Artikel-artikel dari bulan September 2013 (halaman ke-1 dari 2)

Pantai dan Resort di Pulau Bintan

Berjemur di bawah terik matahari
Berjemur di bawah terik matahari.

Jika Anda seorang pencinta pantai, Anda mungkin sudah mendengar tentang pulau Bintan yang terletak di provinsi Kepulauan Riau. Namanya sudah cukup terkenal dan selalu sukses membuat orang penasaran. Termasuk saya, sebelum saya mengunjunginya, pulau ini selalu membuat saya penasaran.

Akhirnya rasa penasaran saya terhadap pulau Bintan pun sirna, akhir Februari lalu saya berhasil mengunjungi pulau Bintan untuk menengok keindahannya. Ada dua hal yang identik dengan pulau Bintan, dua hal itu pula yang menjadi alasan bagi saya untuk mengunjungi pulau Bintan, yaitu pantai dan resort.

Salah satu sudut pantai
Salah satu sudut pantai.

Nyiur melambai
Nyiur melambai.

Cara terbaik untuk menuju pulau Bintan dari Jakarta adalah dengan penerbangan langsung ke Tanjung Pinang, Batam atau Singapura. Dari Batam, perjalanan akan dilanjutkan menyeberang dengan speed boat, begitupun dari Singapura bisa dilanjutkan menyeberang dengan speed boat.

Saya mengunjungi pulau ini dari Batam, mengambil penerbangan paling pagi dari Jakarta menuju Batam. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menyeberang selat dari Pelabuhan Punggur. Pada sore yang cerah, perahu mulai bergerak ke arah selatan meninggalkan Pelabuhan Punggur, laut terlihat sangat jelas dan biru. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saya tiba di Pelabuhan Tanjung Uban dan kemudian di jemput oleh teman saya untuk menuju Bintan Resort.

Bintan Resort adalah tujuan utama saya saat mengunjungi pulau Bintan. Pasalnya, tempat ini memiliki daya tarik yang kuat dari keindahan resort dan pantainya. Banyak tempat menarik di Bintan Resort, tempat pertama yang saya kunjungi adalah pasar oleh-oleh. Tempat ini merupakan pusat penjualan cinderamata yang dibentuk untuk mempromosikan budaya, seni dan kerajinan Indonesia. Di tempat ini terdapat barang kerajinan budaya, pakaian dan aneka kuliner, semuanya tersebar di lebih dari 20 outlet. Selanjutnya ke seberang pasar oleh-oleh saya mengunjungi Kampoeng Lago, di sini saya menemukan banyak tempat spa.

Hari berikutnya, saya pergi ke Nirwana Garden Resort. Dari luar, resort ini terlihat begitu mewah dan begitu dimasuki, tentu saja dalamnya ternyata mewah pula. Saya berkeliling di resort, kolam renang dan pantai sekitar yang sangat indah.

Jetski yang disewakan
Jetski yang disewakan.

Nirwana Garden Resort
Nirwana Garden Resort.

Ada beberapa pantai indah di pulau Bintan. Salah satunya adalah pantai yang terletak di Nirwana Garden Resort. Pantai di sekitar Nirwana Garden Resort sangat bersih dan alami. Saya menikmati berjalan di sepanjang pantai, sambil melihat air yang tampak berkilauan seperti kristal karena terkena sinar sang surya dan saya menikmati setiap langkah saya di pasir yang begitu lembut. Saya melihat ke sekeliling dan melihat wajah-wajah pengunjung dengan suka citanya menghabiskan waktu di Bintan. Ada yang berenang dan ada yang menikmati berjemur di pantai tanpa terganggu dan ada pula yang menikmati fasilitas olahraga air di sekitar pantai.

Saya melangkah ke pantai sebelah yaitu pantai Mayang Sari. Pantai ini cocok dijadikan tempat untuk mendapatkan sinar matahari yang hangat. Banyak orang menikmati berjemur di bawah terik matahari. Pantainya sepi dan tidak terlalu ramai. Seorang teman menjelaskan bahwa Bintan Resort adalah tujuan wisata yang relatif populer, terutama bagi turis dari Singapura.

Jika Anda memiliki kesempatan untuk mengunjungi salah satu bagian terindah Indonesia, Pulau Bintan dapat menjadi pilihan terbaik untuk liburan. Have fun!


