Artikel-artikel dari bulan Juli 2013

Bergamo, Kota Kecil di Italia

Saya pulang dari perjalanan di Bergamo dengan senyum lebar―selebar brioche yang setiap hari saya makan untuk sarapan.

Bergamo adalah kota kecil berlokasi sekitar 42km dari Milan. Kotanya terbagi dua: città alta dan città bassa. Città alta atau daerah atas berisi bangunan bersejarah, sedangkan città bassa atau daerah bawah berisi perumahan dan pusat perbelanjaan yang lebih modern.

Stasiun kereta ada di città bassa. Saya naik kereta lokal dari Milan, memakan waktu 50 menit dan ongkos 6 Euro.

Città bassa
Città bassa.

Bergamo bukan tujuan wisata populer turis mancanegara. Masih kalah jauh dibanding kota lain seperti Roma, Venice dan Florence. Hal ini rasanya yang membuat perjalanan tambah menyenangkan, tidak ada gerombolan turis seperti di kota-kota populer, namun tetap bisa merasakan pengalaman berada di Italia.

Sejak maskapai berbiaya rendah Ryanair menjadikan bandara Bergamo Orio al Serio sebagai salah satu pusat jaringannya (hub), pertambahan pengunjung di kota ini meningkat cukup banyak. Ryanair telah menghubungkan Bergamo dengan banyak kota di Eropa.

Tiket pulang pergi Ryanair dari bandara Frankfurt-Hahn ke Bergamo misalnya, sekitar 50 Euro. (Sebagai perbandingan, saya menggunakan Lufthansa dari bandara Frankfurt ke Milan Malpensa pulang pergi menghabiskan 120 Euro.) Dengan tiket semurah itu, semakin banyak turis datang mengunjungi Bergamo.

Populasi Bergamo hanya sekitar 120 ribu jiwa, namun jumlah pengunjung tahunan bisa sampai enam juta. Maskapai seperti Ryanair diberitakan membantu perekonomian Bergamo, sekalipun perekonomian Italia secara keseluruhan sedang menurun.

Saya sewa satu apartemen melalui Airbnb. Harga per malam lebih murah daripada hotel maupun penginapan bed and breakfast. Namun lokasi apartemen di bassa, sedangkan daerah wisata di alta. Dari bassa ke alta sebenarnya tidak jauh karena kota ini kecil. Bisa jalan kaki 20 menit (pilihan bijaksana setelah makan seporsi besar pasta), atau dengan bis. Bisa juga kombinasi jalan kaki dan cable car.

Di tengah-tengah città alta ada Piazza Vecchia, termasuk square paling indah di Eropa. Ada tiga bangunan utama di alta: katedral Bergamo, katedral Santa Maria Maggiore dan kapel Calleoni. Calleoni adalah prajurit upahan abad ke-15 yang dikenal sangat macho (ehem, konon dia memiliki tiga testis). Pada malam hari setiap pukul 10 kita bisa dengar menara lonceng di alta berbunyi 100 kali. Dulu ini untuk menandakan penduduk bahwa mereka harus kembali ke alta sebelum gerbang yang memisahkan alta dan bassa ditutup.

Pemandangan dari alta juga indah sekali. Kita bisa melihat pemandangan seluruh Italia bagian utara dari atas. Berada di sana, dengan tiupan angin sepoi-sepoi dan gelato di tangan, benar-benar menenangkan dan membahagiakan.

Pemandangan dari Castello di San Vigillio, città alta
Pemandangan dari Castello di San Vigillio, città alta.

I came to Italy pinched and thin, but soon fills out in waist and soul.” kata Elizabeth Gilbert dalam bukunya Eat, Pray, Love.

Satu bagian buku tersebut menceritakan perjalanan Elizabeth di Italia, yang didominasi oleh kegiatan belajar bahasa dan makan makanan Italia. “I love my pizza so much, in fact, that I have come to believe in my delirium that my pizza might actually love me, in return.”

Selain pizza, ada beberapa makanan khas Bergamo yang patut dicoba. Yang ada di daftar saya kemarin: casoncelli, polenta, keju taleggio dan gelato rasa stracciatella.

