga. Ada dua lokasi yaitu dari sisi dalam bagian selatan telaga mengikuti jalan berundak menanjak dan sisi luar bagian utara. Khusus untuk bagian luar ini, di puncak bukitnya ada area cukup luas untuk sekedar duduk bersantai bersama kawan seperjalanan. Sayangnya tidak diperbolehkan untuk berkemah di area Telaga Warna. Mungkin untuk mengurangi risiko kebakaran seperti yang terjadi sekitar 10-11 tahun yang lalu.

Di area parkir pun tersedia beberapa kios-kios yang menjajakan aneka panganan tradisional dan minuman hangat. Tempe berbalut adonan tepung yang biasa disebut tempe kemul yang masih panas sungguh sangat nikmat bersama dengan segelas teh panas manis di daerah dingin seperti ini.

Malam ini saya tidur lebih awal. Pukul tiga pagi saya harus memulai pendakian menuju puncak Gunung Prahu, bersama dengan Rafiq, salah satu pemuda setempat. Saya tertarik untuk menyaksikan langsung matahari terbit dan gugusan gunung-gunung di Jawa Tengah dan gumpalan awan. Ya, Gunung Prahu ini memang masih belum menjadi tujuan popular bagi para pelancong yang datang ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Menurut Rafiq, lebih banyak para pendaki gunung yang datang ke sini. Jalan menanjak sekitar dua jam mungkin yang membuat orang segan menyambangi gunung yang memiliki tinggi 2.565 meter di atas permukaan laut ini.

Senja di antara bukit
Senja di antara bukit.

Berjalan turun
Berjalan turun.

Melewati jalur tanjakan pertama, kami beristirahat sejenak, dan berbagi air minum. Sembari mengatur nafas, saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat agak terbuka ini. Senyum saya seketika mengembang melihat titik-titik cahaya dari kejauhan dan ketinggian yang membentuk sebuah koloni seperti kunang-kunang yang bergerombol. Kumpulan titik-titik cahaya yang berasal dari rumah-rumah desa itu terhubung dengan lampu jalanan yang berujung pada kumpulan titik-titik cahaya lagi. Gelapnya malam, terangnya cahaya bintang di langit dan terpaan angin dingin di wajahku seketika menyeruakkan perasaan bahagia. Bukankah bahagia itu sederhana?

Tiga menit berlalu. Angin dingin menggigit seperti mengingatkanku untuk kembali berjalan. Tanjakan lain menunggu di depan. Setelah berjalan sekitar satu jam, tibalah kami di puncak Gunung Prahu. Titik puncak pertama ini ditandai dengan beberapa tiang menara repeater milik beberapa institusi pemerintah seperti TNI dan Polri untuk keperluan komunikasi radio mereka. Lokasi Gunung Prahu yang terletak di dataran tinggi perbatasan beberapa kabupaten sangat membantu melancarkan signal komunikasi.

Sayup-sayup saya mendengar suara dari masjid. Kulirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 04.00. Sepertinya kami berjalan terlalu cepat, sehingga kami masih menunggu harus menunggu matahari terbit. Rafiq lalu mengajak untuk mulai berjalan menyisiri punggungan puncak gunung menuju lokasi paling baik menyaksikan matahari terbit. Tidak sampai 15 menit kami tiba di tempat yang seperti berbukit-bukit luas ala savanna di perjalanan dari Sembalun menuju Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani.

Di kawasan puncak Gunung Prahu ini hampir tidak ada titik untuk berlindung dari terpaan angin kencang. Selama kurang lebih satu jam kami dihantam kencangnya angin di puncak Gunung Prahu. Semburat garis merah perlahan mulai terlihat. Siluet gunung dari kejauhan mulai tampak. Kabut yang menyelimutinya pun mulai terlihat. Warna hangatnya mentari mulai memenuhi permukaan rerumputan dan bunga yang bertebaran di permukaan tanah. Samar-samar bangunan rumah di desa perlahan terlihat. Begitu pula dengan Telaga Warna.

Sekitar pukul 05.30, matahari mulai terlihat. Mula-mula hanya terlihat setengah hingga akhirnya bulat utuh seperti kuning telur mata sapi raksasa yang memenuhi siklus harian alam semesta. Semuanya terjadi dalam hitungan menit. Bisa kurasakan senyumku mengembang dari balik kamera yang sedari tadi sudah kupersiapkan di atas kaki tiga. Jemari saya yang beku sejak tiba di sini sudah tidak kuhiraukan lagi. Ujung jari telunjukku sibuk menekan tombol rana, sembari melawan kencangnya angin yang menggoyangkan kameraku. Rafiq pun sibuk mengambil gambar dengan kamera dari telepon selulernya. Untuk ditunjukkan kepada tamu-tamunya, begitu katanya ketika aku mengambil gambarnya.