Hotel Carolina, Kenyamanan di Tepi Danau Toba

Loncat ke Danau Toba dari dermaga kecil ini
Loncat ke Danau Toba dari dermaga kecil ini.

Bulan Maret lalu saya berkesempatan untuk berkeliling di provinsi Sumatera Utara, mulai dari Medan, Pematangsiantar, Parapat, sampai Berastagi. Saya pun mengunjungi ikon provinsi Sumatera Utara yang namanya sudah tersohor di Indonesia bahkan dunia, yaitu Danau Toba dan Pulau Samosir.

Danau Toba sudah menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi turis asing. Tak heran, bila fasilitas pariwisata di Danau Toba sudah cukup memadai, termasuk fasilitas penginapan dan hotel yang lumayan banyak dan bervariasi.

Hotel Carolina adalah salah satu hotel yang tersedia di Pulau Samosir. Letaknya di Tuktuk Siadong. Saat saya mengunjungi Danau Toba, saya menginap dan bermalam di hotel ini. Saya mendapatkan informasi tentang hotel ini dari internet. Saat saya mencari beberapa referensi hotel di internet terdapat banyak pilihan, namun Hotel Carolina yang berhasil menarik perhatian saya. Mulai dari pertimbangan harga, tempat dan pemandangan di sekitarnya.

Suasana kamar "Hill 2"
Suasana kamar “Hill 2”.

Menuju Danau Toba saya berangkat dari Parapat, dari Parapat menyeberang menggunakan kapal ke pulau Samosir tepatnya di daerah Tuktuk Siadong. Saat kapal yang saya naiki hendak merapat di Tuktuk Siadong, pemandangan Pulau Samosir dan keindahan Danau Toba terlihat amat menenangkan. Kapal merapat di Tuktuk Siadong tepat di dermaga milik Hotel Carolina. Saya menuruni kapal dengan langkah perlahan. Sesaat setelah turun saya langsung menuju lobi hotel.

Hotel Carolina tidak jauh dari dermaga kapal, tinggal jalan menuju ke atas sudah terlihat lobi hotel dengan arsitektur Batak yang amat khas. Jenis kamar di Hotel Carolina terdiri dari kelas ekonomi yang terdiri dari “Economy – Hill 1”, “Economy – Hill 2” dan “Economy – Beach”. Kemudian, kelas “Standard” yang terdiri dari rooms “Standard – Hill”, “Standard – Beach”, dan kelas “Deluxe”, yang terdiri dari kamar “Deluxe – Hill” dan “Deluxe – Beach”. Perbedaan Hill dan Beach terletak pada lokasi, kamar-kamar “Hill” terletak agak di atas seperti di bukit, sedangkan kamar-kamar “Beach” hampir terletak di tepi danau dengan pemandangan Danau Toba yang terlihat amat jelas.

Pekarangan hotel
Pekarangan hotel.

Menikmati pesisir Danau Toba
Menikmati pesisir Danau Toba.

Saat saya sampai di hotel Carolina, saya tidak sempat memesan sebelumnya. Saya dan teman saya sudah niat langsung pesan di tempat saja. Sayangnya, kala itu sudah banyak kamar yang penuh, tinggal tersisa kelas “Hill 2”, saya pun menginap di kamar kelas ini. Saya menginap sekamar berdua dengan teman saya dengan harga Rp150.000. Kamarnya kecil, namun bersih dan nyaman. Di dalamnya ada dua tempat tidur yang terpisah. Ada dua sofa juga yang terletak di depan jendela dengan pemandangan keluar langsung ke bukit yang terlihat juga Danau Toba walau tidak begitu jelas.

Hari sudah semakin sore, setelah menaruh dan merapikan barang bawaan di kamar, saya dan kawan saya bergegas menuju tepian Danau Toba yang dikelola oleh Hotel Carolina. Hanya tamu Hotel Carolina yang boleh masuk ke tempat ini. Tempatnya sangat nyaman, di tepian pinggir danau dengan nuasa di pinggir pantai. Banyak orang berenang di sini, yang juga dilengkapi dermaga dan papan loncat untuk terjun di Danau Toba. Terdapat banyak gazebo dengan bangku kayu yang tersusun rapi untuk duduk bersantai memandangi Danau Toba.