Casoncelli adalah pasta yang diisi campuran daging giling, telur, bayam dan remah roti. Pasta ini populer di bagian utara Italia. Sedangkan Polenta, pada dasarnya adalah bubur jagung. Polenta ada juga versi manisnya, disebut Polenta e Osei. Saya tidak suka versi manis ini karena rasanya seperti memakan sesendok penuh gula!

Keju taleggio disarankan oleh teman Couchsurfing. Aromanya kuat, teksturnya lembek dan pinggirannya tipis. Untuk penggemar keju seperti saya, ini luar biasa enaknya.

Gelato stracciatella
Gelato stracciatella.

Terakhir, gelato rasa stracciatella yang ekuivalen dengan rasa chocolate chip. Gelato rasa ini sebenarnya bisa ditemukan di seluruh penjuru Italia, tapi konon ditemukan/dibuat pertama kali di Bergamo tahun 1961 oleh Enrico Panattoni di gelateria La Marianna. Gelateria La Marianna masih ada sampai sekarang dan lokasinya di alta. Orang Italia menganggap gelato adalah sesuatu yang wajar untuk dimakan pada jam 9 pagi, yang tentu saja saya sambut dengan senang hati.

Kota kecil seperti Bergamo tidak kalah indah dan makanannya juga tidak kalah istimewa dari kota-kota populer lainnya. Menghabiskan waktu sehari atau dua hari di sini cukup menyenangkan. Walaupun jumlah turis di Bergamo semakin meningkat, namun tetap relatif lebih sepi dari Milan, Venice dan Roma. Bergamo bisa jadi alternatif tujuan wisata di Italia, terutama kalau bosan dengan keramaian dan lelah sikut-sikutan dengan turis lain.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Museum Kereta Api Ambarawa

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengunjungi Semarang, tapi dari kesekian kalinya saya ke Semarang selalu tidak sempat untuk mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa. Ini semua karena pengaruh letak Ambarawa yang agak jauh dari pusat kota Semarang.

Kali ini saya benar-benar niatkan untuk ke sana. Pagi-pagi buta saya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta menunggu penerbangan ke Semarang. Kala itu ada banyak rencana dan kegiatan yang akan saya lakukan di Semarang, tapi satu hal wajib yang harus terlaksana adalah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa.

Tampak depan museum
Tampak depan museum.

Interior museum
Interior museum.

Sekitar pukul 6.30 pagi saya sudah mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang dan bergegas menuju Ambarawa. Untuk menuju Ambarawa saya tidak menggunakan taksi atau jasa shuttle, tapi bis Trans-Semarang atau BRT.

Saya menunggu bis Trans-Semarang di halte Kalibanteng. Tidak terlalu lama menunggu, sekitar lima menit kemudian bis sudah datang. Saya pun menaiki bus dan membayar tarif sebesar Rp3.500. Bila ingin menuju Ambarawa, dengan gamblang petugas BRT menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada rute langsung ke Ambarawa, tapi dia menyarankan untuk tetap naik bis menuju lokasi terdekat ke Ambarawa, nanti dari tempat terdekat itu perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan bis biasa.

Peralatan teknis perkeretaapian
Peralatan teknis perkeretaapian.

Halaman museum yang asri
Halaman museum yang asri.

Dari shelter bis Trans-Semarang Banyumanik, bis ke arah Ambarawa tarifnya hanya Rp5.000. Sebelum naik bis saya mengingatkan keneknya bahwa saya akan turun di pertigaan Monumen Palagan.

Sekitar jam 10.00 saya sampai di Monumen Palagan. Sebenarnya perjalanan normal menuju Ambarawa bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu setengah jam, namun kala itu ada insiden kecelakaan antar truk yang menyebabkan jalan menjadi macet.

Sesampainya di Monumen Palagan, untuk menuju Museum Kereta Api Ambarawa bisa jalan kaki sebentar sekitar sepuluh menit, tapi karena cuaca kala itu sudah cukup terik saya memutuskan untuk naik angkot bewarna hijau dengan tarif Rp2.000 dan turun di depan Museum Kereta Api Ambarawa.

Saat tiba di depan museum saya melihat spanduk pengumuman bahwa Museum Kereta Api Ambarawa sedang dalam masa renovasi. Dalam pengumuman tersebut sebenarnya dalam masa renovasi museum ditutup, tapi entah mengapa saat saya melihat ke arah dalam museum suasana tetap ramai pengunjung, dan juga banyak bus pariwisata parkir di halaman depan museum. Saya membuat kesimpulan sendiri bahwa museum tidak ditutup dalam masa renovasi ini.