Saya menyambut pagi dengan perasaan senang. Ketika pagi sudah terang, terlihat jelas gunung-gunung di Jawa Tengah dan Telaga Warna yang warna hijaunya tampak kecil seperti kolam ikan yang jarang dibersihkan. Bukit-bukit yang berjejer bergelombang mengingatkan saya akan serial animasi anak-anak Teletubbies. Saya berusaha untuk menjaga langkah kaki agar tidak menginjak bunga daisy yang banyak ditemukan di area puncak gunung ini.

Pukul 06.30 kami bersiap untuk turun. Berjalan dengan riang seperti anak kecil yang hendak main ke sungai beramai-ramai. Tampak dari kejauhan jalur pendakian berkelok-kelok. Sesekali Rafiq dan saya berlari menuruni jalur menurun ini. Pemandangan menakjubkan dengan udara segar pegunungan sangat sayang untuk ditinggalkan. Sungguh, saya tidak ingin turun dan meninggalkan pagi dari Gunung Prahu.

  • Disunting oleh LEN 25/11/2013

Wajah Bajai di India

Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning
Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning.

Siapa yang tidak kenal bajai. Kendaraan sederhana ini selalu menemani hari-hari semasa saya belajar di Mumbai. Hal ini dikarenakan bajai di Mumbai mudah didapat, memakai argo dan jelas tarifnya murah. Memang awalnya sulit, mengingat umumnya supir bajai ini tidak bisa berbahasa Inggris. Maka dengan Hindi yang terbata-bata, saya menuntun mereka untuk menuju tempat yang saya inginkan. Yang membedakan supir bajai di India dengan Jakarta adalah mereka sangat mudah menolak penumpang, seringkali malas memutar balik, terlebih jika penumpang ingin bepergian ke arah yang berlawanan. Entah kenapa, supir bajai ini cenderung belok ke arah kiri. Benar-benar menjengkelkan.

Tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang sayang akan kendaraan beroda tiga yang setia mengantar saya ke mana saja ini, tak pelak lagi saya pun tertarik mencari tahu tentangnya. Ternyata benar bajai itu berasal dari India. Kendaraan yang di India disebut “auto” ini (walau beberapa turis masih menyebutnya “tuk-tuk”) dibuat oleh perusahaan Bajaj Group, yang didirikan oleh Jamnalal Bajaj di Rajasthan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1959, perusahaan ini diizinkan oleh pemerintah India untuk membuat kendaraan beroda dua dan tiga. Perusahaan ini semakin berkembang, hingga dalam kurun waktu setahun terakhir, mereka telah menjual sekitar 480.000 kendaraan roda tiga yang hampir setengahnya di ekspor ke luar India. Jumlah yang sangat fantastis.

Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil.

Bajai beragam warna menunggu penumpang
Bajai beragam warna menunggu penumpang.

Bajai berwarna biru
Bajai berwarna biru.

Bila bajai di Jakarta umumnya berwarna merah dan biru (sehingga sering diplesetkan sebagai BMW, singkatan dari “Bajai Merah Warnanya”), maka di Mumbai atau Delhi bajai ini biasanya berwarna hitam, dengan argo yang terletak di sisi kiri. Hal yang berbeda saya temui ketika saya menjelajahi wilayah Rajashtan, India. Di wilayah ini, tampak berbagai penampakan dari kendaraan beroda tiga kesayangan saya ini. Secara garis besar, bajai di sana akan diwarnai dengan ornamen warna-warni sesuai khas daerah masing-masing. Yang menjadi favorit saya adalah bajai yang berada di wilayah Juhunjhunu, Rajashtan. Tampak bajai dipenuhi pita warna-warni, lukisan dewa-dewinya dan lonceng. bajai di Jaisalmer biasanya lebih sederhana, berwarna kebiruan. Sedangkan di wilayah Jodhpur, bajai berbentuk lebih ramping dan berhiaskan pita, namun bagian belakangnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Variasi lainnya, ada bajai yang tampak berbentuk sedikit ‘bulat’ dengan warna kekuningan seperti ikan mas koki.

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (1).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (2).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (3).