Esok paginya, saya menyantap sarapan di restoran hotel, tempatnya dekat dengan lobi hotel. Restoran yang amat nyaman, lumayan luas, ada fasilitas live music juga. Tersedia berbagai masakan yang harganya tidak terlalu mahal, mulai dari masakan barat, Indonesia dan Cina. Rasanya sangat lezat.

Di antara fasilitas yang bagus dan nyaman, ada satu lagi fasilitas yang menjadi nilai tambah di Hotel Carolina, yaitu fasilitas penyewaan mobil dan motor. Jadi, pengunjung hotel yang ingin berkeliling di Pulau Samosir tidak perlu khawatir kesulitan kendaraan. Saya menggunakan fasilitas penyewaan ini yaitu menyewa sepeda motor yang saya gunakan untuk berkeliling di Pulau Samosir, harga sewanya tidak terlalu mahal, hanya Rp40.000/per hari.

Secara keseluruhan Hotel Carolina di mata saya sangat positif. Tempatnya nyaman, indah di tepi Danau Toba, fasilitas untuk berenang di Danau Toba juga nyaman dan aman. Fasilitas kamar juga nyaman dan harga tidak terlalu mahal, dan untuk urusan makanan tidak perlu khawatir untuk memilih makanan enak.

Bila anda mempunyai rencana ke Danau Toba dan Pulau Samosir, dan ingin melihat indahnya danau dari tepian Danau Toba, sambil berenang untuk merasakan kesegaran air danau, pilihlah hotel yang terletak tepat di tepi danau Toba dan memiliki lokasi yang aman untuk berenang, Hotel Carolina salah satunya.

Hotel Carolina
Tuktuk Siadong – Pulau Samosir
Sumatera Utara
Indonesia 22395
Tel.: +62 625 451210 / +62 625 451100
Faks.: +62 625 451250
E-mail: carolina@indosat.net.id


Erişte

Erişte (eh-rish-te), pasta asal Turki yang dipotong-potong pendek, dibuat tanpa telur. Dimasak dengan daging atau keju. Di Turki utara, hidangan ini dimasak di oven.

(via EatingTurkey)


What to pack to travel the world.

(via Brainpickings)


How travel keeps our life in perspective

This is one of the many gifts that travel gives us. We always say “try to put yourself in their shoes to understand.” But when your travels necessitate that you do so — be it for a moment, or a week or a sleepless night in a tiny river town — the comparison solidifies into something you can come back to, time and time again.

Kutipan dari artikel oleh Jodi Ettenberg.


Lipdub dengan 300 Anak-Anak Kamboja

Jean-Luc Nguyen adalah warga negara Perancis yang berkelana keliling dunia pada tahun 2010, setelah empat tahun berkecimpung di bidang teknologi informasi dengan perusahaannya sendiri. Ketika mendirikan perusahaannya pada tahun 2006, dia berusia 22 tahun. Tahun 2010, ia menutup perusahaannya sendiri dan menggunakan uangnya untuk keliling dunia, pergi ke berbagai negara seperti Kamboja, Myanmar, Thailand, Uni Emirat Arab, Jepang dan lain sebagainya, dengan tujuan utama mendokumentasikan perjalanannya melalui film pendek atau video singkat. Ia mengaku passion utamanya adalah filmmaking.

Ketika di Kamboja, ia tinggal cukup lama dan menilai masyarakat Kamboja sangat ramah walaupun dijerat kemiskinan. Bekerja sama dengan The Learning Foundation, sebuah organisasi nirlaba di sana yang membantu pendidikan anak-anak didik di Krasang Reloung Primary School di kota Siem Reap, Jean membantu mendorong semangat anak-anak tersebut dengan mengarahkan dan menciptakan sebuah video lipdub yang berlokasi di sebuah kuil di Angkor. Lipdub adalah video kolaboratif yang dimainkan banyak orang, dengan satu lagu tema, lalu dinyanyikan secara dubbing secara sambung-menyambung. Saksikan videonya di bawah ini.

Ini video di balik layarnya.