Di dalam museum terdapat banyak poster yang menjelaskan mengenai sejarah Stasiun Kereta Api Ambarawa. Menurut sejarah, pada awalnya tujuan dibangunnya stasiun Ambarawa ini adalah untuk keperluan mengangkut tentara Belanda pada masa pemerintahan kolonial. Stasiun ini dibangun atas perintah Raja Willem I. Tahun 1976 Stasiun Ambarawa dijadikan sebagai tempat melestarikan lokomotif uap.

Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan
Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan.

Lokomotif 30023 yang tampak amat tua
Lokomotif 30023 yang tampak amat tua.

Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi
Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi.

Saya melihat ke sekeliling museum, terdapat banyak lokomotif tua terparkir di sekitarnya, sebagian masih ada yang bisa digunakan dan sebagian sudah harus pensiun beroperasi. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Lokomotif itu sangat terkenal pada zamannya, walaupun umurnya sudah tua sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.

Sayangnya saya tidak bisa mencoba menaiki kereta wisata itu karena ketinggalan. sesaat setelah saya masuk museum, kereta uap baru saja jalan, saya pun ketinggalan kereta uap. Namun saya tidak lantas kecewa karena toh tujuan utama saya datang ke museum ini sebenarnya hanya ingin melihat sejarah kereta api di Indonesia sekaligus ingin melihat lokomotif dan kereta tua sejak zaman kolonial Belanda.

Tempat ini amat direkomendasikan untuk semua orang yang suka wisata sejarah sekaligus wisata alam, para pengunjung bisa naik kereta lori wisata dengan kapasitas 15-20 penumpang yang akan dijalankan menyusuri rel Ambarawa-Tuntang sambil menikmati hijaunya alam Ambarawa sambil mengetahui sejarah kereta api di Indonesia. Untuk info, Rute yang dilayani oleh kereta wisata kuno ini adalah Ambarawa-Bedono dan Ambarawa-Tuntang. Kereta wisata ini biasanya hanya melayani bila jumlah peserta wisata mencapai jumlah tertentu, atau bisa juga melayani rombongan dengan sistem sewa per gerbong.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Di Hampi, Bebatuan Berbicara dalam Kesunyian

Begitu banyak hal yang dikatakan banyak orang, begitu banyak hal yang kita dengar, dan begitu banyak pula hal yang kita bayangkan, namun terkadang pada kenyataannya kita sering mendapati semuanya tidak seindah bayangan yang ada. Semua teori ini tidak berlaku saat saya mencapai Hampi beberapa waktu lalu di musim dingin. Semua hal yang saya lihat amat sangat menakjubkan, lebih dari yang saya bayangkan dan dengar sebelumnya.

Berbekal dengan rasa penasaran, perjalanan saya menuju Hampi diawali dengan penerbangan ke Goa selama dua jam, dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan memakai mobil selama delapan jam menuju Hampi, dengan melewati kota yang disebut Hospet. Sebagai suatu daerah kecil yang berada di bagian selatan dari sungai Tungabhadra di sebuah distrik di Karnataka dan dibatasi gundukan gunung berbatu, Hampi berbeda dengan daerah lainnya. Bagi umat Hindu sendiri, daerah ini amat keramat dan merupakan salah satu tujuan perjalanan religi mereka.

Kuil Virupaksha dari atas bukit Hamakuta
Kuil Virupaksha dari atas bukit Hamakuta.

Lotus mahal
Lotus mahal.

Relief di kuil Vitalla
Relief di kuil Vitalla.

Kolam bertangga
Kolam bertangga.

Perjalanan saya menyusuri Tungabhadra mengingatkan saya akan sebuah cerita kuno yang menyertai alur sungai sungai yang amat keramat di pesisir India Selatan ini. Bukan India namanya kalau setiap inci tempatnya tidak dipenuhi dengan mitos kuno. Alkisah seorang Raja bernama Lord Barah yang merupakan inkarnasi dari Vishnu sedang beristirahat dan dari kedua gigi depannya, keluar dua aliran air yang berbeda. Aliran air dari gigi sebelah kiri disebut Tunga dan yang berasal dari kanan dinamakan Bhadra. Keduanya bersaudara dan menyatu di Kundly membentuk aliran Tungabhadra, yang pada akhirnya akan bersatu dengan aliran sungai Khrishna.