Umumnya bajai diperuntukkan untuk tiga penumpang di belakang dan seorang supir demi alasan keamanan. Walau jumlah ini juga disesuaikan dengan besarnya badan penumpang. Berhubung teman-teman saya dari Tanzania umumnya bertubuh besar, dengan sendirinya tiga orang di belakang akan membuat sesak. Namun jangan salah, di India 10 orang pun bisa muat di dalam satu bajai. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala bila melihat supir bajai duduk berimpitan dengan dua hingga empat penumpang di depan. Terkadang polisi bisa menegur bila melihat situasi ini. Namun bukan supir bajai namanya kalau tidak bisa berdalih. Penumpang ekstra tersebut akan turun saat berpapasan dengan polisi untuk kemudian naik kembali setelah berada cukup jauh.

Berbagai wajah bajai dapat ditemukan di India dengan semua ciri khasnya. Namun kesamaannya tetap ada, tetap berjalan dengan bunyi yang berisik dan hanya supir bajai (dan Tuhan) yang tahu kapan mereka akan belok.


Museum Fujiko F. Fujio: Bernostalgia dengan Doraemon

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali…”

Familiar dengan lagu di atas? Mungkin anda sama seperti saya, tumbuh dan besar dengan cerita-cerita Doraemon, yang memungkinkan daya khayal kita tumbuh tinggi tanpa batas. Zaman saya kecil, komik Doraemon itu salah satu bacaan favorit selain rajin menonton film kartunnya di televisi. Sampai sekarang pun rasanya saya masih menikmati cerita-cerita Doraemon terutama seri Doraemon Petualangan. Hanya di seri Doraemon Petualangan, Nobita tiba-tiba menjadi keren dan berubah jadi sosok pahlawan! Saya pun sering berandai-andai, jika saja pintu ke mana saja itu nyata, alangkah menyenangkan. Tinggal sebut mau ke mana, dalam sekejap mata bisa sampai. Ah, Doraemon…

Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.
Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.

Kafetaria museum
Kafetaria museum.

Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.
Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.

Kecintaan saya terhadap anime ini membuat saya merasa wajib untuk mengunjungi Fujiko F. Fujio Museum di Jepang. Saya sendiri sebetulnya lebih senang menyebutnya Doraemon Museum, karena sebagian besar isi museum itu menceritakan tentang Doraemon. Kebetulan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Tokyo, hanya sekitar 20 menit dari stasiun Shinjuku dengan Odakyu line, jadi masih terjangkau. Tiket masuknya tidak dijual langsung di museum, tetapi hanya bisa dibeli di Lawson yang ada di Jepang. Harga tiketnya 1000 Yen per orang. Jadi jika berniat berkunjung ke museum ini, sesampainya di Jepang sebaiknya langsung menuju Lawson terdekat untuk pemesanan tiket, agar tidak kehabisan. Pihak museum membatasi jumlah tiket setiap jamnya untuk memberikan kenyamanan terhadap pengunjungnya.

Meskipun begitu, saya tidak menyangka animo pencinta Doraemon sedemikian besarnya. Atau mungkin karena saya berkunjung di hari Sabtu. Di saat ujung minggu seperti ini, pengunjung museum sangat padat, kebanyakan adalah keluarga dengan anak-anaknya, jadi saya tidak bisa menghabiskan waktu agak lama di satu objek tertentu karena antrian yang terus berjalan.

Museum ini menyediakan shuttle bus dari stasiun Noborito dengan tarif 200 Yen sekali jalan. Tetapi karena saya punya waktu lebih banyak, saya memutuskan untuk turun di stasiun Mukogaoka Yuen dan menuju museum dengan berjalan kaki. Begitu keluar dari stasiun, saya seperti berada di sebuah kota kecil yang tertata apik. Saya pun memutuskan mengikuti jalan besar seperti yang tertera pada peta, dan menemukan papan petunjuk arah menuju museum. Di tengah jalan, saya bertemu sepasang remaja yang juga menuju museum Doraemon, mengingatkan saya akan Nobita dan Shizuka.

Jalan menuju ke museum
Jalan menuju ke museum.

Gian Soft Cream
Tertarik mencoba “Gian Soft Cream”?

Cinderamata Doraemon
Cinderamata Doraemon.

Sesampainya di museum, ternyata sudah banyak orang yang mengantri. Saya pun segera masuk barisan karena jam sudah menunjukkan lewat pukul 12, yakni jam yang tertera di tiket masuk yang saya beli. Sebelum masuk ke area museum, kita akan dibekali dengan pemandu audio elektronik dengan pilihan bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Oh iya, tidak diperbolehkan membawa makanan, minuman ataupun mengambil foto di dalam museum.