Etika Naik Transportasi Umum

Kita semua tahu dan pernah mencoba berbagai jenis transportasi umum: bis, kereta api, kereta listrik, kapal feri… atau ada yang lebih canggih lagi?

Pergi ke negara yang transportasi umumnya baik, terutama negara maju, menuntut kita untuk punya sedikit etika dalam berbagi tempat dan jalan umum.

Di Indonesia, etika naik transportasi umum ini masih samar, dan cenderung menyesuaikan keadaan dan situasi. Jika kita naik atau menyetir kendaraan pribadi, kita diatur oleh peraturan lalu lintas. Namun, naik transportasi umum juga ada etikanya. Sistem transportasi massal akan mengumpulkan ribuan bahkan ratusan ribu orang dalam sehari. Sebagai contoh ekstrim, di stasiun kereta api Shinjuku di Tokyo, sehari ada lebih dari tiga juta penumpang berlalu-lalang di sana.

Tentu, setiap skala jaringan transportasi umum punya tuntutan yang berbeda-beda. Saya hanya punya referensi beberapa kota. Tentu, pengalaman saya tidak se-ekstensif mereka yang tinggal di kota-kota tersebut. Tapi, paling tidak ada beberapa hal yang bisa saya intisarikan dari masing-masing kondisi transportasi umum yang saya jumpai.

Jalan di sebelah kiri

Setiap melalui jalan yang berpapasan dengan arus pejalan kaki dari arah berlawanan, selalu jalan di sebelah kiri, apalagi jika kita berjalan lambat. Jika ingin mendahului, pastikan antrian di depan tidak panjang atau ada resiko kita akan mengganggu arus pejalan kaki dari arah berlawanan. Tentu, ada beberapa negara yang mengatur untuk tetap berjalan kaki
di sisi kanan.

Usahakan selalu dahulukan mereka yang turun dari kendaraan

Memang ini tidak selalu mungkin dalam kondisi padat, tetapi sebisa mungkin, berilah jalan untuk mereka yang akan turun dahulu dari kendaraan umum.

Masuklah ke bagian paling dalam kendaraan umum yang penuh

Usahakan masuk ke bagian paling dalam jika kendaraan tersebut penuh, sebisa anda, kecuali jika anda ingin keluar lebih cepat, misalnya di halte atau stasiun berikutnya.

Beri tempat duduk pada yang membutuhkan

Memang tidak semudah prakteknya, tapi usahakan untuk memberi tempat duduk pada wanita, kelompok lanjut usia, mereka yang membawa bayi atau anak kecil, dan yang membutuhkan lainnya, misalnya yang sakit.

Tidak membawa banyak barang atau barang makan tempat

Satu tas cukup, itu pun jangan terlalu besar hingga menghalangi orang lain. Kalau banyak bawa barang, naik taksi saja.

Antri dengan baik

Antri harus di tempat yang tepat, yaitu di belakang antrian yang sudah ada, atau yang sudah ditentukan. Jangan membuat antrian baru kecuali diinstruksikan.

Siapkan uang

Lebih baik uang pas dan sudah disiapkan, jadi tidak menunda perjalanan orang lain di belakang anda. Jangan habiskan waktu di depan loket tiket.

Taruh tas di lantai

Jika membawa tas atau bawaan lain, usahakan selalu menaruhnya di lantai, bukan di tempat duduk. Tempat duduk yang anda isi tas itu sebenarnya bisa dipakai orang lain.

Semoga bermanfaat!


Sebuah Kuil bagi Sang Surya

Kuil dari kejauhan
Kuil dari kejauhan.

Nun jauh di Orissa/Odisha, sekitar dua jam perjalanan dari kota Bhubaneswar, sebuah kuil megah berdiri di daerah yang dinamakan Konark. Konark yang juga dikenal dengan nama Konaditya atau Arkakshetra berasal dari turunan dua kata; “Kona” yang berarti sudut dan “Arka” yang berarti surya.