Pemandu saya menuturkan bahwa Tungabhadra sendiri dikenal sebagai Pampa, yang tentu saja tidak bisa dipisahkan dari romantisme Shiva. Pampa adalah anak dari Brahma yang amat memuja Shiva, sehingga Shiva memutuskan untuk menikahinya. Dalam masanya, tempat ini dikenal sebagai Vijayanagara; ibukota dari kerajaan Karnataka yang amat terkenal dalam hal seni dan budayanya. Nama kuno daerah ini adalah Pampa kshetra, Kishkindha-kshetra atau Bhaskara-kshetra.

Memasuki Hampi, kombinasi antara reruntuhan, bukit bebatuan, kuil, perkebunan pisang dan tebu serta persawahan membuat waktu seakan berhenti di depan saya. Hampi memiliki hubungan mitologi yang erat terhadap Ramayana. Menurut cerita epik ini, kerajaan Kishkindha dipimpin oleh kedua kera yang bernama Vali dan Sugriva. Oleh karena terjadi perpecahan di antara keduanya, Sugriva menyingkir dan membawa pasukannya di bawah pimpinan Hanuman. Saat raja iblis bernama Ravana menyandera Sita (istri dari Rama) dan membawanya ke Lanka, Rama dan saudaranya yang bernama Lakshmana datang meminta pertolongan Sugriva setelah ia membunuh Vali. Hanumanlah yang akhirnya mengejar Sita hingga ke Lanka. Saat mengeksplor kota ini, siapapun bisa mencium aura Ramayana hingga ke setiap sudut bangunannya.

Mahanavami dibba
Mahanavami dibba.

Lakshmi-Narasimha
Lakshmi-Narasimha.

Kandang gajah
Kandang gajah.

Adalah sepasang pria Hindu bersaudara bernama Harihara dan Bukka yang menemukan kota Vijayanagar di tahun 1343 dan mereka memerintahnya hingga kesultanan Islam mengalahkan Raja Rama Raya yang memerintah Vijayanagar saat itu di tahun 1565.

Kejayaan masa bersejarah Hampi dan seluruh pertikaian antara Jain, Hindu dan Muslim saat itu tertuang di semua relief kuil dan reruntuhan di wilayah ini. Di Karnataka secara garis besar terdapat tiga tipe arsitektur india yang cukup terkenal, yaitu Vijayanagar, Chalukyan dan Hoysala. Masing-masing memiliki ciri khas sendiri. Keseluruhan arsitektur di Hampi mengikuti gaya Vijayanagar. Pahatannya biasanya besar, detil, namun penggambaran wajahnya tidak sehalus arsitektur Chalukyan atau Hoysala. Kuil bergaya Vijayanagar biasanya memiliki atap dan pilar pradakshina-patha atau lorong yang berliku. Atapnya berbentuk pyramid dan biasanya memiliki aksis barat-timur, dimana kuil akan menghadap ke arah timur. Kalyanamandapa merupakan salah satu gaya yang paling popular. Ditunjukan dengan pilar terbuka mandapa dan di bagian tengah dari ruangan terdapat semacam panggung kecil dengan beberapa anak tangganya.

Kuil Virupaksha merupakan kuil pertama yang membuat langkah saya terhenti. Saya mencapainya setelah menyebrang sungai dengan perahu kecil. Kuil yang masih aktif ini terletak ditengah wilayah yang disebut Hampi Bazaar. Hampi Bazaar sendiri sebuah area terbuka yang dipenuhi reruntuhan pilar di kiri-kanan. Sebagai kuil yang didedikasikan terhadap Virupaksha/Shiva, Dewa Kehancuran, kuil ini merupakan satu diantara lima kuil tertua di India. Kuil ini memiliki gerbang yang cukup lebar dan halaman yang cukup luas. Di sana-sini tampak beberapa peziarah sedang berdoa atau menjemur ornamen ziarahnya. Kuil ini biasanya ramai dikunjungi di bulan Desember, yang dipercaya sebagai saat dimana Pampa dinikahi oleh Shiva. Ritual dimulai dengan mandi di sungai Tungabhadra yang terletak di depan kuil sebelum peziarah memasuki kuil. Di dalam kuil ini konon terdapat sebuah patung sapi berkepala tiga, yang menggambarkan masa kini, masa lalu dan masa depan. Sayangnya saya tidak sempat melihatnya.