Di lantai pertama kita akan disuguhi gambar-gambar asli karya Fujiko F. Fujio, yang aslinya bernama Hiroshi Fujimoto, dan cerita dibalik karya tersebut. Contohnya, ada satu gambar tentang dewi dalam salah satu cerita Doraemon dengan rambut panjang berwarna hijau terang, rupanya warna hijau itu adalah warna yang salah digunakan oleh asisten beliau, namun akhirnya melihat hasilnya yang cukup bagus malah digunakan sebagai warna utama. Ditampilkan juga deretan laci yang dibangun sampai ke atap bangunan dan diberi nomor. Itulah cara beliau menyimpan semua karya aslinya selama ini. Disimpan dalam laci kayu di dalam ruangan dengan temperatur tertentu. Saya takjub melihat laci sebanyak itu!

Selepas ruang pameran, ditampilkan sejarah perjalanan Fujiko F. Fujio bagaimana beliau menjadi seorang seniman manga. Lahir di tahun 1933, beliau memulai debut karya pertamanya di tahun 1951. Doraemon sendiri mulai diciptakan sekitar tahun 1961. Dipamerkan juga barang-barang bersejarah seperti paspor yang dulu beliau pakai dan foto-foto beliau jaman dahulu. Kemudian, yang juga sangat menarik, dipamerkan meja kerja beliau ketika membuat semua karya-karyanya. Bahkan saya juga baru tahu bahwa beliau selalu melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat seri-seri Doraemon Petualangan itu. Ingat cerita Nobita dan Doraemon yang berteman dengan Piisuke, hewan jinak mirip dinosaurus yang dipelihara Nobita? Ternyata ada banyak sekali buku-buku tentang dinosaurus dan patung-patung hewan jaman purba di meja kerja Fujiko F. Fujio!

Naik ke lantai dua, kita akan menjumpai ruang pameran berisi cerita-cerita Doraemon seri petualangan, sembari mendengar penjelasan melalui pemandu audio elektronik. Saya jadi mengingat-ingat seri Doraemon yang sudah pernah saya baca. Di lantai ini pula ada satu bagian yang membuat saya terharu, diceritakan tentang keseharian Fujiko F. Fujio diluar pekerjaannya, yakni keseharian beliau sebagai seorang suami dan ayah. Bagaimana beliau masih menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk putri-putrinya (beliau punya tiga putri), dan bermain bersama mereka. Di satu video, Mrs. Fujimoto (istri Fujiko F. Fujio) mengakui bahwa suaminya betul-betul memisahkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Bahkan ketika anak-anaknya masih kecil, mereka tidak mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang seniman manga terkenal. Ada satu surat yang ditulis oleh Mrs. Fujimoto ditujukan kepada suaminya, yang isinya membuat saya hampir menangis. Di surat itu, Mrs. Fujimoto menuliskan kerinduannya terhadap suaminya, (Fujiko F. Fujio meninggal tahun 1996), dan menyatakan bahwa dia yakin spirit suaminya hadir bersama karya-karyanya yang sampai sekarang masih menginspirasi jutaan anak di dunia.

Lapangan bermain Doraemon
Lapangan bermain yang biasa digunakan karakter-karakter di Doraemon.

Pintu Ke Mana Saja
“Pintu Ke Mana Saja”.

Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini
Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini.

Tampak depan museum yang modern
Tampak depan museum yang modern.

Nah, di lantai ketiga yang merupakan lantai paling atas, disediakan tempat bermain di bagian atap di mana kita bebas mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan ‘Doraemon’. Apabila lapar, terdapat kafe dan makanan makanan untuk dibawa keluar. Selesai makan dan puas berfoto dengan Doraemon, saatnya kembali turun ke lantai dasar dan berbelanja suvenir di toko cinderamata. Di sini tersedia berbagai macam barang dengan karakter buatan Fujiko F. Fujio. Agak terkejut juga melihat banyak barang dengan gambar Giant, ternyata dia populer juga, ya.

Misi tercapai. Selesai sudah kunjungan singkat saya ke museum ini. Sejenak saya seperti kembali ke masa lalu, bernostalgia dengan semua cerita-cerita Doraemon yang dulu sering menemani saya. Menghidupkan kembali mimpi-mimpi semasa kecil dulu. Doraemon merupakan anime terkenal dan abadi. Saya pun kembali menuju stasiun, kali ini menumpang shuttle bus (yang interiornya juga dipenuhi gambar Doraemon!) dan membawa saya menuju stasiun Noborito, sembari berdendang sepanjang jalan.

“La, la, la… Aku sayang sekali… Doraemon…”

  • Disunting oleh LEN 28/11/2013

© 2017 Ransel Kecil