Berbagai misteri dan cerita mengiringi perjalanan saya memasuki kuil ini. Konark tidak dapat dipisahkan dengan cerita Samba, anak dari Krishna yang menderita lepra dan menjadi sembuh akibat bantuan dari dewa matahari. Lambat laun makin terurai legenda Dharmapada mengenai seorang raja dari abad ke-13 Masehi bernama Narasimhadeva I yang memerintahkan pendirian sebuah kuil bagi dewa matahari. Konark yang juga dikenal sebagai pagoda hitam dibangun dengan bulir-bulir keringat 12.000 pemahat terbaik di wilayah ini yang bekerja di bawah ancaman hukuman mati bila tidak mampu menyelesaikan perintah raja. Kebengisan Narasimha makin terasa saat perintah penyelesaian kuil dipercepat dari jadwal. Sri Samantaray sebagai kepala pemahat mengakui ketidaksanggupannya, sehingga berakhir dengan pemecatan. Kisah bergulir di mana kepala pemahat yang baru bernama Bisu akhirnya berhasil menyelesaikan pembangunan kuil, namun satu hal tertinggal, mahkota dari kuil (“kalasa“) selalu gagal diletakkan di tempatnya. Tidak seorang pun pemahat mengetahui solusinya.

Pintu gerbang
Pintu gerbang.

Sebelum pagi tiba, kuil harus sudah harus diselesaikan. Alkisah seorang anak berusia 12 tahun, anak dari Bisu memberanikan diri untuk menolong. Dalam pemikirannya, ia mengetahui solusi bagaimana mahkota diletakkan setelah mempelajari manuskrip kuil. Ia pun mendaki bangunan kuil dan meletakkan kalasa di tempatnya tepat di penghujung malam. Berita ini sampai ke telinga raja dan menyebabkan ketakutan di antara para pemahat yang mengira raja mungkin akan marah bila mengetahui kuil justru diselesaikan oleh orang lain. Sebagai konsekuensi, bocah tersebut, Dharmapada, akhirnya melakukan bunuh diri agar raja tidak menghukum mati pemahat lain. Raja yang mendengar hal ini langsung merasa bahwa kuil ini membawa sial (“asuva“) dan seluruh penjuru negeri diperintahkan untuk tidak menyembahnya.

Legenda Dharmapada bukanlah satu-satunya cerita yang konon menyebabkan runtuhnya kejayaan kuil ini. Sebuah kisah narasi dari Sri Radhanath Ray mengungkapkan seorang sakti bernama Sumanyu Risi mengutuk dewa matahari karena menggoda anak perempuannya yang bernama Chandrabhaga. Para sejarawan sendiri lebih mempercayai bahwa penyerangan Kalapahad lah yang melatarbelakangi kehancuran kuil ini. Sebagai seorang raja muslim, penyerangan kuil dimulai dengan penghancuran Dadhinauti yang menyebabkan kuil roboh dan berbagai dindingnya hancur. Pahatan dewa surya berhasil diselamatkan para pandeta di Konark denga cara menyimpannya beberapa tahun di bawah pasir dan selanjutnya dipindahkan ke kuil Jaganath di Puri. Cerita lain mengungkapkan patung dewa ini sekarang tersimpan di museum nasional di Delhi. Pemindahan figur dewa dari Konark ini menyebabkan Konark tidak lagi dianggap sebagai tempat untuk ziarah bagi pemujanya saat itu dan kehilangan kejayaannya. Konark menyepi menjadi sebuah runtuhan kuil yang tersembunyi selama beberapa tahun lamanya di balik hutan di Orissa.

Sosok campuran singa, gajah dan manusia
Sosok campuran singa, gajah dan manusia.

Aura misteri semakin kental saat saya memasuki gerbang kuil ini dan menyelami secara dekat bangunan megah ini. Kedua pahatan berwujud seperti singa menyambut saya di muka gerbang ini. Posisi patung singa ini mencengkeram gajah yang sedang menduduki pahatan berwujud manusia. Dipercaya bahwa singa melambangkan kesombongan dan gajah melambangkan uang, sehingga keduanya lah yang mampu menghancurkan manusia. Struktur Konark yang kokoh berpadu harmonis dengan dalamnya filosofi dalam arsitektur yang terkubur di dalam bebatuan yang membangunnya. Konark berwujud seperti sebuah kereta dengan 12 pasang pahatan roda raksasa dan tujuh patung kuda (hanya satu yang selamat dari reruntuhan), sebagai pernyataan simbolis suatu kendaraan dewa surya. Kekuatan misteri Konark bagaikan ucapan selamat datang bagi saya yang tertatih menaiki anak tangganya yang lumayan melelahkan. Konark bermakna lebih dari sekedar bangunan bagi sang surya. Sebuah filosofi Tantrisisme mewarnai dinding kuil ini dalam bentuk pahatan naga dengan segala wujudnya. Sepanjang dinding Konark membisikkan cerita Negara yang diperintah raja Naga yang berwujud ular berkepala tujuh berselang seling dengan pahatan penyatuan pasangan manusia yang terkadang dipisahkan oleh roda kehidupan yang merupakan perlambang dari kendaraan sang dewa surya.