Karena saya mencapai Hampi cukup sore, maka sore itu ditutup dengan niat melihat matahari terbenam di atas bukit Hemakuta. Bukit ini tidak jauh dari Virupaksha. Hemakuta merupakan satu dari bukit tertinggi di Hampi, namun demikian bukit ini tidak curam dan di sana-sini terdapat reruntuhan kuil yang memberikan pemandangan skenik yang luar biasa indah. Saya menyempatkan melihat sekitar sebelum memilih tempat strategis untuk melihat senja nantinya. Tampak beberapa turis bule sudah duduk dengan manisnya di tempat yang sudah mereka pilih. Di lokasi bukit ini, tampak Sasivekalu Ganesha, sebuah patung Ganesha yang terpahat dalam ukuran kecil dengan pahatan ular yang melilit di daerah pingganya untuk melindungi daerah perutnya yang besar. Di balik patung ini terdapat pahatan seorang wanita yang memeluknya dari belakang, yang kemungkinan adalah ibunya, Parvati (istri dari Shiva) Tidak jauh dari patung ganesha kecil, terdapat kuil dengan patung Ganesha besar (Kadalekalu Ganesha). Reruntuhan di tempat ini memang mengundang decak kagum, sampai saya lupa di mana saya harus melihat senja saat itu. Pilihan saya akhirnya adalah duduk di bagian tepi dari bukit, di mana saya bisa melihat senja dan hutan yang berada di bawah tebing. Suatu lukisan yang kontras, namun sore saya saat itu tidak tergantikan dengan sore di belahan dunia manapun.

Kemegahan kuil Vittala sudah saya dengar sebelumnya, namun semuanya berbeda saat saya benar-benar berada di hadapannya di suatu pagi di Hampi. Tidak ada kata yang cukup untuk mendeskripsikan keindahan arsitekturnya. Kompleks kuil ini ditempuh dengan memakai kereta kecil. Memasuki lingkungan kuil, kita disambut dengan deretan pilar terbuka di kiri kanan. Saat gerbang kuil dimasuki, kita akan menemui halaman luas dengan ornamen padat berukir. Pesona Vishnu amat terihat di kompleks kuil ini, terutama di Mahamandapa yang merupakan bagian utama. Relief di pilar yang ada yang melukiskan keseluruhan Vishnu dalam bentuk sepuluh avatarnya, termasuk Krishna tentu saja. Setelah melewati bagian awal kompleks, perhatian kita akan tertuju pada sebuah struktur yang megah disebut stone chariot. Saya sendiri melihatnya seperti sebuah kotak musik. Tampak lambang Garuda mendominasi struktur ini; Garuda sendiri dalam legendanya merupakan kendaraan dari Vishnu, oleh karenanya chariot yang menghadap bagian kuil utama ini seakan sebuah pernyataan simbolik yang terpahat dengan indahnya. Secara garis besar, tema arsitektur kuil ini terbagi atas bagian militer, sipil, dan religius. Saya meneruskan langkah menyusuri bagian timur dari kompleks ini yang disebut eastern hall atau musicus hall. Yang membuat terpana adalah bangunan ini didirikan dan biasanya dipakai untuk tempat menari di zamannya. Setiap pilar dari bangunan ini dapat menimbulkan nada tertentu bila diketok dengan batang padat dan digunakan para pemusik saat itu unutk mengiringi tarian para penari. Pahatan pemusik, penarik dan singa yang bernama Yalis tampak mewarnai di dalam dinding bangunan ini. Sembari pemandu saya menjelaskan bagian dari kuil, saya yang tidak percaya mitos apapun seakan-akan bisa melihat gambaran semua cerita tentang Ramayana dalam perwujudan nyatanya. Cuma di Hampi, dan cuma Hampi yang bisa membuat saya seperti ini.