Sosok naga
Sosok naga.

Wujud pahatan sosok naga yang berhamburan di Konark membangkitkan suatu tanya dalam diri saya tentang apakah wujud ini merupakan apresiasi keberadaan dunia lain yang diperintah naga atau merupakan suatu perwujudan Rahu dan Ketu yang merupakan raksasa dalam astrologi Hindu; yang dipercaya menelan matahari atau bulan sehingga menyebabkan gerhana. Entahlah. Bahkan pemandu saya tidak bisa menjawabnya.

Berbagai pahatan erotis Kamasutra antara sepasang manusia (“maithuna“) membuai kedua mata saya bagaikan alunan musik Kanya yang mengiringi langkah saya memasuki bangunan utama kuil ini. Aura misteri pun semakin dalam terasa. Pahatan Kamasutra di Konark memang tidak sehalus dan sedetil di kuil Khajuraho, namun sosoknya yang berukuran lebih besar dan lebih tinggi membuatnya seakan “berteriak” untuk meyakinkan keberadaannya. Maithuna merupakan satu dari lima komponen dalam ritual Panchamakara yang bertujuan untuk mencapai spiritualitas tertinggi. Suatu pemikiran yang cukup menarik bila dikaitkan dengan teori para ahli kuno yang mengisyaratkan bahwa bintang juga hadir secara berpasangan, walau pasangan dari dewa surya tidak diketahui hingga kini.

Dinding kuil dihiasi dengan berbagai pahatan geometris, bunga, penunggang kuda, gajah, aktivitas berburu dan juga ketiga wujud sang surya yang diposisikan sedemikian rupa untuk menangkap sinar pada saat pagi, siang, dan senja.

Konark menyiratkan perjalanan waktu yang berada dalam pengaruh dewa matahari. Ketujuh kuda yang “menarik” kuil ke arah timur mereprestasikan jumlah hari dalam seminggu, sedangkan ke-12 roda kehidupan menyiratkan 12 bulan dalam setahun. Roda raksasa berdiameter sekitar 10 kaki ini memiliki delapan palang yang menyiratkan kedelapan tahapan dalam kehidupan seorang wanita.

Bagian depan kuil utama
Bagian depan kuil utama.

Perpaduan erat antara misteri, legenda, arsitektur, dan kemegahan Konark membawa saya pada dunia lain yang mungkin maknanya di luar batas pemahaman yang kita miliki. Namun demikian berada di sini, membuat saya berusaha mengerti mengapa saat itu Dharmapada bersikeras untuk membantu penyelesaian kuil megah yang pernah ada ini. Seorang bocah yang cukup naif, yang memiliki keberanian untuk menyelamatkan hidup orang lain dengan mengorbankan dirinya sendiri. Konark bukanlah sekedar cerita mengenai kamasutra atau dewa surya, namun lebih kepada makna pengorbanan hidup yang hakiki. Legenda Dharmapada mungkin terkubur dalam reruntuhan kuil, namun namanya tetap menghiasi cerita rakyat dan menjadi aspirasi seluruh pemahat muda hingga kini.


Berenang Bersama Ubur-Ubur Danau Kakaban, Kalimantan Timur

Dermaga Danau Kakaban
Dermaga Danau Kakaban.

Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Letaknya tidak jauh dari Pulau Derawan. Pulau Kakaban adalah salah satu dari total 31 pulau yang tergabung dalam Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Pulau Kakaban masih cenderung murni dan jarang dikunjungi orang karena lokasi jauh terpencil dan belum ada sarana transportasi yang memadai layaknya tempat wisata alam lainnya.

Danau ini agak berbeda dan unik dengan kebanyakan danau yang ada di Indonesia, di dalam danau ini terdapat ubur-ubur yang tidak menyengat. Berdasarkan informasi dari kawan saya, ubur-ubur seperti ini hanya terdapat di dua tempat di dunia, yaitu di Danau Kakaban, Kalimantan Timur dan Jellyfish Lake di Palau, Mikronesia di kawasan tenggara Laut Pasifik.

Kami bergaya di dermaga
Kami bergaya di dermaga.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh Kuenen, peneliti dari Belanda saat melakukan ekspedisi Snellius I pada tahun 1929-1933, melakukan penelitian hidrografi dan geologi dengan mengumpulkan sedimen dasar laut. Menurutnya, Pulau Kakaban terbentuk dari atol yang terangkat dari lempeng samudra dari kedalaman 200-300 meter. Pada awalnya terdapat daratan yang dikelilingi atol, lama kelamaan daratan tenggelam ke dasar laut karena proses geologi. Karang yang membentuk atol ini semakin tinggi, sementara daratan di bagian tengahnya semakin tenggelam sehingga sekarang ini atol pulau Kakaban mencapai ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut. Dan atol setinggi ini diperkirakan terbentuk selama 1-2 juta tahun.

Perjalanan menuju Pulau Kakaban saya awali dari Pulau Derawan karena kebutulan kala itu saya menginap di sebuah penginapan di Pulau Derawan. dari Pulau Derawan memakan waktu empat puluh lima menit menggunakan perahu cepat.

Sesampainya di dermaga Pulau Kakaban saya disuguhi pemandangan laut yang sangat indah, airnya biru dan bening, dasar lautnya terlihat dari dermaga. Sejauh mata memandang terhampar laut biru yang menenangkan mata. Dari dermaga saya harus menaiki tangga kayu yang sudah disediakan pengelola setempat. Danau Kakaban terletak ditengah pulau dan saya harus melewati tangga yang dikelilingi pepohonan bakau besar yang membentuk hutan mangrove. Jalan di tanngga ini harus serba hati-hati karena kondisinya licin.

Saat saya mengunjungi tempat ini saya berenang dan menyelam ke dasar danaunya untuk bertemu ubur-ubur unik ini. Danaunya amat luas dan semakin ketengah semakin dalam, walaupun saya bisa berenang saya tetep berenang membawa pelampung untuk jaga-jaga saja bila saya lelah.

Saya hanya membawa pelampung dan kaca mata renang saja, tidak membawa fin atau kaki katak. Satu hal yang harus diingat saat berenang di danau ini adalah jangan menggunakan kaki katak atau fin, karena benda ini akan membahayakan ubur-ubur bila terkena atau tertendang fin saat kita berenang, dikhawatirkan banyak ubur-ubur yang mati, jadi berenanglah dengan hati-hati dan tetap menjada kelestarian biota Danau Kakaban.

Saya bersama ubur-ubur
Saya bersama ubur-ubur.

Ubur-ubur di Danau Kakaban
Ubur-ubur di Danau Kakaban.

Tak sulit untuk bertemu dengan ubur-ubur lucu ini karena jumlahnya amat banyak, mungkin ratusan, atau bahkan ribuan. Bagi saya terdapat sensasi unik tersendiri berenang bersama ubur-ubur ini, saya sempat memegangnya terasa seperti agar-agar, kenyal-kenyal menggemaskan. banyak ubur-ubur yang berkeliaran di depan mata saya, berenang kesana kemari. dan Fakta unik lainnya adalah ubur-ubur ini berenang dengan cara mundur.

Saat saya lelah saya mengapungkan diri saya sejenak di permukaan air danau dengan pelampung sambil membayangkan sungguh luar biasa bentang alam di Indonesia. Pulau dan Danau Kakaban memang tercipta sebagai anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia. Tempat seperti Danau Kakaban harus dirawat dan di jaga sebagai kawasan konservasi, harus dikelola secara arif dan bijaksana oleh para pihak terkait, agar kawasan tersebut tetap lestari dan berkesinambungan hingga waktu-waktu yang akan datang. Sebagai warisan yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Pengalaman yang tak terlupakan berenang di Danau Kakaban. Setelah puas berenang di Danau Kakaban saya kembali ke Dermaga Pulau Kakaban, tiba saatnya bagi saya untuk menyelami keindahan laut disekitar Pulau Kakaban, dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Pulau Sangalaki.