Bangunan berikutnya yang saya kunjungi dalam area Royal Citadel adalah Octagonal Water Pavilion yang mungkin dulunya merupakan tempat penampungan air. Saya termasuk pengagum stepwell di India dan berkelana untuk menjelajahinya. Octagon ini merupakan hal yang berbeda karena berada di tempat terbuka. Queen’s Bath merupakan struktur berbentuk persegi dengan eksterior yang sederhana dan memiliki kolam pemandian. Dinamakan seperti ini mungkin karena letaknya yang dekat dengan Royal Enclosure. Dipercaya bahwa bangunan ini dibangun raja Achyuta Raya yang sangat tertarik dengan olahraga air dan dipakai untuk pemandian bagi raja dan keluarganya. Tidak beberapa lama sampai juga saya di Royal Enclosure yang konon merupakan nukleus dari Hampi itu sendiri. Dengan area luas dan dikelilingi berlapis tembok, kompleks ini berisikan sekitar 45 buah bangunan di dalamnya. Kompleks ini memiliki dua pintu masuk di bagian utara dan satu buah di bagian barat. Pintu di bagian barat ini biasanya diperuntukan untuk keluarga istana saat itu. Memasuki kompleks dari bagian utara, kita akan disambut beberapa bangunan. Yang menarik perhatian saya tentu kolam bertangga yang kesimetrisannya di setiap segi sangat memukau. Tampak beberapa saluran air yang terhubung ke area ini. Kaki saya cukup lelah saat harus menanjak menaiki Mahanavami-dibba yang terdiri dari 3 tingkat. Bangunan ini dikenal sebagai “ruang kemenangan”. Bangunan kokoh ini dibangun di atas granit dan dihiasi dengan pahatan binatang, penari, pemusik serta kegiatan perburuan yang merepresentasikan keadaan masyarakat Vijanagara saat itu. King Audience Hall terletak tidak jauh dari Mahanavami. Menurut cerita masyarakat sekitar, di sinilah terdapat diskusi publik dan peradilan terjadi saat itu. Di sudut barat kompleks tampak sebuah kuil kecil bernama Hazara Rama yang didedikasikan untuk Vishnu dalam wujud Rama. Kuil ini terkenal dengan pahatan seribu wajah Rama di dindingnya. Langkah saya memasuki Lotus Mahal terhenti saat saya melihat struktur bangunan ini yang mengingatkan saya dengan bangunan Islam. Struktur ini merupakan perpaduan arsitektur India dan Islam dan dibangun di atas batu Adhisthana. Kubahnya didukung oleh 24 buah pilar dan bagian interiornya amat sederhana. Kubahnya tampak simetris dengan ukiran bermotif bunga. Keluar dari bangunan ini, kita memasuki wilayah elephant stables yang berbentuk memanjang dan memiliki 11 pintu dengan didominasi kubah berbentuk bundar dan memiliki pahatan lotus.

Malyavanta Hill
Malyavanta Hill.

Kuil Vitalla dengan "stone chariot"-nya
Kuil Vitalla dengan “stone chariot“-nya.

Sebuah kuil di Mahakuta Hill
Sebuah kuil di Mahakuta Hill.

Sambil berjalan kembali ke hotel, saya menyempatkan diri mengunjungi patung Lakshmi-Narasimha yang merupakan bangunan monolitik setinggi tujuh meter yang sangat memukau siapapun yang melihatnya. Patung ini memahat sebuah ikon yang disebut Narasimha yang bertangan empat walau keempat tangannya tampak hancur. Di belakangnya tampak sosok Sesha, sebuah naga berkepala tujuh. Awalnya, sebuah pahatan Lakshmi terdapat di pangkuan paha kiri Narasimha ini. Sebuah lingga yang cukup besar terletak tak jauh dari patung ini yang dasarnya diliputi air. Narasimha sendiri merupakan avatar ke-empat dari Vishnu. Digambarkan sebagai sosok setengah manusia dan setengah singa yang memiliki cakar. Dikenal sebagai pelindung terkuat bagi para pemujanya. Narasimha merupakan perlambang keberadaan Tuhan dimanapun dalam situasi seperti apapun. Salah seorang teman saya dari daerah selatan yang menyembahnya mengungkapkan begitu banyak kuil di wilayah Andhra Pradesh yang diperuntukkan untuk dewa ini.

Petualangan saya di Hampi ditutup dengan kunjungan saya ke sebuah kuil Vishnu di Malyavanta Hill dan Pattabhirama. Sedemikian banyak reruntuhan dan kuil di Hampi, hingga sulit saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Hampi ini merupakan salah satu tempat terbaik di India yang patut dikunjungi siapapun, sebuah surga bagi para pemuja bangunan bersejarah ataupun bagi seorang penjelajah seperti saya. Tulisan saya hanyalah penggambaran secara luas tentang tempat ini. Hampi adalah sebuah tempat dimana setiap bebatuan dan reruntuhan di dalamnya berbicara dalam kesunyian dan untuk itu mereka tidak memerlukan sebuah pengakuan.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Kota Tua Veliky Novgorod, Rusia

Perjalanan ke Veliky Novgorod memakan waktu sekitar lima jam dengan kereta cepat dari Moskow. Novgorod terletak antara kota Moskow dan St. Petersburg, sepanjang sungai Volkhov. Novgorod baru saja berulang tahun ke-900 saat saya tiba. Kota ini sendiri berumur lebih tua dari itu (nama kota Novgorod tercatat sejak tahun 862). Menurut sejarahnya, Novgorod adalah kota perdagangan penting dan pernah melepaskan diri dari Rusia. Kota ini memiliki sejarah panjang dengan bangsa Skandinavia dan disebut sebagai ibu kota bagi empat raja Viking. Banyak manuskrip Slavik dan Finlandia ditemukan di kota ini.

The Kremlin di Novgorod.
The Kremlin di Novgorod.

Restoran Tall Ship di tepi Sungai Volkhlov.
Restoran Tall Ship di tepi Sungai Volkhlov.

Pada tahun 1570, Novgorod “dipaksa” bergabung kembali oleh Rusia setelah mengalami kelaparan berkepanjangan dan pembunuhan massal oleh Pangeran Ivan (Ivan The Terrible). Kremlin yang ada di Novgorod bisa jadi Kremlin pertama di Rusia. Kremlin sendiri berarti “gerbang”. Di dalam Kremlin terdapat Monumen Millennium of Russia, bercerita tentang 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia. Terdapat pula Katedral St. Sophia. Kubah gereja Rusia yang berbentuk bawang bombay terinspirasi dari topi prajurit perang. Ketika perang musim dingin, bentuk ini tidak menahan salju di atas kepala.

Patung perunggu yang menceritakan 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia.
Patung perunggu yang menceritakan 100 tokoh paling berpengaruh di Rusia.

Mengingat kota ini berpenduduk padat, penyebaran informasi/tanda bahaya bagi masyarakat jaman dulu menggunakan lonceng kota. Ada banyak lonceng di dalam Kremlin yang memiliki fungsi informasi berbeda. Dari Kremlin, saya dan teman-teman menyebrangi jembatan ke sisi seberang sungai ke arah Yugoslav Court dan beberapa katedral kecil yang sangat tua. Toko-toko tanda mata pun banyak ditemui. Penduduk Novgorod terkenal sebagai pengrajin kayu yang hasilnya lebih halus dan (tentu saja) harganya lebih mahal daripada di Moskow.

Taman bermain di sisi luar The Kremlin.
Taman bermain di sisi luar The Kremlin.

Di tepi luar Kremlin dibuat taman bermain anak-anak di bagian sungai tertinggi dan kering. Buat saya terlihat agak “maksa”, tapi mungkin ini cara mereka agar Kremlin tetap ramai dikunjungi. Sedangkan di jembatannya banyak dipakai untuk para pasangan “mengunci” janji mereka dengan gembok. Kemudian mereka menulis atau grafir nama-nama mereka di gembok tersebut.

Satu tempat menarik di Novgorod adalah restauran Tall Ship di tepi sungai Volkhov. Ruang makan resto ini pun menyerupai ruang kemudi kapal. Dengan balkon menghadap Kremlin, restauran ini memang punya daya tarik tersendiri. Setelah menikmati makan malam di sini, saya dan teman=teman berjalan kaki menyusuri sungai menuju hotel tempat kami menginap.

Mungkin karena letaknya yang lebih tinggi, udara Novgorod lebih dingin dari Moskow. Bongkahan-bongkahan es juga lebih banyak. Alhasil saya menahan dingin udara dan angin selama 30 menit sambil memegang payung karena hujan deras sepanjang perjalanan pulang. Saya membayangkan Novgorod akan lebih menyenangkan ketika musim panas. Tepi sungai pasti lebih ramai penduduk dan pengunjung.


© 2017 Ransel Kecil