Pulau Kemaro, Pulau Kecil di Tengah Sungai Musi

Pagoda di Pulau Kemaro
Pagoda di Pulau Kemaro

Saat saya berkunjung ke Palembang, saya mengunjungi suatu pulau unik yang terletak di tengah Sungai Musi, Pulau Kemaro namanya. Kemaro dalam bahasa Palembang berarti “kemarau”. Menurut masyarakat Palembang, nama tersebut diberikan karena pulau ini tidak pernah tergenang air. Ketika air pasang besar dan volume air Sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tidak akan kebanjiran dan akan terlihat dari kejauhan terapung di atas perairan Sungai Musi.

Pulau Kemaro sudah menjadi tempat plesiran terkenal di Palembang. Pulau ini terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan. Untuk menuju Pulau ini saya menggunakan kapal kecil yang saya sewa dari Dermaga bawah Jembatan Ampera yang lokasinya bersebelahan dengan halte Trans Musi Ampera. Untuk sampai ke pulau ini, dari dermaga saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit menyusuri arus liar Sungai Musi.

Sesaat kapal yang saya naiki masih melaju di Sungai Musi dan belum berlabuh di Dermaga Pulau Kemoaro, Pagoda besar di Pulau Kemaro sudah bisa terlihat, saya melihat kemegahan pagoda dari kejauhan.

Mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro
Mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro

Saat saya menapakkan kaki di pulau ini, saya merasakan nuansa Tionghoa yang kental. Ini bisa dilihat dari kemeriahan warna dan kemegahan pagoda dan kelenteng yang menghiasi pulau tersebut. Pagoda Pulau Kemaro dibangun pada 2006, tingginya mencapai sembilan lantai. Pagoda ini merupakan pagoda tertinggi di Palembang, dan kini Pagoda ini telah menjadi ikon pulau Kemaro. Nuansa Cinanya begitu amat kental. Bagi saya tidak perlu jauh-jauh pergi ke negara China untuk lihat Pagoda, Di Indonesia ternyata juga ada, saya cukup mampir ke Pulau Kemaro sudah bisa melihat pagoda bergaya dan bernuansa China.

Selain pagoda, Di Pulau Kemaro terdapat sebuah kelenteng Buddha yang selalu dikunjungi penganutnya, terutama pada perayaan Cap Go Meh. Tidak hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa di Kota Palembang, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Di Pulau Kemaro terdapat sebuah batu besar yang bertuliskan mengenai sejarah Pulau Kemaro. Dari tulisan tersebut saya mengetahui sejarah dan legenda Pulau Kemaro. Legenda Pulau Kemaro menceritakan kisah cinta antara Putri Raja Palembang, Siti Fatimah dengan saudagar kaya sekaligus pangeran asal negeri China, Tan Bun Ann. Keduanya saling jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Siti Fatimah mengajukan syarat pada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Tan Bun Ann kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas dan restu pada orang tuanya. Tentu saja permintaan ini disetujui orang tua Tan Bun Ann. Untuk menjaga emas tersebut dari bajak laut, guci berisi emas tersebut ditutupi dengan asinan sawi. Sesampainya di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun Ann terdorong untuk memeriksa isi guci. Melihat isinya hanya asinan sawi, ia pun kesal dan membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, guci terakhir yang ia lempar tidak sengaja pecah. Di situlah ia melihat keping-keping emas. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah kuil.

Hal unik lain dari Pulau Kemaro adalah keberadaan Pohon Cinta. Pohon Cinta ini adalah sebuah beringin yang sudah cukup tua dengan ranting yang sangat rimbun. Konon, bila seseorang menuliskan nama dirinya dan pasangannya di pohon itu, maka jalinan cinta mereka akan semakin langgeng. Sebelum bergegas pulang kembali ke Jembatan Ampera, saya menghampiri pohon ini, terlihat pohon begitu besar dan rimbun. Terkait dengan mitos pohon itu, saya tidak mencoba menuliskan nama saya di pohon tersebut, karena saya kurang percaya dengan hal-hal yang agak berbau mitos seperti itu.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil